
Diantara semua spesies yang ada manusia adalah yang paling banyak bertarung dengan sesama spesiesnya sendiri, bahkan Iblis pun tidak sehebat mereka dalam masalah membuat konflik antar sesama.
“Sangat jelas mereka adalah manusia.”
Arang terus memperhatikan pertarungan yang sedang terjadi di depannya.
Satu pihak berisi para orang tua dan anak-anak, beberapa manusia muda mencoba melindungi. Mereka dalam posisi bertahan dari serangan pihak lainnya.
Pihak kedua berisikan manusia-manusia berisik dengan penampilan aneh dan mengenakan jaket yang seragam.
“Apa mereka anggota Guild atau semacamnya?.” pikir Arang ketika melihat kelompok kedua memiliki penampilan yang agak mirip satu sama lain.
Menggunakan energi sihir arang mencoba untuk mempertajam indra pendengarannya, berkat telinga goblin yang cukup sensitif membuat arang bisa mendengar lebih jelas.
“Ahahaha, menyerah saja kalian para manusia lemah!."
Dengan gaya rambut seperti kulit durian, Salah satu manusia dari kelompoknya kedua tertawa dengan nada yang terdengar menjengkelkan.
“Kami lebih baik mati daripada menyerah lalu menjadi budak para bandit seperti kalian.” balas seorang pemuda yang mencoba melindungi kelompok pertama.
Mendengar perkataan pemuda itu, Arang pun mengetahui identitas dari kelompok kedua.
“Oooh~, ternyata mereka bandit.”
Senyum lebar terlukis di bibirnya, Arang menatap kelompok kedua dengan penuh kegilaan.
Awalnya arang tidak berniat membantu kelompok manapun karena memikirkan masalah yang bisa ditumbuhkan kedepannya.
Misalnya saja bagaimana jika dia menoleh kelompok pertama yang berisi orang tua dan anak-anak.
Jika Arang menolong kelompok ini berati tanggung jawab untuk melindungi mereka juga akan dibebankan padanya.
Lalu bagaimana jika menolak pihak kedua?.
Itu lebih buruk lagi. Mereka mungkin akan mencari tahu tentang kelompok yang telah memberikan bantuan, hingga semua itu bisa berakhir dengan ditemukannya area pabrik.
Banyak resiko yang bisa muncul akibat terlalu ikut campur dalam masalah orang lain, Arang tahu persis akan semua itu. Karenanya Arang berniat mendiskusikan lebih dahulu dengan Aurelia sebelum mengambil tindakan.
Namun, akan berbeda jika salah satu pihak ternyata merupakan kelompok Bandit.
__ADS_1
Dari tas ajaib miliknya, Arang mengambil beberapa kain yang akan digunakan untuk menutupi wajah Archer dan goblin.
Arang kemudian membagi pasukannya menjadi tiga.
Pasukan pertama terdiri antara dirinya dan para goblin yang akan menyerang secara langsung.
Pasukan kedua diisi hanya para Archer yang akan memberikan dukungan dengan serangan panah.
Sedangkan sisa pasukan yakni Barbarian dan Giant akan bersiaga di dalam hutan. Mereka akan di panggil jika keadaan tiba-tiba berubah menjadi berbahaya.
“Baiklah ayo bergerak.”
Dengan cepat arang bersama pasukan goblin menaiki pohon, mereka berlari dari dahan ke dahan. Sedangkan pasukan Archer berlari dibelakang mengikuti.
“Aku lupa jika belum mengajari mereka cara berjalan di dahan pohon.” ucap Arang saat melihat para Archer kesulitan saat berlari ditengah hutan karena terhalang semak-semak.
\*\*\*
Gery berusaha sekuat tenaga melawan Genk Karbon yang tiba-tiba menyerang rombongannya. Dia berpikir Genk itu juga sedang mencari tahu apa yang pesawat tempo hari jatuhnya, sama seperti tujuan kelompoknya datang ke gunung ini.
“Sial sekali nasib mu karena bertemu dengan kami.” ucap salah satu anggota Genk Karbon.
“Kematian kalian akan jauh lebih cepat jika memilih untuk menyerah.”
“Graaaa!.”
Melihat kesempatan Gery segera mengayunkan dengan kuat tulang monster yang dia jadikan sebagai senjata.
Braak!. Pukulannya menghantam kepala salah satu anggota Genk Karbon hingga membuatnya tersungkur di tanah.
Melihat rekannya tumbang membuat empat lainnya terkejut. Gery tidak membiarkan kesempatan itu begitu saja, pria berusia 25 tahun tersebut segera memukul kepala dua lawannya.
Tiga anggota Genk Karbon terkapar dengan darah mengalir di kepala mereka. Sekarang hanya tersisa dua lawan yang masih berdiri, jumlah yang sangat mudah untuk dia lawan.
Tetapi saat ingin menyerang tiba-tiba sebuah pipa besi menahan pemukul Gary.
“Ahahaha, kau cukup kuat. Sudah berapa banyak manusia yang telah kau bunuh, huh?.”
Salah satu petinggi Genk Karbon, Tedy Brand. Pria dengan tubuh gempal dan gaya rambut berduri, menunjukkan senyuman lebar saat menahan pukulan Gary.
__ADS_1
“Kau pikir aku sampai seperti kalian!.”
Sekuat tenaga Gary mendorong Teddy hingga terdorong mundur. Serangan kuat lainnya diarahkan, tetapi Tedy berhasil menahan dengan pipa besi.
“Kuh,” Teddy merasakan tangannya begitu sakit saat menahan pukulan Gery.
'Padahal aku sudah melakukan farming manusia cukup banyak. Tapi kenapa kekuatan pria ini yang hanya melawan monster menjadi lebih kuat dariku.'
Teddy mulai kesulitan melawan Gery, hingga dua berniat meninggi bantuan. Sepuluh anggota genk datang membantunya, namun Gery masih bisa bertahan walau pukulan sesekali menghantam tubuhnya.
“Mati kau monster.” dipenuhi oleh emosi, Teddy mengayunkan tongkat besi yang telah penyok. Tetapi tendangan Gery lebih dahulu mendarat di perutnya.
“Gufuu...” Teddy tersungkur di tanah.
Gery tersenyum saat merasa kemenangan akan segera dia raih, namun semua itu berubah saat suara tembakan terdengar.
Ghak! Suara teriakan terdengar membuat fokus Gery teralihkan. Dia melihat salah satu orang tua yang dia coba lindungi terjatuh karena luka tembak di keningnya.
“Tidak!.”
Gery berteriak keras, tapi teriak itu segera terhenti begitu pipa besi memukul kepalanya dengan keras.
“Brengsek! brengsek! Brengsek!.”
Teddy yang telah kembali ke bangkit terus memukuli Gary yang sudah tidak berdaya. Gary tidak memiliki tenaga untuk melawan, tatapannya tertuju pada orang tua yang sudah tidak bernyawa.
Mungkin dia sebentar lagi akan menyusul orang tua itu.
“Ghak!.”
Suara Teddy terdengar begitu kesakitan, Gery tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saat dia menyadari jika tidak ada serangan lagi yang tertuju padanya, Gary mencoba melihat sekitar.
Bruk! Tiba-tiba tubuh Gary terjatuh cepat disampingnya, mata keduanya saling bertatapan. Sebuah anak panah menancap di leher Teddy, darah mengalir dengan derasnya.
Gary dapat melihat rasa sakit yang begitu para dari mata Teddy, hingga secara perlahan cahaya di mata Teddy menghilang menandakan pria itu telah tewas.
\*\*\*
(Bersambung)
__ADS_1