
Di bawah tiang besar penyangganya goa, terdapat seekor naga yang terikat belasan rantai. Naga terus meronta mencoba membebaskan dirinya, amukan itu membuat roboh beberapa tiang kecil yang tersambung pada rantai pengikat.
{Kurang ajar, siapa yang berani merantai ku seperti ini!} Naga menjadi sangat marah, hingga nafas apinya membakar seluruh ruangan.
Naga mencoba melelehkan rantai yang mengikatnya dengan nafas api, tetapi rantai tersebut dibuat dengan bahan khusus yang memiliki ketahanan api hingga nafas Naga pun tidak bisa melelehkannya.
Grouuuur! Suara raungan terdengar dari perut Naga. Mendengar suara perutnya sendiri membuat naga lemas seakan seluruh tenaganya tiba-tiba lenyap.
“Uugghh, perutku sangat lapar, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba merasa begitu lapar, seakan seseorang telah mengosongkan isi perutku.”
Naga memang suka mengkonsumsi energi sihir yang biasanya dia dapatkan dari kristal monster. Namun dalam kasus Naga Geni ajak berbeda, dari pada mengkonsumsi kristal monster dengan berburu, dia lebih suka memakan item sihir.
Item sihir tidak berbeda dengan kristal monster, keduanya sama-sama memiliki energi sihir didalamnya. Sedangkan item sihir akan bertahan lebih lama bahkan bisa mencapai ratusan tahun karena mencerna item sihir jauh lebih sulit dibandingkan kristal monster.
Naga Geni terkapar lemas, dalam kondisinya saat ini tidak mungkin untuknya membebaskan diri dari semua rantai yang mengikat tubuhnya. Dia kembali memikirkan apa yang membuatnya ditahan, hingga di ingat jika terakhir kali tengah menyerang sebuah desa untuk mencari cemilan.
“Graaah.... sulit dipercaya aku sang Naga Geni dikalahkan oleh manusia rendah!.” dia kembali mengamuk hingga menggunakan seluruh ruangan, namun kemarahannya tidak berlangsung lama karena rasa laparnya kembali membuatnya kehilangan tenaga.
Grouur!
“Ugh, apa yang harus aku lakukan?.”
Ketika Naga Geni putus asa dengan konsinyasi yang tidak mampu bergerak, tiba-tiba hidungnya mencium aroma nikmat yang sangat menggoda.
“Snif snifff, apa ini? Apa ini aroma masakan yang sangat familiar...” karena kelaparan membuat naga Geni meneteskan air liur dalam jumlah besar hingga membanjiri lantai.
Dia berniat mencari sumber dari aroma tersebut namun rantai yang mengikatnya tidak mengizinkannya pergi kemanapun.
“Aaaaarrg! Ini benar-benar membuatku tersiksa.”
Mencium aroma lezat saat perut kosong, namun kau tidak bisa mendapatkan makanan apa pun. Naga Geni berpikir itu adalah penyiksaan paling kejam dari semua hukuman yang pernah ayahnya berikan untuknya.
Aroma itu semakin kuat, seakan makanan yang menjadi sumber aroma perlahan mendekat. Naga Geni semakin tidak tahan dengan rasa laparnya, dia berpikir ini pasti waktunya untuk memberikan makanan untuk tahan.
“Tapi jika memang mereka berniat memberikan makanan untuk tahanan, bukankah seharusnya mereka memberikannya makanan yang buruk?.”
Naga Geni merasa curiga karena yang dia tahu semua orang akan memperlakukan tahanan dengan sangat buruk. Tetapi kecurigaannya segera lenyap saat pemikiran aneh melintas di otaknya.
“Hohoho, mereka pasti sadar siapa aku sehingga menghidangkan masakan lezat untuk meminta maaf.” Naga Geni sangat gembira, meskipun apa yang dia pikirkan hanyalah sekedar spekulasi.
Dan tentunya pada kenyataannya memang tidak seperti itu.
“Hehehe, ayolah makan ini selagi masih panas. Bukankah perutmu sudah sangat lapar hingga suara keroncongannya terdengar seperti kentut naga?.”
“Berhenti menyodok pipiku dengan satu piring rendang. Aku sudah bilang perutku sudah kenyang.”
__ADS_1
Terdengar suara dua wanita dari balik pintu besar, Naga Geni berpikir itu adalah para pelayan yang membawakan makan untuknya.
“Kenapa mereka justru mengobrol saat aku di sini sangat kelaparan? Apa mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia ini jika aku mati?.”
Naga Geni sangat kesal karena para pelayan yang bertugas mengantarkan makanan berjalan sangat lambat.
Grouuuur! Perut Naga Geni kembali bergemuruh.
“Berhenti menatapku seperti itu!.”
“Apa kau ingin aku menyuapi mu? Sini buka mulutmu yang lebar, Wiiiiiiii pesawat mau mendarat...”
“Demi Alef, suara Itu bukan berasal dariku!.”
“Iya iya, aku percaya kok, sekarang ayo buka mulutnya... aaaaa.”
Terdengar keributan dari kedu pelayan yang seharusnya mengantarkan makanan untuknya. Kemarahan naga Geni membuatnya berpikir untuk membakar para pelayan jika mereka sudah terlihat.
Tetapi Naga Geni mengurungkan niatnya menggunakan nafas Naga, karena khawatir makan yang para pelayan bawa ikut terbakar.
Dua wanita masuk ke dalam ruangan di mana Naga Geni dirantai. Naga itu seketika mengerutkan keningnya saat melihat yang dibawa oleh kedua pelayanan hanya satu piring olahan daging. Porsi yang sangat sedikit dari bayangan naga Geni.
Grouuuur! Rasa lapar membuat kemarahannya lenyap.
“Aha, apa kau mendengarnya? Kau mendengarnya bukan!.” manusia dengan jas kuning berteriak begitu keras hingga mengganggu Naga Geni.
“Apa yang salah?.”
“Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti mendengarnya juga bukan? Jika suara perut itu bukan dariku tapi dari Naga!.”
Manusia kuning sangat bersemangat saat berbicara, dia seperti orang gila yang mencoba membuktikan teori konspirasi dengan fakta yang ia miliki kepada seorang yang berpikir terlalu berlogika.
Sementara itu tatapan mata naga selalu tertuju pada satu piring olahan daging yang dibawa oleh pelayan lainnya.
“Um... anoo... apakah aku boleh meminta daging yang kau bawa, aku sungguh sangat lapar.” entah kenapa naga itu bersikap sangat sopan saat meminta makanan pada dua wanita yang dia pikir adalah pelayan.
“Eh? Tentu, lagipula temanku sepertinya tidak mau memakannya.” wanita dengan senyuman lembut berniat menyerahkan satu piring rendang pada naga.
Tetapi sebelum wanita itu melempar rendang sekaligus piringnya ke dalam mulut Naga, tiba-tiba sebuah tentakel yang terbuat dari cacing merebut piring itu. Kejadian tersebut tentu membuat wanita dan naga sangat terkejut.
“Nyam nyam nyam!.” tanpa mengatakan apapun wanita kuning memakan semua dagi pada piring.
“Are? Bukankah kau mengatakan tidak mau rendangnya?.” tanya pelayan dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
Wanita kuning yang merebut piring tidak mengatakan apa-apa, matanya menatap ke arah lain seakan menghindari kontak mata dengan temannya, sementara mulutnya terus mengunyah makanan.
Sedangkan Naga Geni...
“Tidaaaaaaaak.” binatang mistik raksasa itu menangis keras hingga membuat dua wanita terkejut.
“Apa, ada apa. Kenapa kau tiba-tiba menangis?.” pelayan bertanya dengan sangat khawatir.
Dia seakan tidak tahan dengan seseorang yang menangi di depannya, meskipun itu adalah Naga yang pernah mencoba membakar desanya.
Sedangkan wanita kuning terlihat tidak peduli dan kembali pada urusannya sendiri mengunyah rendeng layaknya permen karet.
“Lapar.... makanan.....”
Pelayan segera mengambil makanan lainnya, tapi seperti sebelumnya wanita kuning mengambil makanan itu sebelum dimasukkan ke mulut Naga.
“Hey!.” pelayan membentak wanita kuning karena membuat tangisan naga semakin kencang. Tapi wanita kuning yang tidak peduli melakukan kejahilannya berkali sampai naga akhirnya pingsan karena kelaparan.
“Apakah kau tidak punya hati!.” Arang terlihat marah setelah melihat naga yang kehilangan kesadarannya.
“Apa maksudmu? Aku hanya ingin balas dendam karena dia telah memakan ku.” balas sosok wanita kuning dengan bobot yang telah mencapai hampir setengah ton karena terus mengkonsumsi Rendang.
Arang ingin memarahi Aurelia lebih banyak, namun keduanya dikejutkan dengan cahaya yang bersinar terang dari tubuh naga Geni.
“Apa dia akan meledak?. jika dia mati apa dagingnya bisa dijadikan rendang?.”
Arang tidak bisa berkata-kata setelah mendengar ocehan Aurelia.
Hampir 300 porsi rendang telah gadis itu makan hingga membuat tubuhnya melar, tapi itu belum cukup untuknya.
“Seberapa besar obsesimu pada rendang?.” tanya Arang.
“Sebesar rasa cintaku pada negara ini.” balas Arang dengan tegas.
Setelah beberapa menit akhirnya cahaya mulai redup bersama menyusutnya ukuran tubuh naga. Kedua perempuan terkejut dengan apa yang mereka dapati begitu cahaya padam.
Ditempat naga sebelumnya terbelenggu oleh rantai, terdapat sesosok gadis kecil yang tengah tertidur pulas dengan kondisi memprihatinkan. Tubuhnya begitu kurus seakan kekurangan gizi.
“Biar aku berikan dia nutrisi.” Aurelia mendekati gadis itu.
“Apa yang akan kau lakukan?.” Arang penasaran, namun tiba-tiba dia dikejutkan saat Aurelia hendak memberikan nafas buatan pada gadis itu.
“Jangan beri dia makan dengan muntahan mu!.”
***
__ADS_1