System Play Store

System Play Store
69. Kuil Aurelia


__ADS_3

Tiga bulan setelah bencana besar akibat hujan meteor, dunia berubah menjadi lebih aneh dari sebelumnya.


Radiasi meteor yang tersebar di seluruh dunia membuat mutasi pada seluruh makhluk hidup baik tumbuhan, hewan maupun manusia dan yang ada di darat, udara maupun laut.


Kemunculan monster dari dimensi lain pun menambah kacau keadaan dunia ini.


Tetapi keadaan yang tanpa harapan itu perlahan membaik seiring waktu, manusia perlahan mulai beradaptasi dengan keadaan paska hujan meteor. Tetapi perubahan besar yang paling signifikan terjadi satu minggu setelah aku tertidur.


Banyak orang aneh bermunculan, mereka datang bagaikan pahlawan. Membasmi monster dan membebaskan kota yang dikuasai oleh para kriminal.


Mereka juga mengajarkan bagaimana menggunakan kekuatan sihir, hingga membantu mendirikan kembali peradaban manusia yang telah hancur.


Tetapi tentu saja mereka tidak memberikan bantuan secara cuma-cuma, ada maksud terselubung yang menjadi alasan mereka melakukan semua kebaikan itu.


Alasan itu adalah demi mendapatkan banyak pengikut, karena mereka semua adalah anggota sebuah kultus yang memuja suatu Dewa.


“Itu semua yang aku ketahui saat ini.” Arang mengakhiri ceritanya.


“Hem, apa kau mengatakan sesuatu?.”


Wajah Arang menjadi tanpa ekspresi begitu mendengar jawabanku. Aku yang tidak mengerti kenapa Arang menjadi diam, tetap melanjutkan makan siang ku.


Nasi putih yang masih hangat ditambah lauk ikan lele goreng dan sambal goreng. Tempat makan juga begitu mendukung dimana kami saat ini berada dalam gubuk di tengah hamparan persawahan, angin semilir yang berhembus memberikan kesejukan yang menyegarkan.


“Ini yang terbaik, aku merasa seperti berada di surga.” ucapku dengan mulut penuh nasi.


“Biar lebih nikmat lagi makanannya, bagaimana jika aku mengiri mu ke surga yang sebenarnya.” senyum Arang terlihat menakutkan saat mengatakan itu. Aku tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu.


‘Apakah aku melakukan suatu kesalahan?.’ aku berpikir sambil terus mengunyahnya.


“Kau masih tidak sadar huh!.” tiba-tiba arang mencekik dengan begitu kuat, membuatku hampir memuntahkan makan di mulutku.


“Kau yang memintaku untuk menceritakan keadaan dunia, tapi saat aku bercerita kau justru sibuk makan. Apa ini balasan yang kau berikan setelah semua yang aku lakukan untukmu!.”


“Aaaa.... maaf aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, tolong maafkan akuuu!.”


Itu hampir saja, leherku rasanya mau remuk karena cekikikan Arang yang begitu kuat. Meskipun jika leherku rusak masih bisa diperbaiki, tetapi bukan itu masalah utamanya.


Aku berpikir sebaiknya jangan mencoba untuk memancing kemarahan Arang lagi untuk kebaikan lidahku yang menginginkan makanan enak.

__ADS_1


Membicarakan tentang makanan, mungkin akan aneh melihat aku yang telah menjadi mesin malah memakan makanan manusia. Bukankah sebaiknya aku makan batu bara dan meminum oli?.


Sungguh apakah ada yang berpikir aku akan memakan sesuatu seperti itu?.


Lalu kenapa aku masih bisa makan makanan manusia? Jawabannya adalah karena kecanggihan teknologi....


Ya, sesimpel itu.


Serius, aku sendiri sempat tidak percaya dengan penjelasan dari Arang. Tiga bulan kerja keras, mengorbankan sumber daya, tenaga dan waktu , semua itu menghasilkan diriku saat ini.


Kata terimakasih saja tidak akan cukup untuk membalas dua sosok yang telah membangkitkan aku kembali. Karena berkat mereka aku masih bisa menggunakan indra perasa yang merupakan salah satu kenikmatan menjadi makhluk hidup.


***


“Jadi itu sebabnya di tengah desa ada sebuah kuil?.”


“Kuil?, Oh maksudmu rumah bagi para Healer.”


Arang menceritakan jika rumah yang terletak disekitar town hall adalah milik para prajurit kelas off Klan. Mereka mengatakan jika sudah bosa tinggal di camp yang hanya terdapat api unggun tanpa atap untuk berteduh.


Meskipun sebenarnya mereka bisa masuk ke dalam barak untuk sekedar beristirahat, tetapi sebagian besar pasukan merasa bosan jika harus selamanya tinggi ditempat mereka dilahirkan.


Mendengar keluhan pasukannya, lantas Arang meminta para Builder membangun rumah untuk pasukan.


Arang sepenuhnya tidak ikut campur dalam pembangunan rumah para pasukannya. Urusan itu sepenuhnya ditangani oleh para Builder, tentang model rumah yang digunakan semua sesuai keinginan pasukannya.


Tetapi untuk rumah Healer agak berbeda. Saat itu Arang sedang merasa begitu putus asa karena mengalami masalah dalam penelitiannya, disaat yang sama para Healer sedang kebingungan menentukan desain tempat tinggal.


Builder meminta Healer untuk segera menentukan desain rumah karena hanya mereka yang belum memiliki tempat tinggal pribadi.


Healer yang memiliki sifat terlalu baik sebenarnya tidak ingin merepotkan para Builder, Healer mengatakan jika tinggal di dalam barak sudah cukup untuk mereka.


Tetapi itu akan menjadi masalah, karena bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi pasukan lain yang ingin tinggal diluar barak.


Karena tidak ingin menimbulkan konflik, para Healer pun memutuskan berkonsultasi pada Arang yang saat itu lebih sering menggunakan tubuh Healer ketika sedang melakukan riset terhadap tubuhku.


Keadaan itu membuat para Healer beranggapan jika Arang adalah pemimpin mereka.


“Lalu apa yang kau katakan?.” tanyaku sembari meminum teh hangat.

__ADS_1


“Aku hanya meminta mereka untuk mendoakan mu.” balas arang.


“Hah, gimana?.”


“Aku meminta mereka untuk mendoakan keselamatan mu, hanya itu.”


Bukannya memberikan solusi, Arang justru meminta para Healer yang sedang kebingungan untuk mendoakan diriku.


Tetapi sepertinya permintaan Arang memberikan ide bagi para Healer untuk membuat sebuah kuil yang akan dijadikan rumah, sekaligus tempat berdoa Badi seluruh warga desa.


“Oke, aku mulai paham dengan garis besarnya. Tetapi satu pertanyaan terakhir.”


“Hem?.”


“Kepada siapa mereka berdoa?.” pertanyaan itu membuatku sangat penasaran. Apakah mereka berdoa pada Dewa yang Arang kenal? Atau yang lainnya.


“Bukankah itu sudah sangat jelas?.”


“Apanya?.”


“Mereka tentu saja berdoa kepada entitas yang telah menciptakan mereka.” Arang menghentikan perkataannya hanya untuk menaruh cangkir tehnya.


Aku yakin dia sengaja melakukan itu hanya untuk membuatku mati karena penasaran.


“Entitas itu tidak lain adalah kau Adriana.”


“......”


Tidak ada kata dariku, kepalaku kesulitan memproses perkataan Arang, apa dia mengucapkan sesuatu tentang diriku yang menjadi objek pemujaan?.


Tidak aku pasti telah salah dengar. Mustahil bukan ada sekelompok orang yang mengaggap aku sebagai Dewa yang patut di puja.


“Sekeras apa pun kau berusaha menyangkalnya, kenyataannya akan tetap sama.”


Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa dalam menghadapi masalah seperti ini. Memang benar jika akulah yang telah menciptakan mereka dengan kemampuan Sistem Play Store, tetapi tujuanku melatih mereka di Barak bukan untuk menjadi pengikut bahkan memujaku.


“Itu menjelaskan kenapa semua orang memanggilku sebagai “Yang Mulia”.”


Makan siang kami berakhir begitu Arang berniat untuk kembali melakukan pemanen, dia berkata jika ingin mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhan ku.

__ADS_1


Tetapi ketika melihat banyaknya tanaman yang harus di panen membuatku merasa bersalah pada temanku itu. Lantas aku pun berinisiatif untuk membeli alat pemanen otomatis.


***


__ADS_2