System Play Store

System Play Store
87. Desa Goblin


__ADS_3

Aku duduk di atas punggung Bearsatu yang akan menjadi tunggangan ku selama perjalanan, sedangkan Sergio bertugas menjadi pengawal. Setelah keluar dari desa, Kami menuruni gunung menuju tempat tujuan pertama yakni koloni goblin.


Jarak antara koloni goblin dengan desa kami berkisar 1,5 kilometer. Melihat dari kecepatan berjalan bear satu yang sedang santai, aku memperkirakan kami akan sampai di tempat tujuan kurang dari 15 menit.


Disepanjang perjalanan aku menghabiskan waktu membuka menu statistik yang belum aku lihat sejak pagi. Kesibukan yang diakibatkan munculnya Naga Geni membuatku melupakan tugas harian yang harus aku selesaikan secepatnya.


Ding!


Suara yang khas segera terdengar begitu aku mengaktifkan fitur Notifikasi. Setelah suara lonceng terdengar, beberapa notifikasi muncul sekaligus.


[Tugas harian 1 diselesaikan]


[Tugas harian 2 diselesaikan]


[Tugas harian 3 diselesaikan]


[Tugas harian 4 diselesaikan]


“Lah?.” aku kebingungan dengan notifikasi yang memberitahu jika beberapa tugas harian telah diselesaikan. Ketika aku mencoba mencari tahu penyebabnya, ternyata aku memang tanpa sadar telah menyelesaikan semua itu


Tugas pertama mengharuskan aku menghabiskan uang setidaknya 2.000 gold. Tugas ini selesai ketika aku membeli Hoverboard.


Tugas kedua menyuruhku untuk mendapatkan 500 gold. Yang ini diselesaikan setelah aku menemukan harta Karun di dalam perut Naga.


Tugas ketiga adalah berburu, aku harus mendapatkan 30 batu monster untuk menyelesaikan tugas. Aku menyelesaikan tugas ini tanpa perlu effort sedikitpun, karena cacing-cacing melakukan semuanya untukku.


Dan banyak tugas lainnya yang telah diselesaikan oleh para cacing tanpa perlu aku sendiri yang report-repot melakukan sesuatu.


Hadiah yang aku dapatkan dari misi harian hanyalah berupa material, sumberdaya dan kupon diskon. Aku sedikit kecewa karena tidak ada satupun hadiah tiket yang aku dapatkan. Karena itu hari ini aku hanya bisa melakukan dua kali gacha roda keberuntungan.


“Aku merasa tidak akan mendapatkan sesuatu yang berguna dengan hanya melakukan dua putaran.”


Sebagai seorang gamer aku memiliki keyakinan jika hanya dengan melakukan banyak putaran sekaligus kau akan mendapatkan hadiah yang diinginkan. Sebaliknya jika melakukan putaran satu persatu yang akan didapat hanyalah ampas.


“Terlebih lagi aku sudah menggunakan banyak keberuntungan ketika melawan Naga Geni. Mungkin memang sebaiknya aku tidak melakukan putaran hari ini.”


“Tapi jika tidak digunakan nanti tiketnya akan hangus. Ini sangat membingungkan.”


Pada akhirnya karena tidak ingin tiket gacha terbuang sia-sia, aku pun menggunakannya untuk melakukan gacha. Dan benar saja hari ini aku tidak beruntung karena hadiah yang aku dapatkan bisa dibilang tidak berguna.


“Bahasa kasarnya ini adalah sampah.”


Dua hadiah yang aku dapat adalah jas hujan dan sebatang kayu lapuk.



___________________________________________


[Yellow Raincoat]


Rank: Rare

__ADS_1


Class: Middle


Keterangan: jas hujan yang bermanfaat untuk melindungi tubuh agar tidak basah akibat air.


Def +7


Fitur: (Waterproof) (????)


___________________________________________


Jaket hujan berwarna kuning, ini mengingatkanku pada game survival horor yang pernah aku mainkan.


Saat aku menahannya tidak ada perasaan berbeda, semuanya biasa saja. Ada tambahan ketahanan ketika digunakan, namun stat yang diberikan terlalu sedikit hingga aku berpikir tidak ada gunanya sama sekali.


Meskipun begitu baju ini tidak sepenuhnya sampah. Fitur yang diberikan yakni waterproof cukup membuatku tertarik. Ketika aku menguji fitur tersebut dengan menenggelamkan diri di dalam danau, aku merasa tidak tersentuh air sedikitpun.


Seakan ada lapisan berlindung yang tidak tertembus membuat air tidak dapat menyentuh kulitku. Hasilnya saat aku keluar dari dalam air tubuhku masih tetap kering.


“Seperti bulu bebek.”


Karena merasa jaket hujan itu cukup berguna aku pun memakannya terus. Bukan karena aku takut dengan dengan hujan, terapi karena selama ini aku tidak mengenakan pakaian.


E .. biar aku jelaskan.


Tubuh robot Terminatrix hanya mesin yang dilapisi oleh cairan mental dengan fungsi sebagai kulit pelindung dan sistem penyamaran. Dan cairan mental itu pulalah yang aku gunakan sebagai pakaian.


Jadi pada dasarnya aku hanya menggunakan kulitku sendiri untuk menutupi tubuhku, bukankah itu artinya aku tidak mengenakan pakaian?.


Selesai dengan jaket hujan berwarna kuning, aku beralih pada hadiah kedua.



___________________________________________


[A piece of wood]


Rank : Normal


Class : Relic


Keterangan : Sebatang kayu.


Atk +1


Int +2


Fitur: (Mending)


___________________________________________


Itu hanyalah sebatang kayu yang terlihat rapuh sehingga aku merasa bisa mematahkan nya dengan mudah.

__ADS_1


“Meskipun aku sedang sial, ya jangan gini-gini amat lah kalo memberi hadiah.”


Aku tidak tahu gunanya tongkat itu untuk apa, selain sebagai alat bermain lempar tangkap dengan Sergio. Tetapi seperti yang aku duga, tongkat kayu terlalu rapuh sehingga hanya digigit beberapa kali oleh Sergio sudah cukup untuk membuat kayu tersebut patah.


“Satu-satunya hal baik pada tongkat ini hanya fiturnya yang bisa diperbaiki dengan energi sihir.”


Sudah belasan kali tongkat kayu hancur, tetapi selalu bisa kembali ke bentuk awal ketika aku mengalirkan energi sihir pada tongkat tersebut.


“Mungkin aku bisa menggunakannya sebagai kayu bakar tanpa batas.” Pada akhirnya aku pun tetap menyimpan kayu itu dan menggunakannya sebagai mainan.


***


Dari atas tebing aku dapat melihat desa para Goblin yang berada ditengah lebatnya pepohonan. Tempat tujuan pertama sudah di depan mata, aku tidak sabar melihat koloni goblin untuk pertama kalinya.


Menggunakan kemampuan mata kamera dari tubuh Terminatrix, membuatku dapat melihat dengan jelas meskipun jaraknya begitu jauh.


“Apakah akan ada banyak budak manusia di sana?.”


Yang aku bayangkan tentang desa goblin adalah banyaknya budak manusia yang didapat dari penculikan. Sebagian besar, bahkan mungkin semua budak adalah perempuan karena tujuan mereka melakukan perbudakan adalah untuk memperbanyak keturunan.


Tetapi yang aku temukan di desa goblin ternyata sangat jauh berbeda dari bayanganku. Tidak ada satupun manusia yang aku lihat, para Goblin bukanlah monster tanpa pikiran yang hidup seperti bintang.


Mereka terlihat tidak ada bedanya dengan manusia selain warna kulit para Goblin yang berwarna hijau.


Melihat kehidupan di desa ini mengingat aku pada kehidupan jaman Majapahit yang aku lihat di televisi. Para warga hanya mengenakan selendang dan kain anyaman, sementara para penjaga yang berpakaian terbuka terus berjaga di menara.


“Apa kah yang mereka buat adalah kain batik? Bagaimana mereka bisa membuat itu?.” ucapku ketika melihat beberapa goblin wanita sedang menenun kain.


“Sangat menarik.”


Puas melakukan pengamatan, aku pun bergegas menuju desa goblin. Ketika desa goblin semakin dekat, tiba-tiba aku merasa sedang diawasi. Tetapi tidak ada kekhawatiran dalam diriku karena aku tahu jika yang sedang mengawasi ku adalah para Goblin Assassin.


“Gugi!.”


Goblin penjaga gerbang begitu terkejut saat melihat kedatanganku. Mereka begitu waspada hingga mengarahkan senjata mereka kearahku.


“Kenapa mereka terlihat ketakutan melihatku?.”


Ini mengingatkanku akan kejadian tiga bulan lalu saat pertama kalinya aku bertemu dengan para Goblin yang bukan berasal dari Barak. Saat itu mereka juga menunjukkan reaksi yang sama, ketakutan akan keberadaan diriku.


“Jangan bilang alasan mereka ketakutan juga sama seperti saat itu!.”


Ini gawat, bagaimana bisa aku memberikan surat undangan untuk Ratu Goblin jika aku tidak bisa masuk ke desa mereka?.


Seolah mengetahui kebingungan yang aku alami, Bearsatu dan Sergio mengaum secara bersamaan, membuat semua goblin yang berjaga di gerbang kehilangan kesadaran karena ketakutan.


Aku hanya terdiam melihat para Goblin yang sebelumnya panik tapi sekarang menjadi pendiam karena pingsan.


Guk!


Goung!

__ADS_1


Sedangkan dua binatang mutan yang tidak sadar dengan apa yang baru mereka lakukan, terus menatapku seakan ingin dipuji.


__ADS_2