System Play Store

System Play Store
25. Serangan tidak Terduga


__ADS_3

Seorang petualang tengah dalam perjalanan menuju kota. Namun perjalannya terhenti begitu melihat sebuah kereta kuda yang diserang oleh monster hutan.



Petualang itu dengan baik hati menolong orang-orang di dalam kereta dengan membantu mengalahkan monster. Setiap orang merasa bahagia karena diselamatkan oleh petualang yang kebetulan lewat.



Sebagai rasa terima, orang-orang itu menawarkan bantuan. Meskipun petualang mengatakan jika tidak perlu memberikan apapun sebagai imbalan, tetapi mereka terus memaksa.



“Setidaknya makan malam lah bersama kami.” pinta pemimpin rombongan kereta.



Merasa tidak enak menolak tawaran itu, petualang akhirnya menerima permintaan orang yang ingin berterima kasih padanya.



Namun itu adalah kesalahan terbesar yang diambil oleh petualang itu. Dia tidak tahu jika orang-orang yang dia tolong ternyata adalah sekelompok bandit.



Setelah makan malam tersebut, semua yang dia miliki telah dirampas darinya. Uang, pedang, harta bahkan kebebasan sebagai seorang manusia diambil oleh para bandit.



\*\*\*



Tatapan tajam Arang tertuju pada anggota Genk Karbon. Dia melihat pertarungan hampir dimenangkan oleh kelompok pertama.



Meskipun sebagian besar kelompok itu terdiri dari orang tua dan anak-anak. Namun satu pria muda yang menggunakan tulang monster sebagai senjata, dapat menghadang pasukan Genk Karbon seorang diri.



Tetapi keadaan berbalik begitu cepat ketika Genk Karbon yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya menggunakan senjata api.



Suara tembakan meletus, satu manusia terbunuh. Pria bersenjatakan tulang monster kehilangan fokus begitu melihat orang yang ingin dia lindungi justru tewas di depan matanya.



Mengambil kesempatan itu Genk Karbon segera mengeroyok si pemuda hingga terkapar.



“Tidak salah lagi, mereka memang bandit.”



Arang yang menggunakan tubuh Archer mulai menarik busur. Satu tembakan anak panah dia lepas, Archer yang lain pun ikut melepaskan serangan.


__ADS_1


Hujan anak panah mengarah kepada Genk Karbon, teriakan kesakitan segera terdengar bersahut-sahutan. Tetapi Arang tidak akan berhenti hanya dengan serangan panah.



Mengganti tubuh Archer menjadi goblin, Arang memimpin pasukan goblin Assassin untuk melakukan pembersihan.



Pasukan goblin berlari begitu cepat, Genk Karbon yang tengah tercerai-berai oleh serangan panah tidak siap untuk menghadapi para goblin.



Akibatnya satu persatu anggota Genk Karbon terbunuh oleh serangan cepat. Hanya dibutuhkan satu tikaman pada area vital dari para goblin untuk membunuh target mereka.



Ghoeeek! Anggota Genk Karbon merasakan lehernya tersayat, dia tidak tahu apa yang menyebabkannya demikian. Yang dia lihat hanya sekelebat bayangan hitam melewati penglihatannya.



“Monster! Ghaaak!.”



Anggota lainnya sempat bereaksi begitu melihat sosok yang berjalan begitu cepat. Namun tikaman pada area dada mengakhiri hidupnya.



Gary yang terluka mencoba untuk bangkit, dia begitu khawatir dengan rekan-rekannya yang masih selamat. Begitu bangun Gary melihat anggota Genk Karbon tengah dalam kesulitan besar.




Setelah melancarkan serangannya makhluk kerdil segera kabur ke semak-semak tidak peduli targetnya terbunuh atau tidak. Lalu mereka kembali menyerang dari arah yang tidak terduga.



“Sialan Sialan, keluar kalian para pengecut sialan!.”



Soni yang merupakan tangan kanan Teddy, dengan panik menembaki para makhluk kerdil, namun setiap tembakannya tidak ada yang mengenai target karena pergerakan makhluk itu begitu cepat dan lincah.



Namun keberuntungan tiba-tiba datang padanya.



Dor!



Gaik!



Di tembakan terakhir, Soni berhasil mengenai salah satu makhluk kerdil.

__ADS_1



“Ahahaha... aku mengenainya!. ”



Soni begitu senang karena tembakannya akhirnya berhasil menebak target. Namun keanehan pun terjadi, makhluk itu meledak menjadi cairan ungu begitu terbunuh.



“Sialan, sebenarnya makhluk apa itu." Umpat Soni.



Gary yang melihat pistol di tangan Soni menjadi begitu emosi. Dia menduga jika penembak pria tua sebelumnya adalah Soni.



Di kuasai oleh amarah, Gary berniat menyerang Soni, namun tubuhnya yang terluka membuat Gary tidak bisa berjalan.



Gary terus menatap Soni dengan penuh kebencian, lalu tiba-tiba...



Jleb!



Jleb Jleb!



Jleb Jleb Jleb!



Satu persatu anak panah menancap di tubuh Soni, membuatnya berteriak keras penuh kesakitan.



“Kau tidak apa-apa?.”



“Eh!.”



Tiba-tiba disamping Gary muncul seorang perempuan dengan wajah tertutupi kain yang bertanya tentang keadaannya.



\*\*\*



(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2