
{Lia...}
{Lia apa kau bisa mendengar suaraku?}
Suara Arang terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Terasa begitu pusing, aku tidak ingin apa pun, saat tersadar aku mendapati diriku sudah ada di luar goa semut.
Tetapi perlahan ingatan yang terjadi saat aku kehilangan kesadaran mengalir dalam pikiranku, sekarang Aku bisa mengingat semuanya dengan jelas.
Berawal dari memakan mayat semur dalam jumlah besar, semakin banyak semut yang aku makan justru membuatku semakin kelaparan. Pada akhirnya aku tidak dapat mengendalikan tubuh Avatar cacing karena rasa lapar yang begitu parah.
Setelah meninggalkan sarang semut, yang aku lakukan hanya terus memakan jutaan semut yang menunggu di luar sarang. Semua serangan yang datang padaku tidak dipedulikan, yang aku lakukan hanya memakan mereka semua.
Bagaikan penyedot debu, mulutku menghisap semuanya begitu kuat, jutaan semut yang terbang maupun merangkak di darat tersedot masuk tanpa terkecuali.
Tubuhku semakin membesar seiring banyaknya semut yang masuk kedalam mulutku, hingga tanpa disadari aku sudah tumbuh terlalu besar.
Panjang Avatar cacing bahkan melebihi tinggi menara Eiffel. Meskipun begitu aku masih merasa lapar, namun sudah tidak ada lagi Semut yang tersisa.
Di saat itulah aku melihat bulan yang begitu indah di langit. Terlihat begitu besar hingga membuatku ingin memakannya.
Tetapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Usahaku untuk menggapai bulan berakhir dengan kegagalan.
Akhirnya tubuhku ambruk karena begitu lemas. Kemudian suara Arang mulai terdengar di dalam kepalaku.
{Lia apa kau bisa mendengar suaraku?}
“Arang, bagaimana pertarungan mu dengan Ratu semut? Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa membantumu.”
Aku agak khawatir jika pertarungan itu akan berakhir dengan kegagalan. Tetapi melihat arang yang baik-baik saja seharusnya merekalah yang menjadi pemenang.
{Syukurlah kau akhirnya kembali} suara Arang terdengar penuh kelegaan, apa dia begitu khawatir padaku saat aku kehilangan kesadaran?.
Semoga saja aku tidak membuat masalah?.
{Jangan khawatir, tidak ada masalah apa. Justru kau sangat membantu ku, apa kau tidak ingin saat menelan Ratu semut?.}
“Menelan ratu semut?. Aku sungguh melakukan itu?.” aku tidak bisa mengingat bagian Itu.
Arang yang menggunakan tubuh Healer terbang mendekatiku, cahaya yang bersinar dari tubuhnya terlihat seperti kunang-kunang di mataku.
__ADS_1
Perlahan aku merasakan begitu lelah dan mengantuk. Kelaparan ekstrim yang aku alami membuat tubuh Avatar cacing mulai menyusut, tubuhku sedang menahan diri sendiri.
{Lia, kau tidak apa-apa?} Arang bertanya dengan khawatir.
“Tidak apa, seperti biasa aku hanya kehilangan banyak energi sihir yang membuatku perlu beristirahat.” balasku memberikan alasan.
{Syukurlah} wajah Arang menunjukkan kelegaan.
{Jangan khawatir tentang kami. Setelah Ratu semut dikalahkan, seharusnya tidak akan ada lagi ancam, kau sekarang bisa beristirahat dengan tenang}
“Terimakasih Arang.”
Dengan sudah payah aku mengatakan perkataan terakhir karena kantuk yang begitu parah sudah mulai menyerang ku. Tanpa usaha berarti, aku membiarkan rasa kantuk menguasai ku, menghantarkan ku pada mimpi.
***
Arang masih menatap Aurelia yang telah log out dari tubuh Avatar cacing.
Monster berukuran raksasa dengan cepat menyusut karena mengalami kelaparan. Tubuh cacing raksasa mengering hingga kulit dan dagingnya terkelupas, tidak lama kemudian jenasah monster cacing runtuh menjadi abu.
Keberadaan monster yang mengerikan itu pun lenyap dalam sekejap.
Melihat bagaimana Ratu semut ditelan dengan begitu mudahnya membuat Arang menjadi khawatir. Dia tidak bisa memikirkan cara melawan Aurelia jika seandainya temannya itu dikuasai oleh kelaparan dan berakhir menyerangnya.
“Satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan adalah melarikan diri.”
Arang bersyukur karena Aurelia masih bisa mengendalikan dirinya sehingga amukan cacing Titan yang sedang kelaparan bisa diredam.
Semua yang terjadi hari ini membuat Arang berpikir jika dirinya terlalu lemah, tetapi itu bukan berarti dia berniat untuk berlatih secara giat dengan tujuan memperkuat diri.
Dia teringat dengan keinginannya untuk berkebun, di dalam diri Arang masih tersimpan keinginan untuk menjalani kehidupan yang damai.
“Melihat dari penguasaan diri dan emosi yang ditunjukkan oleh Aurel, aku yakin suatu saat dia bisa menjadi pahlawan yang luar biasa. Jika itu terjadi aku bisa dengan tenang bergantung padanya untuk memberiku dunia yang damai.”
Sebagai tuan yang memiliki kehidupan dari Aurelia, dia memiliki harapan besar pada peliharaan terbaik sekaligus teman terdekatnya itu untuk mewujudkan impiannya.
Bukan sebuah impian yang besar, dua hanya ingin kedamaian. Tetapi impian yang begitu sederhana pun akan sangat sulit diraih, sebab zaman kekacauan baru saja dimulai.
“Ratu Semut itu jelas merupakan reinkarnasi dari seorang Monarc. Aku penasaran akan menjadi sekacau apa Divine realm setelah ini.”
__ADS_1
Arang melayang kembali masuk kedalam sarang semut, semua sisa pasukan yang melihat dua kembali segera berlutut memberikan penghormatan. Begitu pula dengan Goblone yang sedang menunggunya di tengah ruangan, tempat dimana Ratu semut melakukan pemijahan.
Terdapat kolam di tempat ratu sebelumnya berada, kolam dengan air berwarna biru yang mengeluarkan cahaya terang. Arang mengetahui dengan baik jika air dalam kolam tersebut merupakan konsentrat energi sihir atau yang disebut juga sebagai cairan Mana.
“Jadi ini yang membuat Ratu semut bisa bertelur tanpa batas.” ucap Arang saat menatap kolam tersebut.
Dia bersikap hati-hati karena jika terjatuh ke dalam kolam akan membuatnya langsung terbunuh. Itu dikarenakan tubuh dari pasukan yang ia rasuki tidak dapat menahan banyaknya energi sihir di dalam kolam.
“Sangat disayangkan, jika saja aku masih memiliki tubuh asli ku pasti seluruh energi sihir di dalam kolam akan aku serap.”
Arang bisa membayangkan berapa banyak kekuatan yang bisa dia peroleh dari kolam energi sihir itu. Setidaknya dua bisa mendaki beberapa tangga evolusi sekaligus.
“Sudahlah, tidak ada gunanya menyesalkan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Ini menang bukan rezeki untukku,”
Arang melempar sebuah pecahan batu meteor ke dalam kolam. Batu meteor yang ia lempar segera beraksi menghisap seluruh energi sihir hingga dalam sekejap seluruh kolam Mana telah mengering, dan hanya menyisakan batu meteor berwarna biru tua dengan pancaran sinar terang.
Ukuran batu meteor menjadi lebih besar dari sebelumnya, yang awalnya hanya sebuah krikil kecil sekarang members hingga sekepal tangan.
“Ini, sempurna.”
Arang tersenyum melihat batu meteor di tandannya. Itu adalah item terakhir yang dibutuhkan untuk menghidupkan robot T-X, sebuah inti yang dapat menghasilkan energi secara independen.
“Dungeon Core.”
Item yang sangat berharga bagi peradaban yang mengandalkan kekuatan sihir. Memiliki fungsi yang hampir tidak terbatas, hingga disebut sebagai berkah dari surga.
Banyak orang rela menikam temanya dari belakang demi menguasai core untuk dirinya sendiri, Bahkan seorang prajurit yang setia dan loyal pun akan mengkhianati negaranya demi memiliki core.
Semua karena kekuatan yang dimiliki core begitu kuat bisa, seakan seluruh keinginan yang kau miliki bisa terkabul hanya dengan memiliki core.
“Aku rasa itu terlalu berlebihan. Core hanya sebuah alat yang memiliki fungsi menyaring energi sihir dari udara, yang nantinya energi sinar bisa digunakan oleh si pengguna.”
“Bukan item over power yang dapat mengabulkan keinginan seperti tujuh bola naga.”
Rencananya Arang akan memberikan core itu pada Aurelia, dia tidak sabar melihat temannya itu terkejut saat dia bangun pagi nanti tiba-tiba sudah memiliki tubuh baru.
“Dia pasti akan sangat senang.” pikirnya.
***
__ADS_1