
“Siapa kau!.” Toni berteriak keras pada wanita berjubah kuning.
“Aku Dis...” Jawab sosok itu singkat namun penuh misteri.
“Dis siapa?.” pria berusia tiga puluhan itu dibuat penasaran karena hanya mendapatkan sepenggal nama yang tidak jelas.
“Dis....”
“Ya?.”
“Di saat hujan tak kunjung berhenti
Masih ada aku temanimu di sini
Rapalkan mantra datangkan cahaya
Tuk sinari hari-harimu.”
Semua orang terdiam ketika tiba-tiba sosok misterius justru melantun mantra hujan. Entah karena pengaruh mantra atau bukan, kabut tiba-tiba semakin tebal dan udara menjadi lebih dingin.
{Human, kedatangan kalian tidak diterima di gunung ini} ucap sosok misterius berjas kuning dengan suara yang sangat Berbeda dari sebelumnya.
Toni heran dengan perubahan yang secara tiba-tiba. Awalnya sosok itu memiliki suara seorang gadis yang terdengar ceria, mantera hujan yang dia rasakan juga begitu cocok dengan suaranya.
Tapi kini suaranya justru terdengar begitu bergema, seperti beberapa orang dari usia dan gender berbeda berbicara secara bersamaan.
“Siapa kau berani mengusir kami. Memangnya kau yang memiliki Gunung ini!.” Gofar begitu marah karena diusir oleh seseorang tidak dikenal dari gunung yang sudah dianggap sebagai miliknya.
{Yes i am} balas sosok kuning begitu singkat, seakan dia mengatakan sesuatu yang sudah sangat jelas.
Suaranya penuh intimidasi, sekali mendengarnya semua orang dapat memperkirakan kekuatan dari sosok kuning.
‘Meskipun dia begitu mengintimidasi, tapi aku yakin bisa mengalahkannya.’ pikir Toni. Dia melirik pedang dan tameng miliknya yang merupakan sebuah artefak dari Dungeon.
“Omong kosong!.” Gofar menambah senapan yang dibawa salah satu anak buahnya, dengan penuh amarah Gofar berniat menembak sosok tersebut.
“Gunung ini dan seluruh isinya adalah milik Genk Karbon, tidak semuanya adalah milikku!.”
__ADS_1
Semua anggota Genk Karbon memutar bola mata melihat keserakahan bos mereka.
Sedangkan beberapa Hunter sekte Gogo Gread menjadi tersinggung karena dalam perjanjian mereka juga akan mendapatkan bagian dari gunung ini.
Beruntung Toni dapat meredam emosi anak buahnya dan mengatakan jika Gofar hanya sedang bercanda. Meski demikian candaan Gofar terlihat seperti sungguhan.
“Ada kata-kata terakhir orang aneh?.” Gofar bersiap menarik pelatuk senapan. Dia tidak peduli apa sosok kuning akan mengatakan sesuatu atau tidak, dua akan tetap menembakkannya.
Tapi dia menurunkan moncong senapan saat sosok itu memperlihatkan tangannya yang lentik dan begitu putih seperti tangan seorang putri. Hanya dengan melihat tangannya saja membuat setiap pria berpikir jika sosok itu pastilah perempuan yang sangat cantik.
Ini membuat mereka semakin penasaran dengan wajah dibalik tudung tersebut.
{Satu pertanyaan manusia} ucapnya dengan menunjukkan satu jari.
Meskipun tidak secara langsung mengarahkannya, tapi semua orang bisa tahu jika pertanyaan sosok misterius ditujukan untuk Toni. Merasa diabaikan membuat Gofar kembali marah, dia berniat menembak laki sosok misterius namun dihentikan oleh Toni.
“Apa itu?.” balas Toni
{Apa nama gunung ini?} sekali lagi sosok misterius mengatakan sesuatu yang tidak penting. {Tidak ini sangat penting!} dia berbicara dengan begitu tegas.
Toni menatap Gofar yang dianggap tahu akan nama gunung ini. Namun Gofar tidak mengatakan apapun karena dia sendiri tidak tahu. Gunung ini baru muncul tiga bulan selama bencana meteor, jadi wajar jika belum ada nama resmi untuk Gunung ini.
Sosok tersebut terlihat panik, entah apa yang dia takutkan terhadap seseorang dengan kemampuan penamaan aneh.
{Aku mendengarmu} terdengar suara seorang wanita entah dari mana.
{Tidak!} Sodok kuning menjerit histeris.
{Gunung ini tidak memiliki nama bukan, biar aku Carikan satu}
{Tidak! Seseorang tolong hentikan dia!}
Sosok misterius terus berteriak dengan histeris pada suara yang tidak diketahui sumbernya. Merasa dibodohi, Gofar akhirnya kehilangan kesabaran.
“Ini pasti hanya trik kotor para Goblin.” menarik pelatuk.
Suara tembakan terdengar begitu keras bagaikan halilintar. Gofar dan yang lainnya yakin jika sosok itu akan terkapar karena tembakan yang mengenainya.
__ADS_1
Namun dengan tenang sosok kuning mengambil sebuah tongkat kayu yang dia gunakan untuk menangkis peluru dari Gofar.
Brak! Kayu yang sangat rapuh hancur seketika begitu mengenai peluru. Namun meskipun hancur, tongkat kayu berhasil melaksanakan tugasnya dengan benar yakni membelokkan laju peluru sehingga tidak mengenai sasarannya.
Semua orang tercengang melihat apa yang baru dilakukan sosok Kuning misterius. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilihat. Apakah mungkin peluru senapan anti tank berkaliber besar bisa dibelokkan dengan ranting kayu yang terlihat sangat rapuh.
{Aku akan memperlihatkan sulap untuk kalian} sosok kuning memasukkan patahan kayu ke mulutnya, lalu saat ditarik kembali kayu tersebut kembali seperti semula.
{Tara!. Bagaimana, ini sulap yang sangat bagus bukan}
Tidak ada balasan dari para penonton, tapi justru tembakan lainnya Gofar berikan untuk sosok kuning. Dia pikir kali ini tembakan pasti kan mengenai targetnya.
Tetapi seperti sebelumnya, hanya dengan menggunakan sebatang ranting rapuh, sosok tersebut bisa membelokkan arah peluru. Melihat itu Toni sadar jika cara sosok misterius membelokkan peluru bukanlah sekedar keberuntungan semata.
Suara tembakan terus meletus beberapa kali, Gofar akhirnya menjatuhkan senjatanya karena bahunya terasa sakit akibat hentakan senjata yang dia gunakan.
“Bajigur, bagaimana mungkin dia ....” menatap sosok misterius yang masih berdiri, ranting yang patah kembali dia perbaiki dengan sihir.
“Kalian semua jangan diam saja, cepat serang orang aneh itu!.” perintah Gofar.
Puluhan anggota Genk Karbon berjalan mendekati sosok kuning. Tapi sebelum mendekati sosok itu, tiba-tiba kabut menjadi lebih tebal dan semakin tebal hingga membuat sosok misterius menghilang ditelan kabut.
{Ahahaha, kalian telah memilih, semoga beruntung dalam pertempuran}
Ketika suara sosok misterius menghilang, Toni diserang oleh perasaan tidak menyenangkan. Dia merasa harus segera kembali ke kota dan menjauhi gunung tak bernama ini.
Drapdrapdeap! Suara langkah kaki terdengar beriringan seperti pasukan yang tengah berbaris.
Menyadari suara itu membuat Toni memerintahkan pasukannya untuk bersiap bertarung. Kemudian dari dalam kabut muncul pasukan Goblin yang dipimpin oleh ratu mereka.
“Kalian tidak diizinkan memasuki wilayah ini.” ucap Ratu Goblin.
“Kau pikir kami peduli dengan peraturan yang kau buat!.” Gofar tidak berniat kembali. Sosok goblin yang telah memberinya luka yang sangat memalukan kini ada didepannya. Tidak mungkin Gofar mundur begitu mudah.
Di tenga desa pertempuran antara goblin dan manusia berlangsung. Sedangkan sorak-sorai di tengah desa terdekat begitu meriah, karena saat ini mereka sedang melihat pertempuran di desa Buangan secara real-time.
Seperti sedang menonton film, semua orang menjadi begitu bersemangat melihat mereka bertarung. Mereka bertaruh, menebak seberapa lama pasukan manusia bisa bertahan melawan Goblone.
__ADS_1