
Sepanjang perjalanan aku dimanjakan dengan pemandangan khas dari pegunungan, pepohonan tinggi membuat udara terasa sejuk, bunga liar berwarna-warni menambah keindahan alam.
Sesekali aku berhenti untuk mengambil gambar alam yang mengagumkan, atau sekedar mengambil Herbal yang aku temukan disepanjang jalan.
Hingga aku menemukan akhir dari jalan setapak yang aku gunakan. Sekitar dua ratus meter dari desa Buangan tidak ada lagi jalan yang tersedia, sehingga aku harus berjalan melalui semak-semak secara serampangan.
Tapi untungnya sistem dapat menemukan jejak dari para manusia yang tadi malam bertamu ke desa Buangan. Mengikuti jalan yang dilalui oleh para manusia membuatku lebih mudah menuruni gunung.
Jika ada yang penasaran kenapa aku tidak terbang dengan Hoverboard boar, alasannya sangat sederhana.
“Aku hanya ingin menikmati perjalananku.”
Keadaan sangat tenang selama sisa perjalanan, aku menemukan jejak darah dan bekas pertempuran. Menurut pengamatan ku itu adalah bekas dari pertempuran pasukan manusia melawan monster gunung.
“Aku penasaran dengan monster seperti apa yang mereka kawan.” gumam ku.
Ding!.
\[Robot Terminatrix memiliki kemampuan pemindaian melalui DNA\]
“Ah, aku lupa akan hal itu.”
Ini adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh ku saat ini. Terlalu banyak kemampuan yang aku miliki sehingga seringkali lupa jika aku mempunyai kemampuan yang sangat berguna seperti analisa DNA.
Beruntung sistem mengingatkan ku.
Aku mengambil sedikit Sempel darah yang berceceran di dedaunan untuk sku cicipi. Rasanya tidak berbeda dengan darah pada umumnya, seperti besi dan tercium bau amis. Namun bukan itu yang ingin aku ketahui.
Aku dapat merasakan banyak data mengalir di otakku, rasanya seperti mesin yang sedang mencari data dari komputer. Prosesnya sangat cepat sehingga hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk mengumpulkan semua data.
Setelah proses pencarian selesai, mendadak kepalaku terasa pusing karena mendapatkan banyaknya informasi sekaligus. Rasanya seperti setumpuk buku dijejalkan masuk ke dalam kepalaku dengan paksa.
Menurut informasi yang aku dapatkan, menerangkan jika darah tersebut milik monster Rangdalm yakni sejenis monyet yang mengalami mutasi akibat radiasi meteor.
Informasi yang aku dapatkan begitu terperinci hingga menerangkan secara detail misalnya saja jenis kelamin dari monster tersebut, perkiraan usia, level dan makanan kegemarannya.
“Bahkan pohon evolusi dari monster itu pun bisa aku ketahui. Tidak diragukan lagi, keahlian Analisa memang kemapuan yang sangat rusak.”
Aku penasaran dengan apa yang terjadi pada monster itu. Apa pasukan manusia membunuhnya atau tidak, tapi melihat jejak darah yang berceceran, aku dapat menyimpulkan jika para manusia memutuskan untuk membawa monster tersebut setelah berhasil mengalahkannya.
__ADS_1
Dati informasi yang aku miliki dijelaskan jika Rangdalm adalah monster yang tidak agresif, itu berarti para manusia yang melakukan penyerangan.
“Apa mereka ingin menjual monster itu? Atau diambil kulitnya?.”
Dari setiap masa manusia menang serakah, mereka akan mengorbankan apapun untuk keuntungan sesaat.
“Aku masih penasaran dengan manfaat lain yang bisa manusia berikan untuk alam, selain sebagai pupuk saat mereka mati.” pikiranku semakin beranggapan jika manusia hanya hama yang tidak bermanfaat.
Apa ini salah? Padahal dulu aku sama seperti manusia-manusia itu.
Mengikuti jejak yang ditinggalkan para manusia, aku akhirnya sampai ditempat yang begitu lapang dan luas. Berbeda dengan hutan lebat sebelumnya, tempat ini sangat gersang, banyak pohon ditebang hanya menyisakan ribuan tanggulnya saja.
“Tiga bulan dan ini yang bisa mereka lakukan. Jika terus dibiarkan lebih lama mungkin seluruh pohon di gunung akhirnya akan habis mereka tebang.”
Sangat disayangkan jika pemandangan indah yang sebelumnya aku lihat akhirnya bernasib sama dengan tempat gersang ini.
“Aku mungkin harus melakukan sesuatu.”
Ribuan cacing tanaman aku tetaskan di sekitar wilayah yang gersang, aku ingin merasakan menyuburkan tempat ini. Sedangkan aku sendiri berjalan menuju pabrik pengolahan kayu untuk mengajukan keluhan.
Semakin dekat dengan pabrik, aku mendapati fakta yang sangat menyebalkan tentang tempat itu. Pemilik pabrik menggunakan anak-anak sebagai buruh kasar yang melakukan sebagian besar pekerjaan.
Tidak butuh menggunakan keahlian analisa untuk mengetahui kondisi anak-anak itu, dilihat dengan mata normal pun mudah dipahami jika mereka sangat kelaparan.
Keadaan anak-anak itu sangat berbeda jauh dengan para pengawas yang sebagian besar adalah pria dewasa dengan tubuh sehat bahkan beberapa diantaranya terlihat begitu berisi.
Groaaak! Terdengar suara katak yang sangat keras, ternyata suara itu berasal dari seorang pria bertubuh besar, baju yang dia kenakan tidak dapat menutupi seluruh bagian perutnya sehingga bagian pusar terlihat dengan jelas begitu buncit.
Satu kata yang terlintas di kepalaku saat melihat pria itu adalah...
“Bab!.”
Aku tidak dapat membayangkan berapa ton kalori yang dikonsumsi pria itu, hingga tubuhnya melar sampai setara dengan lima manusia dewasa yang digabungkan.
“Urg, aku sudah kenyang.” setelah mengatakan itu pria besar melempar begitu saja donat yang setengahnya telah dia makan.
Makanan sisa itu menarik perhatian anak-anak yang sedang bekerja, terlihat jelas di mata mereka menginginkan makanan meskipun itu adalah makanan sisa.
Mungkin jika dibiarkan anak-anak itu akan saling berebut untuk mendapatkan setengah donat yang dibuang oleh pria gendut. Tetapi hal seperti itu tidak pernah terjadi, meskipun sudah dibuang, pria besar tidak ingin membiarkan makanannya terbuang sia-sia.
__ADS_1
Dia menginjak-injak makanan yang telah dia buang lalu menawarkannya pada anak-anak yang kelaparan. Senyum di wajahnya saat menawarkan makanan penuh pasir tersebut membuatku merasa muak.
Tetapi yang lebih memprihatinkan dari semua itu, meskipun anak-anak tahu jika makanan yang ditawarkan pria besar sudah tidak layak untuk dimakan, mereka masih tetap memperebutkan makanan tersebut.
Bahkan mereka tidak segan untuk melakukan kekerasan terhadap anak yang lebih kecil dan lemah demi mendapatkan sebuah sampah.
“The hack.” umpat ku. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan dunia ini?.”
Aku tahu jika keadaan dunia sudah hancur akibat bencana meteor, setidaknya itu yang aku dengar dari kepala desa Buangan. Tetapi aku tidak mengira jika akan menjadi separah ini.
Dengan perasaan tidak menyenangkan, aku mendatangi pria besar itu untuk bertanya padanya tentang bos nya.
“Hem?.” pria besar akhirnya menyadari keberadaan ku, dia memperhatikanku dari kepala hingga kaki. “Kau! Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kau budak baru?.” katanya, sepertinya dia salah paham dan berpikir jika aku adalah seorang budak seperti anak-anak lainnnya.
Dalam sekejap semua orang memperhatikanku, aku merasa risih saat menjadi pusat perhatian semua orang.
“Kenapa kau hanya diam saja!... Grok.” nafasnya habis ketika terlalu banyak bicara sehingga menimbulkan suara seperti bab! Saat mengatur kembali nafas.
“Cepat kerja!.” tiba-tiba dia berteriak kearahku, tapi aku hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Tetapi seperti dia adalah seorang yang sangat pemarah, karena tanpa melakukan apapun aku sudah membuatnya semakin marah. Mungkin karena tekanan darah pria besar itu begitu tinggi akibat obesitas yang dia alami sehingga emosinya tidak terkendali.
“Cih, apa aku harus memberimu pelajaran dahulu? Dasar merepotkan.”
Bumi berguncang saat dia mulai berjalan kearahku, namun hanya lima langkah saja dia berhenti karena kehabisan nafas. Pria itu mengambil cemilan dari sakunya lalu menggaruk p4n747 nya sebelum akhirnya kembali berjalan kearahku.
Aku masih berdiri di tempatku tanpa bergerak sedikitpun, tidak ada yang bisa aku katakan saat melihat bab! Itu berjuang keras hanya untuk berjalan sejauh 15 meter.
“Kau pasti sangat ketakutan bukan? Tapi memohon pun tidak akan menyelematkan mu.”
Tangan Pria besar hendak meraih kepalaku, namun segera aku tangkis karena teringat bagaimana dia menggunakan tangannya untuk menggaruk pan747, adegan itu membuatku merasa sangat jijik.
“Aaaaaa... sialan!.” pria besar tiba-tiba menjerit kesakitan.
Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan sandiwara seakan tangan yang aku tangkis mengalami cidera, padahal aku menampar tangannya tidak terlalu keras.
Tidak mungkin bukan pria sebesar itu terluka hanya dengan satu tamparan lunak?.
Bukan?.
__ADS_1