System Play Store

System Play Store
116. Cacing Zombie


__ADS_3

"Gyaaaaa!" terdengar teriakan kencang, seketika semua orang yang sedang menuju pabrik memalingkan pandangan mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.



Salah seorang anggota sekte yang bertugas membersihkan para zombie sedang diserang oleh tentakel yang menjulang dari zombie-zombie tersebut.



Dalam keadaan genting seperti itu, anggota sekte lain segera melancarkan tembakan perlindungan ke arah zombie yang hendak melakukan serangan.



Dentuman tembakan meretakkan udara dan menerjang zombie-zombie tersebut hingga tak bernyawa lagi, namun sayangnya anggota sekte yang diserang mengalami luka berat hingga ada yang kehilangan sebelah kakinya akibat serangan tentakel zombie.



"Sial, zombie jenis apa itu? Aku belum pernah melihat zombie dengan tentakel sebelumnya," seru salah satu anggota sekte dengan keheranan.



"Pasti ini adalah dek dari kemampuan Awakened yang telah menghidupkan mereka!" seru yang lainnya.



Anggota sekte pun membicarakan mengenai keanehan zombie-zombie yang baru saja mereka lawan, namun pembicaraan itu terhenti tatkala lebih banyak zombie serupa datang menghampiri.Setiap orang tercengang melihat zombie-zombie itu datang dari puncak bukit dengan kondisi yang mengerikan.



Terdapat zombie perpotongan kepala dengan leher yang dipenuhi tentakel, merayap seperti gurita atau cumi-cumi. Lalu ada juga zombie yang merupakan gabungan dari tiga mayat, enam kaki zombie itu memberikan kecepatan lari yang luar biasa.



Semua mayat yang sebelumnya tergeletak di lereng bukit akibat pembantaian yang Aurelia lakukan, kini telah bangkit kembali di bawah pengaruh cacing parasit yang sebelumnya disebar oleh gadis itu.



Efek dari cacing parasit tersebut menghasilkan tentakel mengerikan yang tumbuh di dalam tubuh mayat yang telah terinfeksi.



Dari kantor pemimpin pabrik, Tania menatap dengan ngeri semua mayat yang telah kembali dihidupkan. Namun harapannya tidak padam, Tania yakin bahwa pasukan sekte Gogo Gread yang berjumlah ratusan orang tidak akan kesulitan mengembalikan para zombie ke kematian mereka.



"Pasukan, siapkan diri!" perintah Yoga bergema.



Mengikuti perintah tersebut, dua puluh pasukan elit berbaris dalam dua barisan, dengan barisan depan berlutut sementara barisan belakang berdiri tegak. Senjata-senjata mereka mengarah ke arah gerombolan zombie yang mendekat, dan...



"Dan.., tembak!" seru Yoga saat memberikan perintah, dan seketika itu juga seluruh pasukan melepaskan tembakan yang menghujani para zombie selama sepuluh detik.



Setelah hujan peluru berhenti, tak satu pun zombie yang masih bergerak. Mayat-mayat itu kini tergeletak tanpa kehidupan, kondisinya lebih mengerikan daripada sebelumnya.



"Sudah selesai," kata Tania dengan senyuman percaya diri, dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke belakang, menatap kepada Aurelia.



"Oh, benarkah?" balas Aurelia dengan tidak tampak terpengaruh, ia tetap tenang meskipun pasukan zombie-nya telah dikalahkan.



Melihat reaksi Aurelia, membuat Tania sangat heran kenapa gadis misterius itu begitu tenang.



Namun, keheranan Tania akhirnya terjawab ketika terdengar teriakan dari luar. "Bagaimana mungkin mereka masih bisa bergerak?"



"Apa?!" seru Tania dengan terkejut, lalu ia melihat keluar jendela dan melihat pemandangan yang tidak diharapkannya.



Semua zombie kembali bergerak, serat-serat tipis yang sebenarnya adalah cacing parasit mulai menutupi luka-luka akibat tembakan. Keadaan setiap zombie kembali normal, seolah-olah serangan dari pasukan sekte Gogo Gread sebelumnya tidak berdampak apa pun pada mereka.



"Jika senjata api tidak berdaya, maka semua zombie ini telah mencapai tingkat bencana Serigala. Kita hanya bisa melawan monster-monster ini dengan kekuatan sihir dan serangan langsung," ucap Endar dengan serius.

__ADS_1



\*\*\*



Yoga memerintahkan pasukan penembak untuk mundur, menggantikan mereka dengan pasukan kesatria yang dia pimpin. Sementara itu Endar melakukan sebuah ritual pemanggilan untuk mendapatkan bantuan.



“Uraaaaaaa!.” seru Yoga dengan Auman.



Auman yang Yoga lakukan sebelumnya merupakan sebuah keahlian khusus dari petarung jarak dekat yang bernama “War cry”, keahlian tersebut bisa meningkatkan semangat bertarung rekan dan meningkatkan kekuatan mereka.



“Charge! (Serang).”



Mengikuti arahan yoga, 50 pasukan infantri segera menyerbu para zombie. Bentrokan terjadi, jumlah zombie yang mereka lawan hanya berjumlah 18 mayat.



Namun keadaan menjadi menyulitkan ketika potongan tubuh zombie yang terlepas oleh serangan memiliki kesadaran dan kembali menyerang para kesatria.



“Mati!.” seorang pengguna pedang menancapkan pedangnya ke dada salah satu zombie tanpa kepala. Serangan itu berhasil melukai zombie yang mengakibatkan pendarahan hebat.



“Ahahaha, apa kau menyukainya.... eh?.” anggota sekte Gogo Gread itu sangat senang saat berhasil melukai zombie, namun terjadi masalah ketika pedagang yang dia gunakan tidak bisa di dari tubuh zombie.



lalu tiba-tiba ...



Screeeee! Seekor cacing besar keluar dari potongan leher zombie. Kesatria itu sangat terkejut melihat cacing yang muncul secara tiba-tiba. Cacing itu terlihat marah karena sarangnya telah dirusak.



Hap! Dengan kecepatan tinggi cacing segera melahap kepala kesatria. Darah mengalir deras, saat cacing kembali masuk ke dalam tubuh zombie, semua orang melihat jika kesatria sudah kehilangan kepalanya.



Klang! Bunyi zirah besi yang terjatuh tanpa berdaya.



Gasp! Nafas Tania tercekat setelah melihat pemandangan mengerikan itu. Dia mulai berjalan mundur dari jendela karena ketakutan, namun tiba-tiba...



“Aku dapat!.”



“Gyaaa!.”



Suara keras dari Aurelia membuat Tania terkejut hingga membuatnya terjatuh. Tania meringis kesakitan karena kakinya terkilir.



“Ada apa denganmu?.” tanya Aurelia heran, ditangannya terdengar sebuah jubah kuning.



Tania merangkak mundur karena ketakutan, “Ja... jangan mendekat... Kumohon!.” pintanya memelas. Namun Aurelia hanya menunjukkan senyum gila.



“Kau pikir aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, Hem?.” perkata Aurelia membuat Tania sangat terkejut.



‘Mungkinkah gadis ini bisa mengetahui kemampuanku?.’ kata Aurelia dalam hati.


__ADS_1


“Ya aku tahu.” jawab Aurelia yang seakan bisa mendengar suara hati Tania.



“Kau!... Kau monster!.” Tania segera mencengkram bayangannya sendiri lalu menariknya untuk dilemparkan ke arah Aurelia.



Bayangan gelap membentuk siluet wanita mengarahkan pukulan ke wajah Aurelia, namun gadis itu tidak beraksi, Aurelia membiarkan bayangan Tania menghantam wajahnya.



“......” Aurelia diam saat bayangan tiba-tiba hancur, meledak menjadi kabut hitam begitu pukulannya mengenai wajah Aurelia.



“Ini saatnya?.” ucap Aurelia yang mendengar suara hati Tania. Wanita berkacamata itu berniat melarikan diri ketika penglihatan Aurelia terhalang oleh kabut hitam.



“Sial!.” umpat Tania ketika dia tahu jika rencananya untuk melarikan diri telah diketahui.



Namun Tania tidak bisa mundur, dia yakin jika serangan bayangan yang dia lakukan sebelumnya telah membuat Aurelia marah. Jika dia tertangkap maka bisa dipastikan monster itu akan membunuhnya.



“Aku tidak akan melakukan itu.” Aurelia membalas pikiran Tania. Namun Tania tentu tidak akan percaya perkataan monster yang bisa membunuh belasan manusia semudah berjalan di taman.



Tania berlari ke sudut ruangan gelap, dua berencana masuk ke dalam kegelapan ruangan itu untuk melarikan diri. Kemampuan pengendalian bayangan Tania memungkinkan wanita itu menyerang dengan bayangannya sendiri, dan masuk ke dunia bayangan untuk waktu terbatas lalu keluar di tempat yang berbeda.



Tetapi ketika Tania hampir berhasil mencapai ruangan, tiba-tiba...



“Akh!.” rasa sakit pada kakinya yang terkilir membuat Tania terjatuh.



“Apa kau melihatnya?.” Aurelia muncul dari dalam asap hitam. “Takdir pun pun sudah memutuskan jika kau harus melayaniku.” Aurelia menunjuk kaki Tania yang terkilir, membuat wanita itu tidak bisa berlari dari Aurelia.



“Omong kosong!.” balas Tania. Aurelia menghela nafas melihat Tania yang begitu keras kepala.



“Mungkin kau memang butuh waktu untuk memikirkannya.”



Aurelia mengenakan jubah kuning misterius, saat tudungnya dikenakan, wajah gadis itu tidak bisa dilihat, wajahnya sepenuhnya menjadi kegelapan. Tania seperti menatap jurang yang begitu dalam ketika melihatnya.



“Aku akan memberikan sedikit kekuatanku, sebagai jaminan” seekor cacing keluar dari telapak tangan Aurelia. Jantung Tania berdebar keras saat melihat binatang menjijikkan itu menggeliat direkap tetangga Aurelia.



“Setelah satu bulan, aku akan datang padamu untuk membawa pekerjaan yang sama.”



“Gyaa.....” Tania berteriak histeris saat cacing di telapak tangan Aurelia melompat ke arah Tania.



Dengan panik Tania merangkak menuju ruangan gelap, namun “!” Tania tersentak kaget ketika merasakan sesuatu mulai masuk kedalam bagian pribadinya.



“Tidak!.... Keluar... keluar!.” Tania sangat panik mengetahui cacing telah masuk kedalam tubuhnya. Tapi karena kepanikan itu membuatnya terjerembab masuk kedalam ruang gelap.



Tania seketika menghilang ditelan kegelapan.



“Mmh, itu...” suara Aurel terdengar lembut, “Terasa enak.”

__ADS_1


__ADS_2