System Play Store

System Play Store
110. Pembantaian


__ADS_3

Aurelia hanya diam berdiri ditempatnya, membiarkan hujan peluru mengenai tubuhnya. Akibatnya jas hujan kuning yang dia kenakan hancur secara perlahan karena tembakan.


Beberapa orang mulai sadar ada yang aneh dengan gadis itu. Meskipun tubuhnya telah diberondong peluru tetapi dia masih berdiri seakan tidak merasakan apa pun. Setiap kali peluru mengenai tubuhnya menimbulkan suara keras seakan gadis itu terbuat dari logam.


“Ini sangat menyebalkan.” kata Aurelia dengan nada yang tidak menyenangkan. Seketika semua pengawas menghentikan usaha mereka membunuh gadis itu lantaran merasakan bahaya.


Insting bahaya menjerit seakan memberitahu jika gadis yang sedang mereka hadapi sangat berbahaya. Tidak ada kesempatan untuk melawan, satu-satunya jalan untuk tetap hidup hanyalah melarikan diri.


Namun semuanya sudah terlambat, Aurelia merasa kesal lantaran jas hujannya menjadi rusak akibat peluru yang mereka tembakkan. Gadis itu tidak akan membiarkan seorangpun lolos setelah membuatnya kesal.


Bam! Ledakan terjadi ditempat Aurelia berdiri, itu bukan serangan dari lawannya namun ledakan terjadi karena Aurelia menghentakkan kakinya begitu keras ketika berlari.


Bergerak dengan kecepatan tinggi membuat orang lain hanya melihatnya seperti kilatan cahaya. Kurang dari satu detik Aurelia berpindah di depan salah satu pengawas yang menembakinya.


“Whaaa!...”


Pengawas itu panik saat tiba-tiba Aurelia berdiri didepannya, namun kepanikannya tidak bertahan lama lantaran tinju Aurelia mengenai dagunya dengan kuat.


Jrasss! Kepala pengawas putu dari lehernya akibat pukulan Aurelia, mengakibatkan semburan darah mengalir deras dari lebar yang terpotong layaknya air mancur.


Gadis itu hanya menatap tanpa ekspresi tubuh tanpa kepala didepannya yang masih berdiri tegak meskipun telah terbunuh.


“Sialan dia bukan orang sembarangan!.” pengawas lainnya menjadi panik setelah melihat salah satu rekan mereka tewas dengan mudah.


“Tidak mungkin menang melawan manusia yang telah terbangkitkan, kita harus kabur......”


Blar! Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Aurelia lebih dahulu menghantam dada pengawas itu hingga lengannya menembus tubuhnya.


Darah dimuntahkan oleh pengawas itu, rasa sakit luar biasa dapat terlihat jelas di matanya. Dia menggenggam lengan Aurelia yang menembus dadanya seakan ingin mengeluarkannya, namun dia tewas lebih dahulu karena pendarahan.


Melihat adegan horor yang sangat mengerikan membuat semua pengawas sangat ketakutan. Dengan panik mereka berlarian menuruni lereng menuju pabrik kayu. Tetapi tentu Aurelia tidak akan membiarkan mereka lolos.


Mayat pengawas di tangannya dilempar dengan kekuatan penuh, mengenai pengawas lainnya dan membuat tubuh keduanya meledak karena saking kuatnya lemparan Aurelia.


Darah dan potongan daging tersebar ke segala arah membuat semua pengawas yang melihatnya semakin ketakutan.


“Dia monster!.”

__ADS_1


“Tidak, dia adalah iblis!.”


Melihat betapa kejam dan brutal pembunuhan yang dilakukan Aurelia, membuat mereka berpikir jika sosok gadis berjas hujan kuning itu adalah iblis yang sedang menyamar.


“Ark sialan, siapa tadi yang mendorongku!.” Big Jek marah lantaran tubuhnya didorong. Saat ini dia berada dibarisan paling depan pada jalan menuju pabrik.


“Si bab! Ini, Jika menunggunya bergerak yang ada kita semua akan terbunuh!.” itu adalah kebenaran, tapi tidak ada yang berani mendahului Big Jek karena terlalu takut.


Tubuh Big Jek yang besar membuat pergerakannya menjadi lambat, itu membuat para pengawas di belakangnya menjadi khawatir Aurelia akan mengejar mereka.


“Gyaaaaa!.” teriakan lainnya terdengar yang sontak membuat semua orang menjadi panik.


Di bagian atas lereng, mereka melihat seorang rekan pengawas yang tertinggal telah tertangkap oleh Aurelia. Punggung pengawas itu dicengkeram, jari-jari Aurelia menembus punggungnya, lalu....


Jrass! Aurelia menarik tulang punggung pengawas hingga terlepas dari tubuhnya beserta dengan kepala yang ikut terbawa.


“Jika aku memiliki kekuatan iblis perang, pasti tulang belulang ini bisa dijadikan sebagai senjata.” perkataan Aurelia sangat sulit dimengerti.


Sangat mengerikan, bagaimana bisa dia melepas tulang belakang seorang manusia dewasa begitu mudah, layaknya mencabut rumput liar. Tidak ingin menjadi korban selanjutnya para pengawas pun berbuat nekat.


“Gyaaaa, kalian semua... guhuak!.” Big Jek menggelinding layaknya bola daging, tubuhnya membentur tanggul pepohonan berkali-kali membuatnya terluka.


Tidak ada seorangpun yang peduli dengan teriakan penuh umpatan Big Jek, mereka mencoba melarikan diri dari kejaran Aurelia.


“Let set!.” Aurelia mengambil ancang-ancang seperti pelempar bola pada permainan baseball, namun bukan bola biasa yang akan dia lempar melainkan sebuah kepala.


“Meriam Ketapel!.” dengan gaya layaknya karakter anime, Aurelia melempar kepala ditangannya sekuat tenaga.


Wusss!


BRAAK!


Salah satu pengawas merasakan sesuatu melewatinya. Dia tercengang melihat sebuah lubang besar di dadanya, lalu satu rekan yang tepat berada di depannya telah kehilangan kepala. Keduanya pun terjatuh seperti boneka yang talinya dipotong.


“Dobel kill!.” Aurelia merayakan keberhasilannya membunuh dua manusia dalam satu lemparan.


Jumlah pengawas yang tersisa hanya delapan orang, tidak ada satupun dari mereka yang selamat. Kecepatan Aurelia berlari bahkan lebih cepat dari peluru yang ditembakkan, sejak awal mereka memang tidak mungkin bisa melarikan diri.

__ADS_1


Anehnya Big Jek yang sebelumnya didorong oleh bawahnya, kini menjadi satu-satunya pengawas yang masih selamat. Meskipun tubuhnya hancur akibat menggelinding menuruni lereng.


Kedua kaki Big Jek telah patah membuat pria besar itu tidak bisa bergerak. Kini dia hanya bisa berteriak meminta pertolongan, dan berharap ada seseorang yang datang membantunya.


***


Semua anak yang dijadikan sebagai budak, menatap ketakutan saat Aurelia membunuh satu persatu para pengawas dengan cara yang sangat sadis.


Anak-anak menganggap para orang dewasa yang telah memperlakukan mereka lebih buruk dari binatang, akhirnya mendapatkan balasan yang sepantasnya dengan dibantai secara kejam.


Tetapi meskipun telah membalaskan dendam mereka dengan membunuh para pengawas. Anak-anak itu tetap ketakutan melihat kekejaman yang Aurelia perbuat.


Mereka mulai menangis saat Aurelia yang telah membunuh pengawas mulai berjalan ke arah mereka. ‘Mungkinkah gadis itu juga berniat membunuh kami?.’ pertanyaan itu terlintas di kepala setiap anak.


Karena ketakutan mereka semua berkumpul, tidak ada yang berani kabur karena melakukan itu pun akan percuma. Mereka sudah melihat bagaimana Aurelia membantai pengawas dengan gerakannya yang sangat cepat.


‘.....’


Aurelia tiba di depan anak-anak itu, dia tidak mengerti kenapa mereka menangis meskipun semua pengawas sudah dia kalahkan.


‘Mungkinkah mereka takut padaku karena melihatku membantai semua orang dewasa?.’


“Sangat merepotkan.” gumam Aurelia.


Mendengar gumaman itu membuat anak-anak semakin kencang menangis karena merasa dugaan jika Aurelia akan membunuh mereka adalah kebenaran.


Aurelia merasa muak dengan tangisan anak-anak, dia tidak berniat sedikitpun meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Jika memungkinkan Arang ingin segera meninggalkan makhluk-makhluk yang begitu berisik seperti mereka.


Tetapi, dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa meninggalkan anak-anak itu terus menangis dengan perut kelaparan.


“Apa aku harus memberikan jatah makan siangku?.” Aurelia mengambil makanan dari dalam storage. “Tapi berapa banyak?.” cukup lama Aurelia memikirkan berapa banyak makanan yang akan disumbangkan.


Hingga akhir karena tidak tahan dengan suara tangisan, Aurelia pun menyumbangkan setengah jatah makan siangnya.


Meskipun itu hanya setengah jatah makan siang Aurelia, tapi jumlah makanan itu lebih dari cukup untuk membuat pesta kecil. Semua anak seketika berhenti menangis melihat banyaknya makanan yang Aurelia berikan.


Mereka ingin mengatakan sesuatu tetapi Aurelia sudah menghilang. Meskipun takut jika makanan yang Aurelia berikan mengandung racun, tetapi rasa lapar yang tidak tertahankan membuat mereka tidak tahan untuk memakan makanan yang sangat mengiurkan.

__ADS_1


__ADS_2