
“Argh! Ini sakit sekali!.” pria besar terus berteriak kesakitan sembari memegang tangan kanannya yang hancur akibat tamparan pelan dariku.
“Itu badan apa kerupuk? Masa cuma ditampar pelan sudah hancur.” aku memberikan komentar pada keadaan tubuh pria besar yang sangat rapuh.
Awalnya aku berpikir tubuhnya yang besar menyimpan data tahan yang kuat. Setidaknya lemak yang dia miliki dapat menahan benturan, sehingga bisa rahan dengan serangan pukulan dan senjata tumpul.
Tetapi aku salah, ternyata lemak sebanyak itu tidak berguna sana sekali. Lalu kenapa dia menyimpan lemak sebanyak itu? Tidak mungkin bukan dia berencana melakukan hibernasi.
Di tengah rasa penasaranku tentang fungsi dari lemak yang ditimpuk oleh pria itu. Para penjaga mulai berdatangan karena mendengar teriakan pria besar.
“Big Jek, ada apa?.” tanya salah satu pengawas, yang segera dibalas dengan makian dan umpatan dari pria besar.
Aku tertawa saat mendengar nama pria besar, "Big Jerk? Buwahahaha, Sungguh nama yang sangat cocok.” ucapku dengan gelak tawa.
Big Jek semakin marah saat melihatku tertawa dan membuat lelucon tentang namanya. Baik para penjaga maupun anak-anak budak merasa heran ketika aku seakan tidak khawatir dengan kemarahan Big Jek.
“Memangnya kenapa jika dia marah? Apa gumpalan lemak itu akan meledak karena mendidih saat dua marah? Buwahaha...”
Aku tidak berhenti membuat lelucon tentangnya, membuat beberapa penjaga tidak tahan untuk tertawa. Sedangkan anak-anak semakin ketakutan, mereka takut jika mendapatkan dampak dari kemarahan Big Jek.
“Dasar kurang ajar, cepat habis bocah itu. Aku tidak peduli dia siapa, beri dia penderitaan sebelum dia merasakan kematian!.” perintah Big Jek pada pengawas lainnya.
Sepertinya pria besar itu memiliki jabatan tinggi di dalam perusahaan Kayu, itu dibuktikan dengan paruhnya pengawas terhadap perintah darinya.
Tiga pria kekar datang menghampiriku, ketiga menunjukkan ekspresi berbeda di wajah masing-masing. Salah satunya tersenyum, ada pula yang bersikap dingin dan yang lainnya terlihat begitu menjijikan.
“Bagaimana dia menunjukkan wajah mesum seperti itu pada publik?.” aku mempertanyakan keadaan mental pria terakhir karena terlihat sangat mesum.
“Akhirnya aku bisa dengan bebas menjalankan hobi ku sekali lagi.” pria itu tertawa dengan sangat senang. Aku pikir hobi yang dia maksud adalah menjadi pecundang dengan melakukan kekerasan terhadap anak kecil yang tidak berdaya.
“Cepat selesaikan ini.” kali ini pria dingin yang berbicara. Dia terlihat begitu malas sehingga wajahnya minim ekspresi. Pria ini terlihat begitu mengantuk, tapi aku dapatkan merasa jika dia terus mengawasi ku.
__ADS_1
Lalu pria terakhir, “Uhihihi, aku akan bersenang-senang dengan nya, bahkan setelah dia menjadi mayat, uhihihihi...” dia adalah satu satu orang yang membuatku tidak nyaman.
Ctar! Ketiganya mengeluarkan cambuk yang biasanya digunakan untuk memberikan motifasi pada para budak. Satu serangan diberikan oleh wajah tersenyum, tapi aku tidak berniat menghindar atau bertahan.
Karena aku tahu serangan cambuk itu sama sekali tidak ditujukan untuk melukaiku.
Ctar! Cambuk yang ditujukan untuk menakut-nakuti hampir mengenai telingaku. Meskipun begitu suara yang dihasilkan sangat keras hingga menyakiti pendengaran.
“Tck,” bukannya takut, emosiku justru terpancing.
“Hihihihi, kau cukup kuat. Karena biasanya anak-anak langsung gemetar ketakutan saat aku melakukan itu.” senyumnya semakin melebar.
“Mari lihat seberapa kuat kau bisa menahan perawatan yang akan aku berikan padamu.” senyum menyebalkan itu kembali dia perlihatkan saat mengayunkan cambuknya.
Kali ini dia sungguh-sungguh menyerang ku dengan mengarahkan cambuknya ke wajahku. Itu merupakan serangan yang bisa berakibat fatal, mungkin nasibku sial mungkin mataku akan hancur karena serangan cambuk itu.
Ctar! Cambuk mengenai wajahku tetapi aku tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa sakit bahkan sensasi menggelitik pun aku tidak merasakannya. Seakan serangan barusan hanya hembusan angin yang mencoba menyibakkan tudung ku.
Sistem memberikan informasi seakan dia mengetahui isi kepalaku.
“Apa aku hanya overtaking?.” gumam ku yang merasa bodoh karena berpikir ketiga manusia di depanku adalah musuh yang perlu diwaspadai.
“Wow, dia cukup kuat bukan?.” kata wajah dingin, wajah tersenyum tidak senang mendengarnya.
Sebelumnya Wajah tersenyum berpikir akan mendengar suara jeritan setelah menyerang wajahku. Namun jeritan yang ingin dia denger tidak terjadi sehingga emosinya mulai tidak serabi.
“Sialan!.” emosi yang meledak-ledak membuat wajah tersenyum berubah menjadi wajah penuh amarah. Dia kembali mengayunkan cambuknya, tetapi kali ini dengan kekuatan penuh.
Kedua rekannya merasa jika tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan penyiksaan padaku, karena kekuatan cambukan yang diberikan pria wajah marah bisa dengan mudah memotong tubuh manusia.
Tetapi anggapan mereka salah ketik aku dengan mudah menangkap cambuk yang mengarah padaku. Seketika semua orang terdiam melihatku menangkap cambuk itu.
__ADS_1
“Berhentilah terkagum-kagum dengan tindakan kecil yang aku lakukan, dasar idiot!.” dengan kuat aku menarik cambuk itu hingga pria yang membawanya tertarik kearahku.
Karena kuatnya tarikan yang aku berikan membuat pria itu terpental ke depan. Hingga saat jarak sudah memungkinkan untuk serangan, aku segera melayangkan tendangan bergaya memutar.
Brak! Dengan satu tendangan tubuh pria tersenyum itu terbelah menjadi dua bagian.
“Aku tidak tahu kenapa author mendeskripsikan kalian begitu detai hingga satu chapter hanya berisi penjelasan tentang karakter tidak penting seperti kalian.”
Tidak ada seorangpun yang memahami perkataan ku.
“Ya, terserahlah.”
Melihat aku bisa membunuh pengawas hanya dengan satu tendangan, jelas membuat pengawas lainnya panik. Mereka tidak bisa mengaggap aku sebagai ancaman kecil lagi.
Kedua pengawas yang tersisa berniat merubah senjata mereka dengan pistol. Aku juga melakukan hal sama yakni merubah senjata menjadi tongkat kayu lalu menggabungkannya dengan cacing tanaman.
Kedua pengawas bersiap menembak begitu mendapatkan pistolnya. Tetapi mereka tidak bisa secepat aku saat mengayunkan cambuk.
Zrat! Ketika tongkat kayu aku ayunkan, cacing tanaman yang menempel pada kayu seketika memanjang seperti cambuk.
Bruk! Dua mayat terjatuh tanpa kepala, mereka adalah kecu pengawas yang kalah dalam duel melawanku.
Bruk! Dua kepala yang terpental saat dipotong akhirnya jatuh di dekat mayat kedua pengawas.
Kesunyian tiba-tiba berubah menjadi keributan, para pengawas tidak percaya jika ada yang mampu melakukan serangan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia bisa.
Melihat ketiga anak buahnya terbunuh begitu mudah membuat Big Jek semakin ketakutan, “Semuanya, apa yang kalian tunggu! Cepat serang bocah kuning itu secara bersamaan!.”
Mengikuti perintah Big Jek semua orang segera mengambil senjata mereka. Ada total 34 pengawas yang terus menembak kearahku, sementara aku sendiri hanya diam tidak bergerak membuatkan tubuhku dihujani peluru.
“Ini terlalu mudah.”
__ADS_1
Kekuatan yang aku miliki terlalu besar hingga semua manusia di depanku tidak ada bedanya dengan semut, mereka sangat rapuh, hanya dengan pukulan lemah sudah cukup untuk meledakkan kepala dan sedikit tarikan menjadikan mereka layaknya es kiko.