System Play Store

System Play Store
125. Sebuah desa


__ADS_3

Ada banyak permainan yang bisa dimainkan dengan menggunakan kartu Remi, di antaranya Poker, Texas Hold'em, Blackjack, dan masih banyak lagi. Bagi Aurelia, yang sangat jauh dari hal-hal yang berbau perjudian, dia merasa bingung saat harus memilih permainan mana yang akan dia mainkan.


"Apa sebaiknya aku main Pacinko saja ya?" pikir Aurelia, wajahnya terlihat penuh kebingungan.


Namun dia segera menolak gagasan itu, seakan-akan Aurelia sudah bisa melihat masa depan di mana dirinya akan menghabiskan semua chip yang ia miliki dengan kalah sepuluh kali berturut-turut saat memainkan game gacha tersebut.


Dalam kebingungannya, Aurelia memutuskan untuk bertanya pada sistem tentang peraturan di setiap permainan kartu. Sistem dengan sabar menjelaskan satu per satu peraturan dan cara memainkan setiap jenis permainan kartu, tetapi penjelasan tersebut sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Aurelia.


Kepala Aurelia terasa penuh dengan kebingungan dan rasa frustasi. Bagaimana dia bisa menentukan permainan yang tepat jika dia bahkan tidak mengerti penjelasan sistem?.


"Aduh, rasanya otakku sudah terbakar!" keluh Aurelia dengan wajah yang penuh kebingungan. Keluhan itu seakan bukan sekedar lelucon karena kepala Aurelia mulai berasap.


Dalam keputusasaannya, Aurelia memutuskan untuk mencoba bermain permainan kartu yang menurutnya paling mudah untuk dipahami.


"Aku akan bermain Blackjack," ucap Aurelia dengan sedikit kekhawatiran.


Layar hologram segera berubah menampilkan sebuah meja perjudian yang mewah, hanya ada Avatar milik Aurelia dan seorang Dealer yang tampak profesional. Aurelia memilih permainan Blackjack karena cara bermainnya yang sangat sederhana, yaitu hanya perlu mendapatkan angka tertinggi dengan batasan 21 angka.


"Baiklah, ayo kita main," kata Aurelia sambil meletakkan satu chip-nya di atas meja.


Dealer dengan mahir mengacak kartu, kemudian membagikannya. Aurelia mendapatkan Queen yang berarti 10 poin untuknya, sedangkan dealer mengikuti dengan kartu Jeck yang dia dapatkan.


Keduanya sama-sama mendapatkan nilai 10 poin.


"Hmm, aku merasa akan mendapatkan nasib buruk," gumam Aurelia sambil terus memperhatikan gerakan dealer dengan penuh konsentrasi.


Pembagian kartu kedua dilakukan, kali ini juga Aurelia mendapatkan kartu Queen lainnya yang membuat total poin dia miliknya saat ini dalah 20.


"Lumayan," senyum mengembang di wajah gadis itu, dia merasa akan memenangkan permainan karena mendapatkan poin yang sangat tinggi, namun senyumnya segera menghilang begitu dealer mendapatkan kartu AS yang membuat dealer menang secara otomatis dengan total nilai 21 poin.

__ADS_1


"Ah, Bodo lah!" umpat Aurelia, gadis itu menghembuskan napasnya dengan kekecewaan yang mendalam, hatinya hancur karena baru saja dia mendapat harapan palsu. Dengan gerakan tangan yang tiba-tiba, Aurelia segera menutup game Zeus Slot.


"Pembuat game ini sepertinya memiliki masalah serius pada otaknya, atau mungkin otaknya memang sudah pindah ke dengkul," Aurelia mengeluarkan umpatan dengan rasa marah yang tidak bisa ditahan. Meskipun baru saja mulai bermain, dia sudah dikalahkan dengan cara yang sangat tragis.


***


Aurelia berhenti ketika dia melihat sebuah kereta kuda yang rodanya hancur tergeletak di tengah jalan. Dia merasa seseorang sengaja meletakkan kendaraan itu di sana untuk mencegah pengguna jalan melewatinya.


Merasa penasaran, Aurelia mendekati kereta tersebut dan menemukan sebuah pesan yang ditulis menggunakan darah. Pesan yang terdapat pada tulisan itu berbunyi sebagai himbauan agar tidak mendekati Gunung Diraksa.


Bau darah begitu kuat tercium dari dalam gerbong kereta kuda tersebut. Saat melihat apa yang ada di dalam sana, Aurelia dikejutkan dengan pemandangan yang mengerikan, di mana tumpukan mayat memenuhi gerbong.


Mencoba mengetahui apa yang telah terjadi, Aurelia melakukan penyidikan. Dari luka yang terdapat di sebagian besar mayat, Aurelia bisa menyimpulkan bahwa pelakunya adalah Tania.


"Apa dia kehilangan kewarasannya akibat menjadi Mutan?" Aurelia menduga bahwa Tania mungkin telah berakhir sama sepertinya, yang berpikir bahwa manusia adalah makhluk tidak berharga setelah kehilangan sisi kemanusiaan.


Aurelia mulai menganalisis wajah setiap mayat. Ada 35 mayat yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berasal dari sekte Redgold, sementara kelompok lainnya adalah organisasi bandit yang dikenal sebagai Golok Berdarah.


Aurelia tidak dapat membayangkan situasi apa yang membuat Tania terlibat dalam pertempuran berdarah melawan bandit dan sekte dari sisi terang secara bersamaan. Melihat luka-luka yang ada, dapat dipastikan bahwa Tania-lah yang telah membantai mereka, bukan karena pertarungan antara dua kelompok.


Ding!


[Menemukan sebuah pemukiman manusia]


Sistem memberitahu bahwa ada sebuah desa yang berjarak 500 meter dari tempat Aurelia menemukan gerobak yang dipenuhi mayat. Merasa bahwa dia mungkin akan mendapatkan petunjuk jika pergi ke desa tersebut, Aurelia pun meninggalkan tempat yang mengerikan itu.


"Tapi sebelum itu..." kulit wajah Aurelia mulai meleleh, memperlihatkan tengkorak yang terbuat dari titanium. Kemudian kulit yang meleleh itu kembali ke bentuk semula, namun dengan penampilan yang sangat berbeda.


Aurelia menyamarkan penampilannya menjadi seorang gadis berkulit putih, berambut pirang, dan memiliki mata berwarna biru. Sekarang dia terlihat seperti seorang gadis dari Eropa. Terakhir, Aurelia mengubah jubah kuningnya menjadi jas hujan.

__ADS_1


Saat memasuki desa, Aurelia melihat banyak rumah warga yang hancur, noda darah berceceran di bebatuan pinggir jalan atau tembok rumah. Keadaan tempat ini mengingatkan Aurelia dengan desa Buangan.


"Jubah Kuning?" seorang pria dewasa begitu ketakutan saat melihat kehadiran Aurelia. Dia kemudian berlari dengan ketakutan seakan baru saja melihat hantu.


Semua warga desa memandangi Aurelia dengan rasa takut, gadis itu mencoba menghiraukan tatap warga, dan akhirnya Aurelia sampai di depan rumah terbesar di desa tersebut. Aurelia berpikir bahwa rumah itu mungkin adalah rumah dari kepala desa.


"Siapa kau, dan ada urusan apa kau datang ke desa kami?" seorang pemuda keluar dari rumah itu. Dia menggunakan tongkat untuk berjalan karena salah satu kakinya telah menghilang.


"Aku Aur..." Aurelia segera berhenti karena hampir saja menggunakan nama aslinya sebagai perkenalan. "Namaku adalah Aura," lanjutnya memberikan nama palsu.


"Keberadaanku di desa ini hanya untuk mencari seorang wanita." ungkap Aurelia.


Pria cacat itu terdiam sesaat, seolah sedang berpikir untuk memberikan jawaban apa kepada Aurelia. Hingga pada akhirnya, pria itu mengakui bahwa desa mendapatkan tamu yang tidak terduga pada malam sebelumnya.


***


Sebelumnya, selama satu bulan desa ini dikuasai oleh genk bandit bernama Golok Berdarah, membuat keadaan semakin sulit bagi para warga. Tidak ada yang berani melawan mereka, prajurit terkuat di desa ini saja sampai kehilangan kakinya setelah pertempuran yang tidak adil.


Sekte Redgold yang datang ke desa kemarin membuat warga senang, harapan agar bisa diselamatkan mulai tumbuh. Namun, keadaan yang tidak terduga terjadi ketika sikap anggota sekte terlihat begitu datar mendengar keluh kesah warga.


Rupanya, kedatangan sekte Redgold ke desa tersebut bukan untuk para warga, tetapi karena mereka memiliki urusan dengan para bandit. Mengetahui bahwa sekte dari golongan Cahaya saja melakukan penghianatan seperti itu membuat warga merasa pesimis jika ada seseorang yang bisa menyelamatkan mereka.


Tetapi, pertolongan datang dari hal yang tidak disangka-sangka. Malam kemarin ada satu lagi pengunjung yang mendatangi desa, dia adalah seorang wanita cantik dengan pakaian yang dilumuri darah.


Awalnya, beberapa bandit mencoba merayunya, tetapi tindakan itu justru berakhir dengan pertarungan besar. Baik anggota bandit Golok Merah maupun sekte Redgold terlibat pertarungan melawan wanita misterius itu.


Semua orang berpikir jika wanita tersebut akan mudah ditangani, tetapi tidak ada yang mengira jika wanita tersebut sangat kuat.


Singkat cerita, pertarungan sengit terjadi, para bandit yang kerepotan menghadapi Tania akhirnya meminta bantuan sekte Redgold, namun puluhan dari mereka pun tidak cukup untuk menandingi Tania.

__ADS_1


Pertempuran yang hampir berlangsung selama semalaman akhirnya berakhir dengan pembantaian para bandit dan anggota sekte Redgold. Atas kejadian itu, Tania dianggap sebagai pahlawan, tapi Tania tidak peduli.


Tania segera meninggalkan desa tersebut dengan memasukkan tiga puluh lima mayat ke dalam kereta kuda yang nantinya akan dia gunakan untuk menutup jalan menuju gunung Diraksa. Setelah itu, Tania pun pergi dengan kata-kata terakhir yang meminta semua warga berhati-hati terhadap seorang gadis berjubah kuning.


__ADS_2