
Anyelir terbangun saat mendengar suara alarm ponselnya berbunyi, lalu ia keluar dari dalam selimutnya hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi tiba-tiba dia merasa sangat mual dan kepalanya mendadak pusing.
Dia berusaha menahan agar tidak muntah di sana tapi Anye tak sanggup lagi hingga akhirnya dia memuntahkan semua isi perut di lantai kamar itu.
Satya terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Anye muntah, dia kaget lalu melompat dari tempat tidur saat melihat sang istri begitu pucat wajahnya sembari memegangi perut dan kepala.
Dengan sigap Satya menggendong Anye, merebahkan kembali di tempat tidur, lalu mencari saputangan untuk mengelap sisa muntahan yang tercecer di mulut dan pipinya. Kemudian Satya menelephone dokter keluarga untuk segera datang, Satya takut terjadi apa-apa dengan Anyelir saat melihat dirinya begitu lemas dan pucat.
Satya sudah mempunyai pengalaman di saat Nadia hamil jadi dia tidak terlampau panik, tapi yang membuatnya takut adalah kondisi tubuh Anyelir yang terlihat begitu lemah dan dalam beberapa hari belakangan ini Anye sering mengeluh lelah walau tidak mengerjakan pekerjaan apapun.
Sembari menunggu kedatangan dokter, Satya keluar ke dapur membuat teh jahe lalu meminta bibi untuk membantu membersihkan kamar mereka dari muntahan Anyelir.
Sebelumnya Satya meminta maaf karena telah merepotkan bibi sebelum waktunya bibi bekerja.
Bibi tidak mempermasalahkan hal itu, beliau bahkan bilang, kapan saja mereka membutuhkan bantuan, bibi siap. Beliau juga bilang, dulu saat Mama Tiara mengandung Tirta, bibi juga yang membantu mengurusnya.
Dokter keluarga pun tiba, Mama kaget saat melihat dokter menuju ke kamar Satya, lalu beliau bertanya kepada Bibi, siapa yang sedang sakit hingga memanggil dokter.
Lalu Bibi menjelaskan kepada Mama Tiara bahwa Anye mengalami seperti Nyonyanya dulu saat hamil Tirta. Mama pun langsung menuju ke kamar Satya, beliau ingin melihat kondisi menantunya.
Dokter telah memeriksa Anye, beliau menganjurkan agar Anye di bawa ke dokter spesialis kandungan agar bisa mendapatkan penangan yang lebih baik, karena dokter keluarga hanyalah seorang dokter umum.
Satya kemudian meminta Mamanya agar membangunkan Tirta, karena Satya membutuhkannya untuk mengemudikan mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
Mama bergegas pergi ke kamar Tirta dan membangunkannya, Tirta kaget, dia langsung melompat dari tempat tidur dan hendak menuju kamar Satya. Namun Mama segera menarik lengannya ke arah kamar mandi agar membasuh wajahnya terlebih dahulu.
Tirtapun nyengir kuda sembari menarik handuknya dan melangkah ke kamar mandi. Selesai membersihkan dirinya, Tirta segera ke kamar sang Kakak, lalu mereka bersiap membawa Anyelir ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan.
Di dalam mobil, Satya menghubungi dokter kandungan Anyelir dan sang dokter pun siap berada di tempat prakteknya. Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka pun tiba di rumah sakit, Tirta membantu sang kakak mengambil kursi roda.
Lalu Satya mendorong kursi roda istrinya ke ruang praktek dokter. Dokter segera memeriksa Anye yang terlihat begitu lemah. Beliau meminta Satya untuk membaringkan Anye di atas tempat tidur pasien, lalu dokter mulai melakukan pemeriksaan.
Dokter tersenyum, lalu memberi ucapan selamat kepada Satya bahwa Anyelir sedang mengandung anak kembar, walau saat ini belum bisa di ketahui jenis kelaminnya.
__ADS_1
Satya mengucap syukur, dia mencium kening Anyelir sembari mengucapkan terimakasih karena telah mau menjadi ibu dari anak-anaknya. Anyepun membalasnya dengan senyuman dan tetes air mata di kedua sudut matanya.
Kebahagiaan Anye terasa lengkap, dia mendapatkan suami dan keluarga yang baik serta sayang terhadapnya dan kini akan mendapatkan dua baby sekaligus.
Dokter hanya menyarankan Anyelir harus banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi karena ada dua bayi yang akan berebut sari makanan di dalam perutnya. Mengenai muntahnya dokter mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi pada ibu hamil di tri semester awal kehamilannya.
Satya merasa lega setelah mendengar penjelasan dari dokter, lalu sedikit malu diapun bertanya, apakah boleh dan tidak akan membahayakan kandungan Anyelir apabila dia ingin mengunjungi anak-anaknya di dalam perut maminya.
Dokter tertawa lalu menjelaskan, Satya boleh saja melakukannya asal jangan setiap hari karena masih rawan untuk kehamilan muda. Dokter tahu pasangan muda masih hot-hotnya dalam pemenuhan kebutuhan biologis.
Anye yang merasa malu, mencubit lengan Satya sembari membulatkan mata dan memanyunkan bibirnya. Sementara Satya tersenyum mesum sembari memainkan matanya memberi kode bahwa nanti malam dia ingin mengunjungi baby nya.
Dokter tertawa melihat ulah Satya dan melihat Anyelir yang malu, lalu beliau memberi tahu Anyelir agar jangan takut melakukannya asal pelan-pelan pasti aman dan nyaman.
Anye semakin malu, dia memalingkan wajahnya menghadap tembok. Setelah dokter selesai meresepkan obat merekapun di perbolehkan pulang.
Namun sebelum mereka keluar, dokter mengatakan Anye harus rutin memeriksakan kandungannya minimal sebulan sekali. Dan jika ada keluhan jangan segan untuk menghubungi beliau, dokter siap membantu kapan saja dibutuhkan.
Satya dan Anye mengucapkan terimakasih lalu meninggalkan ruangan itu. Satya terus mendorong kursi roda Anye hingga ke mobil, sementara Tirta di minta oleh Satya untuk menebuskan resep obat dari dokter di apotik yang bersebelahan dengan rumah sakit.
Mama Tiara sangat senang tanpa sadar beliau teriak, padahal di situ sedang berkumpul, Kakek, papa Chandra, Radit, Tina dan beberapa orang pembantu yang masih berbenah.
Mereka semua ikut senang dan bersyukur atas berita tersebut, terutama Kakek. Beliau berjanji akan menambahkan bonus kepada seluruh karyawan di setiap perusahaannya sebagai ucapan syukur beliau dan akan membagikan hadiah untuk anak yatim serta anak-anak panti.
Tirta yang telah kembali ke mobil pun merasa penasaran, kenapa raut wajah sang kakak nampak begitu bahagia, lalu diapun segera bertanya, "Ada berita apa Kak hingga membuat Kakakku ini terlihat begitu bahagia?" tanya Tirta.
Satya pun menjawab dengan mengacungkan kedua jarinya. Tirta semakin bingung, lalu dia berusaha mencari jawaban dari Kakak iparnya.
Anye segera menjawab, "Kamu akan menggendong dua keponakan sekaligus, apakah kamu sanggup dek?" tanya balik Anye kepada Tirta.
Tirta tertawa bahagia dan berkata, "Serius Kak, bayi Kakak kembar?" tanya Tirta sembari membulatkan mata tidak percaya.
Anye kemudian mengangguk, dan Tirta pun kembali berkata, "Alhamdulillah, pundak ku masih kuat kak untuk menggendong lima anak Kakak sekaligus," ucapnya sembari tertawa.
__ADS_1
Satya lalu berucap, "Astaghfirullah, lima! bagaimana besarnya perut Kakak iparmu nanti Tirta, membayangkan dua yang ada di dalam sana saja aku sudah ngeri apalagi lima," ucap Satya sembari menggelengkan kepala.
Anye dan Tirta akhirnya tertawa melihat reaksi Satya yang menggeleng sembari membulatkan mata dan melambai-lambaikan tangannya.
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys....vote, like coment dan rate bintang limanya 🙏😉
🌻 Mohon dukungannya juga ya guys dalam karya author yang lain di bawah ini:
Telah up episode 55
Akan up sore ini episode 9
Telah Up episode 44
__ADS_1
🌻 Terimakasih atas semua dukungannya ya guys, saya tunggu lho dukungan selanjutnya 🙏😉