
Mereka berenam tiba di kampung sekitar pukul enam sore, Ayah dan ibu menyambut kedatangan anak, menantu serta sahabat-sahabatnya dengan sangat gembira.
Tetangga pun ikut senang mereka pada berdatangan untuk mengabarkan kepulangan Anye dan Tina.
Warga merasa bangga bahwa anak gadis yang berasal dari kampung mereka berhasil mendapatkan jodoh yang baik dan juga tajir, sehingga membuat mereka meminta anak-anaknya kelak setelah tamat sekolah untuk merantau juga ke kota.
Mereka sangat berharap anak-anaknya kelak mendapatkan nasib yang baik dan sama beruntungnya seperti Anye dan Tina.
Para warga hanya tahu keberhasilan Anye dan Tina saja, mereka tidak tahu bagaimana kejam dan kerasnya kehidupan kota seperti yang pernah di alami oleh Tina.
Syukurnya Anye tidak mengalami hal itu karena Tina sebagai sahabat baiknya selalu melindungi agar Anye tidak bernasib sama seperti dirinya.
Tina dan Radit yang tadi memutuskan untuk singgah dulu ke rumah orang tua Anye baru pulang ke rumah orangtua Tina, kemudian izin pamit kepada ayah, ibu, Anye, Satya dan warga yang lain. Mereka akan pulang dulu dan besok pagi berjanji akan kembali untuk berkeliling kampung bersama-sama.
Satya dan Anye pun setuju dengan rencana Radit serta Tina, jika besok mereka akan bersama-sama berkeliling kampung menikmati keindahan alam serta berenang di sungai sembari mencari ikan.
Pak Edi bersama Ayah lalu menurunkan barang dan tas yang ada di mobil untuk di bawa masuk ke dalam rumah, di susul oleh ibu, Anye serta Satya.
Mereka bertiga terkejut ternyata rumah yang Satya beli dulu telah di benahi oleh ayah dan ibu hingga menjadi rumah yang berornamen klasik di dalamnya dan berisi barang-barang yang cukup mewah dan antik sesuai dengan selera Satya.
Melihat hal ini membuat Satya heran, padahal dia dan Anye tidak pernah mengirim uang untuk membenahi rumah maupun membeli barang-barang, mereka hanya mengirim uang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ayah dan ibu saja.
Anye yang merasa penasaran kemudian bertanya kepada ibunya,"Bu, memangnya dapat uang darimana kok ayah dan ibu bisa membenahi rumah dan membeli barang-barang ini? jangan berhutang lagi ya Bu, kami nggak mau Ayah dan Ibu susah."
Kemudian Ibu menjawab,"Kami membenahi rumah dan membeli ini semua memakai uang kalian kok Nak, uang yang kalian berikan tidak pernah kami pakai dan hasil sawah, ladang serta ternak juga sudah berlebih, jadi kalian tidak usah khawatir. Bahkan tahun depan ayah sudah berencana untuk membiayai sekolah anak-anak sahabatnya yang kurang mampu karena diperkirakan hasil sawah dan kebun melimpah untuk panen berikutnya."
"Syukurlah jika begitu Bu, Kami ikut senang, yang penting Ayah dan Ibu tidak kekurangan," ucap Anyelir.
"Iya Nak, pergilah kalian membersihkan diri karena sebentar lagi waktu maghrib tiba, Ibu mau ke dapur dulu, ingin melihat apakah sajian untuk makan malam kita sudah selesai dimasak", ucap ibu.
Satya membersihkan diri terlebih dahulu kemudian dia, ayah dan juga pak Edi berangkat ke masjid yang baru saja selesai di bangun. Satya dan pak Edi sangat kagum melihat begitu megah bangunan masjid padahal anggaran dana yang di berikan Satya seharusnya tidak sebegitu megah.
Ternyata menurut penuturan ayah bahwa penduduk desa sering bergotong royong dalam pengerjaannya jadi bisa berhemat dalam menggaji.
Warga yang sudah berkumpul di masjid senang melihat kedatangan Satya termasuk Pak Lurah dan juga pak Kadus. Mereka mengundang Satya dan Pak Edi agar singgah ke rumah mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbincang, mu'adzin segera mengumandangkan adzan maghrib pertanda sholat berjamaah akan di mulai.
Mereka melaksanakan sholat berjamaah dan doa bersama lalu kembali ke rumahnya masing-masing.
Sebelum Satya, Ayah dan Pak Edi kembali, Pak lurah memberi tahu bahwa peresmian masjid akan dilaksanakan lusa dan beliau meminta agar Satya lah yang melakukan pengguntingan pita.
Satya menolak, ia menyerahkan semuanya kepada ayah sebagai wakil dirinya dan Pak lurah pun setuju.
Sementara Pak Kadus asyik mengobrol dengan Pak Edi, mereka membicarakan kapan bisa pergi memancing bersama, Ayah pun yang mendengarnya kemudian menyahut bahwa besok mereka akan pergi memancing.
Pak Edi dan Pak Kadus pun setuju, besok pak Kadus akan menyusul Ayah dan pak Edi ke sungai setelah tugasnya selesai.
Mereka bertiga pun kembali ke rumah, sedangkan Anye dan Ibu dengan di bantu oleh para tetangga sudah selesai menyajikan hidangan makan malam.
Semua sudah berkumpul di ruang makan, lalu mereka mulai menikmati menu serba-serbi dari hasil kebun Ayah dan juga dari hasil sungai.
Di rumah orang tua Tina juga tidak kalah ramai, para tetangga diundang untuk makan malam bersama, mereka ingin memperkenalkan Radit sebagai calon suami Tina.
Orang tua Tina ingin meluruskan kabar miring yang pernah beredar di masyarakat bahwa Tina di kota bekerja sebagai wanita malam.
Para tetangga senang berkenalan dengan Radit, selain ramah, Radit juga tidak segan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang berwirausaha dan bagaimana menyalurkan hasil pertanian.
Sedikit banyak Radit pernah memiliki pengalaman tentang masalah pertanian saat dulu dia Kuliah Kerja Nyata di sebuah perkampungan yang mayoritas penduduknya adalah petani.
Orang tua Tina merasa senang, calon menantu mereka ternyata bisa cepat membaur dengan tetangga.
Selesai makan malam dan beramah tamah, para tetangga kembali pulang ke rumah mereka masing-masing, sementara Tina sudah mempersiapkan sebuah kamar untuk Radit dan juga pak sopir agar mereka bisa beristirahat.
Rasa lelah selama diperjalanan membuat mereka tidur lebih awal, hanya tinggal Ayah dan Ibu Tina yang masih terjaga sedang membicarakan rencana lamaran yang lusa malam akan mereka adakan.
Begitu juga di rumah Anye, mereka sudah masuk ke kamar masing-masing, ayah dan ibu juga di minta Anye untuk menginap di rumahnya saja.
Satya yang melihat sang istri sudah memakai pakaian tidurnya pun mulai beraksi, dengan udara perbukitan yang dingin menurutnya cocok untuk mulai menjalankan apa yang mereka programkan.
Dia mulai menggoda Anye, berpura-pura memijat karena sang istri mengeluh kelelahan akibat perjalanan mereka, namun lama-kelamaan Satya mencuri kesempatan sembari memijat.
__ADS_1
Anye yang mengetahui keinginan Satya pura-pura tertidur, padahal ia sendiri mulai terpancing oleh ulah nakal suaminya.
Dan Satya sebenarnya pun tahu jika Anye hanya berpura-pura tidur karena ia bisa merasakan sang istri saat ini menginginkan hal yang sama.
Di saat Satya mulai melancarkan aksinya, tiba-tiba Anye berkata, "stop Mas! stop!"
Mendengar perkataan Anyelir, membuat libido Satya surut, kemudian ia berkata,"Ada apa Yang?"
Sembari meringis Anye menjawab, "Anye mau ke toilet."
"Haaah", jawab Satya sembari menghempaskan tubuhnya ke kasur karena nggak bisa menolak kemauan sang istri.
Bersambung......
π»Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys... vote, like, comment dan rate bintang limanya ππ
π» Mohon dukungannya juga ya guys dalam karya baru author yang sedang ikut event lomba
Lomba karya pria tema : Mengubah Takdir dengan judul "MENIKAHI CUCU BILLIONER" sudah update sampai dengan episode 42
Lomba karya wanita, tema: Yang Muda Yang Bercinta , baru saja di mulai dengan judul : "DARINYA KU TAHU ARTI CINTA DAN KEHILANGAN" baru up 3 episode dan sedang dalam proses pembuatan kerangka sampai dengan episode 20.
π» Dukungan kalian para pembaca kesayangan sangat berarti bagi kami para penulis. Terimakasih atas semua dukungannya ya. πππ
__ADS_1
π» Silahkan favorit karya dan follow akun author ya guys, agar para pembaca tahu setiap author Up dan menerbitkan karya baru. Terimakasih ππ