
"Bagian mana yang masih sakit Nye, biar mas panggil dokter lagi."
"Anye nggak apa-apa kok Mas, Mas Satya jangan khawatir."
"Bagaimana tidak khawatir, itu berhubungan dengan arus listrik lho Nye, nyawa taruhannya tadi jika kamu tidak terlepas dari kabel itu. Mas heran kenapa pihak hotel begitu teledor membiarkan kabel sampai menjulur ke lantai."
"Itu bukan salah pihak hotel Mas."
"Kenapa kamu malah bela pihak hotel, karena perbuatan karyawan mereka yang tidak becus membuat kamu celaka."
Kemudian Anye menunjukkan foto tulisan di kamar ganti dan menunjukkan pesan masenger yang mengandung nada ancaman.
"Kenapa kamu tidak bilang Nye, jika mendapat ancaman lagi, jadi kita bisa lebih waspada."
"Sudahlah Mas, Anye sekarang harus berani menghadapi apapun ancaman mereka. Mereka tidak bisa merusak rumah tangga kita. Kita dipersatukan oleh Allah dan hanya Allah yang berhak memisahkan kita bukan mereka. Sekuat apapun usaha mereka untuk memisahkan kita Anye siap menghadapinya walau nyawa Anye taruhannya."
"Kamu istirahat saja Nye, sementara mas akan membereskan barang-barang kita, malam ini juga kita lanjutkan perjalanan ke danau Maninjau. Rasanya tempat ini sudah tidak aman dan tidak nyaman untuk kita."
Satya membereskan semuanya kedalam koper lalu ia menelephone Ardiansyah untuk segera menjemput mereka.
Ardiyansyah segera bergegas mengambil mobil, malam ia ini juga dia harus mengantar Satya dan Anyelir ke sebuah resort yang terdekat dengan Danau Maninjau.
"Ayo Nye Mas pakaikan jaketmu dulu, udara malam di luar pasti sangat dingin karena disini kan daerah pegunungan, Mas takut kamu nanti bertambah sakit, sebentar lagi Ardiansyah pasti sampai."
"Mas sebaiknya juga bersiap, Anye sudah nggak apa-apa lho Mas", jawab Anye sambil beranjak dari sisi tempat tidur lalu memakai jaketnya.
__ADS_1
Ardiansyah sudah menunggu diluar kamar saat Satya membuka pintu hendak mengeluarkan koper. Ketiganya lalu bergegas turun menuju reseption untuk mengembalikan kunci kamar. Pihak hotel juga meminta maaf karena kejadian tadi, telah membuat acara bulan madu mereka terganggu.
Satya dan Anye tidak menyalahkan pihak hotel karena ini memang unsur kesengajaan seseorang yang ingin merusak kebahagiaan rumah tangga mereka.
Udara malam ini sangat dingin, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan perjalanan ke danau Maninjau, Satya berharap disana mereka akan mendapatkan ketenangan tanpa adanya teror lagi. Satya memeluk erat Anye yang hampir tertidur, ia ingin memberikan kenyamanan dan kehangatan bagi istrinya. Selama di perjalanan Ardian memperhatikan Satya dari kaca spionnya, terlihat jelas kekhawatiran disana, kemudian Ardiyan berkata kepada Satya,
"Bos sebenarnya siapa ya yang sering meneror istri bos, saya sangat penasaran, namun belum saya dapatkan petunjuknya sedikitpun."
"Entahlah yan aku juga bingung, disana kita harus lebih waspada, bisa saja si penteror beraksi lagi. Jika perjalanan ini hanya membahayakan Anye lebih baik kami akhiri saja dan kembali ke rumah."
Mereka tiba di sebuah resort yang berada di dekat danau. Ardiansyah telah mengurus semuanya hingga Satya dan Anye bisa langsung beristirahat. Malam ini Anye bisa beristirahat dengan tenang, ia tidak diganggu oleh olahraga malam suaminya, namun ia tidur tetap di dalam pelukan Satya.
Saat subuh tiba mereka melaksanakan kewajiban secara berjamaah, lalu Satya menyeduh jamu dari Mama Tiara dan memberikan kepada Anyelirbdan yang di gelas satunya lagi adalah miliknya.
Satya mencoba membuka jendela namun udara yang terlampau dingin membuat dia menutupnya kembali. Saat melihat istrinya menarik selimut dan bergulung didalamnya membuat dia juga ikut masuk, Satya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia mulai mendekatkan tubuhnya, memeluk, mencium dan melakukan hal yang membuat Anye tidak bisa menolaknya.
Selesai mereka berdandan pengantar sarapan pun tiba, perut Anye mengeluarkan bunyi hingga membuatnya malu, Satya yang tahu istrinya lapar segera mengambilkan terlebih dahulu untuk Anye.
Anye makan dengan lahap hingga membuat Satya menawarkan jatah makannya sebagian untuk Anye. Anye merasa malu namun rasa lapar membuatnya kembali mengambil jatah yang diberikan oleh Satya.
Pemandangan danau dari atas balkon sangat indah, hingga terbersit ide di fikiran Anye untuk membuat unggahan tentang moment bahagianya bersama Satya disini. Anye ingin menunjukkan ke peneror bahwa dirinya tidak pernah gentar sedikitpun walaupun si peneror sudah membuktikan ancamannya.
Berpose dengan aneka gaya ia unggah bahkan moment pelukan dan ciuman mesranya bersama Satya juga tidak luput dari unggahan tersebut.
__ADS_1
Dengan cara seperti ini Anye berharap bisa memancing si peneror agar terang-terangan muncul hingga Anye bisa mengungkap siapa sebenarnya yang ada dibalik ini semua.
Ini perang antara dirinya dengan si peneror makanya ia tidak mau Satya tahu tentang rencananya.
Beberapa menit setelah Anye membuat unggahan masuk pesan lewat WathsApp nya yang isinya,
"Seharusnya aku yang berada di foto itu bersama Dia bukan kamu!, cinta sejatinya saja bisa aku singkirkan apalagi kamu, tunggu saja...kamu akan mengalami hal yang sama seperti Nadia."
Awalnya Anye tersenyum melihat isi pesan itu, ia merasa umpan yang dipasangnya berhasil menarik perhatian pemangsa. Namun ia dikejutkan oleh pesan masuk berikutnya berupa kiriman sebuah foto seorang bayi yang dibalut oleh kain kapan.
Anye bergidik ngeri, apakah ini sebuah ancaman jika ia hamil dan memiliki anak, anaknya akan meninggal seperti halnya yang terjadi pada Nadia.
Untuk menutupi rasa takutnya, Anye kemudian melihat komentar-komentar dari para sahabatnya, terutama komentar dari Tina. Ia sangat rindu dengan Tina dan ingin menceritakan tentang teror ini namun Satya masih ada disana sedang menerima telephone dari Kakek, Anye belum ingin saat ini Satya tahu tentang rencananya.
Tina sangat senang melihat kemesraan Anye dengan Satya, dengan tertawa gembira dia menunjukkan unggahan Anye kepada Radit yang saat ini sedang bersamanya dalam perjalanan menuju kantor.
Semenjak suaminya meninggal semua fasilitas terhenti, kendali aset almarhum suaminya 100 % ada pada istri pertamanya. Sebagai istri siri, Tina tidak mendapatkan bagian apapun, bahkan kendaraan untuk berangkat kerja pun dia tidak punya.
Tina selalu pergi ke kantor dengan naik ojek online, hal ini membuat Radit tidak tega, ia menawarkan diri agar Tina mau berangkat dan pulang kerja bareng dirinya. Ia akan menjemput dan mengantarnya pulang setiap hari layaknya supir pribadi.
Awalnya Tina merasa keberatan, namun Radit dengan caranya berhasil membuat Tina menyetujui usulnya. Makin hari hubungan mereka semakin dekat, Radit merasa mendapatkan kecocokan selama bergaul dan jalan bareng Tina.
Akhirnya Radit pun memberanikan diri mengutarakan niatnya, ia ingin mengakhiri masa lajangnya dengan melamar Tina. Menurutnya dengan selalu bersama, seiring berjalannya waktu cinta diantara mereka pasti akan tumbuh dengan sendirinya. Hanya kepada Tina lah Radit mampu mengungkapkan semua masa lalu yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang ia belum juga menikah.
Radit mau menerima Tina dengan segala kekurangannya dan iapun berharap Tina juga bisa menerima dirinya yang saat ini jelas dihati Radit masih ada cinta lain.
__ADS_1
Mereka sekarang sama berkomitmen untuk saling menerima, saling memahami sampai tumbuh rasa cinta dihati mereka dengan ikatan perkawinan yang akan mereka langsungkan setelah masa Iddah Tina selesai.