
Satya menghubungi Mama Tiara untuk memberitahu bahwa Anye sudah dibawa ke ruang operasi, dia juga menghubungi orang tua Anyelir agar datang dan Pak Edi yang akan menjemput mereka.
Kakek, Radit dan Tina juga sudah di beritahu agar mereka ikut mendoakan keselamatan Anyelir beserta calon bayinya.
Mama Tiara, Tirta dan Nadia baru sampai di klinik dokter langganan Nadia, mereka akan menemani Nadia chek up dulu barulah kembali ke rumah sakit.
Sementara Radit dan Tina pergi menjemput Kakek terlebih dahulu sebelum menuju ke rumah sakit.
Radit tidak berani terlalu kencang mengendarai mobilnya karena kehamilan Tina.
Sedangkan Satya masih saja mondar-mandir sembari berdoa untuk keselamatan istri dan anak-anaknya. Di saat bersamaan seorang ibu hamil melihat Satya tersenyum sendiri sembari membayangkan jika dia melahirkan mungkin suaminya juga akan seperti itu.
Kemudian dia menghampiri Satya sambil bertanya, "Anak pertama ya Mas?"
Satya pun menjawab, "Anak kedua dan ketiga Mbak?"
"Oh, kembar ya Mas. Beruntung sekali istri Mas, sudah anak kedua dan ketiga Mas nya masih saja secemas ini," ucapnya.
"Anak pertama saya meninggal Mbak, jadi hal itu membuat saya trauma menunggu istri Saya lahiran, mudah-mudahan kali ini semuanya berjalan lancar," ucap Satya sembari terus memperhatikan lampu yang ada diatas pintu ruang operasi.
"Sabar ya Mas? saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah berdo'a, semoga segera ada kabar baik dari dalam sana," ucap ibu hamil tersebut memberi semangat kepada Satya.
"Aamiin, terimakasih ya Mbak. Kalau Mbak hamil anak ke berapa?"
"Saya juga anak pertama Mas? saya juga harap-harap cemas, dokter pun menjadwalkan untuk operasi karena kata mereka pinggul saya terlalu kecil jadi susah jika harus melahirkan normal."
"Semoga Mbak juga di beri kemudahan, hingga semuanya berjalan lancar," ucap Satya.
"Aamiin, terimakasih Mas, saya tinggal dulu ya Mas, itu suami saya datang," ucap sang Ibu sembari meninggalkan Satya.
Satya kembali memperhatikan lampu ruang operasi, ternyata sudah padam. Satya semakin cemas saat menunggu dokter maupun suster tidak kunjung keluar dari sana.
Kakek, Radit dan Tina yang baru sampai segera menghampirinya dan Kakek pun bertanya, "Bagaimana Nak? Apakah istri dan anak-anak sehat?"
"Belum tahu Kek, itu lampu ruang operasi baru saja padam, tapi belum terlihat satu orangpun keluar dari sana untuk memberikan keterangan."
"Sabar ya Nak, yang penting kita tetap berdo'a untuk keselamatan dan kebaikan mereka," ucap Kakek.
__ADS_1
Satyapun mengangguk lalu dia bertanya kepada Radit, "Bagaimana keadaan Tina Dit? apa mabuknya parah? lebih baik Tina ambil cuti saja, takutnya Tina kelelahan karena masih hamil muda," ucap Satya.
"Mana bisa Sat, ngidam Tina lain pula dengan Anyelir, Tina maunya bersama aku terus, jika sebentar saja aku jauh eh...ngambek dia!"
Tina yang mendengar suaminya terlalu jujur mencubit lengan Radit dan Raditpun mengaduh sembari membulatkan mata lalu berkata, "Memang benar 'kan Yang?"
"Ya sudah sabar. Nikmatilah masa ngidam istri kalian? itu suatu kesenangan dan kenangan untuk bahan cerita ke anak-anak kalian besok," ucap Kakek.
Saat mereka asyik mengobrol seorang suster datang memberitahukan jika kedua bayi Satya sudah lahir dan semua sehat, cuma Anyelir belum sadar.
Semua mengucap Alhamdulillah, tapi entah kenapa perasaan Satya tidak enak saat mendengar Anye belum sadar tapi dia langsung menepis perasaan itu saat dokter meminta Satya masuk untuk mengadzankan bayinya karena sudah selesai di bersihkan oleh para suster.
Kakek dan yang lainnya sudah tidak sabar ingin melihat mereka, namun mereka masih harus menunggu sampai para bayi dipindahkan ke ruangan khusus bayi.
Satya yang sudah ada di dalam ruangan operasi, dia lebih dahulu menghampiri Anyelir, mencium kening Anye sembari menangis dan mengucapkan terimakasih karena telah membuatnya menjadi seorang Papa.
Kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Anye, "Cepat sadar ya Sayang? anak kita sedang menantimu, minta digendong. Sekali lagi terimakasih Sayang?" ucap Satya sambil mencium Anye kembali.
Diapun menghapus air mata, lalu menghampiri putra-putrinya yang begitu kecil. Satya kembali meneteskan air mata bahagia melihat bayi-bayi mungil itu membuka matanya dan menggeliat di gendongan kedua orang suster.
Satyapun duduk lalu suster memberikan kedua bayi itu di gendongan Satya. Satya mengangkat sang putra yang ada di tangan kanan ke dalam pelukannya, mencium kening dan puncak kepala, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga bayi, mengumandangkan suara adzan ditelinganya.
Suster kembali mengambil kedua bayi itu dari tangan Satya karena mereka akan memberinya susu dan memindahkan ke ruangan bayi.
Dokter kemudian meminta Satya ke ruangannya, ada hal penting yang akan dokter bicarakan. Dokter mempersilakan Satya untuk duduk, lalu beliau pun berkata, "Selamat ya Mas, bayinya ganteng dan cantik seperti kalian," ucap sang dokter.
"Terimakasih Dok, ini kebahagiaan yang tak ternilai bagi kami dok, tapi kenapa ya Dok? istri saya kok belum sadar?" tanya Satya yang masih merasa khawatir.
"Inilah yang akan saya bicarakan Mas," ucap dokter sembari menarik nafas dalam dan memandang wajah Satya.
"Ada apa dok dengan istri saya? tidak ada hal yang serius, kan, Dok?" tanya Satya khawatir.
"Maaf Mas, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi istri Mas koma pasca operasi," ucap dokter menyesal.
"Apa Dok!"
Satya sangat terkejut mendengar perkataan dokter, jantungnya seperti berhenti berdetak, napasnya sesak, dia diam tak mampu berkata-kata, hanya air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat barulah Satya berkata, "Kenapa hidup begitu kejam Dok? dulu Saya kehilangan anak, Nadia tidak kunjung sembuh dan kini Allah memberi Saya kebahagiaan dengan mengirimkan dua malaikat kecil tapi kenapa Allah lagi-lagi menguji kami dengan komanya Anyelir," ucap Satya lirih.
Dokter tahu apa yang dirasakan oleh Satya, Beliau membiarkan Satya mengeluarkan kesedihan dan kekecewaannya.
Setelah Satya terlihat lebih tenang, dokter pun berkata, "Mas harus sabar dan tabah, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan kita, pasti ada hal baik di balik musibah ini," hibur sang Dokter.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan istri Saya Dok? apa istri saya ada mengidap penyakit hingga membuatnya koma?" tanya Satya sembari menghapus air matanya.
"Jatuhnya Mbak Anye selama masa kehamilan mengakibatkan adanya pembekuan darah di dalam rahim Mas dan waktu itu tidak terdeteksi oleh kami, mungkin karena tertutup oleh tubuh bayi kembar dan tadi saat operasi, sempat terjadi pendarahan, untung saja suntikan obat bisa menghentikannya."
Satya sangat menyesal kenapa dia tidak bisa menjaga Anye saat masa kehamilannya hingga membuatnya sering tejatuh. Kemudian dia mengelap wajahnya dengan kasar sembari bertanya, "Jadi kira-kira berapa lama Dok, Anye bisa sadar?"
Dokter menggelengkan kepala, sembari berkata, "Kami belum bisa prediksi Mas, bisa saja seminggu, sebulan bahkan setahun ataupun lebih."
"Saya mohon dok berikan pengobatan terbaik kepada Anye agar dia bisa cepat sadar, berapapun biayanya saya sanggup mengusahakannya Dok!" ucap Satya yang tidak peduli sekalipun hartanya habis yang penting Anye bisa sadar.
"Banyak berdo'a ya Mas dan usahakan sesering mungkin ajak pasien berinteraksi dengan mengajaknya berbicara. Walaupun dia tidak menanggapi ucapan kita tapi dalam kondisinya saat ini, dia masih bisa mendengar apa yang kita bicarakan," ucap Pak Dokter.
Lalu Dokter melanjutkan ucapannya, "Kami akan terus berusaha Mas dan juga berdo'a. Saya akan upayakan pengobatan terbaik dan bila di perlukan mendatangkan dokter dari luar agar istri Mas bisa cepat sadar."
"Terimakasih Dok, Saya permisi dulu. Saya akan memberitahu keluarga tentang hal ini," ucap Satya.
Satya keluar dari ruangan dokter dengan lesu, Kakek dan yang lain merasa heran, lalu mereka mendekati Satya dan bertanya kenapa Satya bersikap tidak bersemangat.
Radit curiga, pasti terjadi hal buruk hingga membuat Satya sedih, lalu dia merangkul sahabatnya itu, membawanya ke tempat duduk di ruang tunggu lalu perllahan mengajaknya berbicara.
Satya pun menjelaskan kondisi Anyelir hingga membuat Kakek, Radit dan Tina terkejut, lalu Kakek
berkata, "Kita harus sabar Nak, yang penting sekarang kamu harus jaga dia dan rawat anak-anak kalian dengan baik."
Lalu Kakek melanjutkan ucapannya, "Kakek akan konsultasi dulu dengan dokternya, agar perawatan Anyelir bisa dipindahkan di rumah saja. Dengan begitu kamu bisa lebih fokus merawatnya dan dia akan merasa dekat terus dengan kalian. Mungkin perhatian dan tangis anak-anak yang ada di dekatnya bisa berdampak baik, memancing kesadarannya," ucap Kakek.
Satya memeluk Kakek sembari berucap, "Terimakasih Kek, Kakek telah mencarikan jalan keluar untuk kami, mudah-mudahan cara ini bisa berhasil."
Bersambung......
๐ป Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih ๐
__ADS_1
๐ปSelamat pagi para readers kesayangan "TERIKAT CINTA LAIN" aku punya rekomendasi karya yang bagus dari sahabatku dan pastinya jamin nagih deh untuk terus membacanya, silahkan di kepoin ya....dan jangan lupa tinggalkan jejaknya disana ya....๐