
Radit meninggalkan ruangan Satya, ia ingin menemui Tina untuk membicarakan keberangkatan ke kampung halaman bersama dengan Satya dan Anye.
Tina yang sudah menyelesaikan tugasnya dan akan pulang kebetulan berpapasan dengan Radit, kemudian mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan di resto sekaligus Radit ingin minum kopi.
"Apa yang ingin kak Radit bicarakan?", tanya Tina sesampainya di resto.
"Satya dan Anye mengajak kita pergi ke kampung halaman kalian, mereka akan berbulan madu sekaligus mengunjungi Ayah dan ibunya Anyelir. Bagaimana menurutmu Tin, jika kita sekalian ikut, aku berencana mengajukan lamaran kepada ayah dan ibumu, mengenai pernikahan lebih baik kita laksanakan di sini saja, karena Kakek Adiartha menelephoneku katanya beliau yang akan mempersiapkan semuanya", ucap Radit.
"Serius Kak Radit, kita akan pulang kampung?", tanya Tina yang merasa tidak percaya.
Radit mengangguk, kemudian berkata," Aku kan juga ingin berkenalan dengan Ayah dan Ibu dan ingin menikmati keindahan kampung halaman kalian yang kata Pak Edi dan Satya sangat Indah."
"Alhamdulillah, terimakasih Kak. Tina sangat senang, sudah lama Tina tidak pulang, Tina sangat rindu dengan Ayah dan Ibu", ucap Tina.
"Jika kamu setuju, besok kita belanja perhiasan dan kebutuhan lain untuk acara lamaran karena waktu keberangkatan sudah mepet", ucap Radit.
"Memangnya kita akan berangkat kapan kak?", tanya Tina.
"Rencana Satya tiga hari lagi, saat ini dia sedang mengatur agenda kerja dan Anye juga belum membereskan pekerjaan serta belum mendapat izin dari kampus."
"Oh-baiklah kak, Tina ikut rencana Kak Radit saja."
Radit kemudian menelephone Satya untuk memberitahu bahwa Tina setuju ikut dan Radit ingin meminta tolong agar mereka menemani belanja kebutuhan lamaran, soalnya Radit belum berpengalaman soal itu.
Satya setuju, besok mereka akan menemani Tina dan Radit ke toko perhiasan serta ke butik.
Setelah ada kata sepakat, Tina kemudian pamit pulang, kali ini Radit tidak bisa mengantar karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Sementara Anye hendak ke kampus, namun Satya juga Radit tidak bisa mengantarnya. Kemudian Satya meminta sopir kantor untuk mengantarkan Anye dan meminta pak sopir agar menunggu Anye sampai pulang.
Anyepun pamit kepada Satya, Satya berpesan agar Anye tidak terlalu dekat dengan Adam. Satya tidak ingin kedekatan mereka akan memberikan harapan bagi Adam, yang bisa mengancam kebahagiaan rumah tangganya.
__ADS_1
Setelah mengiyakan permintaan suaminya, Anye segera berangkat ke kampus. Anye tiba disana berbarengan dengan kedatangan Adam, ia sengaja berlama-lama duduk di dalam mobil, menunggu Adam jalan terlebih dahulu menuju kelas.
Ternyata dugaan Anye salah, Adam yang telah melihat dirinya ada di dalam mobil lalu menghampiri, ia menyapa pak sopir dengan ramah, kemudian mengajak Anye untuk bersama-sama masuk kelas.
Anye tidak mempunyai alasan untuk menolak, lalu ia turun dari mobil dan mengikuti Adam berjalan menuju kelas.
Adam berusaha mensejajarkan langkah, padahal Anye sengaja berjalan lambat agar Adam jalan terlebih dahulu. Memang sih yang Adam bicarakan hanyalah mengenai perkuliahan namun Anye tetap ingin menjaga jarak sesuai permintaan sang suami.
Mereka sudah tiba di depan kelas, Anye masuk ke kelasnya sedangkan Adam di kelas sebelah karena mata kuliah yang diajarkan oleh Adam baru ada jadwalnya di kelas Anyelir lusa sore.
Perkuliahanpun berjalan lancar, setelah selesai Anye segera menemui bagian kemahasiswaan, ia ingin meminta izin tidak masuk kelas selama satu minggu ke depan, namun ia bingung jika nanti ditanya alasan apa yang akan ia ajukan.
Ternyata saat tiba di sana, karyawan bagian kemahasiswaan langsung berkata,"Dengan Ibu Anyelir, istrinya Tuan Satya kan?"
Anyelir bengong, mengapa mereka bisa ingat padahal bertemu baru satu kali saat mendaftar.
"Tadi siang Tuan Satya telephone kami, beliau meminta izin untuk Bu Anyelir, tidak akan masuk kuliah selama satu minggu ke depan. Selamat ya Bu untuk perjalanan bulan madunya, semoga lancar apa yang sedang di programkan", ucap salah satu karyawan di sana.
"Oh, Syukurlah jika suami saya sudah telephone, terimakasih ya Bu atas bantuannya", ucap Anyelir sembari meninggalkan tempat itu.
Lalu Adam bertanya,"Memangnya kamu mau kemana Nye kok izin seminggu nggak masuk?"
Anye lebih baik jujur supaya Adam menjauh dan mencari wanita lain, kemudian ia berkata bahwa Satya mengajaknya berbulan madu ke kampung halamannya sekaligus mengunjungi orangtuanya.
Adam terdiam, lalu ia mengucapkan selamat jalan dan ia mendoakan supaya Anye cepat mengandung.
Kemudian Adam berkata lagi,"Masih boleh kan Nye aku berteman denganmu? apakah Satya keberatan jika kita berteman?", tanya Adam.
Anye terdiam sesaat, sebenarnya ia tidak masalah jika Adam tetap ingin berteman namun Anye harus menjaga perasaan suaminya, makanya ia bingung harus menjawab apa.
"Ya sudah Nye, jika begitu selamat jalan dan selamat berbahagia ya, titip salam buat ayah dan ibu kamu, itu jemputan kamu juga sudah menunggu", ucap Adam sembari tersenyum dan berjalan ke arah mobilnya, sepertinya ia tahu jika Anyelir ingin menghindarinya.
__ADS_1
Anye merasa tidak enak, tapi ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman hubungan diantara mereka bertiga, lalu Anye naik ke mobil dan meminta pak sopir untuk mengantarnya pulang.
Anye tiba di rumah sedikit telat karena jalanan yang macet, terlihat Satya sudah menunggunya di teras rumah dengan berpakaian santai, pertanda Satya sudah sejak tadi tiba di rumah.
Satya dan Anye berterimakasih kepada pak sopir sebelum beliau pergi, lalu Anye mendekati Satya untuk menyalim tangannya seperti biasa.
Setelah itu Satya mengajak Anye masuk dan mengambilkan handuk serta baju mandinya, kemudian ia berkata,"Mandilah Nye dengan air hangat yang sudah Mas siapkan, karena hari sudah malam tidak baik mandi air dingin", ucap Satya.
Anye tersenyum dan berterimakasih karena Satya sudah memperhatikan dan memikirkan kesehatannya.
Anye sudah selesai mandi dan mencari Satya tetapi ia tidak ada di kamar, lalu Anye pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam, alangkah terkejutnya ia saat melihat Satya tengah menyajikan makanan.
Kemudian Anye berkata,"Lho, kenapa mas yang menyajikan makanan, memangnya Bik Imah kemana?", tanya Anye.
"Bik Imah tadi siang izin pulang ke kampung Nye, anaknya sakit dan rindu ingin bertemu bibi", ucap Satya.
"Lantas, hidangan ini siapa yang memasak Mas? jangan bilang mas pulang lebih awal untuk memasak", ucap Anye sembari menunggu jawaban dari Satya.
"Memang Mas yang masak, bolehkan sesekali memanjakan istri? kamu kan capek jika pulang kuliah musti memasak lagi. Makanan beli juga bosan Nye, lebih bagus masak sendiri walaupun hanya masakan sederhana", ucap Satya sembari mempersilakan Anye duduk bak permaisuri.
Anye tersenyum, ia merasa tersanjung diperlakukan seperti ini oleh Satya, kemudian Satya mengambilkan istrinya makanan, padahal biasanya Anyelah yang melayani Satya jika berada di meja makan.
Satya menyuapkan makanan ke mulut istrinya, barulah ia menyuap untuk dirinya sendiri, lalu Satya berkata,"Bagaimana rasa masakan yang mas buat Nye?", tanya Satya.
Anye mengacungkan kedua jempolnya sembari berkata,"Ternyata suamiku bukan hanya seorang pengusaha sukses namun juga seorang koki handal", ucapnya sembari tertawa.
Malam ini menjadi malam spesial bagi Anyelir, ia tidak menyangka Satya bisa seperhatian ini terhadapnya. Anye bersyukur, Satya dari hari ke hari makin bisa menunjukkan perhatian, kasih sayang dan cinta terhadap dirinya.
Anye berharap perhatian dan cinta Satya tidak akan pernah berubah walau nanti Nadia kembali, ia hanya ingin diperlakukan adil walau Anye sadar dirinya hanya yang kedua.
Bersambung......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys.... vote, like, comment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏😉
🌻 Mohon favorit dan follow akun author ya, agar pembaca kesayangan author tahu kapan author update dan menerbitkan karya baru.🙏🙏🙏