
Hati dan pikiran Satya tidak tenang sejak ia kembali dari mengantar pulang Anyelir, keberadaan Adam di tempat kost Anyelir telah mengusiknya. Firasatnya mengatakan bahwa Adam sepertinya tertarik terhadap Anyelir, padahal itu kali pertama kan Satya bertemu Adam.
Rasa lelah akhirnya membuat Satya tertidur dan ia baru terbangun saat mendengar suara Adzan berkumandang. Satya bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya kemudian menjalankan ibadah sholat subuh setelah itu ia bersiap untuk kerumah sakit terlebih dahulu barulah ia ke kantor.
Sesampainya Satya di rumah sakit ia langsung menuju ke ruang rawat kakek Permana, disana terlihat Radit sedang membantu kakek untuk memberinya sarapan. Selama Satya keluar Raditlah yang menggantikannya untuk menjaga kakek.
"Assalamu'alaikum kek", sapa Satya.
Radit menjawab salam dari Satya dan kakek menjawab di dalam hatinya sembari tersenyum.
Bagaimana kondisi kakek hari ini? apa dokter belum mengatakan apapun Dit tentang perkembangan kesehatan kakek.
Masih belum ada perkembangan yang baik Sat, kakek masih harus banyak istirahat.
Kemudian Satya mendekati tempat tidur kakek dan meminta piring ditangan Radit, ia ingin menggantikan Radit menyuapkan makanan untuk kakeknya.
" Kek...biar Satya ya yang menggantikan tugas Radit, kasihan dia biar bisa istirahat".
Kakek hanya mengangguk karena kondisi kakek masih lemah dan belum bisa banyak bicara.
"Dit kamu silahkan istirahat dulu, nanti sekitar jam 3 sore aku baru ke kantor jadi sebelum itu kuminta kamu balik kesini ya. Rencananya aku mau jemput Anyelir, ingin mengenalkannya kepada kakek".
Kakek yang mendengarnya terlihat senang dan berusaha untuk berbicara, tapi Satya melarangnya.
" Kakek jangan banyak bicara dulu ya, kakek harus cepat sembuh jika ingin menyaksikan Satya menikah. Nanti sore sepulang dari kantor Satya akan membawa Anyelir calon istri Satya kesini untuk bertemu kakek. Kakek pasti senang jika bertemu dia, Anye sangat baik, lembut, penyabar dan tentunya juga sangat cantik kek, betulkan Radit?", tanya Satya agar Radit mempertegas apa yang Satya bilang ke kakeknya supaya sang kakek lebih percaya.
" Iya betul kek, Kalau saja dia bukan calon istri Satya, bakalan Radit duluan yang meminangnya kek. Susah di zaman sekarang cari orang seperti Anyelir kek".
Kakek yang mendengar kedua cucunya memuji-muji Anyelir membuatnya tak sabar ingin segera bertemu. Wajah yang tadinya tampak pucat dan lemah kini terlihat lebih cerah dan ceria. Ternyata kabar yang Satya sampaikan telah membawa pengaruh besar terhadap keinginan kakek untuk sembuh.
"Selesai makan dan minum obat, pokoknya kakek harus istirahat lagi ya... biar nanti sore jika bertemu calon cucu mantu, kakek akan terlihat lebih segar dan bisa ngobrol dengan Anyelir", ucap Radit.
" Jika kakek cepat sembuh minggu depan Insha Allah Satya akan menikahi Anyelir, Satya tidak mau menikah tanpa kakek".
Kakek menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya kakek berkata " Aku harus sembuh, aku ingin melihat cucuku bahagia". Tak terasa air mata mengalir dikedua sudut matanya.
Satya dan Radit yang melihatnya merasa terharu, ternyata begitu besar kasih sayang kakek kepada Satya hingga dia berkeinginan sembuh demi melihat Satya menikah. Satya kemudian mengelap air mata kakek dengan kedua tangannya lalu memintanya untuk tidur.
Setelah kakek tertidur, Radit menarik tangan Satya agar keluar kamar, ada yang ingin dia tanyakan.
" Serius lu Sat?, mau menikahi Anyelir", tanya Radit tak percaya.
__ADS_1
Satya pun mengangguk.
" Memangnya Anyelir sudah setuju?"
" Anyelir menyerahkan semua keputusan kepadaku, yang penting dia memiliki satu permintaan yaitu sebelum pernikahan dia ingin kami berkunjung ke kampung untuk meminta restu kepada Ayah dan ibunya".
" Oh syukurlah jika begitu, gampang amat syaratnya".
" Iya, memang dia gadis yang baik. Ia tidak banyak menuntut bahkan untuk cintaku sekalipun".
" Beruntung kamu Sat, mendapatkan dua wanita baik sebagai istrimu. Nah aku untuk dapatkan satu aja sulit".
" Kamu sih nggak serius, asyik pilih sana sini dan akhirnya nggak dapat satu pun".
" Jadi Nadia bagaimana? apa dia sudah tau jika kamu sudah mendapatkan calon madunya".
" Belum sih, rencanaku nanti setelah Anyelir bertemu kakek dan bertemu kedua orang tuaku barulah aku akan beritahu Nadia".
" Tapi Nadia tetap belum mau pulang Dit", Satya menghentikan ucapannya dan mendesah perlahan.
" Waktu itu aku sengaja bilang ke dia aku akan segera menikah eh dia malah bilang Alhamdulillah dan dia akan mendo'akan kami dari sana agar segera mendapatkan momongan dan dia memintaku untuk mengirimkan foto pernikahan dengan istri keduaku. Lalu dia mengatakan akan kembali ketanah air dan akan menemui kami jika dia sudah benar-benar siap".
Satya pun mengangguk.
" Iya, dia sangat keras kepala, ternyata kamu masih ingat betul ya Dit tentang prinsip dan kepribadian Nadia".
Radit hanya mengangguk, di dalam hatinya Radit berkata " Bahkan aku lebih mengenal kepribadian istrimu Sat daripada kamu. Sakitnya sekarang membuatku juga sakit, aku belum bisa mendapatkan wanita pengganti Nadia dihatiku".
" Sat aku pulang dulu ya mau mandi dulu rasanya badanku gerah banget, setelah itu baru aku ke kantor".
" Ya sudah sana, tapi ingat jam 3 nanti harus sudah sampai sini ya Dit".
" Siap bos, laksanakan sesuai perintah".
" Satu lagi Dit !".
" Apa itu Sat".
" Cepat cari pasangan biar kita aqad bareng pasti kakek lebih senang lagi".
" Ah sialan lu ! ", Radit pun segera pergi meninggalkan Satya yang sedang tertawa puas karena berhasil mengerjain Radit.
__ADS_1
Satya kembali masuk ke dalam ruangan Kakek, ternyata kakek sudah terbangun. Kakek melambaikan tangannya memanggil Satya agar duduk di dekatnya.
Kakek terlihat lebih segar daripada tadi pagi saat Satya baru datang.
" Iya kek, kakek mau Satya kupaskan buah?"
"Iya", jawab kakek.
Satya kemudian mengupas buah apel lalu memotongnya kecil-kecil agar kakek mudah mengunyahnya. Dengan sabar Satya menyuapkan satu persatu kepada kakek buah apel yang telah dipotongnya dengan menggunakan garpu.
Setelah selesai kakek memegang tangan Satya kemudian berkata dengan terbata-bata,
" Benar kamu akan menikah? bukan karena terpaksa kan? kakek tidak mau kamu melakukannya dengan terpaksa. Kamu harus adil terhadap istri-istrimu nanti, kasihan gadis itu bila kamu menyia-nyiakan dia, apalagi sampai menceraikannya. Ingat, Allah sangat membenci perceraian".
" iya kek, Satya tidak akan menceraikan istri-istri Satya dan Satya akan berusaha adil terhadap mereka".
Saat mereka asik berbincang, dokter yang merawat kakek datang untuk memeriksa kondisinya.
Selamat Siang Kek, nampaknya hari ini banyak kemajuan nih, biar saya periksa dulu ya kek.
Setelah dokter memeriksanya ternyata kondisi kakek semakin membaik kini tinggal pemulihan saja. Dokter pun heran tadi pagi padahal kondisi kakek masih sangat buruk.
"Alhamdulillah", kata pak dokter.
" Kondisi kakek sudah mulai stabil, Semangat terus untuk sembuh ya kek, tenang dan senangkan hati itu yang utama pasti kakek cepat pulih. Itu saya lihat wajah kakek sudah nampak sumringah sepertinya hati kakek sedang bahagia.
" Iya pak dokter", jawab kakek.
" Saya memang lagi bahagia pak dokter, cucu saya sebentar lagi akan menikah dan saya akan segera menjadi kakek buyut".
" Alhamdulillah....selamat ya nak, ternyata kabar darimu telah membuat kakekmu semangat untuk sembuh, kabar baik merupakan obat yang paling ampuh untuk proses penyembuhan kakek".
" Terima kasih pak dokter", jawab Satya.
"Jadi kira-kira kapan kakek saya bisa pulang dok?", tanya Satya.
" Jika kondisi kakek bisa bertahan seperti ini terus atau bahkan bisa lebih baik, 2 atau 3 hari lagi insha Allah kakek sudah di perbolehkan pulang".
"Alhamdulillah", jawab Satya.
Satya merasa lega mendengar apa yang di katakan dokter dan ia mengucapkan terimakasih kepada dokter berkat rawatannya kini kondisi kakek tidak membuatnya khawatir lagi.
__ADS_1