
Jodoh merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah SWT yang tertulis di lauhul mahfuz dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya.
Janji Allah wanita atau pria baik niscaya akan dipertemukan dengan yang baik pula begitu pula sebaliknya, makanya seringkali dikatakan jodoh itu adalah cerminan diri kita. Jika kita sudah berusaha baik tapi masih juga dipertemukan dengan yang tidak baik berarti itu ujian kesabaran bagi kita untuk merubahnya menjadi lebih baik.
Bagi Anyelir keyakinan akan jodoh semuanya ia pasrahkan kepada Allah, kebimbangannya terjawab dalam Istikharahnya bahwa Satya benar jodoh yang telah dipilihkan Allah untuknya.
Tinggal bagaimana kedepannya ia bisa mewujudkan kebahagiaan berumah tangga bersama Satya dan Nadia yang merupakan jodoh pilihan Allah untuk Satya sebelum dirinya.
Ini semua mungkin ujian kesabaran bagi diri Anye harus terikat cinta dengan pria yang sebelumnya sudah memiliki ikatan cinta lain.
Seperti kemaren, pagi ini Satya juga menjemput Anye, mereka berencana akan ke butik langganan Mama Tiara untuk fitting baju pernikahan setelah itu ke kampus baru lanjut berangkat ke kantor.
Satya yang melihat Anyelir telah bersiap segera berpamitan kepada Bu Ida dan teman-teman yang lain. Dia kemudian melajukan mobilnya ke alamat butik yang telah direkomendasikan Mamanya.
Setibanya mereka disana pemilik butik yang merupakan teman Mama Tiara menyambut mereka dengan ramah, ia mempersilakan keduanya masuk dan memperlihatkan berbagai rancangan baju terbarunya untuk acara aqad nikahan.
Dengan bantuan asistennya satu persatu model gaun ia pakaikan ke Anyelir untuk mendapatkan kecocokan berdasarkan selera kedua calon pengantin.
Setelah mencoba beberapa gaun akhirnya Anyelir dan Satya memutuskan memilih sebuah gaun sederhana lengkap dengan hijab dan cadar berwarna putih dengan sedikit kombinasi bordir berwarna emas. Walaupun pilihan mereka cukup sederhana namun tetap menunjukkan kesan cantik dan elegan saat dipakai oleh Anyelir.
Sementara Satya memilih baju berwarna cream juga bermotif bordir emas sederhana di bagian pergelangan tangan dan dibagian depan sampai bagian leher plus sebuah sorban dengan warna senada.
Pilihan baju sudah mereka dapatkan, tinggal pihak butik mengirimkannya ke rumah mereka masing-masing.
Selesai fitting baju mereka melanjutkan perjalanan ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Perhotelan untuk mendaftarkan diri Anye sebagai mahasiswi di sana.
Satya mengurus semua kelengkapan data yang pihak kampus butuhkan serta membayar biaya pendaftaran dan biaya kuliah untuk setahun kedepan. Setelah proses pengurusan administrasi selesai Satya mengajak Anye berkeliling kampus untuk mengenalkan suasana kampus kepada Anye.
Kemudian Satya bertanya, " Bagaimana Nye, kamu suka kampus ini?".
" Iya Mas Anye suka kampus ini, lagian tidak terlalu jauh kan dari kantor jadi lebih memudahkan Anye jika harus bolak-balik dari kantor kesini. Jadi kapan Anye bisa mulai kuliah Mas?"
__ADS_1
" Tadi sudah Mas konfirmasi ke mereka kamu mulai kuliah dua minggu setelah kita menikah jadi kamu bisa atur jadwal antara pekerjaan dan jadwal kuliah. Khusus untuk mahasiswa dan mahasiswi yang terikat pekerjaan mereka membuka jam perkuliahan sore, jadi Mas pilih jadwal itu buatmu Nye".
" Oh... terimakasih Mas, dengan begitu tidak terlalu mengganggu jam kerja Anye, cuma pulangnya kira-kira jam berapa ya Mas?"
" Sekitar jam tujuh malam, paling lambat sekitar jam delapan, masalah pulang biar Mas nantinya yang jemput kamu-Nye dan jika Mas nantinya sibuk paling minta tolong Pak Edi buat jemput".
" Bagaimana jika Anye beli motor aja ya Mas jadi kan lebih efisien, Anye tidak usah menyusahkan siapapun dan bisa pulang pergi dengan cepat tanpa terjebak macet".
" Jangan Nye, Mas tidak akan izinkan kamu naik motor, bahaya...apalagi sempat kamu nanti pulang malam sendirian, lebih baik kamu diantar jemput oleh Pak Edi saja pasti lebih aman".
" Ya sudah terserah Mas, Anye nurut aja. Mas izinkan Anye kuliah saja sudah sangat bersyukur".
" Habis dari sini kita pergi makan siang dulu ya Nye baru kita balik ke kantor".
" Terserah Mas bagaimana baiknya aja".
" Kamu ingin makan dimana Nye?".
" Cafe yang terdekat dari sini saja ya Mas, kita kan harus cepat balik ke kantor lagi soalnya ada pekerjaan yang harus Anye selesaikan".
Kemudian mereka berjalan keluar dari area kampus menuju cafe yang diinginkan Anyelir, ternyata pengunjung cafe sangatlah ramai di jam makan siang karena lokasi cafe dekat dengan Area perkantoran. Jadi karyawan-karyawan kantor sekitaran cafe pada makan di sini.
Satya dan Anye memilih tempat duduk yang kosong di sudut cafe, dari situ mereka bebas melihat orang yang lalu lalang, tiba-tiba mata Anye tertuju kepada sosok orang yang telah mengancamnya sewatu di dalam mobil Satya, orang itu berjalan keluar meninggalkan cafe.
Anye segera menarik tangan Satya untuk mengejarnya, Satya yang tidak tahu maksud Anye bingung kenapa Anye menariknya dan mengajak keluar padahal mereka belum memesan apapun.
Setelah tiba diluar cafe mata Anyelir celingukan, ia berharap bisa melihat dan menemukan sosok orang misterius yang dicarinya tapi ia tetap tidak menemukannya.
Satya yang memperhatikannya sejak tadi merasa heran, kemudian ia bertanya kepada Anyelir, " Siapa yang kamu cari Nye, kenapa kamu menarik Mas keluar, ada apa sebenarnya?"
Kemudian Anyelir menceritakan apa yang dia lihat, lalu Satya berlari ke arah jalan raya, dia ikut mencari mana tau masih bisa menemukan orang yang Anye maksud, namun Satya juga tidak menemukan orang tersebut.
__ADS_1
" Sudahlah Nye mungkin kamu salah lihat orang, ayo kita kembali ke dalam, kita belum memesan makanan, perut Mas sudah keroncongan nih minta diisi".
Merekapun kembali kedalam ketempat duduk semula lalu memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera mereka.
Anye menyantap makanannya tanpa berselera, ia hanya mengaduk-aduk makanannya, ia kefikiran terus dengan apa yang ia lihat barusan.
Satya yang melihat Anye seperti itu kemudian menegurnya, " Nye...ayo cepat dimakan sebentar lagi kita harus ke kanntor, sudah jangan difikirkan lagi masalah tadi yang penting ia tidak menyakitimu".
" Ayo mas kita kembali ke kantor saja, Anye tidak berselera lagi makan, nanti jika Anye lapar biar beli makanan via online saja mas".
" Ya sudah, mari kita ke kantor".
Satya dan Anye segera meninggalkan cafe itu, mereka kembali ke kantor karena masih ada tugas yang harus mereka lakukan.
Setelah sampai kantor Anye dan Satya menuju ruangannya masing-masing. Ketika Anye hendak duduk dia penasaran melihat sebuah kado di atas meja kerjanya itu, lalu ia membukanya.
Anye seketika menjerit melihat isi kado tersebut dan jeritannya terdengar sampai keluar ruangan hingga teman-temannya yang sedang bekerja berlari menuju ke ruangannya, mereka melihat Anye duduk sambil gemetar, matanya tetap tertuju pada kotak yang ada di atas meja kerjanya.
Teman- temannya yang merasa penasaran kemudian melihat isi kotak tersebut dan merekapun ikut menjerit, ternyata isinya adalah seekor tikus yang mati tanpa kepala dan darahnya berserakan di dalam kotak tersebut dan ada secarik kertas disebelahnya bertuliskan sebuah kalimat ancaman, " Nasibmu akan sama seperti ini, jika kamu tidak menuruti ucapanku".
Salah seorang teman Anyelir kemudian pergi keluar ruangan dan bermaksud memberitahukan semuanya kepada Satya.
Satya yang mendengar pengaduan salah satu karyawannya mengenai apa yang terjadi di ruangan Anyelir segera berlari kesana dan melihat isi kotak tersebut, kemudian ia memerintahkan kepada mereka untuk membuangnya.
Para karyawan yang berkerumun satu persatu mulai pergi meninggalkan ruangan Anyelir saat melihat bos mereka telah datang lalu mereka kembali ke pekerjaannya masing-masing.
Sementara Satya yang melihat Anye masih terduduk dengan tubuh yang gemetar kemudian mendekatinya dan menarik Anyelir ke dalam pelukannya untuk menenangkannya. Satya membiarkan Anyelir menangis di dalam pelukannya, dia tahu saat ini pasti Anyelir sangat ketakutan.
Setelah tangisnya reda Anye baru menyadari sedang berada di dalam pelukan Satya dan telah membuat baju Satya basah oleh air matanya, kemudian dengan rasa malu dan canggung ia berusaha keluar dari pelukan Satya sembari berkata, " Maaf Mas Anye tidak sengaja, Anye telah membuat baju Mas basah".
Satya yang menyadari rasa canggung Anyelir hanya tersenyum kemudian melepaskan pelukannya dan membawa Anyelir kembali duduk sambil mengeluarkan telephone genggamnya dan segera menelephone Radit menceritakan semua kejadian itu lalu memintanya agar secepatnya datang ke ruangan Anyelir.
__ADS_1
Radit yang mendengar hal itupun merasa terkejut kemudian dengan langkah setengah berlari ia akhirnya sampai di ruangan Anyelir.
Setelah menjelaskan semuanya kepada Radit, Satya pun ingin Radit segera dan lebih serius menyelidiki siapa sebenarnya pelaku ancaman terhadap Anyelir selama ini, karena ia tidak mau hal ini terulang kembali hingga bisa mengancam keselamatan Anyelir.