
"Aku berangkat ya Yang, mau ke rumah Anyelir dulu, sebelum ke kantor. Aku masih khawatir dengan kondisinya, walaupun dokter bilang sudah tidak apa-apa, hanya harus banyak beristirahat," ucap Satya.
Nadia mengangguk, lalu dia berkata, "hati-hati ya Kak."
Satyapun meninggalkan rumah Nadia menuju rumah Anyelir. Anyelir yang mendengar suara mobil, buru-buru keluar dari kamarnya. Dia ingin menyambut kedatangan Satya.
Sejak tadi malam dia kepingin makan nasi soto yang berjualan di dekat kantor, tapi Anye maunya makan bareng Satya. Begitu melihat Satya datang wajahnya berseri-seri, rasanya sudah tidak sabar ingin secepatnya ke sana.
Melihat Anye sudah berdandan rapi dan membawa tas membuat Satya heran, lalu dia bertanya, "Mau kemana Yang? jangan bilang kamu ingin bekerja ya? Mas mau kamu istirahat, masalah pekerjaan kantor semua sudah mas alihkan," ucap Satya.
Anye menyeringai, kemudian dia berkata, "Anye kepingin makan nasi soto Mas yang di jual dekat kantor, tapi pinginnya makan bareng Mas," ucap Anye.
Satya mengelus puncak kepala Anyelir, mencium keningnya dan mengelus serta mencium perutnya sembari berkata, "Anak Papa lapar ya? sabar ya Nak, kita akan berangkat sekarang," ucap Satya.
Anye menggandeng tangan Satya, berpamitan kepada Bik Imah, setelah itu Satya pun pergi melajukan mobilnya menuju warung soto sesuai keinginan Anyelir.
Merekapun tiba, pelayan mempersilakan masuk, Anyelir yang sudah tidak sabar begitu mencium aromanya langsung meminta pelayan agar segera membawakan soto pesanannya.
Satya mendekati dan meminta tolong kepada pemilik warung agar pesanan istrinya di dahulukan sebab dia sedang ngidam.
Pemilik warung pun menuruti permintaannya dan memberikan satu mangkok soto kepada Satya. Satya membawakan pesanan Anyelir, dia ingin melayani sendiri kemauan Anye.
Pemilik warung tersenyum melihatnya lalu dia mengacungkan jempol lalu berkata, "Suami siaga ya Mas," ucapnya.
Anye yang melihat Satya membawakan soto pesanannya merasa senang, lalu dia yang sudah tidak sabaran segera menyeruput soto yang masih panas tersebut.
"Pelan-pelan makannya Yang, sotonya masih panas lho?" ucap Satya yang takut lidah Anye melepuh karena sotonya masih panas.
"Hemm, enak lho Mas, Mas mau?" tanya Anye sembari menyodorkan mangkok sotonya.
Satya yang tidak ingin mengecewakan Anye mencicipi soto tersebut, padahal perutnya masih kenyang karena tadi sarapan bareng Nadia.
Soto di mangkok Anye sebentar saja ludes, dia benar-benar lapar bahkan dia meminta semangkok lagi kepada Satya. Anye merengek, agar Satya mengabulkan permintaannya.
Satya akhirnya tidak bisa menolak, lalu dia memanggil pelayan agar menambahkan semangkok lagi. Memang pertumbuhan kedua janinnyalah yang menuntut Anye untuk makan banyak.
Berat badan Anye sekarang mulai meningkat seiring bertambah usia kandungannya. Pipinya sudah terlihat tembem, bentuk badannya juga sudah melar dengan dua janin yang ada di dalam kandungnya.
Hari-hari Satya di habiskan dengan kesenangan dan keikhlasannya mengurus kedua istri yang memang sama-sama membutuhkan perhatian ekstra darinya.
4 bulan kemudian
Perut Anye yang semakin membesar membuatnya kuwalahan untuk berjalan dan maunya setiap malam Satya harus memijat kaki Anye yang sudah membengkak serta mengelus perutnya sebelum tidur.
Permintaan bayi yang ada dalam kandungan Anyelir semakin membuat Satya bingung untuk mengatur waktunya, antara menemani Anyelir, menemani Nadia dan juga tugas kantor yang semakin menumpuk.
__ADS_1
Sejak kehamilan Anye, perusahaan Satya memang semakin berkembang, hingga dia membuka cabang lagi di beberapa tempat.
Sementara Radit yang di percaya untuk menghandle pekerjaan Satya merasa kuwalahan, karena dia juga harus bisa meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada Tina yang sedang hamil muda.
Kini usia kandungan Anye sudah memasuki bulan ke tujuh, kedua bayi yang ada di dalam kandungannya sangat sehat dan juga sangat aktif hingga membuat Anye susah tidur, mereka selalu bergerak menendang kesana kemari seakan ingin segera keluar melihat dunia.
Hasil USG pun menunjukkan bahwa jenis kelamin bayi yang dikandungnya adalah Laki-laki dan perempuan, hal itu membuat Satya dan keluarganya sangat gembira.
Mama Tiara pun secara bergantian datang untuk mengunjungi Nadia dan Anyelir, bagaimanapun keduanya adalah menantunya, menantu kesayangannya.
Satya kini harus menjadi suami siaga sejak kandungan Anyelir sudah masuk bulan ketujuh, dia tidak berani meninggalkan Anyelir sendirian lagi di malam hari.
Namun, kondisi Nadia yang semakin memburuk juga membuat Satya bingung. Satya juga tidak mungkin mengabaikan Nadia begitu saja. Sesekali Satya meminta pertolongan sang Mama dan Tirta untuk mengantar Nadia ke rumah sakit.
Rambut Nadia kini tidak tersisa, pendarahan dari rahimnya seringkali terjadi dan tubuhnya kian hari semakin kurus.
Siang ini Satya pamit kepada Anye untuk mengunjungi Nadia, karena sudah dua hari dia hanya menanyakan kabarnya lewat telephone saja.
Kebetulan sore ini adalah jadwal Nadia ke dokter, jadi Satya sekaligus ingin mengantarnya check-up. Obat pereda rasa sakit untuk Nadia sudah habis, hal itu membuat Satya khawatir jika malam nanti saat dia berada di rumah Anyelir, Nadia akan merasakan kesakitan.
Nadia sih sebenarnya tidak merasa keberatan jika Satya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Anyelir, karena dia tahu Satya harus tetap ada di samping Anyelir disaat mendekati kelahiran.
Namun hati Satya juga tidak tenang, tanggungjawabnya harus tetap dia laksanakan bukan hanya terhadap Anye tapi juga terhadap Nadia.
Saat Satya hendak membawa Nadia ke rumah sakit, dia mendapat telephone dari Bi Imah yang menggunakan nomor ponsel pribadinya.
__ADS_1
Satya penasaran nggak pernah-pernahnya Bi Imah melakukan panggilan selain menggunakan ponsel Anyelir, lalu Satya buru-buru mengangkatnya.
Terdengarlah suara Bi Imah berkata, "Assalamu'alaikum Tuan, maaf Tuan saya mengganggu, Non Anye Tuan, Non jatuh Tuan! saat hendak ke kamar mandi," ucap Bi Imah panik.
"Apa Bi! Anye jatuh! bagaimana keadaannya sekarang Bi? tidak kenapa-kenapa kan Bi?" tanya Satya khawatir hingga mengajukan pertanyaan beruntun yang membuat Bi Imah tidak berkesempatan untuk menjawab.
"Ini Non sedang berbaring Tuan, Non merasa kesakitan di bagian perutnya, Non minta Bibi untuk memanggil taksi dan membawanya ke rumah sakit, tapi Bibi takut Tuan. Non tadi berpesan jangan dulu memberitahukan hal ini kepada Tuan, katanya Non tidak ingin tuan khawatir, makanya Bibi menelephone Tuan secara diam-diam."
"Bibi sekarang jaga Anye, saya akan secepatnya pulang, Bibi jangan tinggalkan dia sendirian ya Bi! dan jangan lupa kabari Saya terus jika perkembangannya semakin memburuk. Ingat ya Bi! jaga terus Anyelir," ucap Satya mengulangi perkataannya.
Nadia yang mendengar hal itupun ikut khawatir, lalu dia mendekati Satya dan berkata, "Ayo Kak, kita sekarang ketempat Anye, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap Nadia sembari menarik tangan Satya.
"Kamu tidak apa-apa Nad bertemu Anye? dan kita harus menunda check-up sementara obat kamu sudah habis?" ucap Satya sembari memandang Nadia.
"Sudah ayo Kak! kita berangkat, aku tidak apa-apa kok, Keselamatan Anye dan bayinya lebih penting," ucap Nadia sembari menggandeng tangan Satya dan memberikan kunci mobil.
Satya segera melajukan mobilnya dengan kencang, rasa khawatir membuat dirinya hanya diam sepanjang perjalanan sembari mengusap kasar wajahnya beberapa kali.
Nadia memperhatikan wajah suaminya yang begitu serius dan terlihat amat gelisah. Sepanjang pernikahannya, baru kali ini dirinya melihat Satya seperti itu lebih dari rasa takutnya saat dulu kehilangan anak mereka.
Awalnya timbul pemikiran negatif di hati Nadia jika Satya lebih menyayangi Anye beserta bayinya ketimbang terhadap dirinya dan putra mereka dulu.
Namun akhirnya Nadia mengucap Istighfar, berharap Allah mengampuni prasangka buruknya.
Akhirnya dia berusaha berfikir positif jika kehilangan yang dulu menjadi trauma bagi Satya yang tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
Bersambung.......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote like coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏🙏🙏