
Ketika Anyelir sedang asyik memainkan handphonenya, terdengar suara pintu mobil diketuk oleh seseorang, Anye menoleh ke asal suara, ternyata ada seorang pria yang sepertinya tidak asing wajahnya memintanya untuk keluar.
" Tok...tok...tok, turun !"
Anye yang merasa ketakutan tetap bertahan di dalam mobil, sementara laki-laki itu kembali mengetuk dengan lebih keras.
" Tok...tok...tok...tok, cepat keluar !"
Anye bermaksud menelephone Satya tapi pria di balik kaca itu mengancamnya, jika berani menelephone dia akan memecahkan kaca mobil.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Anye pun keluar dari mobil dan pria itu segera menariknya ke balik pohon beringin besar di area parkir. Karena hari sudah menjelang senja maka area parkir itu sangat sepi, hanya terlihat sesekali tamu hotel yang datang mau menginap. Anye berusaha melawan dan ingin lari tapi cengkeramannya sangat kuat, hingga ia tidak mampu melepaskannya.
Kemudian pria itu berkata dengan nada mengancam, " Jauhi Satya !, jika kamu tidak menjauhinya jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu denganmu !, ingat itu !".
Tubuh Anyelir gemetar, wajahnya pucat pasi karena takut, kemudian ia terduduk lemas dan menangis setelah mendapat ancaman itu sementara pria tadi sudah pergi menjauh.
Anyelir yang masih terduduk lemas mendengar suara Satya dan Pak Edi memanggilnya, perlahan ia mulai bangkit dan hendak berjalan ke arah mobil. Dengan tubuh masih gemetar dan masih menangis iapun mendekati Satya. Satya yang melihat Anye seperti orang ketakutan langsung berlari mendekatinya.
" Anye...darimana kamu, ada apa denganmu, kenapa tubuhmu gemetar dan wajahmu kenapa pucat sekali?, ayo Nye, ceritakan ke aku".
Anye yang ditanyai seperti itu tidak bisa menjawab malah semakin menangis dan langsung tanpa sengaja memeluk Satya. Satya memeluknya dan berusaha menenangkannya.
" Coba kamu tenang dulu Nye, jangan menangis, jangan takut, ada aku dan pak Edi disini, tenang dan jelaskan pelan-pelan".
Anye masih terisak tapi ia sudah mulai tenang.
Sementara Pak Edi yang tadi ikut cemas melihat keadaan Anyelir, ia mencari kesana-kemari siapa tahu bisa menemukan sesuatu yang telah membuat Anye ketakutan seperti itu, namun ia tetap tidak menemukan hal yang mencurigakan.
Kemudian ia kembali mendekati Anye yang masih terisak, yang berusaha melepaskan pelukannya dari Satya karena malu.
" Non, jika saya boleh tahu apa yang membuat Non ketakutan seperti ini?".
" Begini pak, sebaiknya Bapak tolong ambilkan Anye minum dulu biar dia bisa lebih tenang, saya akan membawanya ke dalam mobil, nanti setelah tenang baru kita tanyain lagi".
" Baik Tuan, saya akan ambilkan dulu Nona minum", pak Edi segera berlari masuk ke dalam hotel.
Satya kemudian mengajak Anye untuk kembali ke dalam mobil, tak lama kemudian Pak Edi telah kembali membawa sebotol air mineral dan segera memberikannya kepada Satya.
__ADS_1
" Ini Tuan minumnya".
Satya kemudian mengambil air minum dari tangan Pak Edi dan membukakan tutup botolnya lalu memberikannya kepada Anyelir.
" Minumlah dulu agar kamu lebih tenang Nye".
Lalu Anye meminumnya sampai habis hampir setengah botol, setelah ia merasa lebih tenang barulah ia menceritakan semuanya kepada Satya dan Pak Edi. Satya dan Pak Edi merasa terkejut siapa yang berani mengancam Anyelir di hotelnya sendiri.
" Kamu masih ingat Nye, ciri-ciri orangnya seperti apa ?", tanya Satya.
" Orangnya tingginya hampir seperti Mas, hidungnya mancung tapi tidak semancung Mas, ada jambang dan berkumis tipis, hanya itu yang Anye ingat Mas, Anye takut jadinya nggak berani terlalu memperhatikannya".
Satya pun bingung, siapa sebenarnya orang itu, ia mencoba mengingat-ingat siapa orang yang ia kenal dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Anyelir.
Pak Edi juga berusaha mengingat-ingat tapi ia juga belum menemukan orang berciri-ciri seperti itu.
" Apa jangan-jangan saingan bisnis Tuan?", tanya Pak Edi.
" Kalau memang benar kenapa dia mengatakan Anyelir harus menjauhi Saya, berita hubungan kami kan belum tersebar ke kalangan rekan bisnis Pak, hanya keluarga dan beberapa orang kantor saja yang tau".
" Ayo Pak... coba kita kembali ke hotel, kita cek CCTV yang layar monitornya mengarah kesini, siapa tahu kita mendapatkan petunjuk disana tentang pelakunya".
" Ayo Tuan".
Satya kembali mengajak Anyelir turun dari mobil, kemudian mereka bertiga segera kembali masuk ke dalam hotel untuk mengecek CCTV.
Di pintu masuk hotel, Satya berpapasan dengan Radit yang baru akan pulang, kemudian ia menceritakan semuanya kepada Radit. Radit juga bingung dan penasaran, ada maksud apa orang tersebut mengancam Anye dan pastinya ia yakin orang itu pasti orang dalam yang tahu masalah hubungan Satya dengan Anye.
Kemudian Radit juga ikut kembali ke dalam, mereka lansung menuju ruang CCTV. Radit perlahan mengecek layar monitor ternyata layar monitor tersebut mati. Sepertinya ada yang sengaja mematikannya.
" Akhhh...sialan", dengan marah Satya kemudian menggebrak meja.
BRAAAK
Semua terkejut termasuk Anyelir, kemudian Radit berusaha menenangkan Satya,
" Sabar Sat", kita pasti segera menemukan siapa pelakunya", ucap Radit.
__ADS_1
" Coba Dit hubungi semua security yang bertugas sore ini suruh menghadapku".
" Oke Sat", kemudian Radit segera menghubungi sekretaris Satya agar segera memanggil semua security yang bertugas sore ini dan disuruh ke ruangan Satya.
Tidak berselang lama empat orang security yang bertugas sore inipun datang menemui Satya di ruangannya.
Satya dan Radit segera menanyakan kepada mereka apa ada hal yang mencurigakan sore ini, tapi mereka berempat menjawab tidak ada hal yang mencurigakan semuanya normal seperti biasa. Dan Radit menyebutkan ciri-ciri orang yang mengancam Anye, juga mereka tidak melihatnya.
Karena tidak juga mendapatkan titik terang, Satya segera membubarkan mereka dan memerintahkan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Akhirnya Satya memutuskan akan mengantarkan pulang Anyelir agar bisa beristirahat, besok rencananya ia akan menyelidiki masalah ini kembali. Kemudian Satya meminta Pak Edi untuk pulang beristirahat karena dia yang akan mengantar Anye bersama Radit.
" Pak Edi langsung pulang saja ya, Bapak pasti letih dan keluarga Bapak pasti cemas menunggu, biar Saya dan Radit saja yang mengantar Anye pakai mobilnya sekalian langsung pulang, saya juga letih ingin istirahat dan Radit kan rumahnya juga searah dengan kami".
Pak Edi mengangguk setuju, lalu berjalan keparkiran dan segera melajukan mobilnya kearah rumahnya.
Sementara Satya dan Anye naik ke mobil Radit dan Radit mengarahkan mobilnya kearah kost Anyelir sesuai petunjuk Satya.
Satya berpesan kepada Anyelir untuk berhati-hati, besok rencananya dia akan meminta seseorang mengawasi dan menjaga Anye kemanapun ia hendak pergi agar kejadian itu tidak terulang lagi.
Merekapun telah tiba di kost Anyelir, teman-teman Anyelir sedang menunggu kepulangannya, mereka semua berkumpul diteras sambil bermain gitar bersama Adam.
Melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar mereka pun berteriak senang, mereka yakin itu adalah Anye karena tadi sebelum Anye mendapat ancaman, ia sempat menchatting Tina bahwa ia telah sampai di Jakarta dan sedang berada di hotel.
Satya, Radit dan Anye turun dari mobil dan mereka mengantar Anye sampai di hadapan teman-temannya.
Teman-teman Anye yang belum pernah melihat Radit jadi bengong, " Ternyata Satya masih memiliki teman yang sama tampannya dengannya", ucap mereka masing-masing di dalam hati.
Rita kemudian mencolek lengan Anye, dia ingin Anye memperkenalkan mereka kepada Radit. Anye yang faham dengan sifat dan tingkah laku teman-temannya segera mengenalkan Radit.
" Radit kenalkan ini teman-temanku dan kalian, ini adalah Radit asisten pribadi Mas Satya sekaligus sahabatnya".
Mereka semua segera berebut mendekati Radit dan meperkenalkan namanya masing-masing, tidak termasuk Tina. Tina hanya duduk sembari tersenyum ke arah Radit sedangkan Adam ikutan berdiri memperkenalkan dirinya.
Hal ini membuat Radit memandang Tina, ada tersirat sesuatu yang khusus di hatinya dan ia bermonolog di dalam hati, " Tina sepertinya seorang gadis yang mempunyai kepribadian berbeda dari teman-teman Anyelir yang lain".
Setelah mengantarkan Anyelir sampai kepada teman-temanya Satya dan Radit izin pamit kepada Anye dan teman-temannya karena ia juga ingin segera beristirahat.
__ADS_1