
Selesai makan mereka kembali duduk di ruang tamu, sementara Anyelir ke dapur membereskan peralatan makan mereka yang kotor, setelah selesai membersihkan semuanya kemudian ia bergabung duduk di ruang tamu.
Anye senang walau baru beberapa jam Satya tiba dirumah mereka tapi ia sudah terlihat akrab dengan kedua orang tuanya. Mereka ngobrol, bercanda layaknya sudah lama saling mengenal.
Anyelir juga bersyukur tidak ada kecanggungan dirasa Satya walaupun akan menginap dirumah yang rasanya kurang layak baginya dibandingkan tempat tinggalnya yang serba ada dan serba mewah.
Kemudian tiba Adzan Isya', ayah kembali mengajak
Satya dan Pak Edi ke mesjid dan rencananya sepulang dari mesjid mereka akan ke rumah Pak kadus untuk melapor dan meminta izin menginap.
Satya senang melihat keakraban warga, selama jalan menuju mesjid warga yang berpapasan dengan mereka selalu menegur Satya. Gadis-gadis yang melihatnya kasak-kusuk bersama teman-temannya, mereka penasaran saling bertanya siapakah pemuda tampan yang sedang berjalan dengan ayahnya Anye.
Satya seraya berjalan sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya dan setibanya di mesjid mereka segera sholat berjama'ah mengikuti imam yang telah memulai takbir.
Setelah selesai mereka langsung ke rumah Pak kadus dan Satya memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Anyelir, yang baru saja tiba dan rencananya akan menginap sekitar tiga hari disana.
Pak kadus menyambut mereka dengan sangat ramah dan memberi izin mereka untuk menginap serta ia ingin mengajak Pak Edi besok pergi memancing.
" Pak Edi, mumpung Bapak balik kesini lagi bagaimana jika besok saya temani bapak memancing di sungai, soalnya menurut Ayahnya Anyelir bapak mahir memancing ya?"
" Ah pak kadus bisa saja, pastinya lah Pak Bagaimana Tuan, boleh saya pergi memancing dengan Pak kadus besok?".
" Nikmati saja Pak, anggap tiga hari kita disini sebagai liburan, jadi bapak boleh bebas tugas".
" Terima kasih Tuan", lalu Pak Edi mengiyakan ajakan Pak kadus.
Setelah berbincang beberapa saat mereka kemudian izin pulang untuk beristirahat, sementara ayah akan ke rumah pemilik sawah tempat ia dan istrinya bekerja untuk meminta izin libur bekerja selama mereka kedatangan tamu.
Dalam perjalanan pulang Satya berkesempatan meminta tolong ke Pak Edi agar besok ketika pergi memancing dengan Pak kadus mencarikan informasi tentang sawah, ladang, kerbau dan rumah yang layak yang ingin dibelinya beserta sebidang tanah kosong yang luas untuk pembangunan mesjid tapi dengan syarat jangan sampai keluarga Anyelir tahu sebelum waktunya.
" Tolong ya Pak, Saya harus membelinya secepatnya sebelum kita kembali", pinta Satya.
" Baik Tuan, saya akan usahakan secepatnya agar mendapatkan infonya".
Pak Edi pun menyanggupi permintaan Satya, dengan tidak berani menanyakan alasan Tuannya itu.
__ADS_1
Merekapun tiba dirumah Anyelir, sementara Anyelir dan Ibu lagi asyik mengobrol. Anye heran kenapa Ayahnya tidak ikut pulang bersama mereka, kemudian ia bertanya kepada Satya,
" Ayah kemana Mas, kenapa tidak ikut pulang?".
" Tadi Ayah bilang mau kerumah pemilik sawah tempat Ayah bekerja, katanya mau minta izin tidak masuk kerja dulu selama kami disini", jawab Satya.
" Oh... , jika Mas dan Pak Edi lelah silahkan beristirahat di kamar dulu dan besok jika mas ingin keliling melihat pemandangan kampung ini, Ayah akan menemani Mas sementara Anye akan ke pasar bersama Ibu".
" Iya Nak, Nak Satya dan Pak Edi pasti lelah, silahkan beristirahat saja dulu tidak usah menunggu Ayah pulang".
" Baik bu, perjalanan tadi memang membuat saya lelah dan mengantuk, kami permisi dulu ya bu, Anye".
" Iya silahkan Mas, Anye juga mau istirahat", jawab Anye disusul oleh ibu.
Mereka bertiga segera pergi ke kamar masing-masing, setelah berpamitan kepada ibu untuk beristirahat, sementara ibu masih menunggu Ayah kembali sambil menonton televisi.
Ternyata ibu tak harus lama menunggu, akhirnya Ayahpun pulang. Mereka juga memutuskan untuk ikut beristirahat agar besok tidak bangun kesiangan.
Satya, Pak Edi dan Anyelir yang memang mengantuk akibat kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya langsung tertidur lelap dan bermimpi di alam tidurnya masing-masing.
Mereka baru terbangun saat suara lantunan ayat suci Alqur'an menggema menandakan subuh segera tiba dan masing-masing segera membersihkan diri untuk bersiap menjalankan ibadah.
Suara Adzan pun berkumandang membuat mereka bertiga segera bergegas ke mesjid. Udara pagi yang dingin dikampung Anyelir membuat Satya menggigil hingga kulitnya yang putih tampak memucat dan bibirnya terlihat sedikit membiru.
" Nggak tahan dengan udara dingin ya Nak?", tanya Ayah.
" Iya Ayah, karena Satya baru pertama ini menginap di daerah beriklim dingin jadi belum terbiasa".
" Nanti setelah sholat, Tuan dan Ayah langsung saja ke warung sarapan, saya akan pulang sebentar untuk mengambilkan jaket Tuan".
" Iya Pak Edi, lebih baik nak Satya memakai jaket karena di daerah persawahan nanti anginnya juga pasti sangat kencang".
Setelah tiba dimesjid mereka kemudian melaksanakan sholat Subuh berjama'ah setelah itu langsung menuju tempat mereka akan sarapan, Pak Edi telah kembali ke rumah untuk mengambil jaket, Anye yang melihat Pak Edi kembali kemudian bertanya,
" Kok kembali Pak, memangnya bapak nggak ikut jalan-jalan?".
__ADS_1
" Mau mengambil jaket Tuan Satya Non, Tuan masih belum terbiasa dengan udara pagi yang sangat dingin jadi tubuhnya menggigil".
" Oh...,biar saya ambilkan Pak, sebentar ya pak", Anyelir kemudian berjalan menuju kamar tamu tempat Satya dan Pak Edi tidur, kemudian ia mencari jaket Satya di dalam tasnya.
Setelah menemukannya kemudian Anye langsung memberikannya kepada Pak Edi dan meminta pak Edi agar menunggu sebentar karena Anye akan membuatkan sesuatu untuk Satya.
Tak lama Anye kembali membawa termos steanlis kecil yang berisi wedang jahe.
" Pak, minuman ini nanti tolong berikan ke Mas Satya ya, isinya wedang jahe supaya tubuhnya kembali hangat, bapak juga boleh ikut meminumnya".
" Terimakasih ya Non, nanti Bapak berikan ke Tuan Satya".
Kemudian Pak Edi pamit untuk menyusul mereka, dalam perjalanan Pak Edi bertemu Pak kadus yang sedang berlari pagi, kemudian Pak Edi bertanya tentang informasi adakah tidak yang ingin menjual sawah, rumah, ladang dan hewan ternak serta sebidang tanah kosong yang luas seperti yang diminta Tuannya.
Pak kadus langsung menjawab,
" Ada Pak Edi, itu ada warga yang mau menjual rumah sekaligus sawah, ladang dan berikut hewan ternaknya karena ia akan pindah ke kota ikut anaknya yang sudah menetap disana. Rumahnya cukup besar Pak dengan pekarangan yang luas terletak dipinggir jalan lintas yang kemaren bapak lewati, jadi letaknya cukup strategis.
Mengenai lahan kosong yang luas juga ada Pak, itu ada warga yang menjual lahannya, luasnya satu hektar katanya butuh cepat untuk biaya kuliah anaknya".
" Mengenai harganya bapak bisa nego langsung dan nanti sambil kita pergi memancing Bapak bisa survey dulu lokasinya semuanya cocok atau tidak dengan selera Tuan Satya".
" Oke Pak kadus, sekarang saya mau antarkan jaket dan wedang jahe buat Tuan Satya dulu ya, baru kita ketemuan di ujung gang itu untuk survey lokasi. Tentang harga saya rasa Tuan Satya tidak akan masalah yang penting tempatnya cocok sesuai yang diinginkannya.
Setelah berpisah dengan Pak kadus mereka mengambil arah yang berbeda, Pak kadus bermaksud pulang dulu untuk mengambil joran dan umpannya serta bekal makan buat mereka nanti sedangkan Pak Edi berjalan ke arah warung sarapan tempat Ayah dan Tuan Satya sedang menunggunya untuk sarapan.
Bersambung ya para readers, besok ke episode mengajukan lamaran. Terimakasih atas like dan komentarnya 🙏🙏🙏
Dukung karya saya terus ya readers dan mohon do'anya. ( Ingin mencoba ikut lomba walau ilmu menulis karya masih dangkal )
__ADS_1
YAAW S6 akhirnya hadir kembali! Yuk ikutkan novel pria maupun novel wanita dan menangkan total 38 juta rupiah!
https://h5.mangatoon.mobi/contribution-competition-detail?id\=32&\_language\=id