
Sesuai janji Satya kepada Anyelir, jika Anye menerima pilihan mau menikah dengannya, Satya akan melunasi hutang orang tuanya kepada rentenir, membelikan sawah, ladang, kerbau untuk orang tua Anye walaupun saat ini tetap diatas namakan untuk Anye, sehingga orang tuanya tidak perlu lagi bekerja menjadi buruh tani di sawah dan di ladang orang lain.
Sedangkan rumah untuk hadiah perkawinan sehingga apabila mereka datang berkunjung lagi ke kampung ini, sudah memiliki tempat tinggal sendiri khususnya punya kamar sendiri sehingga tidak perlu lagi harus berbagi kamar dengan siapapun yang akan ikut berkunjung.
Mengenai lahan kosong yang dibeli akan dibangun sebuah mesjid oleh Satya dan pahalanya diperuntukkan bagi almarhum Papanya yaitu Tuan Adiraja Permana serta dia berharap suatu saat nanti Satya dan anak cucunya kelak bisa sholat di mesjid tempat asal usul ibu mereka dilahirkan.
Setelah pelunasan pembelian asset itu selesai dan pengurusan surat menyurat pemindahan hak kepemilikan dari penjual kepada Anye sudah diurus oleh pihak yang berwenang, Satya bermaksud malam ini juga melamar Anye secara resmi dihadapan orang tuanya.
Ia segera menyampaikan maksudnya kepada Anye agar bicara kepada orang tuanya untuk meluangkan waktunya setelah sholat isya' hingga mereka bisa berkumpul untuk membicarakan lamaran serta kapan hari pernikahan mereka akan dilaksanakan.
Satya juga meminta agar orang tua Anye mengundang beberapa orang tetangga terutama Pak Kadus dan Pak Lurah sebagai saksi dalam acara lamaran tersebut, ia tidak ingin timbul fitnah kelak dikemudian hari sebab pernikahan tidak akan di adakan di desa melainkan di kota, tepatnya di rumah kediaman Kakek Permana.
Anye telah menyampaikan maksud Satya kepada Ayah dan Ibunya, merekapun setuju untuk mengundang beberapa orang tetangga.
Namun sebelum acara resmi nanti malam dilaksanakan, Satya ingin berbicara dulu secara jujur delapan pasang mata yaitu Satya, Anye, Ayah dan Ibu tentang awal mula perjanjian antara dia dan Anye.
Awalnya Anye tidak setuju karena ia tidak ingin menyakiti hati orang tuanya dan membuat mereka bersedih. Anye tidak ingin orang tuanya tau jika posisinya dalam pernikahan ini hanya sebagai istri kedua untuk melahirkan keturunan buat keluarga Satya.
Namun Satya menjelaskan kepada Anye bahwa pernikahan ini bukanlah permainan dan harus diawali serta dilandaskan oleh kejujuran. Kemudian ia berkata lagi bahwa ia menikahi Anye memang bukan karena cinta dan bukan sebagai yang pertama tapi ia menginginkan Anye sebagai istri sah bukan sebagai istri simpanan.
Akhirnya Anye pun setuju untuk mengatakan kejujuran ini kepada Ayah dan Ibu walaupun dengan resiko mereka akan marah terhadapnya atau bahkan menolak lamaran Satya. Satya berjanji, dialah yang akan menjelaskannya kepada Ayah dan ibunya Anye.
Kemudian Anye, Satya, Ayah dan ibu berkumpul di ruang tamu, Satya memberanikan diri menceritakan semuanya dari awal ia bertemu dengan Anye sampai kepada perjanjian yang mereka sepakati.
Mendengar semua penjelasan Satya, ibu langsung menangis, marah, kenapa putri satu-satunya yang ia miliki membohonginya, kenapa Anye harus mempertaruhkan kebahagiaannya hanya demi mereka dan ayah juga menyesali semua ini karena dirinyalah Anye mengambil keputusan ini.
Melihat reaksi Ayah dan Ibu atas penjelasan Satya, Anye kemudian memeluk ibu dan menangis sambil meminta maaf atas semua kesalahannya, ia hanya berharap bisa memberi pengertian kepada mereka,
" Ayah, Ibu, maafkan atas kesalahan Anye yang mengambil keputusan tanpa seizin Ayah dan ibu. Hidup dan kebahagiaan Anye bukan hanya milik Anye sendiri Bu, Anye hanya ingin berusaha menjadi anak yang berguna, anak yang berbakti untuk Ayah dan ibu dan Anye juga ingin menjadi orang yang bertanggung jawab atas kecerobohan Anye serta ingin menjalankan amanah seseorang yang telah menitipkan kebahagiaannya kepada Anye", sejenak ia terdiam lalu melanjutkan ucapannya.
" Saat ini yang Anye harap adalah restu dan ridho Ayah dan ibu karena hanya dengan ridho kalian berdualah Anye bisa berharap mendapatkan ridho Allah untuk kebahagiaan Anye kedepannya".
__ADS_1
" Satya pribadi juga mohon maaf Ayah, ibu, karena desakan Satyalah hingga Anye tidak mempunyai pilihan selain menerima Satya, tapi Satya berjanji walau saat ini belum bisa menjanjikan cinta untuk putri Ayah dan Ibu, Insha Allah Satya akan berusaha membahagiakannya, Satya akan berusaha menjadi suami yang adil bagi keduanya".
Setelah mendengar kesungguhan keduanya yang ingin membina rumah tangga karena mengharapkan ridho Allah, akhirnya Ayah dan Ibu tidak bisa berkata apapun lagi selain memberikan restunya.
Kemudian Ayah bangkit dan memeluk Satya dengan meneteskan air mata Ayahpun berpesan,
" Jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, sejak saat ini Ayah serahkan dan ayah titipkan kebahagiaan kami kepadamu Nak, jagalah permata hati kami, sayangilah dia sebagaimana kamu menyayangi dirimu dan juga istrimu yang lain. Mudah-mudahan kebahagiaan akan selalu menyertai hidup kalian".
Satya pun memeluk Ayah dengan erat dan ikutan menangis, kemudian ia berucap,
" Insha Allah Ayah, Satya akan menjaga amanah Ayah dan Ibu".
Anyepun kembali memeluk Ibunya dengan erat dengan terisak ia melanjutkan perkataannya,
" Restuilah kami bu, restuilah pernikahan kami agar rumah tangga putrimu ini kelak bahagia", pinta Anye lagi.
Kemudian ibu lebih mempererat pelukannya seraya berpesan,
Setelah Ayah dan Ibu selesai memberi pesan, Anye dan Satya menyalami keduanya sambil meminta maaf dan mencium tangan mereka.
Restu dari Kakek, restu dari Papa Mama, restu dari Ayah dan Ibu sudah mereka dapatkan tinggal selangkah lagi yang harus Satya lakukan yaitu meminta restu dari Nadia, istri pertamanya.
Setelah perasaan mereka kembali tenang, Ayahpun permisi keluar untuk mengundang tetangga, sedangkan Ibu dan Anye berencana ke pasar untuk belanja semua keperluan yang dibutuhkan dengan diantar oleh Pak Edi dan Satya sendiri bermaksud menyusul Ayah, ia ingin membicarakan masalah pembangunan mesjid kepada pak Lurah.
Sekembalinya mereka dari pasar, Anye, Ibu bergegas ke dapur, mereka dengan dibantu oleh beberapa orang tetangga segera melakukan persiapan. Mereka memasak beberapa menu makanan dan kue-kue yang akan dihidangkan dalam acara lamaran nanti malam.
Kini semua persiapan telah selesai dilakukan, beberapa orang tamu yang diundang sebagai saksi pun telah hadir, Satya serta pak Edi telah duduk diantara tamu dengan seserahan ditangannya, Sementara Anyelirpun sudah selesai berdandan.
Anye mengenakan stelan gamis plus hijab dengan warna kesukaannya yaitu warna hijau muda senada lalu ia menambahkan sedikit riasan sederhana pada wajahnya.
Walaupun berpenampilan sederhana Anye tetap terlihat Anggun dan cantik saat memasuki ruangan dengan didampingi oleh Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Semua pandangan mata tamu yang hadir disana tertuju kepada Anye dan Satya yang duduk berhadapan, keserasian merekapun menimbulkan decak kagum dari mereka yang memandangnya.
Setelah semuanya berkumpul, acara pun dimulai, Satya yang datang mewakili dirinya sendiri langsung mengungkapkan maksudnya kepada Ayah dan ibu dihadapan para saksi.
Ia resmi melamar Anyelir dan meminta kesediaan Anye untuk menikah dengannya satu minggu setelah malam ini di rumah kediaman keluarga Satya di Jakarta, yaitu di kota tempat Anyelir bekerja.
Sementara Pak Edi sebagai wakil dari keluarga Satya menyerahkan surat kepemilikan atas aset yang Satya beli kemaren di kampung ini sebagai seserahan lamaran kepada Ayah dan Ibunya Anye disaksikan oleh tetangga yang hadir.
Ayah dan Ibu sangat terkejut dengan semua pemberian Satya, mereka tidak menyangka Satya akan memberi penghargaan begitu besar kepada putrinya dan memberi penghormatan untuk keluarga mereka yang selama ini jauh dari kata ada.
Acara berlangsung singkat, tapi semuanya berkesan bagi mereka yang hadir disana, semua mendoakan agar pernikahan Anye dan Satya nantinya berjalan lancar dan berkah selalu dalam rumah tangga mereka.
Bersambung.....
Terimakasih saya ucapkan kepada seluruh readers yang telah memberikan dukungan like, koment dan vote nya dalam karya saya " TERIKAT CINTA LAIN " Semoga kita semua tetap bahagia dunia dan akhirat. Aamiin....
Sebagai bahan acuan (pedoman) bagi kita sebagai istri, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda,
..." Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*, dan menta'ati suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki". ...
...( HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya )...
__ADS_1