Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 60. Teman saat berduka


__ADS_3

"Tin, jika kamu tidak keberatan bagaimana jika sebelum pulang kita ngobrol dulu sambil minum di cafe bandara ini!",


"Terserah Kak Radit saja, Tina malam ini tidak ada kegiatan kok."


Kemudian mereka berjalan sembari masuk ke sebuah cafe yang terletak dilingkungan dalam bandara. Mereka mengambil posisi duduk yang bisa melihat ke area luar dari kaca pembatas cafe hingga menimbulkan kesan lebih santai.


Radit kemudian memanggil pelayan cafe dan meminta catalog menu lalu menyodorkannya kepada Tina agar Tina bisa memilih menu yang ingin dipesannya.


Tina memesan jus melon dan sepiring spaghetti, lalu Tina menyodorkan catalog tersebut kepada Radit, ternyata Radit memesan menu yang sama.


Setelah pelayan mencatat pesanan mereka dan !


"Tin menurutmu bagaimana dengan bulan madu mereka!, aku sudah berupaya mengatur semaksimal mungkin agar semuanya bisa berhasil.


Bahkan tentang tour guide di sana, aku juga sudah mengaturnya, dia adalah Ardiansyah biasa aku memanggilnya dengan sebutan Dian. Dian adalah sahabatku, kami berasal dari panti asuhan yang sama namun ia sejak kecil sudah diadopsi dan di bawa pergi oleh orang tua angkatnya ke Sumatera Barat. Kebetulan beberapa tahun ini aku mendapatkan nomor kontaknya dari Facebook.


Aku dan Kakek meminta tolong agar Diyan berusaha dengan caranya supaya bisa lebih mendekatkan Satya dan Anyelir."


"Syukurlah jika begitu Kak Radit, aku juga berharap bulan madu mereka ini bisa berhasil, aku ingin melihat Anye bahagia. Anyelir seorang wanita yang baik kak, aku mengenalnya sejak kecil, dia anak yang berbakti terhadap orang tuanya, dia murid yang pintar sejak SD sampai SMU dan selalu mendapatkan bea siswa, nasib aja yang membuat nya kurang beruntung hingga tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi."


"Berarti kamu sangat mengenal kepribadian Anyelir ya Tin!",


"Hampir seluruh warga mengenalnya Kak, terutama karena keramahan dan sopan santunnya terhadap orang lain dan tidak sedikit pemuda yang ingin mendekatinya namun Anye selalu menghindari mereka."


"Jadi selama ini dia belum pernah pacaran!",


"Setahuku belum Kak, Kak Satya lah laki-laki pertama yang diterimanya dan pastinya akan diperjuangkan cintanya, aku yakin Anye tidak akan menyerah, kehidupan sulit telah menempahnya menjadi wanita yang kuat."


"Jika Satya bisa membuka hatinya untuk Anyelir, dia akan menjadi seorang suami yang beruntung", lanjut Radit.


"Nah Kak Radit sendiri bagaimana? kenapa Kak Radit belum juga berkeluarga, nggak mungkinkan karena nggak ada perempuan yang mau dengan Kak Radit? lagipula kehidupan Kak Radit sudah lumayan mapan dan Kak Radit juga cukup tampan dipandang dari sudut pandang cewek, jadi apalagi yang membuat Kak Radit menunggu."

__ADS_1


"Belum siap hati saja Tin."


"Maksud Kak Radit?"


"Iya belum dapat calon yang cocok."


"Jika Kak Radit mencari wanita yang sempurna itu tidak akan pernah dapat apalagi wanita ideal semua itu nonsens Kak. Kak Radit dan pasanganlah yang harus mencocokkan diri hingga bisa menjadi pasangan ideal."


"Iya sih...kamu benar Tin, Nah kamu sendiri bagaimana aku dengar kamu telah menikah siri. Kenapa kamu mau cuma dinikahi siri Tin, bukankah itu merugikan bagi posisimu sebagai wanita. Kenapa kamu tidak menuntut diperlakukan sama sebagaimana istri sah seperti halnya Anye sekarang, jadi tidak ada yang dirugikan diantara kalian."


"Apa pantas aku menuntut hal itu Kak, aku sudah ditebus dari mucikari saja sudah sangat bersyukur, daripada aku terus hidup dalam gelimang dosa."


"Maksud kamu apa Tin."


Tina sempat terdiam, namun akhirnya ia melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan semuanya dari awal ia berangkat merantau ke Jakarta hingga ia menjadi istri simpanan.


Radit merasa iba dengan nasib Tina, begitu tragis perjalanan hidupnya. Ia masih beruntung dibandingkan Tina, walaupun ia tidak bisa mendapatkan cinta sejatinya minimal ia masih bisa hidup bebas untuk memilih pasangannya.


Kini semakin timbul rasa simpati di dalam hati Radit, walaupun Tina pernah hidup dilingkungan yang buruk namun ia mampu menjaga Anyelir agar tidak ikut terjerumus seperti dirinya.


"Hallo...ya Pak, ada keperluan apa telephone saya Pak!", tanya Tina. "Apa Tuan sudah kembali Pak?",


Tina pun lanjut bertanya.


"Anu Non...Itu...", Pak supir ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Ada apa Pak!, ada perintah apa dari Tuan dan dimana Saya harus menemui Tuan Pak!",


"Tuan Non, Tuan meninggal setelah mengalami kecelakaan mobil ketika beliau hendak pulang ke hotel dari menjaga istrinya di rumah sakit."


Seketika itu Tina tubuhnya gemetar, air matanya menetes dan akhirnya ia terduduk lemas dilantai, handphonenya juga jatuh kelantai hingga menimbulkan suara yang membuat Radit menoleh kearahnya.

__ADS_1


Radit yang melihat Tina terduduk dilantai sambil menangis, setengah berlari segera menghampiri Tina, kemudian ia bertanya apa yang terjadi namun Tina tidak bisa berkata apapun. Radit yang mendengar suara orang memanggil non...non dari handphone Tina yang tergeletak dilantai kemudian ia mengangkatnya dan bertanya kepada Pak Supir.


"Pak ini saya Radit, saya ingin bertanya, sebenarnya ada berita apa hingga membuat Tina menangis?"


Lalu pak supir yang sudah mengenal Radit menjelaskan apa yang terjadi dengan Tuannya yaitu suami Tina. Tuannya meninggal di luar negeri karena kecelakaan mobil saat baru kembali dari menjaga istrinya di rumah sakit hendak menuju hotel tempat ia menginap. Saat ini putra putri dari Tuannya juga sudah berangkat ke luar negeri untuk melaksanakan penyelenggaraan jenazah beliau disana dan menjaga ibu mereka yang sedang sakit parah dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit.


Setelah menjelaskan semua yang terjadi, Pak supir pun menutup telephone, ia harus segera menuju rumah kediaman Tuannya karena anak anak majikannya telah memberikan amanah untuk menjaga rumah itu sampai mereka kembali.


Radit yang faham dengan situasi yang sedang dihadapi oleh Tina, kemudian berusaha menghiburnya dan meminta Tina agar berdiri dengan memapah Tina dan membawanya kembali duduk di tempat semula mereka duduk.


Tina belum juga berhenti menangis, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia bahkan tidak bisa melihat jenazah suaminya walaupun untuk terakhir kali. Jika pun ia berusaha terbang ke sana, belumlah tentu keluarga suaminya mengizinkan dirinya untuk melihatnya jika mereka tahu bahwa Tina adalah istri siri dari papa mereka.


Ini lah salah satu kelemahan Tina dalam posisinya sekarang sebagai istri siri, mau menuntut apapun dia tidak akan bisa karena posisinya sekarang tidak mendapatkan pengakuan dari negara dan tidak mempunyai surat nikah resmi yang bisa membuktikan status dirinya dihadapan keluarga almarhum suaminya, dengan kata lain dia tidak memiliki kekuatan hukum. Hanya doa yang bisa ia kirimkan untuk almarhum suaminya.


Radit sejenak membiarkan Tina tenggelam dalam kesedihannya, dia meminjamkan saputangannya untuk mengelap air mata Tina. Setelah melihat Tina sedikit tenang dan tangisnya mulai mereda ia pun berkata,


"Aku turut berdukacita Tin, kamu boleh menumpahkan kesedihanmu kepadaku, aku siap mendengarkannya. Aku tahu kamu tidak memiliki keluarga disini dan Anye juga tidak mungkin kita ganggu dengan kabar ini. Takutnya kabar ini bisa mengganggu fikirannya dan bisa membuatnya memutuskan untuk membatalkan bulan madu mereka."


"Iya Kak, Terimakasih atas perhatian Kak Radit. Tina juga tidak mau Anye membatalkan bulan madunya. Tina pasti bisa melalui semua cobaan ini Kak. Ayo Kak kita pulang, Tina ingin istirahat."


Radit pun mengangguk, kemudian ia menggandeng tangan Tina untuk berjalan ke parkiran menuju mobilnya, ia takut dengan keadaan Tina yang sedang rapuh akan membuatnya terjatuh, lalu Radit melajukan mobilnya ke jalan raya menuju tempat kost Tina.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


🌼 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA SAY....LIKE, COMMENT SERTA RATE BINTANG LIMANYA AGAR AUTHOR TETAP SEMANGAT. TERIMAKASIH 🙏🙏


🌼 HAPPY READING ♥️♥️♥️ SEMOGA SEHAT, BAHAGIA DAN SUKSES SELALU UNTUK KITA SEMUA.


🌼 Nama pena : Julia Fajar


🌼 FB Juliatik

__ADS_1


🌼 IG juliatikj


🌼 WA 089666644746


__ADS_2