
"Mas, Anye ikut ya ke kantor, Anye jenuh lho di rumah, kerja tidak, kuliah lagi cuti, nonton tv bosan, buka fb juga bosan, rebahan saja capek. Anye janji deh nggak bakalan kerjain apapun di sana, paling ntar ngobrol dengan Tina lagipula Anye juga bisa ngobrol dengan Mas kan?" rayu Anye.
"Baiklah tapi janji ya, Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa, dokter kan bilang kamu harus banyak beristirahat," ucap Satya.
Anyelir senang, lalu dia mengangguk sembari berjalan ke kamar untuk mengambil tasnya. Kehamilan Anyelir kini sudah menginjak usia tiga bulan, perutnya pun sudah mulai terlihat sedikit membesar.
Satya selalu mengingatkan dirinya untuk meminum vitamin dan makan-makanan yang bergizi, hingga perkembangan janin merekapun sehat. Anye sudah bisa merasakan pergerakan janin di dalam perutnya.
Saat Anye kembali, dia tersenyum sembari memegangi perutnya hingga membuat Satya penasaran, lalu Satya mendekat dan meraba perut istrinya sembari bertanya, "Kenapa Yang? mereka sudah mulai lasak ya?" tanya Satya.
"Iya Mas, seperti keterangan dokter jika janin sudah berusia 3 bulan, dia akan mulai bergerak, menguap, wajahnya juga sudah dilengkapi dengan mata, hidung, dan mulut. Tulang dan otot juga sudah terbentuk. Kuku-kuku pada jari pun sudah mulai tumbuh. Alat kelamin sudah mulai terbentuk, tapi belum berkembang secara sempurna, sehingga belum terlihat jelas jenis kelaminnya," jawab Anyelir.
"Mas jadi kepingin nih merasakan gerakan mereka, apalagi melihatnya, nanti sore kita check-up ya Nye. Mas sudah tidak sabar ingin melihat mereka melalui layar monitor. Kenapa ya mereka tidak mau menunjukkan kelasakannya di depan Mas, padahal nih hah...Papa sudah menciumi mereka," ucap Satya sembari meraba dan menciumi perut sang istri.
Anye yang merasa kegelian lalu berkata, "Sudah Mas! ayo kita berangkat, katanya mas ada meeting pagi ini, nanti terlambat lho. Mereka belum mau bergerak di depan Papanya, sabar ya Mas!"
"Iya deh Papa akan sabar, asal Papa boleh terus jenguk kalian saja sudah bersyukur, ya kan Mami. Nanti malam bolehkan Mi? Papa jenguk mereka lagi, siapa tahu mereka langsung bergerak," ucap Satya sembari tersenyum dan mengecup kening sang istri.
"Nggak boleh lho Pa, kami mau bobo," jawab Anyelir dengan menirukan suara anak-anak.
Satya kembali mencium sang istri yang mulai jahil, kali ini dia tidak hanya mencium Anye di kening tapi ******* bibir istrinya hingga sulit bernafas.
Anye berusaha melepaskan ciuman suaminya, setelah lepas diapun berkata, "Ampun Papa, kami kesulitan bernafas nih," ucap Anyelir masih dengan gaya bicara anak-anak.
Satya yang melihat istrinya semakin manja lalu menggendongnya ala bridal style, membawanya ke mobil sembari menciumnya kembali.
"Aduh, Mami ternyata semakin berat ya, dua bulan lagi Papa pasti sudah tidak kuat nih menggendong Mami kalian," ucap Satya seakan bicara dengan anak-anaknya.
Anyelir sangat bahagia, Satya memberikan perhatian lebih dan semakin memanjakan dirinya sejak dia hamil. Kalau dia boleh memilih, rasanya Anye ingin waktu berhenti lebih lama hingga dirinya bisa terus merasakan kebahagiaan seperti ini bersama suami dan anak-anaknya.
Bi Imah yang melihat keromantisan majikannya pun tersenyum-senyum sendiri. Dia membayangkan saat dulu pertama sekali dirinya hamil, suaminya juga sangat memanjakan dirinya.
Namun sayang di kehamilan keduanya sang suami dipanggil menghadap sang pencipta hingga dirinya hanya bisa merasakan kebahagiaan bersama anaknya saja.
__ADS_1
Lalu Bi imah tersentak dari lamunannya saat Anyelir berkata dari atas mobil, "Bi, kami berangkat ya," ucap Anyelir.
Bi Imah lalu menjawab dengan terbata, "I...iiya Non, hati-hati ya Non," ucap Bi Imah sembari memperhatikan majikannya yang masih saja saling menggoda, hingga mobil mereka menghilang di balik pagar barulah Bi Imah menutup pintu dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Mereka sudah tiba di kantor, Satya kembali mengingatkan Anye bahwa sore ini mereka akan ke dokter, sebelum istrinya turun dari mobil. Karena Satya ada meeting di luar, dia hanya mengantar istrinya sampai di pintu masuk, lalu dia meminta Anye agar menunggu di ruangannya bersama Tina.
Anye mengiyakan perkataan Satya, kemudian Satya mencium kening Anye sembari mengelus perutnya dan berkata, "Jangan nakal kalian ya Nak, jaga Mami sampai Papa kembali, " ucap Satya kepada janinnya.
Saat dia hendak melepaskan tangannya dari perut Anyelir tiba-tiba terasa ada yang menggeliat di dalam sana, sepertinya janin di dalam perut Anye mendengar dan mengerti dengan ucapan Papa mereka.
Satya sangat senang, hingga repleks dia mencium perut Anye berulang-ulang tanpa malu dengan karyawan wanitanya yang baru datang dan melihat perbuatan Satya sembari tersenyum dan merasa iri dengan kemesraan Bosnya.
Setelah puas mencium lalu Satya berpamitan dengan melambaikan tangan, naik ke mobil dan menjalankan mobilnya kembali ke jalan raya.
Anye segera menuju ke ruangan Satya, sembari menelephone Tina. Tina yang tahu sahabatnya datang segera meninggalkan pekerjaannya dan meminta tolong kepada yang lain agar melanjutkannya.
Mereka ngobrol tentang masalah kandungan, Anye bertanya kepada sahabatnya apakah Tina belum juga ada tanda-tanda hamil. Tina berkata mungkin mereka belum di percaya untuk hal itu dan Allah masih meminta mereka untuk pacaran dulu.
Lalu Anye memberikan support kepada sahabatnya, pasti dia akan segera menyusul. Anye memberi saran agar Tina konsultasi ke dokter kandungan seperti dia dulu. Tina pun mengangguk, rencana sore ini dia akan mengajak Radit ke ahli kandungan.
Tina setuju, lalu dia menelephone Radit agar mengosongkan jadwal kerja hingga mereka bisa pergi bersama Anye dan Satya. Radit pun setuju karena dia juga ingin Tina cepat hamil, dia sudah tidak sabar ingin mempunyai seorang anak.
Satya telah selesai meeting, saat ponselnya berdering, kemudian Satya buru-buru membuka ponselnya siapa tahu dari Anyelir. Saat melihat siapa yang sedang menelephone Satya terkejut, tertera disana nama dokter yang pernah merawat Nadia sebelum mereka pindah ke Amerika.
Kemudian dengan perasaan cemas dan penasaran, Satya segera mengangkat panggilan tersebut. Sang dokter ternyata ingin memberikan informasi
tentang keberadaan Nadia.
Menurut informasi yang Beliau terima, saat ini Nadia sedang di rawat oleh sahabatnya, rekan sesama dokter spesialis penyakit kanker yang baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan studinya.
Dokter tersebut bertugas di rumah sakit yang terletak di pinggiran kota. Namun Beliau tidak tahu apakah perawatannya dilakukan di rumah sakit atau di klinik pribadinya.
Satya sangat bersyukur mendapatkan informasi ini, dia tidak sabar ingin segera menemui Nadia. Lalu dia meminta alamat lengkap rumah sakit tersebut dan juga nama dokter yang menangani Nadia.
__ADS_1
Setelah mendapatkan info yang Satya butuhkan, tanpa berpikir panjang lagi, dia segera melajukan mobilnya kesana. Satya berharap hari ini dia bisa bertemu dengan Nadia.
Anye merasa khawatir, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore tapi Satya belum juga kembali dan tidak memberi kabar. Dia mencoba menelephone tapi tidak di angkat oleh Satya, lalu Anye mencobanya lagi hasilnya tetap sama.
Satya sebenarnya tahu panggilan itu dari Anyelir, tapi dia belum berani mengangkatnya, dia bingung akan memberikan alasan apa jika Anye bertanya kenapa dirinya belum juga kembali.
Jika Satya jujur, dia takut kejujurannya akan membuat Anye khawatir hingga berpengaruh terhadap janinnya. Apabila dia berbohong, apakah hal ini tidak akan lebih menyakitkan bagi Anye jika suatu saat dia tahu.
Dilema dengan keputusan apa yang harus diambil akhirnya Satya teringat Radit, kemudian dia menelephone Radit dan menjelaskan semuanya.
Radit tahu kebingungan sahabatnya, satu sisi Satya sangat ingin bertemu Nadia, dan disisi lain ada istri yang harus dia jaga kestabilan emosinya karena sedang hamil.
Dalam hal ini Radit menyarankan agar Anye tidak usah di beritahu dulu, nanti saja setelah Satya pulang barulah perlahan memberitahukan semuanya kepada Anyelir.
Satya akhirnya setuju, lalu dia menelephone Anye memberitahu bahwa dirinya belum bisa kembali dan kemungkinan malam hari baru pulang ke rumah. Dia beralasan bahwa klien dari luar negeri datang tiba-tiba di luar janji sebelumnya, jadi masih banyak hal yang akan mereka bahas.
Dan Satya juga mengatakan bahwa dia sudah meminta tolong agar Radit dan Tina yang menemani Anye untuk check-up kandungan.
Anyepun percaya dengan alasan Satya, dia setuju pergi dengan Radit dan Tina, karena sejak awal Anye memang ingin mengajak keduanya sama-sama ke dokter kandungan.
Untuk sementara Satya merasa tenang dan dia bisa fokus untuk menemukan Nadia. Dia terus melajukan mobilnya dengan kencang menuju alamat sesuai petunjuk pada maps di ponselnya.
Radit yang masih merasa khawatir tentang keadaan Nadia, meminta Satya untuk segera memberitahu jika sudah bertemu dengannya. Bagaimanapun Nadia adalah sahabat sekaligus wanita yang telah berpuluh tahun mengisi hati Radit.
Bersambung......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like sebanyak-banyaknya, coment dan rate bintang limanya 🙏😉
🌻 Mohon dukungannya juga ya guys, dalam karya author yang lain yang cover dan judulnya ada di bawah ini. Terimakasih atas semua dukungannya, semoga kesehatan dan kesuksesan selalu menyertai kita semua.🙏🙏🙏
__ADS_1