
Setelah puas berkeliling kebun, mereka berempat melanjutkan perjalanan melihat sawah yang membentang luas dengan padi yang sudah mulai menguning.
Radit menggelengkan kepala, dia takjub dengan pemandangan di sana hingga tidak menyadari jika kakinya terjerembab masuk ke dalam parit dekat pematang sawah.
Dia terjatuh dan bajunya penuh lumpur, Satya yang melihatnya bukan menolong malah tertawa ngakak hingga membuat Radit melemparkan lumpur ke badan Satya. Mereka akhirnya saling lempar lumpur seperti anak kecil yang sedang bermain di sawah.
Anye dan Tina serta para petani yang melihat tingkah keduanya pun tertawa, hingga membuat Satya dan Radit ingin iseng mengerjai wanitanya.
Mereka naik ke pematang sawah lalu mencolekkan lumpur ke wajah masing-masing pasangannya.
Anye dan Tina berusaha lari namun langkah mereka tetap kalah dengan dengan Satya dan Radit.
Setelah asyik bermain mereka memutuskan pergi ke sungai sekalian membersihkan diri dari lumpur yang menempel.
Begitu sampai di sungai mereka menghampiri Ayah dan Pak Edi yang sedang asyik memegang joran. Terlihat di ember yang tadi di bawa Ayah dari rumah, beberapa ekor ikan gabus dan lele hasil pancingan mereka sedang berenang di sana.
Ayah dan Pak Edi yang melihat mereka datang penuh lumpur merasa heran, memangnya apa yang membuat mereka bisa terkena lumpur, seperti orang yang baru selesai bekerja di sawah.
Satya dan Radit kemudian menghampiri Ayah, lalu Radit bertanya, "Banyak sekali ikannya di sini ya Yah, itu mereka berebut mau memakan umpan di joran Ayah," ucap Radit heran.
Iya Nak Radit, sungai ini terkenal banyak ikannya makanya jika hari libur banyak warga dari luar yang sengaja datang untuk memancing di sini.
Ketika Asyik ngobrol tiba-tiba Satya berteriak, "Yah, lihat itu! umpannya sudah di makan, sepertinya ikannya besar Yah!" ucap Satya sembari menunjuk ke arah ikan yang bergerak, menarik joran Ayah hingga hampir terlepas dari genggaman Beliau.
Satya membantu Ayah menariknya dan ternyata benar ikan gabus besar sudah tersangkut di mata joran. Dia sangat senang tapi kali ini giliran Satya yang sial, kakinya terpeleset hingga tubuhnya terjebur ke sungai.
Semua terperanjat melihat Satya jatuh ke dalam sungai, terutama Anyelir. Tanpa sadar diapun ikut menceburkan diri untuk membantu Satya karena Anye tahu wilayah sungai tempat ayah memancing ini cukup dalam, ia takut Satya kurang pandai berenang.
Ternyata benar, bukan Satya tidak pandai berenang tapi karena dia terkejut hingga membuatnya sejenak tenggelam.
__ADS_1
Melihat sang suami tidak juga muncul ke permukaan membuat Anye dan yang lain cemas, Anye terus mencari, menyelam hingga ke dasar dan yang lainnya juga ikut menceburkan diri.
Semua ingin ikut mencari, termasuk Ayah dan Pak Edi, namun tiba-tiba tubuh Satya sudah menyembul ke permukaan air, hingga rasa cemas mereka pun hilang.
Tubuh semuanya sudah basah kuyup, akhirnya mereka berenang kesana kemari, bermain siram-siraman mengenang masa kecil.
Ayah dan Pak Edi yang sudah naik lebih dulu, tertawa dan menggelengkan kepala, tapi Ayah senang melihat kebahagiaan terpancar di wajah anak, menantu dan juga teman-temannya.
Sedang Asyik bermain, Pak Kadus datang membawa joran, beliau ingin bergabung dengan Ayah dan Pak Edi.
Melihat Pak Kadus datang ingin memancing, Anye kemudian mengajak Satya, Tina dan Radit untuk menjauh dari tempat itu ke arah yang biasanya anak kampung pada berenang.
Ayah dan pak Edi kembali meneruskan kegiatannya bersama pak Kadus, sementara Anye dan yang lainnya masih saja asyik bermain air sampai jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang karena makan siang sudah di siapkan oleh ibu Anye dan ibunya Tina di rumah kediaman masing-masing.
Rombongan berpisah di tengah jalan, tapi mereka berjanji akan kembali bertemu nanti malam di rumah orang tua Tina untuk menghadiri acara lamaran.
Setelah selesai membersihkan diri, semua kembali berkumpul di ruang makan, di sana telah tersedia menu kesukaan Anye, Satya dan juga Ayah.
Tanpa bersuara lagi mereka segera menyantap semua hidangan dengan sangat lahap, rasa lapar setelah bermain air membuat hidangan nyaris tak bersisa.
Ibu gembira melihat makanan yang disajikannya habis, berarti jerih payahnya berkutat di dapur tidak lah sia-sia. Setelah selesai makan merekapun beristirahat, lalu Ayah, Satya dan pak Edi bersiap untuk pergi ke masjid.
Sementara sang suami ke masjid, Anye mempersiapkan pakaian yang akan mereka pakai nanti malam untuk menghadiri acara lamaran lalu ia lanjut melaksanakan sholat dzuhur.
Sekembali Satya dari masjid, Anye meminta Satya agar mengantarnya pergi ke pasar, dia ingin membeli kue dan buah untuk di bawa ke rumah Tina.
Satya pun setuju lalu mereka pun bersiap pergi dengan mengendarai mobil karena toko kue yang akan Anye tuju tempatnya lumayan jauh.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Anye memilih berbagai macam kue kering, kue basah dan juga buah lalu mereka langsung mengantarnya ke rumah Tina, agar keluarga Tina tidak perlu repot membeli maupun membuat cemilan untuk acara malam nanti.
Tina sekeluarga mengucapkan terimakasih atas pemberian Anye dan Satya, kemudian Ibunya Tina membungkuskan sedikit rendang dan sayur untuk di bawa pulang Anye buat sang ibu.
Anye menolak tapi ibu Tina memaksa dengan memasukkanya secara diam-diam ke dalam mobil Satya.
Setelah berbincang sebentar mereka pun pamit pulang dan berjanji nanti malam akan kembali sebelum acara di mulai.
Sekembali dari rumah Tina mereka memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggu datangnya sholat Ashar.
Di rumah Tina, keluarga jauhnya mulai berdatangan, mereka ingin menyaksikan acara lamaran karena saat acara pesta nantinya di kota, mereka tidak akan bisa datang.
Rumah Tina mulai penuh dengan tamu yang datang, padahal orang tuanya tidak mengundang mereka.
Ayah dan ibunya hanya mengundang keluarga yang di tua kan saja untuk menjadi saksi dalam lamaran tersebut agar suatu saat tidak akan menjadi fitnah jika bertemu Tina dan Radit.
Namun keluarga orang tua Tina merupakan keluarga besar hingga kabar tersebut sampai dari mulut ke mulut kepada mereka dan membuat semua berdatangan, jadinya acara lamaran sudah seperti acara pernikahan saja.
Semua memberikan selamat dan membawa kado, banyak juga yang membawa kue serta beras ala pesta di kampung, tak ayal lagi kedatangan mereka membuat keluarga Tina kelabakan karena tidak adanya persiapan yang matang.
Mereka akhirnya meminta tolong tetangga agar kembali memasak makanan untuk acara nanti malam karena makanan yang tadi sudah di persiapkan hampir habis telah di hidangkan untuk tamu yang datang.
Radit kemudian mengantar Tina dengan menggunakan mobil ke pasar agar bisa cepat sampai dan cepat kembali, Tina akan membeli bahan kebutuhan yang akan di masak, sementara ibu dan Ayahnya tetap menemani tamu.
Selama perjalanan Radit sangat senang, dia yang selama ini tidak memiliki keluarga selain keluarga Permana dan juga keluarga panti merasa mendapatkan keluarga baru yang begitu ramah dan perhatian terhadap dirinya.
Dia hanya berharap ini awal yang baik bagi kehidupanya bersama Tina yang sebentar lagi akan mereka resmikan.
Bersambung......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like sebanyak-banyaknya, coment dan rate bintang limanya 🙏😉
🌻 Silahkan favorit karya dan follow akun saya ya, agar kalian para pembaca kesayanganku selalu tahu kapan saya update dan menerbitkan karya baru. Terimakasih 🙏🙏🙏