Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 32. Menemui calon mertua di kampung


__ADS_3

Satya mulai menikmati udara segar, pemandangan indah perbukitan nan hijau, hamparan sawah, ladang bertingkat-tingkat mengitari kaki bukit ditambah lagi hamparan lembah dan danau dengan airnya yang biru semakin menambah indahnya suasana sore ini.


Sementara Pak Edi yang masih fokus menyetir juga memperhatikan Satya dari kaca spionnya.


" Bagaimana Tuan, indah ya kan Tuan pemandangannya?".


" Ternyata benar ya Pak seperti yang Bapak ceritakan, tinggal di tempat seperti ini pastilah sangat nyaman, tenang, jauh dari polusi dan jauh dari hiruk pikuk kenderaan. Disini sangat cocok untuk tempat beristirahat dan menenangkan diri".


" Iya Tuan, rencananya saya ingin menghabiskan hari tua saya bersama istri disini. Apalagi jika Tuan hoby memancing, seru lho Tuan memancing di sungai sini, ikannya banyak dan besar-besar".


" Ikan apa yang paling banyak Pak di sungai sini?".


" Gabus dan lele tuan tapi masih banyak juga sih jenis yang lain seperti sepat, betik dan silais.


Sementara Satya dan Pak Edi asyik dengan obrolannya, Anyelir mulai menguap. Perjalanan jauh yang melelahkan membuatnya mengantuk dan akhirnya ia tertidur dengan menyandarkan kepalanya disandaran tempat duduknya. Posisi kepalanya kadang oleng ke kanan dan kadang kekiri tapi karena rasa kantuk berat yang menyerangnya tidak membuatnya terbangun.


Satya yang tidak mendengar suara Anyelir lagi, mulai menyadari dan melihat kesampingnya ternyata Anyelir kini tertidur. Karena tidak tega melihat posisi tidur Anyelir seperti itu, perlahan ia memindahkan kepala Anyelir agar bersandar di bahunya.


Pak Edi yang memperhatikan mereka dari kaca spion pun tersenyum dan bermonolog dalam hatinya,


" Cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh cinta Tuan dengan gadis itu, sekarang saja kamu tidak rela melihat dia tertidur dengan tidak nyaman. Semakin lama kamu mengenalnya, akan semakin kuat cinta itu nantinya menyatukan kalian, aku sangat yakin Tuan. Hanya pria bodoh saja yang menolak untuk mencintai gadis sebaik dia, Kamu berhak bahagia Tuan".


Satyapun akhirnya ikut tertidur, kepala mereka saling bersandar. Rasa kebas yang dirasakan Anye membuatnya terbangun, alangkah terkejutnya Anye ketika membuka matanya, dengan cepat ia menegakkan kepalanya hingga membuat Satya terbangun.


" Maaf Mas", ucap Anye dengan malu.


" Tidurlah lagi, kamu pasti sangat lelah".


" Memangnya berapa lama lagi kita baru sampai ke rumah orang tua Anyelir Pak Edi", ucap Satya.


" Paling sekitar satu jam lagi Tuan, masih ada waktu kok jika ingin melanjutkan tidur, Bapak tahu Tuan dan Nona pasti lelah".

__ADS_1


" Iya Pak", jawab Anyelir.


" Bapak tidak lelah?".


" Bapak sudah terbiasa non melakukan perjalanan jauh".


" Pak, bisa kita berhenti sebentar di depan", minta Satya.


Satya meminta Pak Edi untuk menepikan mobil mereka, ia ingin melihat pemandangan danau lebih dekat.


" Anye mendekatlah, coba kamu berdiri disitu dengan pemandangan danau sebagai latar pasti indah, aku ingin mengambil beberapa foto kita disini".


Anye kemudian mendekat, berbagai gaya foto ia lakukan seperti apa yang Satya minta, Satya pun dengan mahir memainkan kameranya seperti seorang foto grafer. Senyum Anye mengembang disetiap jepretan kamera Satya, hal itu membuat Satya bahagia dan merasa puas dengan hasil foto yang ia dapat.


Kemudian Satya meminta tolong kepada Pak Edi untuk mengambil fotonya bersama Anye, kini Anye merasa malu dengan adanya Pak Edi.


" Ayo non merapat sedikit biar terlihat lebih mesra, ya betul seperti itu non, Tuan agak condongkan sedikit ya kepalanya kearah wajah Nona. Oke, nah sekarang senyum😊😊, tahan sebentar ya", kemudian Pak Edi pun memainkan kamera handphone Satya dari segala arah hingga menghasilkan foto-foto yang hasilnya sangat indah dengan background pemandangan danau.


" Kakek pasti senang ya Pak jika bisa ikut, suasana seperti ini yang cocok buat memulihkan kesehatan kakek".


" Iya Tuan, kakek pernah cerita jika tugasnya telah selesai membuat cucu-cucunya memegang kendali semua usahanya beliau akan pergi menenangkan diri, menikmati sisa usianya ditempat yang tenang dan nyaman. Mungkin tempat ini bisa menjadi tempat yang cocok untuk kakek beristirahat".


" Jika kakek mau, beliau bisa tinggal bersama Ayah dan ibuku Mas, jadi kakek bisa punya teman untuk ngobrol".


" Terimakasih Nye, pasti kakek belum tenang jika masalah Tirta belum selesai dan kita belum menikah".


" Iya Mas, Insha Allah Anye akan bantu mas untuk menyelesaikan masalah Tirta".


Satya pun mengangguk setuju.


Tak terasa mobil mereka telah memasuki kampung halaman Anyelir, Ayah dan Ibunya juga telah menunggu kedatangan mereka. Para tetangga dekat yang melihat Anyelir tiba, juga datang untuk mengabarkan tentang kembalinya Anye. Mereka heran, Anye yang baru kembali dari kota dalam minggu lalu kok kini kembali lagi.

__ADS_1


Keheranan mereka bertambah saat melihat Anye pulang di dampingi seorang pemuda tampan. Kemudian Anye menyapa dan memperkenalkan Satya kepada mereka. Satya pun segera memperkenalkan dirinya kepada orang tua Anye dan para tetangga yang berkumpul disana.


Ayah dan ibu mempersilahkan Satya dan Pak Edi agar masuk ke dalam rumah. Mereka sangat senang menyambut kedatangan Satya dan Pak Edi. Ibu dan Anye segera ke dapur untuk membuatkan minuman lalu mempersiapkan kamar buat Satya dan Pak Edi agar mereka bisa membersihkan diri dan beristirahat sementara mereka memasak untuk makan malam.


Anye kemudian menyajikan minuman kepada Ayah, Satya dan Pak Edi yang masih ngobrol di ruang tamu.


" Silahkan diminum Ayah, Mas, Pak Edi, tapi maaf ya mas hanya teh saja, jika mas mau membersihkan diri dan beristirahat biar Pak Edi yang menunjukkan tempatnya sebab Pak Edi sudah mengetahui tempatnya. Tapi sekali lagi maaf ya Mas atas keterbatasannya dan Mas malam ini tidur sekamar dengan Pak Edi".


" Iya Nak Satya, maaf ya nak hanya pelayanan seperti ini yang bisa saya berikan".


" Jangan sungkan Yah, Anye, nggak apa-apa kok, seperti ini juga sudah bagus dan sangat adem rumahnya, jika begitu saya permisi dulu ya yah, kami mau membersihkan diri dulu mumpung belum maghrib, ayo Pak Edi".


Satya pun pergi bersama Pak Edi setelah meminum tehnya. Sedangkan Ayah pergi ke belakang rumah untuk mengambil ikan gurami yang diternak ayah di kolam kecil dibelakang rumah.


Kemudian Ayah menyiangi ikan tersebut dan memberikannya kepada Anyelir agar dimasak.


Ibu dan Anyelir berencana memasak ikan panggang, rebus daun ubi, kecipir yang dipetik ibu dari samping rumah kemudian membuat sambal terasi dan sambal kecap. Ayah lalu pergi kewarung membeli kerupuk untuk tambahan lauk makan.


Setelah selesai masak, Anye membuat jus jeruk dari jeruk yang dibawanya dari kota baru kemudian dia pergi membersihkan diri dan beristirahat sambil menunggu datangnya maghrib.


Begitu suara Adzan berkumandang Ayah, Satya, Pak Edi pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Setelah kembali dari mesjid ibu dan Anye telah menghidangkan makan malam buat mereka.


Ayah mempersilahkan mereka makan bersama dengan duduk di sebilah tikar yang dikembangkan di lantai. Suasana sangat akrab, Satya yang belum pernah makan ditempat seperti ini awalnya canggung tapi kemudian ia merasa nyaman. Apalagi setelah merasakan masakan Ibu dan Anyelir ia sempat terhenti mengunyah makanannya, dengan perlahan ia merasakan nikmatnya rasa makanan itu.


Mereka semua makan dengan lahapnya, makanan yang terhidang nyaris habis tanpa sisa, hanya tinggal tulang ikan dan nasi yang tersisa.


Satya berkata dalam hatinya" Tidak salah koki restorannya dan manajer resto merekomendasikan Anyelir, ternyata selain cara kerjanya, keramah tamahannya, hasil masakannya juga sangat nikmat".


Bersambung....


●●●Terimakasih atas semua like dan komentarnya🙏🙏🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya terus ya para readers biar saya tetap semangat update.


__ADS_2