
"Sat, Anye...sebaiknya makan dulu, ingat kesehatan kalian juga harus di jaga, kasihan 'kan anak-anak jika orangtuanya sakit. Kita memang sedih kehilangan Nadia tapi kita juga tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan," ucap Radit.
"Betul Tuan, Non yang di katakan Tuan Radit, Bibi udah siapin makanan kok di meja makan," ucap Bibi.
"Ayo Nye kita makan. Tina, Radit kalian juga harus ikut makan," ajak Satya.
Mereka segera menuju ke ruang makan, walaupun tidak berselera tapi mereka harus tetap memaksakan diri makan barang beberapa suap.
Setelah selesai mereka kembali ke ruang keluarga, di sana Satya meminta Bibi agar besok membereskan barang-barang Nadia untuk di sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan agar lebih berguna daripada hanya di simpan saja.
Tina dan Anye sejenak bermain bersama anak-anak sebelum mereka di bawa kembali ke kamar oleh Baby Sitter. Radit dan Tina pun akhirnya memutuskan untuk pulang, mereka berjanji besok akan kembali datang karena Tina juga butuh banyak istirahat.
Tahlilan malam pertama sampai dengan malam ketujuh pun selesai di laksanakan, kini Satya dan Anye pamit kepada Mang Ujang dan Bibi untuk pulang ke rumah Anyelir.
Satya berpesan kepada Mang Ujang dan Bibi untuk merawat rumah serta pusara Nadia, dia berjanji setiap hari Jum'at akan datang bersama Anye dan anak-anak untuk berziarah.
Sebelum naik ke mobilnya, Satya meminta Mang Ujang agar membagikan sedekah atas nama almarhumah Nadia kepada fakir miskin dan anak-anak yatim piatu yang ada di lingkungan sekitar mereka. Sementara sedekah untuk ke panti asuhan sudah di urus oleh Radit.
Mobil Satya sudah meninggalkan rumah Nadia, mereka tidak mungkin larut terus dalam kesedihan, hidup harus terus berjalan, aktivitas seperti biasa sudah menanti.
Besok rencananya Satya akan mulai kembali ke kantor sedangkan Anyelir masih harus pokus mengurus bayi mereka. Satya belum mengizinkan Anye meneruskan kuliah apalagi aktif dalam pekerjaannya. Dia ingin anak-anak tumbuh dengan baik di bawah pengawasan Anyelir daripada sepenuhnya mengandalkan Baby Sitter.
Hari-hari Anyelir di penuhi kegembiraan, dia melihat anak-anaknya tumbuh dengan sangat lucu, cerdas dan lincah. Keduanya kini sudah pandai berjalan, hingga membuat Satya dan Anyelir rasanya enggan jauh dari mereka.
Satya selalu tidak sabar ingin cepat pulang dari kantor agar bisa bersama dengan anak dan istrinya. Rasa lelah bekerja seakan hilang setelah melihat senyum di wajah Anye dan melihat anak-anak mengejar dan memanggilnya Papa.
Setiap malam Anye dan Satya selalu menemani si kembar, membacakan dongeng secara bergantian hingga keduanya tertidur. Setelah itu barulah Satya mengajak Anye untuk menikmati suasana malam dengan bersantai di balkon rumah mereka.
Satya ingin mengganti hari-harinya yang dulu, pernikahan yang awalnya tanpa di dasari cinta tapi perlahan cinta itu tumbuh diantara keduanya, karena saling pengertian, saling memberi kasih dan perhatian.
__ADS_1
Anye tidak pernah menuntut ucapan cinta dari Satya, perhatian serta kasih sayang yang selama ini dia dapatkan, itu sudah membuktikan cinta telah mempersatukan mereka.
Saat Anyelir berdiri di dekat pagar pembatas balkon, tiba-tiba tangan Satya memeluk pinggangnya dari belakang, dia memejamkan mata mencium wangi tubuh istrinya.
Lalu dia menyandarkan kepala sembari berkata, "Aku mencintaimu Nye, selama ini aku terlalu gengsi untuk mengatakannya. Tapi disaat kamu koma aku baru sadar, aku takut, sangat takut kehilanganmu. Jangan pernah tinggalkan aku Nye hingga hanya mautlah yang bisa memisahkan kita."
Sejenak Satya terdiam sembari mencium lembut pipi Anyelir, keduanya sama merasakan kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan.
Ternyata kata cinta yang berhasil keluar dari mulut Satya mampu membuat hati dan jantung mereka seperti akan keluar dari tempatnya.
Satya membalikkan tubuh Anyelir menghadap dirinya, dia menatap kedua mata itu yang tampak di sana ada dua bulir air bening hampir terjatuh, lalu dia mengelap dengan kedua ibu jarinya seraya berkata, "Mengapa kamu menangis Sayang? Apakah perkataanku ada yang menyakiti hatimu?" tanya Satya yang merasa bersalah.
Anye menggelengkan kepala lalu dia berkata, "Aku seperti sedang bermimpi Mas dan rasanya tidak ingin terbangun, aku ingin terus hidup bahagia bersamamu. Aku juga mencintaimu Mas, sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku."
"Terimakasih Sayang, telah menjadi istri dan Mama yang terbaik dari anak-anak kita. Aku akan selalu berjuang agar bisa terus membahagiakan kalian. Kalian adalah bahagiaku dan kalianlah hidupku," ucap Satya sembari mencium bibir mungil istrinya.
Anyelir membalas ciuman lembut Satya, keduanya pun terlena, saling membalas mesra, terpaan angin yang berhembus sepoi-sepoi malam ini menjadi saksi keromantisan mereka.
Keduanya menghabiskan malam ini penuh cinta, untung si kembar tidak rewel dan tidak terbangun tengah malam untuk minum ASI, mereka seperti tahu, ingin memberikan kesempatan kepada Papa Mamanya agar leluasa memadu kasih.
Anye terbangun saat cahaya mulai masuk dari sela kain gordennya, dia langsung melompat dari tempat tidur karena terkejut, mereka bangun kesiangan dan telat melaksanakan sholat Subuh.
Dia langsung membangunkan Satya agar bergegas mandi karena sudah telat melaksanakan sholat. Mereka mandi bersama untuk menghemat waktu, lalu bergegas berwudhu untuk melaksanakan sholat berjama'ah.
Keduanya keluar kamar setelah Satya selesai bersiap hendak pergi ke kantor, ternyata di depan pintu si kecil bersama sang pengasuh sudah menunggu.
Melihat Papa Mamanya keluar merekapun menghambur ke dalam pelukan keduanya. Lalu Satya dan Anye membawa si kembar ke ruang makan untuk sarapan.
Setelah sarapan, Satya pun pamit berangkat ke kantor, hari ini dia akan menyelesaikan semua tugas-tugasnya, sebelum berangkat liburan.
__ADS_1
Besok adalah ulang tahun Anyelir yang ke 21 tahun, Satya ingin memberikan kejutan untuknya. Saat jam makan siang dia menelepon agar Anye bersiap-siap beserta anak-anak dan kedua Baby Sitter karena sebentar lagi Satya akan pulang untuk menjemput mereka.
Sebenarnya Anye penasaran, kenapa Satya memintanya membawa pakaian untuk keperluan beberapa hari, tapi Satya bilang, dia ingin mengajak mereka untuk mengurus pekerjaan di luar kota.
Mobil Satya pun memasuki halaman rumah, dia turun dengan menyunggingkan senyuman melihat Anye sudah menyambutnya di depan pintu.
Satya menggendong putra-putrinya yang menghambur ke arahnya, membawanya masuk ke mobil sementara Anye dan pengasuh bayi juga bersiap membawa tas mereka.
Mobil terus melaju ke luar kota, Anyelir heran mengapa jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju ke kampung halamannya. Dia yang penasaran lalu bertanya, "Mas inikan jalan mau ke kampung? Memangnya Mas mau mengurus pekerjaan di sana?" tanya Anye penasaran.
"Iya sekalian, sambil mengenalkan kepada anak-anak kampung halaman Mama mereka, lagipula Ayah dan Ibu pasti sangat merindukan si kembar, apa salahnya kita yang mengunjungi mereka, dan tentunya Mama kembar pasti rindu juga kan dengan Ayah dan Ibu?" ucap Satya sambil tersenyum.
Anye tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, lalu dia berkata sambil mengecup pipi Satya, "Terimakasih Sayang."
Satya senang telah berhasil memberikan kejutan awal untuk Anyelir. Membuat istrinya selalu tersenyum adalah impiannya untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
BERSAMBUNG......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejaknya seperti biasa ya guys, favorit, vote, like, coment, hadiah dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏😉
PENGUMUMAN
Hallo para reader, kali ini aku mau rekomendasikan karya temanku yang kece, silahkan mampir ya....dan jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana.
__ADS_1
