Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 36. Impian Ayah dan Ibu


__ADS_3

Acara lamaran selesai, para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan sederhana yang telah disediakan oleh keluarga Anyelir. Mereka semua makan dengan hening hanya suara dentingan sendok yang terdengar.


Setelah selesai makan, para tamu memberi selamat kepada keluarga Anyelir dan juga Satya, kemudian satu persatu mereka mulai pamit untuk pulang kerumahnya masing-masing.


Kini hanya tinggal Ayah, Ibu, Pak Edi, Satya dan Anye yang masih duduk diruangan itu sambil minum teh.


Malam ini merupakan malam terakhir mereka dikampung, sebab besok mereka harus kembali ke kota jadi Anye dan Satya ingin membicarakan semua yang perlu mereka bicarakan kepada Ayah dan ibu. Satya memecah keheningan dengan mulai membuka percakapan,


" Mulai lusa, Ayah dan ibu sudah bisa jika ingin menggarap sawah dan ladang itu Yah, sembari mengurus ternak. Tentang rumah yang Satya hadiahkan buat Anyelir, Ibu dan Ayah juga berhak tinggal disana dan sebaiknya rumah ini dikontrakkan saja biar ada yang ngurus, jika harus mengurus keduanya pasti repot kan Bu?".


Ibu dan Ayah masih terdiam, dalam hati mereka masih berfikir ntar biaya hidup mereka sebelum sawah, ladang dan ternak menghasilkan dari mana mereka akan dapatkan sementara mereka telah berhenti bekerja.


Anye tahu yang orang tuanya fikirkan lalu ia melanjutkan omongan Satya,


" Ayah...ibu jangan khawatir sebelum sawah, ladang dan ternak itu menghasilkan, Anyelir akan menanggung semua biaya kebutuhan hidup Ayah dan Ibu. Untuk modal tanam, pupuk dan lain-lain juga nanti akan Anye kirim uangnya. Jika rumah ini nantinya dikontrakkan uangnya ibu masukkan tabungan saja. Insha Allah dua hari lagi Anye gajian Bu, Anye akan langsung transfer ya Yah ke rekening Ayah".


" Terima kasih Nak, kalian memang anak-anak yang baik, kalian bisa menebak apa yang tersirat dalam fikiran kami", lanjut ibu.


Satya : " Mengenai pernikahan kami, Ibu dan Ayah harus datang, nanti dua atau tiga hari sebelum pernikahan biar Pak Edi yang akan menjemput kesini, tapi Satya minta maaf ya Yah kami tidak bisa mengadakan resepsi pernikahan untuk menjaga hati Nadia istri Satya, hanya keluarga dekat saja yang akan hadir sebagai saksi".


" Nggak apa-apa Nak, yang penting kan Aqad nya, pesta itu hanya sebagai pelengkap acara saja", jawab Ayah.


" Besok rencananya kita mau berangkat jam berapa Tuan? ", tanya Pak Edi.


" Sekitar jam sepuluh pagi saja ya Pak, jadi sebelum itu kita bisa bertemu dengan panitia pembangunan mesjid sebelum berangkat".


" Baiklah Tuan".


" Kenapa tidak sore hari saja nak berangkatnya jadi ibu kan bisa memasakkan sesuatu buat oleh-oleh".


" Nggak usah repot-repot Bu, hari ini kita semua sudah cukup lelah, Satya tidak ingin merepotkan Ayah dan Ibu lagi. Untuk oleh-oleh nanti kami beli saja Bu sambil arah pulang".


Karena hari sudah semakin larut, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat kembali ke kamarnya masing-masing.


Keesokan pagi mereka menjalankan aktifitasnya masing-masing setelah melaksanakan ibadah. Ayah, Satya, Pak Edi pergi menemui panitia pembangunan mesjid yang telah berkumpul di lahan yang akan mereka bangun. Sementara Anye sedang membereskan barang yang akan dia bawa pulang ke kota.

__ADS_1


Saat sedang asyik mengemas, Anye yang melihat ibu menghampirinya segera menghentikan aktifitasnya.


" Bu, Apa Ayah dan Mas Satya sudah kembali?"


" Belum Nak, paling sebentar lagi juga sampai".


" Oh ya nak, kita bisa ngobrol sebentar sambil menunggu mereka pulang".


" Iya bu, kita duduk di sini saja bu", ajak Anye sambil menepuk-nepuk kasurnya.


Ibu duduk berhadapan dengan Anye kemudian ibu berkata,


" Apakah kamu nanti tidak akan menyesal Nak dengan keputusan kamu ini?", tidak mudah untuk menjalani hidup berpoligami, memang ibu tidak mengalaminya tapi sudah banyak contohnya. Seperti di kampung kita ini, antara istri pertama dengan istri kedua mereka selalu ribut dan perlakuan suami mereka juga tidak adil hingga akhirnya mereka saling menyakiti, nggak hanya menyakiti melalui ucapan saja tapi juga menyakiti raga. Ibu tidak mau kamu mengalami hal yang sama, kami tidak apa-apa hidup miskin asal kamu hidup bahagia, coba kamu fikirkan lagi ya Nak sebelum terlambat".


" Anye sudah fikirkan semua kemungkinan terburuk Bu, bahkan Anye sudah minta petunjuk Allah melalui sholat Istikharah biar Anye tidak salah dalam mengambil keputusan, Anye ikhlas menjalani semua sesuai takdir Allah. Anye hanya mohon Ibu dan Ayah juga ikhlas dan doakan selalu Anye ya bu agar sabar menghadapi apapun nanti yang bakal terjadi".


" Insha Allah Nak, kami akan selalu mendoakan kalian", ibu kemudian memeluk Anyelir sambil mencium dan mengusap kepalanya.


Kemudian Ibu melanjutkan ucapannya,


" Insha Allah Bu, sekarang ibu jangan sedih ya, walaupun Anye nggak bisa sering pulang tapi Anye akan sering telephone, atau Ibu dan Ayah tinggal saja dengan kami di Jakarta, Mas Satya pasti tidak akan keberatan".


" Ayahmu tidak akan mau Nak, disini adalah hidup kami, bergelut dengan lumpur keseharian kami, biarlah kami tinggal disini hingga maut menjemput kami Nak".


" Anye tidak bisa memaksa tapi kapanpun Ibu dan Ayah rindu kami dan ingin kerumah kami telephone saja ya bu, nanti pasti akan kami jemput atau Pak Edi yang akan menjemput kesini".


Saat keduanya asyik mengobrol, terdengar ucapan salam ternyata Ayah beserta Satya dan Pak Edi sudah kembali. Anye dan ibu beranjak keluar kamar untuk menemui mereka.


" Bagaimana urusannya Mas apa sudah selesai?".


" Sudah Nye, Ayah nantinya akan ikut membantu mengawasi pembangunannya. Sekarang kita bersiap ya Nye, sebentar lagi kita berangkat".


" Baik Mas, Anye akan segera bersiap".


" Kita juga Pak Edi harus bersiap sekarang".

__ADS_1


" Baik Tuan".


Kemudian merekapun pamit kepada Ibu dan Ayah, mereka berjalan ke kamar untuk berkemas.


Pak Edi yang telah lebih dulu selesai berkemas segera mempersiapkan mobil, memasukkan tas dan barang yang akan mereka bawa ke bagasi dibantu oleh Ayah dan Ibu.


Sementara Satya dan Anyelir juga telah siap untuk berangkat, lalu ketiganya berpamitan kepada Ayah dan Ibu.


Anye memeluk Ayah dan ibunya dengan erat, ini adalah hari terakhirnya disini dengan menyandang status gadis, jika suatu saat dia kembali kesini dia adalah seorang istri atau bahkan seorang ibu karena ia belum tahu kapan lagi bisa berkunjung.


Satya pun ikut memeluk Ayah dan Ibu, ia tidak merasa canggung karena Ayah dan Ibu Anyelir sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Dengan mengucap salam dan melambaikan tangan ketiganya berlalu meninggalkan rumah orang tua Anyelir.


Pak Edi yang merasa belum puas berada disana saat berpamitan dengan Ayah ia berjanji saat liburan anak sekolah tiba dia akan datang membawa keluarganya.


Mobil pun kini melaju mengikuti kelokan-kelokan jalanan yang semakin menurun meninggalkan perbukitan tempat kampung Anyelir berada.


Setelah perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya mereka tiba kembali di Jakarta.


Anye yang tertidur segera dibangunkan oleh Satya, ia mengelus puncak kepala calon istrinya itu dengan lembut untuk membangunkannya.


" Nye...Anye, kita sudah sampai kota".


Anye perlahan mengerjapkan matanya, ia malu karena tertidur di pundak Satya.


" Maaf Mas, telah membuat pundak Mas keram", ucap Anye tersipu malu.


Satya tersenyum seraya berkata, " Kamu mau ikut Mas ke kantor dulu atau mau langsung pulang ke tempat kost Nye, soalnya ada berkas yang mau Mas ambil di kantor sebelum pulang ke rumah. Jika mau langsung ke kost biar mas antar dulu baru kami nanti putar balik ke kantor".


" Anye ikut Mas aja dulu baru balik ke kost, kasihan kan Pak Edi harus bolak-balik, Pak Edi juga pasti lelah".


" Baiklah, Pak Edi kita ke kantor dulu ya baru setelah itu kita ke kost untuk mengantar Anyelir".


" Iya Tuan", Pak Edi pun mengarahkan mobil Satya menuju hotel Duta Angkasa untuk mengambil berkas yang dibutuhkan oleh Tuannya.


Anyelir yang belum siap menjadi bahan perbincangan di kantor tidak berani turun dari mobil, ia memilih menunggu di parkiran, di dalam mobil saja sambil memainkan handphonenya.

__ADS_1


__ADS_2