
"Ma, sebaiknya kita panggil ustadz saja ya untuk menabalkan nama mereka! mengenai sedekah untuk anak yatim piatu dan anak-anak panti, Satya minta tolong Mama saja yang atur. Ini uangnya silahkan Mama yang membaginya," ucap Satya sembari menyerahkan sebuah amplop besar yang berisi uang.
"Baiklah Nak! besok Mama dan Kakek akan datang kesini lagi sekaligus membawa seorang ustadz, mengenai uang ini, Mama akan segera bagikan kepada yang berhak dengan di bantu oleh Tirta, ucap Mama Tiara.
"Ayo Ma, kita lihat Anye dan si kecil, Satya tidak bisa meninggalkan mereka lama-lama," ucap Satya sembari berjalan kembali ke kamar.
Melihat kedatangan Satya dan Mama, kedua perawat dan baby sitter segera meninggalkan kamar Satya. Mereka sementara kembali ke kamar untuk beristirahat, sebenarnya mereka merasa tidak enak, di bayar mahal tapi kerjanya tidak full tapi apa boleh buat, itu merupakan keinginan Satya.
"Sayang, Mama datang menjenguk kamu!" ucap Satya.
"Iya Nak! Mama setiap hari akan datang menjenguk kalian sementara ibu kamu masih balik kampung menyelesaikan urusannya. Nanti... jika beliau sudah balik kesini, pasti ramai, kami semua akan menemani kalian,"
Saat Mama Tiara berusaha mengajak Anyelir berbicara, kedua bayi itu menangis, mereka sepertinya ingin digendong oleh sang Nenek.
Kemudian Satya mengangkat salah satu bayinya, menyerahkan kepada Mama sembari berkata, "Ma, untuk pemberian nama baby boy, aku serahkan kepada Kakek. Sementara untuk putriku, Satya sendiri yang akan memberikan nama sesuai keinginan Anye dulu. Jika bayi kami wanita, dia ingin Satya yang memberikan nama," ucap Satya yang terkenang dengan obrolannya dengan Anye saat dia dulu di nyatakan hamil.
"Jadi nama putrimu siapa Nak?"
"Yasmine Az-Zahra putri Permana."
"Nama yang bagus Nak, semoga dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik."
"Aamiin, terimakasih Ma."
Setelah menggendong cucu laki-lakinya, kini Mama gantian menggendong Yasmine. Beliau sangat senang dan jadi teringat saat dulu mengurus Satya dan Tirta ketika bayi.
Satya menggendong putranya ke arah Anye, lalu diapun berkata, "Maaf Nye, dulu kamu pernah bilang jika kita memiliki seorang putra, kamu sendiri yang akan memberi nama tapi karena kondisimu yang seperti ini, Mas serahkan hal ini kepada Kakek. Apakah kamu keberatan Nye?" Tanya Satya sembari menciumkan putranya kepada Anyelir.
Walaupun Satya tidak menemukan jawabannya tapi dia tidak peduli, Satya tetap berharap akan mendapatkan persetujuan dari Anyelir.
Saat Satya asyik mengajak bermain putra-putrinya dan Mama sedang berbicara dengan Anye tentang kenangan-kenangan mereka dulu, ponsel Satya berdering dan tertera nama Nadia di sana.
Satya pun mengangkat panggilan, "Hallo, iya Sayang, maaf ya, aku belum bisa jenguk kamu. Aku tidak bisa meninggalkan mereka Nad?" ucap Satya.
"Aku sudah ada di depan rumah Kak, aku ingin menjenguk Anye dan bayi kalian," ucap Nadia yang nyaris membuat Satya dan Mama terkejut.
Kemudian Satya keluar rumah, dia melihat Nadia sudah di ambang pintu bersama Mang Ujang.
__ADS_1
Mang Ujang mengantar Nadia menggunakan motor, beliau tidak bisa menolak karena Nadia memaksa.
Satya terkejut, lalu dia mempersilakan Nadia untuk masuk dan menggandeng tangannya. Sementara mang Ujang memilih kembali pulang setelah meminta izin dari Satya.
"Kamu kenapa memaksa kesini Nad, tidak baik untuk kesehatanmu dengan naik motor. Kamu bisa menelephone dulu, agar aku atau Tirta bisa menjemputmu," ucap Satya yang merasa khawatir melihat Nadia yang wajahnya begitu pucat dan agak sempoyongan.
"Nggak apa-apa Kak, mumpung aku masih punya sedikit waktu, tolong Kak! izinkanlah aku ikut merawat mereka jika Kakak tidak keberatan," Mohon Nadia sembari mengatupkan kedua tangannya.
Kemudian Nadia melanjutkan perkataannya, "Aku ingin Kak merasakan jadi ibu, bermain dengan mereka, dulu aku tidak sempat merasakan hal itu karena putra kita terlalu cepat pergi. Boleh ya Kak! Please...izinkan aku menjadi bagian dalam hidup mereka," ucap Nadia kembali memohon dan mengatupkan kedua tangannya lagi.
Satya belum sempat menjawab, saat Mama Tiara muncul dari dalam kamar. Nadia yang melihat mama Tiara langsung memberi salam dan mencium tangannya sambil berkata, "Rupanya Mama juga berada di sini?"
"Ayo masuklah Nad, Mama sedang menjenguk Anye dan anak-anak."
Nadia pun ikut masuk ke dalam kamar, lalu dia menghampiri Anye dan berkata, "Assalamu'alaikum Nye, Ma'af, baru hari ini aku sempat menjengukmu, bangunlah Nye, apa kamu tidak kasihan dengan mereka, anak-anak itu butuh kamu!" ucap Nadia sembari mengguncang tubuh Anyelir.
Mama Tiara yang kuwalahan karena kedua cucunya menangis segera memanggil Nadia. "Nad kesinilah, tolong gendongkan Yasmine, Mama mau mengganti popok mereka," pinta Mama Tiara.
Nadia pun mendekati baby Yasmine sembari berkata, "Sayang, mari Ibu gendong? ternyata nama kamu Yasmine, ya, nama yang cantik, secantik dirimu."
Kemudian Nadia menggendong Yasmine dan mendekati Mama yang sedang mengganti popok baby putra. Mama dan Nadia terkejut, wajah Mama terkena pancuran air kencing baby putra.
Nadia pun tertawa melihat hal itu, lalu dia bertanya, "Siapa nama sebenarnya baby putra Satya Ma?"
"Belum tahu Nad, besok rencananya Kakek yang akan memberi Nama baby putra, kalau Yasmine, Satya yang telah memberinya Nama."
"Oh, berarti besok membuat acara selamatan di sini ya Ma?"
"Nggak, hanya panggil ustadz saja. Satya belum mau membuat acara syukuran sebelum Anye sadar."
"Benar juga Ma yang di bilang Satya."
"Kamu mau gendong baby putra Nad?"
"Boleh Ma."
Kemudian Nadia meletakkan baby Yasmine ke dalam boxnya lalu menggendong baby putra, dia memandang tak berkedip, wajah baby putra sangat tampan, mirip sekali dengan Satya.
__ADS_1
Nadia meneteskan air mata, dia teringat akan putranya, yang wajahnya tidak jauh beda dengan baby putra. Seandainya putranya masih hidup dan di sandingkan dengan baby putra mungkin orang akan mengira mereka saudara kembar.
Satya melihat Nadia menangis, saat dia hendak masuk dan berdiri di depan pintu, dia tahu Nadia pasti sedih teringat akan almarhum putra mereka yang Satya akui wajahnya sangat mirip dengan baby putra.
Lalu Satya masuk, menghampiri Nadia sembari menghapus air matanya dan berkata, "Do'akan saja almarhum putra kita Nad, dia sudah bahagia di sana, jika kamu rindu dia, kamu boleh mengunjungi baby putra," ucap Satya.
"Iya Nad, biarkan dia tenang disana, Allah lebih menyayangi dia, kita harus ikhlas," ucap Mama Tiara.
"Iya Ma, Nadia tahu, cuma tadi kaget saja saat melihat wajah baby putra mirip sekali dengan almarhum, tidak terasa air mata inipun jatuh," ucap Nadia.
"Oh ya Sat, malam ini Nadia biar saja menginap disini ya? untuk menemani Mama, karena Mama pun sepertinya enggan pulang. Biarlah Kakek besok berangkat kesini bareng Papa dan Tirta.
Daripada Nadia besok repot kemari lagi, sementara kondisinya seperti itu, tidak baik jika dia kelelahan," ucap Mama Tiara.
"Ya sudah jika itu yang terbaik, kamu bisa istirahat di kamar tamu atas Nad bersama Mama, sementara kedua kamar anak di sebelahnya sedang dipergunakan oleh baby sitter dan perawat Anyelir.
Nadia tersenyum karena telah mendapatkan izin menginap, sebenarnya ini yang dia inginkan, bila perlu besok dia akan mencari alasan agar bisa menginap di rumah Anye lebih lama.
Selama Satya sibuk mengurus Anye dan bayinya, Nadia pergi ke dokter sendirian dengan menggunakan taksi, dia telah mendesak dokter, menanyakan tentang perkembangan penyakitnya dan hasil tes laboratorium terakhir.
Sebenarnya dokter tidak mau memberikan hasil tes tersebut kepada Nadia, beliau hanya akan memberikannya kepada Satya, tapi karena Nadia mendesak akhirnya hasil tes itu diberikan juga kepadanya.
Nadia mengatakan kepada dokter jika dirinya sudah tahu usianya tidak bakal lama lagi karena dia bisa merasakan kondisi tubuhnya yang setiap hari semakin melemah, pendarahan pun sekarang sering terjadi, jadi Nadia siap mendengar kabar terburuk sekalipun.
Mendengar penuturan Nadia, mau tidak mau dokter menjelaskan semuanya, berdasarkan analisa kedokteran batas usia Nadia kurang dari enam bulan lagi.
Namun dokter memberikan semangat, bahwa itu hanya perkiraan manusia, semua keputusan hidup hanya Allah yang bisa menentukan, mereka harus tetap optimis berharap ada keajaiban dari Allah.
Nadia sudah ikhlas jika itu ketentuan Allah tapi satu hal yang ingin dia lakukan sebelum ajal menjemputnya yaitu berusaha membantu agar Anyelir bisa cepat sadar.
Dia ingin meninggalkan dunia ini dengan tenang, berharap bisa melihat orang yang paling dicintainya bahagia. Menurutnya kebahagian Satya untuk sekarang dan kedepannya hanyalah ada pada Anyelir dan kedua bayinya.
Nadia bisa melihat hal itu ketika Satya telah memutuskan untuk pokus mengurus Anye beserta kedua bayi dan dia tahu cinta Satya sekarang lebih besar ke mereka ketimbang kepada dirinya. Tapi Nadia tidak iri sedikitpun ataupun menyesal karena sejak awal memang inilah yang dia mau.
Bersambung......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Hai para reader kesayangan TERIKAT CINTA LAIN, hari ini author akan merekomendasikan karya terbaik dari sahabatku Kak Age Nairie, ayo silahkan di kepoin ya...dan tentunya jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya di sana. Selamat malam dan selamat beristirahat, semoga kita semua tetap di beri kesehatan dan keberkahan.