
Keesokan hari setelah jam kantor usai, Satya dan Anye menyempatkan diri untuk menemani sahabat mereka belanja keperluan lamaran.
Radit dan Tina berencana membeli perhiasan yang sederhana saja, sesuai badget yang Radit punya.
Maklumlah, Radit hanya seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dan selama ini gajinya selalu ia pergunakan untuk berbagi kepada adik-adiknya di panti makanya ia tidak memiliki banyak tabungan.
Satya yang merupakan bos dan sahabat karib Radit sejak kecil tidak akan berpangku tangan, ia dan Anye membelikan mereka seperangkat perhiasan yang mewah dengan harga yang pantastik.
Sedangkan Kakek telah membelikan Radit sebuah rumah mewah di dekat kediaman Satya dan Anye sesuai janji Kakek Sebelumnya.
Jadi sekarang yang harus Radit beli hanyalah pakaian untuknya dan juga Tina serta mahar perkawinan.
Namun Anye yang merupakan sahabat baik Tina dan banyak berhutang budi, segera membelikan dua gaun terbaik di butik itu untuk sahabatnya.
Radit dan Tina tidak bisa berkata-kata saat kebutuhan yang paling utama untuk lamaran sudah dipersiapkan oleh Satya dan Anye, mereka hanya bisa mengucapkan terimakasih dan selalu bersyukur memiliki sahabat seperti Satya dan Anye.
Satya juga sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Radit agar bisa Radit pergunakan untuk tambahan seserahan kepada keluarga Tina.
Namun Satya tidak memberitahukan hal ini kepada Radit, hanya Anyelir yang tahu, Satya ingin memberikan surprise kepada sahabatnya yang telah banyak membantu selama ia berkarir.
Radit terkejut saat melihat SMS banking yang masuk di ponselnya, uang dalam jumlah besar yang lebih dari sepuluh kali lipat dari gajinya, masuk ke dalam rekening.
Satya sengaja meminta orang kantor untuk mentransfernya secara tunai tanpa menyertakan identitas asli si penyetor.
Melihat jumlahnya, mata Radit membulat dan ia memberitahukan hal ini kepada Tina, Anye dan juga Satya.
Tina sudah menebak pasti transferan itu dari Satya atau dari keluarganya, sedangkan Satya sengaja berkata,"Berarti itu rezeki awal rumah tangga kalian, siapapun itu pengirimnya do'akan saja kebaikan untuknya", ucap Satya sembari tersenyum.
"Betul juga ya Sat, aku doakan deh si pengirim panjang umur, murah rezeki dan cepat dapat jodoh
__ADS_1
Aamiin π, ucap Radit sengaja agar Satya bereaksi, terpancing dengan doa yang Radit ucapkan, karena Radit juga curiga pasti itu dari Satya.
Radit kena timpuk oleh Satya, tanpa sadar terucap dari mulut Satya,"Memangnya mau berapa jodohku hah!"
Anye menyenggol tangan suaminya, akhirnya Satya sadar bahwa ia terpancing omongan Radit, ia segera menutup mulutnya, sementara Radit dan Tina tertawa terbahak-bahak.
Kemudian Radit berkata,"Buaya kok di kadalin?"
Semuanya tertawa sembari keluar dari butik, lalu keempat sahabat itu pergi ke supermarket untuk membeli cemilan dan minuman barulah mereka putuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Radit mengantar pulang Tina sementara Anye meminta Satya untuk mengantarnya ke apotik 24 jam, ia ingin membeli obat penyubur kandungan seperti yang disarankan oleh dokter dan juga Mama Tiara mertuanya.
Satya juga membeli suplemen untuk meningkatkan stamina, mereka harus dalam kondisi fit dalam merencanakan program kehamilan.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Satya dan Anye memutuskan untuk pulang, mereka harus beristirahat dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan lusa.
Sedangkan Radit yang berencana menyetir mobilnya sendiri di larang oleh Satya, menurutnya calon pengantin tidak boleh kelelahan dan terlalu beresiko bagi Radit menyetir mobil sendiri ke arah kampung Anyelir dan Tina yang jalannya berkelok-kelok serta melewati tebing-tebing curam.
Kemudian Satya meminta Pak Edi untuk menghubungi temannya agar menjadi sopirnya Radit selama perjalanan ke kampungnya Anye dan Tina.
Mereka berangkat pukul sepuluh pagi dan diperkirakan tiba sebelum maghrib, Ibu dan Ayah Anyelir di kampung sudah mempersiapkan semua kebutuhan yang di perlukan oleh putri dan menantunya selama menginap disana.
Rumah pemberian Satya sebagai kado pernikahannya dengan Anye saat itu sudah mereka persiapkan sebelum anak dan menantunya sampai, sementara Ayah dan ibu kembali ke rumah mereka yang lama, karena kebetulan orang yang mengontrak baru saja pindah ke kota.
Aneka bahan makanan mentah, buah dan aneka minuman juga sudah memenuhi kulkas. Ibu juga mempekerjakan tetangga untuk membantu membersihkan rumah, mencuci dan memasak karena Ibu ingin putrinya datang benar-benar untuk berbulan madu bukan untuk merepotkan diri dengan urusan pekerjaan rumah tangga.
Ayah sudah mengumpulkan ikan yang di pancingnya dari sungai, ia ingin menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan menyajikan menu ikan bakar dan ayah juga sudah mempersiapkan banyak pancing untuk digunakan oleh Pak Edi nanti, yang menurut beliau pasti Pak Edi bakal senang menemaninya memancing di sungai.
Sementara di rumah kediaman orang tuanya Tina yang tidak jauh dari rumah Anyelir juga sudah sibuk masak-memasak untuk menyambut kedatangan putri dan calon menantu.
__ADS_1
Orang tua Tina dibantu oleh beberapa orang tetangga memasak rendang dan sayur kesukaan Tina dan juga Radit, karena sebelumnya Tina sudah menginfokan kepada ibunya tentang menu kesukaan Radit.
Mereka juga membuat aneka kue untuk disajikan saat tetangga pada ngumpul nanti malam, sebab biasanya mereka akan selalu datang mengabarkan tamu yang baru datang dari kota.
Mereka berenam sangat menikmati pemandangan selama di perjalanan, terutama Radit yang baru sekali ini ikut. Ia takjub dengan kuasa sang pencipta yang menciptakan alam begitu indah.
Radit mengakui ternyata benar yang diucapkan oleh pak Edi dan Satya, pantas saja Tina mengatakan jika dirinya sudah tiba di kampung mereka pasti enggan kembali ke kota.
Kemudian Radit berkata kepada Tina,"Suatu saat jika anak-anak kita sudah dewasa dan mereka bisa menggantikan posisi kita di perusahaan, aku ingin kita menghabiskan hari tua disini, pasti sangat nyaman dan damai hidup di sini", ucap Radit sambil memandang Tina.
Tina pun mengangguk, ia mendukung apapun keputusan Radit nantinya untuk kehidupan rumah tangga mereka. Tina juga senang menghabiskan sisa usianya di kampung halamannya sendiri.
Radit kemudian menelephone Satya, mereka mengobrol banyak hal tentang rencana masa depan kehidupan rumah tangga mereka.
Satya senang ternyata rencana masa tua Radit sama dengan rencananya, keempat sahabat karib akan menghabiskan masa tua di kampung menjadi seorang petani.
Pak Edi yang mendengar percakapan mereka segera menimpali sembari tertawa,"Bukan empat bos tapi enam, aku dan istri juga memiliki rencana yang sama."
"Oke jika begitu Pak, kita akan sama-sama membangun kampung ini tanpa merubah keasriannya", ucap Satya.
Anye sangat senang mendengar percakapan mereka, ternyata orang kota kepingin hidup di kampung dan orang kampung malah berangan-angan ingin merantau ke kota, seperti dirinya dan Tina saat itu.
Itulah kehidupan ya guys...., yang enaknya memandang. Orang kota memandang kehidupan kampung nyaman, tentram sementara orang kampung memandang kehidupan kota serba wah dan megah. Masing-masing berangan-angan memiliki kehidupan yang sebaliknya.
π» Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like comment dan rate bintang limanyaππ
π» Silahkan beri pavorit dan follow akun author ya guys, agar tahu setiap author update dan menerbitkan karya baru.
π» Terimakasih, selamat sore menjelang malam dan selamat beristirahat, semoga kita sehat dan bahagia selalu ya guys....
__ADS_1