
Sesampainya di kamar Satya meminta Anyelir duduk, kemudian ia membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah berkas surat perjanjian tentang pernikahan mereka, kemudian ia menyerahkan berkas itu ketangan Anyelir.
" Nye, ini surat perjanjian yang sebelumnya telah kita bicarakan, kamu silahkan baca dan pahami dulu isinya baru kamu tandatangani. Lusa kita pindah, Mas sudah membeli sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah Mas bersama Nadia".
" Iya Mas", jawab Anyelir.
" Baiklah, kamu silahkan baca dulu, mas mau mandi."
Dengan membawa handuk mandinya Satya berlalu dari hadapan Anyelir menuju kamar mandi. Anye kemudian membaca surat perjanjian itu yang inti isinya antara lain :
Satya berjanji akan berlaku adil masalah pembagian waktu bersama antara masing-masing istri. Setiap tiga hari sekali akan tidur dirumah yang berbeda walaupun Nadia belum juga kembali terkecuali ada keadaan darurat yang sangat membutuhkan dampingan selama dalam perawatan misalnya sakit.
Memberikan hak keuangan yang sama untuk setiap istri selama belum memiliki keturunan.
Nadia berhak menyayangi dan ikut mengasuh putra/putri dari pernikahan Satya dan Anyelir.
Satya berjanji tidak akan pernah menceraikan kedua istrinya dengan alasan apapun kecuali istri yang meminta bercerai. Jika Satya yang melanggar perjanjian maka separuh dari harta miliknya akan jatuh ke tangan istri yang diceraikan.
__ADS_1
Jika Anyelir meminta bercerai pada saat belum bisa memberikan keturunan maka ia hanya akan mendapatkan rumah untuk tempat tinggal dan jika perceraian karena adanya lelaki lain maka Anyelir tidak akan mendapatkan pembagian harta sedikit pun.
Jika Anyelir meminta bercerai disaat sudah memiliki anak dengan Satya maka identitas Anyelir sebagai ibu tidak akan disembunyikan namun hak asuh anak mutlak akan jatuh ke tangan Satya dan Nadia selanjutnya Anye hanya akan mendapatkan 25% dari bagian harta.
Anyelir tidak akan menuntut hak cinta dari Satya jika selama menjalani pernikahan, Satya tidak juga bisa mencintainya.
Satya berhak menambahkan perjanjian jika dibutuhkan.
Suara gemericik air sudah tak terdengar lagi ditelinga Anye menandakan Satya sudah selesai mandi, terdengar suara pintu kamar mandi di buka, Anye menoleh kearah Satya dan ternyata ia melihat Satya hanya berbalut handuk yang menutupi separuh bagian bawah tubuhnya saja. Bagian dadanya yang bidang, perut sixpack, kulitnya yang putih, serta air yang masih menetes dari rambutnya yang basah membuat Satya terlihat semakin tampan. Anyelir yang melihat hal itu terpaku, menelan air liurnya dan akhirnya memalingkan wajahnya karena malu, wajahnya saat ini terlihat merona merah bak kepiting rebus.
Ketika terdengar langkah kaki Satya berjalan mendekatinya degup jantung Anye semakin tak beraturan, hawa panas dingin mulai menjalar keseluruh tubuhnya, ia hanya berani menundukkan wajahnya.
Wajar saja kan jika Anye bersikap seperti ini karena pengalaman ini pertama baginya, berdua dalam satu ruangan dengan seorang pria yang belum lama ia kenal tanpa busana dan ternyata sekarang telah menjadi suaminya.
Anye selama ini belum pernah dekat dengan pria manapun, Satya lah pria pertama dalam hidupnya yang mungkin kedepannya akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya.
Kini Satya telah berdiri dihadapannya dan berkata,
" Apakah berkas perjanjian itu sudah selesai kamu baca Nye? dan apakah kamu ada keberatan dengan isinya?"
Anye hanya menggelengkan kepala dan tanpa memandang Satya ia pun menyerahkan berkas perjanjian yang telah ditandatanganinya kemudian dengan rasa gugup pergi menuju lemari pakaian Satya untuk melakukan tugas pertamanya sebagai seorang istri yaitu menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Satya.
__ADS_1
Anye belum faham dengan kebiasaan Satya, pakaian seperti apa yang akan dipakainya saat ia berada dirumah. Anye memilih sebuah kaos, celana santai, pakaian dalaman Satya lalu meletakkannya di atas tempat tidur mereka.
Satya yang berniat ingin keluar rumah memenuhi janjinya terhadap Kak Nina, kakaknya Nadia untuk mencari Nadia setelah selesai melangsungkan akad nikah kemudian berkata,
" Nye, tolong siapin untuk Mas kemeja putih dan celana chino yang berwarna coksu saja ya serta sweeter coklat, soalnya Mas mau keluar menemui klien penting. Jika sampai maghrib Mas belum sampai rumah kamu turunlah makan malam bersama yang lain tidak usah menunggu Mas pulang, karena Mas belum tahu akan pulang jam berapa nanti."
Satya tidak bermaksud berbohong terhadap Anye, tapi saat ini ia tidak mungkin berkata jujur dihari pertama mereka menikah ia malah meninggalkan
Anyelir untuk mencari keberadaan istrinya yang lain.
Satya tidak ingin menyakiti perasaan Anye tapi ia juga tidak bisa mengingkari janjinya terhadap Kak Nina makanya saat ini yang bisa dilakukannya hanya berkata ingin menemui klien.
Anye yang memahami posisi suaminya sebagai CEO dan mungkin pertemuan itu memang penting bagi perusahaan hanya berkata,
" Iya Mas", lalu Anye memasukkan kembali kaos dan celana santai yang telah diambilnya tadi ke dalam lemari dan menggantinya dengan apa yang diminta Satya.
Satya pergi menyimpan berkas perjanjian yang telah ditandatangani Anye ke dalam lemarinya lalu mulai memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Anyelir. Anye memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Satya mulai memakai pakaiannya sampai Satya selesai berpakaian dan akan berpamitan kepada Anye.
Setelah selesai Satya mendekati Anyelir ia mencium kening istrinya sambil berkata,
" Maaf Nye...Mas harus pergi sekarang, kamu pergilah mandi dan beristirahatlah, kamu pasti lelah".
Anye hanya mengangguk sambil melepas kepergian suaminya, barulah kemudian ia menutup pintu kamar saat bayangan Satya sudah tidak terlihat lagi, sudah menghilang di balik tangga.
Satya pergi meninggalkan rumah Kakek Permana dengan mobilnya, ia ingin mencari petunjuk tentang keberadaan Nadia walau ia masih bingung harus mulai dari mana. Kemudian ia menelephone Radit berencana meminta bantuannya, Radit pun yang mendapat telephone dari Satya segera mengangkatnya sambil bercanda,
" Ya hallo, Ada apa gerangan pengantin baru menelephone ku? bukankah kita baru ketemu, Aku fikir kamu lagi asyik berduaan dikamar dengan istrimu, jangan bilang masalah pekerjaan ya, aku sudah menyelesaikan semuanya. Kamu persiapkan saja dirimu Sat untuk menikmati momen malam pengantin nanti malam jangan fikirkan pekerjaan lagi. Aku ingin kalian cepat memberikan keponakan untukku", sambil tertawa Radit terus berkata tanpa memberi kesempatan kepada Satya untuk berbicara.
Satya pun kesal sambil menjawab, " Keponakan kepala lu, bagaimana aku bisa memikirkan malam pengantin jika fikiranku saja tidak tenang Dit. Aku sekarang menuju Cafe dekat rumahmu, kamu cepat kesana dech, kita bertemu disana ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu Dit, sudah aku tutup dulu ya telephonenya."
" Tunggu Sat, Sat tunggu jangan tutup dulu, kamu gila ya meninggalkan pengantinmu dihari pertama nya datang di rumah kalian, dimana hati nurani mu Sat? walau kamu tidak mencintainya setidaknya hargai dia di hari pertamanya disana, kasihan kan Anyelir", ucap Radit dengan marah.
" Kamu dengar dulu Dit, ini masalah serius dan masalah janji, nanti aku akan jelaskan disana jika kamu diposisiku pasti akan mengerti, aku juga sebenarnya tidak tega meninggalkan Anye disaat seperti ini, tapi aku juga tetap tidak bisa mengabaikan tentang hal yang menyangkut Nadia".
Kemudian Satya menutup telephonenya, dengan menambah kecepatan laju mobilnya ia berharap bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuannya dan segera menceritakan semuanya kepada Radit agar Radit bisa membantunya.
Radit pun langsung bersiap untuk menuju cafe seperti yang disebutkan Satya dengan masih menyimpan tanda tanya besar di kepalanya sebenarnya ada masalah apa yang berhubungan dengan Nadia yang membuat sahabatnya itu harus meninggalkan Anye di hari pertamanya sebagai pengantin.
__ADS_1