
Kepulangan Anyelir membuat teman-temannya heboh apalagi setelah mereka melihat Radit, dan mereka juga tidak sabar ingin mendengar cerita dari Anyelir tentang kelanjutan rencana pernikahannya.
" Ayo Nye duduk sebentar disini cerita dong ke kami, sejak tadi kami semua menunggumu lho", ucap Rita.
" Iya Nye, besok kita sudah repot dengan urusan kerja masing-masing jadi nggak bisa kumpul begini dech", timpal Ani.
" Kalian ini sabar dong, Anye kan capek tuh, kalian ambilkan dulu dia minum, biarkan dia istirahat dulu, baru minta dia cerita", ucap Tina kepada teman-temannya.
" Siap Nyonya Tina", jawab Sri sambil berjalan ke arah dapur.
" Tunggu ya Nye, jangan cerita dulu sampai aku kembali", pinta Sri.
Anye hanya mengangguk, walaupun ia letih tapi Anye tetap memenuhi permintaan teman temannya. Ia tidak ingin mengecewakan mereka yang selama ini sayang dan perhatian terhadapnya.
Sri datang memberikan segelas teh jahe untuk Anye,
" Minum dulu Nye, sengaja aku buatkan teh jahe biar capekmu hilang dan badanmu akan terasa segar kembali".
" Terimakasih Sri, aku minum dulu ya".
Anye menyeruput teh jahe buatan Sri dengan nikmatnya, setelah itu barulah ia menceritakan tentang rencana pernikahannya minggu depan.
Semua temannya sangat senang, hanya Adam yang terlihat murung setelah mendengarnya.
" Pokoknya kalian semua harus hadir ya, memang sih kami tidak mengadakan resepsi pernikahan, yang hadir hanya keluarga dan sahabat terdekat saja".
" Pasti Nye, dengan senang hati kami pasti datang, Radit juga hadir kan Nye?", tanya Lusy.
" Radit pasti hadirlah, dia kan sahabat dekat Mas Satya, Radit juga sudah seperti saudaranya sendiri dan sudah dianggap cucu oleh kakeknya Mas Satya", jawab Anyelir.
" Huuuh...dasar kamu !, fikirannya cowok ganteng melulu bukan fokus kepada pernikahan Anye", ucap Tina.
__ADS_1
" Habisnya cogan yang disini nggak mau dengan kami jadinya ngincar cogan yang lainlah, namanya usaha Tina bolehkan?", Diah pun ikut menimpali.
Adam yang mendapat sindiran hanya diam sambil menatap Anyelir.
" Sudah Ayo Nye kita ke kamar, kamu harus istirahat, besok kamu kerja kan Nye ?, jika meladeni mereka bakalan bangun kesiangan kita besok".
Anyepun mengikuti ajakan Tina karena memang dia sangat mengantuk dan letih. Setelah berpamitan kepada semua temannya, Anye dan Tina langsung masuk ke dalam kamar mereka.
" Tin... aku mandi dulu ya, rasanya badanku sudah sangat lengket dan gerah, kamu jangan tidur dulu ya soalnya ada yang ingin aku ceritakan", pinta Anye kepada Tina.
" Iya Nye, pergilah kamu mandi biar segar kembali badanmu".
Anye segera membersihkan dirinya, melaksanakan ibadah baru merebahkan dirinya di samping Tina yang masih berkutat dengan handphonenya agar ia tidak mengantuk.
Melihat Anyelir telah ada disampingnya, Tina pun segera duduk dan ingin serius mendengarkan apa yang akan Anyelir katakan.
Anye segera menceritakan kejadian tadi sore yang di alaminya saat ia berada di parkiran di dalam mobil Satya, Tina yang mendengarnya juga merasa terkejut, kemudian ia berkata, " Berarti ada yang tidak senang dengan kedekatanmu dan rencana pernikahanmu Nye".
" Mungkin suruhan istrinya atau saingan bisnisnya, bisa juga keluarganya yang tidak menginginkan Satya mendapatkan keturunan", prediksi Tina.
" Oh ya Nye, waktu kamu mengunjungi orang tua Satya bagaimana tanggapan mereka?".
" Alhamdulillah Tin, Papa Mamanya ramah dan baik, mereka setuju dengan pernikahan kami, tapi ada sesuatu yang terjadi", Anye menghentikan ucapannya.
" Apa yang terjadi Nye?"
Kemudian Anye menceritakan tentang Tirta kepada Tina dan apa yang dilakukannya pada saat Anyelir disana serta tentang cerita Satya mengenai Tirta yang sekarang membencinya.
" Jadi Satya mempunyai seorang adik dari ibu yang sama dan beda ayah, bisa jadi dia yang melakukannya Nye".
" Entahlah Tin, aku sekarang jadi bingung, apakah aku akan melanjutkan pernikahan atau pergi menjauh dari Mas Satya, aku takut Tin. Jika mundur pasti Mas Satya juga nggak akan terima kan?".
__ADS_1
" Menurut Satya gimana?".
" Katanya sih aku nggak boleh takut, dia akan menyelidikinya besok, karena hari ini dia juga lelah".
" Ya udah kamu jangan menyerah, pernikahan kalian sudah dekat lagian katamu kan kakeknya yang akan mempersiapkan semuanya, kasihan kan beliau pasti kecewa dan bisa-bisa terkena serangan jantung nantinya jika kamu batalin".
" Iya Tin, aku tunggu sajalah dulu ya, bagaimana perkembangan penyelidikan Mas Satya terhadap masalah ini".
" Harus tetap semangat Nye, kalian pasti bisa mengatasinya, ini cobaan awal kalian".
" Iya Tin".
Sementara di rumah kediaman Satya, ia pun merasa tidak tenang, setelah membersihkan diri dan menjalankan ibadah ia menelephone Radit untuk segera menyelidiki masalah tadi sore. Satya tidak mau Anyelir terancam hingga pernikahannya gagal, terutama ia tidak ingin mengecewakan kakek dan bisa membuat kakek sakit lagi.
Radit janji akan segera mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk membantu penyelidikannya. Tapi sebelumnya ia ingin langsung menelephone seseorang, Ia mencari nomor kontak orang yang dituju lalu menekan tombol panggilan, tak lama terdengarlah suara seorang wanita menjawab di balik telephone.
Radit berbicara selembut mungkin agar wanita yang ditelephonenya tidak tersinggung dan perlahan menanyakan apakah wanita itu yang mengirim orang suruhannya untuk mengancam Anyelir. Ada suara isak tangis disana hingga membuat Radit menyesal telah menanyakan hal itu.
Memang ia tidak pantas bertanya seperti itu karena ia lebih mengenal kepribadian wanita ini secara mendalam dan wanita ini juga sangat mempercayainya termasuk dalam membantu mengatur kepulangannya, mengusahakan tempat tinggal untuknya dan menyembunyikan keberadaannya selama ia berada di Jakarta.
Dengan masih terdengar isakan tangis disana wanita itu mengatakan kepada Radit kenapa Radit mencurigainya dan belum bisa memahami apa tujuannya kembali.
Radit yang mendengar ucapan, isakan tangis dari wanita yang ditelephonnya pun merasa menyesal dan ia meminta maaf atas ketidakpercayaannya. Tersirat raut kesedihan di wajahnya dan rasa sakit direlung hatinya, ternyata ucapannya kini lebih menyakiti hati orang yang paling ia sayangi dan paling ia cintai.
Setelah Radit meminta maaf ia pun menutup kembali handphonenya, merebahkan diri dan menutup matanya sambil mengenang kenangan masa kecil hingga kenangan masa remajanya bersama Satya dan wanita yang dipujanya.
Semuanya terlintas begitu manis hingga tiba saatnya pengakuan sahabatnya telah mematahkan hatinya sebelum ia sempat mengutarakan cintanya kepada gadis itu dan akhirnya ia memutuskan untuk mengunci rapat-rapat perasaannya hingga tidak seorangpun tahu.
Rasa bersalah membuatnya kembali bangkit dari rebahannya dan berencana hendak menemui wanita itu, dia ingin meminta maaf langsung agar hatinya tenang, sekaligus ia ingin mengajaknya makan malam dan mengunjungi sebuah tempat yang menjadi favorit mereka sewaktu kecil untuk menebus kesalahannya.
Radit segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, memakai sepatu casual lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi dan perlahan melajukan mobilnya ke jalan raya menuju ke alamat wanita yang ingin dia temui dan ingin dia hibur.
__ADS_1