Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 106. Sama-sama cemas


__ADS_3

"Ayo Kak Radit kita berangkat," ajak Tina.


"Oke, ayo para tuan putri, hamba siap," ucap Radit sembari mempersilakan Anye dan Tina agar masuk ke dalam mobilnya sembari tersenyum.


"Maaf ya Kak sudah merepotkan," ucap Anyelir.


"Santai saja Nye, mereka 'kan keponakanku jadi tentunya anak-anakku juga," jawab Radit.


"Iya Nye, aku juga 'kan ibu mereka, aku sudah tidak sabar ingin menggendong keduanya," timpal Tina.


"Aku juga sudah tidak sabar Tin ingin merasakan mereka lebih aktif bergerak di dalam sini," ucap Anye seraya memegang perutnya.


Saat selesai Anye mengatakan hal itu tiba-tiba bayinya bergerak-gerak sepertinya mereka tahu apa yang dikatakan mami mereka.


Anye menarik tangan Tina lalu menempelkan di perutnya, Tina senang bisa merasakan keaktifan calon keponakannya dan dia berharap agar Allah segera memberikan kebahagiaan itu juga untuk rumah tangganya.


Mereka sudah tiba di rumah sakit, Anye segera menemui dokter kandungannya. Perawat langsung meminta Anye berbaring, memberi gel di perutnya setelah itu dokter segera meletakkan alat periksa yang sudah terhubung ke layar monitor.


Di sana terlihat jelas kedua janin sudah terbentuk, keduanya sehat, detak jantungnya normal namun jenis kelamin belum bisa dipastikan.


Dokter menyarankan agar Anyelir melakukan senam ibu hamil, mengkonsumsi sayuran dan buah yang banyak serta rutin minum vitamin dari dokter.


Setelah Anye selesai, kini giliran Radit dan Tina yang berkonsultasi dengan dokter. Dokter memberikan obat penyubur kandungan untuk Tina dan multi vitamin buat Radit, beliau juga menyarankan agar bulan depan mereka kembali melakukan pemeriksaan. Apabila cara ini belum berhasil maka dokter akan melakukan tes kesuburan kepada keduanya.


Anye, Tina dan Radit segera pamit setelah pemeriksaan usai. Radit dan Tina mengantar Anyelir terlebih dulu barulah mereka kembali ke rumah.


Saat Anye tiba di rumah, hanya ada Bi Imah yang menyambutnya, dia sedikit kecewa karena Satya belum juga kembali. Perasaan Anyelir tidak enak, tapi dia sendiri bingung, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu.


Bi Imah menanyakan apakah Anye membutuhkan sesuatu atau kepingin makan sesuatu tapi Anyelir hanya menggelengkan kepala, dia tidak selera makan apapun.


Hari sudah menjelang maghrib tapi Satya belum juga kembali. Anye cemas, dia gelisah kenapa Satya belum juga memberi kabar. Lalu Anye mengambil ponsel, dia ingin menelephone Satya tapi hatinya ragu, ponsel itu di letakkan kembali di atas nakas.

__ADS_1


Bi imah kembali mengetuk pintu kamar Anyelir, Beliau ingin menawarkan teh atau susu jika Anye belum ingin makan nasi. Anye yang mendengar pintu kamarnya di ketuk segera membukanya. Kemudian dia hanya meminta Bi Imah agar membawakan air mineral saja ke kamarnya, dia akan makan nanti jika Satya sudah kembali.


Bi Imah tidak bisa memaksa kemauan Anye, tapi beliau khawatir dengan bayi yang ada di dalam kandungan Nyonyanya yang belum mendapatkan asupan makanan.


Sementara disana Satya berhasil membujuk Nadia, lalu dia mengurus semua administrasi rumah sakit sebelum membawa Nadia.


Satya bahagia akhirnya bisa membawa Nadia kembali walau sedikit terlambat, kondisi Nadia yang lemah membuatnya mudah lelah, makanya sebentar-sebentar mereka harus berhenti di jalan untuk beristirahat.


Satya sebenarnya sejak tadi kepikiran Anyelir karena dia belum memberi kabar lagi, tapi dia bingung dan tidak enak jika harus mengatakan semua semua kejujurannya lewat telephone.


Nadia tahu dengan kegelisahan suaminya, lalu dia berkata, "Mas lagi kepikiran Anyelir ya?"


Satya diam sejenak, lalu dia menjawab, "Iya Yang, aku kepikiran Anye, pasti saat ini dia cemas kenapa aku belum juga kembali."


Kemudian Satya menepuk dahinya kenapa dia nggak mencoba menelephone Bi Imah saja untuk menanyakan apakah Anye sudah makan atau belum.


Nadia yang melihat Satya menepuk keningnya sendiri lalu bertanya, "Ada apa mas?"


Bi Imah yang mendengar suara ponselnya berdering segera melihat siapa yang sedang memanggilnya, lalu dia buru-buru mengangkat manakala tertera di sana nomor Satya bosnya.


Satya langsung menanyakan apakah Anye sudah


makan atau belum, lalu Bi Imah mengatakan yang sebenarnya bahwa Anye sejak tadi gelisah dan belum makan apapun.


Mendengar jawaban Bi Imah semakin membuat Satya cemas, tiga orang yang dia sayang sedang menunggu dirinya untuk makan bersama.


Pikiran Satya terus tertuju kepada Anye, hingga membuatnya hanya diam sepanjang perjalanan, dia tidak mungkin membiarkan Anye tidak makan apapun sampai dirinya pulang, sementara Satya telah perkirakan akan sampai di rumah pada pukul sepuluh malam.


Nadia yang melihat sikap Satya, merasa terabaikan, tapi akhirnya dia sadar ada tiga kehidupan yang lebih penting di pikirkan dan diutamakan oleh Satya daripada dirinya yang penyakitan dan hanya akan menyusahkan saja.


Kemudian Nadia mengambil ponsel di tangan Satya lalu mencari nomor Anyelir dan mengarahkan kembali ke Satya agar segera menelephone untuk menghilangkan rasa cemas yang membuatnya gelisah.

__ADS_1


Satya memandang Nadia, Nadia pun memberi isyarat dengan anggukan, lalu Satya mengklik tombol panggilan.


Ponsel di tangan Anye berdering, dia senang suami yang dicemaskan akhirnya menelephone. Anye segera mengklik tombol menerima panggilan, lalu dengan manja dia berkata, "Yang, kenapa belum pulang, kami cemas lho Yang? bayi kita juga sejak tadi bergerak terus sepertinya mereka belum mau tidur jika Papa mereka belum sampai."


Memang selama Anyelir hamil, Satya setiap malam menginap di rumah Anye, tidak seharipun dia melewatkan perkembangan janinnya.


Satya selalu mengelus dan mencium perut Anye sembari mengajak berbicara mereka menjelang tidur. Baru setengah hari dia jauh tapi rasa rindu itu telah mengusik hatinya.


Satya terbata menjawab pertanyaan dari Anye, lalu dia berkata jika dirinya rindu dengan Anye dan juga para bayi. Dia kemudian meminta Anye untuk makan sesuatu sebelum tidur agar malaikat kecil di rahimnya tidak kelaparan karena menunggu Papa mereka kembali.


Anye lalu menempelkan ponselnya di perut dan meminta Satya agar berbicara langsung dengan bayi mereka yang sejak tadi bergerak hingga membuat Anye geli dan tidak bisa tidur.


Satyapun berbicara dengan bayi-bayinya agar tidak menyusahkan sang mami, mereka sepertinya mengerti dan langsung berhenti bergerak. Setelah mengucapkan selamat malam dan memberikan ciuman, Satya pun memutuskan panggilan.


Nadia yang mendengarkan interaksi antara Satya, Anye dan calon bayi meneteskan air mata, dia terisak, terbersit rasa iri di hatinya. Dia juga teringat saat dulu dirinya mengandung, Satya juga memperhatikan, memperlakukan serta memanjakannya seperti itu.


Satya yang mendengar Nadia terisak segera menghentikan mobilnya, lalu dia meminta maaf sembari menarik Nadia ke dalam pelukannya. Satya mengaku bersalah karena hatinya telah terbagi, dia mencintai Nadia tapi dia tidak memungkiri jika dirinya juga mencintai Anyelir dan calon bayi mereka.


Pasti sakit rasanya melihat cinta suami sudah terbagi, tapi itulah takdir hidup yang harus ikhlas mereka jalani, baik itu Nadia, Anyelir bahkan Satya sendiri yang berada di antara kedua istrinya.


Jika Satya salah bersikap, salah berkata dan salah berpihak bisa menghancurkan hati keduanya.


Mampukah Satya menjaga hati kedua istrinya? ikuti terus kelanjutan ceritanya ya guys.....


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like coment dan rate bintang limanya.


🌻 Mohon maaf kepada seluruh pembaca karya TERIKAT CINTA LAIN, bulan ini adalah penentuan, novel ini akan saya panjangkan ceritanya atau tidak.


Jika level karya novel ini tidak ada kenaikan di bulan ini dengan kata lain masih jalan di tempat, maka saya akan segera tamatkan ceritanya.


Jadi saya mohon dukungan kalian semua untuk like, dan vote sebanyak-banyaknya, mungkin dengan cara ini bisa menaikkan levelnya.

__ADS_1


🌻 TERIMAKASIH ATAS SEMUA DUKUNGANNYA, SEMOGA KITA SEMUA TETAP SEHAT, BAHAGIA DAN SUKSES SELALU.


__ADS_2