
Anyelir sangat senang ketika Bi Darmi mengajaknya ke taman, ternyata taman bunga di kediaman rumah Kakek Permana sangat indah, penuh dengan bunga yang sedang bermekaran, ada mawar, melati, kamboja, kaktus, aneka jenis bunga keladi, antorium dan masih banyak bunga lainnya.
Ditengah taman terdapat sebuah kolam ikan dan air pancur, aneka jenis ikan koi berenang-renang kesana kemari menambah keindahan kolam itu.
Anye ditemani Bi Darmi terus berkeliling hingga ia berhenti di sudut taman, perhatiannya tertuju pada kumpulan bunga dalam pot, ternyata berbagai jenis bunga Anyelir tumbuh disana.
" Bi, ternyata disini bisa juga tumbuh bunga Anyelir ya bi".
" Iya Non, tapi memang tidak secantik bila tumbuh di negara asalnya", kata Nyonya muda.
" Itu salah satu bunga kesayangan Nyonya muda Non, tapi sayang sejak nyonya pergi bunga itu sedikit kurang terawat karena memang agak susah perawatannya Non".
" Maksud Bibi, itu bunga kesayangan istri Satya?", Bik Darmi hanya mengangguk, ia merasa enggan menceritakan tentang Nadia takut menyinggung perasaan Anyelir.
" Memang sih bik bunga anyelir ini agak susah perawatannya makanya harganya lebih mahal ketimbang bunga sejenisnya seperti krisan maupun mawar".
" Oh gitu ya Non, pantas jarang nampak dipasaran ya Non".
" Anyelir atau bunga teluki ini sebenarnya berasal dari kawasan Mediterania dan pertama kali tumbuh di Bogota kolombia dan sekarang menjadi bunga nasional negara Spanyol lho Bik dan akan tumbuh bagus di daerah dataran tinggi. Jika di negara kita Anyelir ini tumbuh subur di daerah Cibodas, Cianjur, dan dataran tinggi Bandung".
" Wah, Non ternyata pecinta bunga juga ya".
" Senang aja bi lihat bunganya yang warna-warni dan mengandung arti di setiap warnanya".
" Non, itu Tuan muda sudah datang, jadi non sudah ada yang nemani, Bibi balik ke dapur lagi ya untuk melanjutkan memasak, sebentar lagi nyonya pasti sampai".
Iya Bi, terimakasih ya Bi".
Satya menghampiri Anyelir, " Penggemar bunga juga Nye?"
__ADS_1
" Iya mas, tapi mau menyalurkan kegemaran belum ada waktu, jadi penikmat bunga aja jadilah".
" Suatu saat nanti kamu pasti bisa Nye menyalurkan bakatmu".
" Ayo Nye kita temui Papa Mama dulu, itu mereka baru sampai, mereka menunggu di ruang tamu, dan kita harus cepat soalnya sebentar lagi pak Edi datang menjemput".
Anye pun segera mengikuti Satya kembali ke dalam rumah, ketika mereka masuk ke rumah melewati ruang tengah tiba-tiba terdengar suara barang dilemparkan dari lantai dua, sebuah pas bunga hampir mengenai Anyelir bila tidak ditahan oleh tangan Satya.
Pas bunga itupun pecah berserakan dilantai, Satya sangat marah dan bermaksud naik ke lantai dua untuk menghampiri orang yang hampir menyelakai Anyelir. Tapi melihat Anyelir gemetaran, pucat pasi wajahnya karena terkejut dan takut, akhirnya Satya mengurungkan niatnya. Ia menghampiri Anyelir dan menenangkannya.
" Maafkan Nye, maafkan aku, kamu yang tidak tahu apa-apa harus mengalami perlakuan buruk dari keluargaku. Nanti aku akan menceritakan semua dalam perjalanan saja, kita tidak punya waktu lagi untuk berlama-lama disini."
Mendengar suara barang pecah membuat Mama Papa Satya juga menghampiri mereka. Papa Satya sangat marah, " Dasar anak tidak tahu diuntung!, bisa-bisanya dia akan menyakiti kamu nak, saya akan memberinya pelajaran".
Papa Satya bermaksud untuk naik ke lantai dua tapi Mamanya Satya melarangnya, " Biar mama saja nanti yang akan menegurnya Pa, sekarang kita temui dulu calon mantu kita".
" Maafkan perlakuan Adiknya Satya ya Nye", ucap mamanya Satya.
Lamunan Anyelir buyar saat Mama Satya kembali berbicara, " Ayo nak silahkan duduk dulu di ruang tamu saja, biar mama meminta Bi Darmi agar membersihkan pecahan pas bunga itu".
Satya segera membawa Anyelir duduk diruang tamu diiringi Papanya, setelah Mama Satya meminta Bi Darmi membersihkan tempat itu kemudian ia menyusul mereka.
" Begini Ma, Pa maksud kedatangan kami kesini adalah untuk meminta restu, Satya akan segera menikahi Anyelir dalam waktu dekat ini setelah kakek keluar dari rumah sakit".
" Kalau mama papa setuju saja Sat dengan keputusanmu. Asal kakek setuju kami pasti setuju dan semoga rumah tangga kalian nantinya bahagia. Lalu bagaimana dengan Nadia, apa kamu sudah meminta izinnya?", ucap Papa Satya.
" Nadia dari awal sudah menyuruh Satya menikah tapi siapa calon istri Satya, Nadia belum Satya beritahu. Rencananya Satya akan memberitahunya setelah kami pulang dari kampung Anyelir Pa".
" Oh, terserah kamu bagaimana baiknya".
__ADS_1
" Maaf nak Anyelir jika Papa menyinggung nama Nadia, bagaimanapun dia masih menantu kami dan istri sah Satya".
" Nggak apa-apa kok Pak, Anye tahu posisi Anye bagaimana dalam keluarga ini".
Satya memperhatikan perubahan rona wajah Anyelir, ia tahu apa yang dirasakan Anyelir sekarang.
" Karena kamu akan menjadi menantu kami tolong panggilah kami seperti halnya Satya, kamu bukan orang asing lagi nak, kamu akan menjadi bagian dalam keluarga Permana".
" Baiklah Ma, Pa terimakasih atas restu kalian", lanjut Anyelir.
Setelah mendapatkan restu, Satya dan Anyelir segera berpamitan kepada kedua orang tuanya karena Pak Edi telah datang menjemput mereka.
" Anyelir permisi dulu ya Ma, Pa, kami harus segera berangkat, Assalamualaikum".
" Wa"alaikumsalam, hati-hati kalian di jalan ya Sat".
" Satya meninggalkan mobilnya dikediaman kakek Permana dan mereka berpindah ke mobil yang di kendarain oleh Pak Edi".
Kini mobil yang mereka kendarai telah meninggalkan rumah kakek, Pak Edi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju pusat perbelanjaan dulu karena Satya ingin membelikan oleh oleh buat Ayah dan ibu. Mereka membelikan kue-kue kering dan buah.
Setelah selesai berbelanja mereka segera melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan Anye masih memikirkan kejadian barusan yang ia alami, ia masih bingung dengan silsilah keluarga Satya, kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Satya.
Satya yang memang telah berjanji akan menceritakan tentang keluarganya segera mulai menceritakannya.
" Aku memang cucu tunggal kakek Permana, Papaku yang bernama Adiraja Permana adalah anak tunggal dari kakek Adiartha Permana. Beliau meninggal saat aku masih dalam kandungan".
" Ketika aku berusia 6 tahun mamaku menikah lagi dengan asisten pribadi papa yang bernama Chandra Salim dan dari pernikahan mereka lahirlah seorang putra yang bernama Tirta Salim".
" Tapi untuk menghargai jasa papa Chandra terhadap papaku selama masa hidupnya, kakek mengijinkan Tirta memakai nama belakang kakek yaitu menjadi Tirta Permana. Dan Kakek telah menganggap Tirta juga sebagai cucunya serta mengizinkan mama dan keluarga barunya tetap tinggal di rumah kakek".
__ADS_1
" Tirta tadinya tumbuh menjadi anak yang baik dan periang tapi setelah beranjak dewasa ia menjadi anak yang pemurung dan seringkali bertindak brutal. Dia sangat membenciku, dia berusaha menyakiti keluargaku termasuk Nadia, padahal kami sangat menyayangi".
" Itulah Nye sekilas tentang keluargaku, dan orang yang tadi berusaha menyakitimu adalah Tirta. Anye kini mulai mengerti kenapa Kakek Permana sangat menginginkan lahirnya pewaris dari Satya.