
"Buruan Kak, kita pasti sudah ditunggu sama Ibu dan para tetangga, lusa sebelum kita balik ke Jakarta, aku pasti akan mengajak kakak kesini lagi jika masih ingin melihat-lihat," ucap Tina yang sudah terlihat panik saat melihat arloji di tangannya.
"Tenang, jika tidak sempat mereka memasaknya, kita pesan aja dari resto," ucap Radit dengan santai.
"Kakak pikir ini Jakarta, yang 24 jam bisa pesan makanan. Ini kampung lho kak! pedagang makanan sebentar lagi tutup kedainya dan baru akan buka lagi besok pagi," ucap Tina.
Mendengar ucapan Tina membuat Radit menutup mulutnya lalu dia berkata, "Oh iya, Kak Radit sampai lupa," ucapnya sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian Radit bergegas menghidupkan mesin mobilnya, lalu menjalankannya kembali ke rumah Tina. Saat mereka sampai Ibu dan para tetangga langsung datang mendekat untuk membantu menurunkan barang belanjaan dari dalam mobil.
Lalu mereka mulai menyiapkan apa yang harus mereka masak. Semua berbagi tugas, hingga bisa selesai dengan cepat.
Acara lamaran akan segera di mulai, Tina dan Radit sudah bersiap, para tetangga yang di undang juga sudah berkumpul termasuk Satya, Anye beserta keluarganya.
Pembawa acara pun membuka acara dengan kata sambutan dari yang mewakili ahli bait. Dalam acara lamaran tersebut Satya mewakili pihak Radit. Dia menyerahkan aneka barang seserahan diantaranya perlengkapan sholat, seperangkat perhiasan, seperangkat pakaian lengkap dengan hijab, tas beserta sepatu, seperangkat barang kosmetik dan sejumlah uang kepada keluarga Tina.
Mereka putuskan akad nikah akan diadakan di rumah Kakek Permana karena itu memang permintaan beliau dari jauh hari sebelum Radit menemukan jodohnya. Kakek tidak ingin membedakan antara Satya, Tirta juga Radit, mereka akan mendapatkan hadiah sebuah rumah pada saat mereka menikah.
Setelah acara pokok selesai, keluarga Tina mempersilakan para Tamu untuk menyantap hidangan yang telah di sajikan. Mereka semua makan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar.
Selesai makan mereka saling bercengkrama, bertukar cerita lalu mulai meninggalkan rumah kediaman orang tua Tina satu persatu kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Begitu juga dengan Satya dan Anye sekeluarga, mereka juga izin pamit dan berjanji besok akan datang menghadiri acara peresmian masjid.
Malam ini semua beristirahat dengan, apa yang menjadi niat mereka datang ke kampung satu persatu terlaksana.
Acara bulan madu kedua Satya dan juga Anyelir berjalan lancar tanpa ada halangan seperti saat bulan madu pertama mereka.
Jamu yang sudah Satya dan Anye persiapkan untuk mendukung program hamil juga di konsumsi dengan rutin.
Usaha sudah di jalankan, menciptakan ketenangan juga sudah, tinggallah mereka pasrahkan hasilnya kepada sang pemberi keturunan yaitu Allah SWT.
__ADS_1
Hari terakhir di kampung mereka habiskan dengan belanja oleh-oleh dan berkeliling pasar sesuai permintaan Radit. Sementara Satya dan Anye hanya mengikuti kemana Radit dan Tina pergi sembari membantu mereka membawa barang belanjaan.
Satya dan Anye cukup bahagia melihat kedua sahabat mereka akhirnya tinggal selangkah lagi menuju ke pelaminan.
Kehidupan pahit dari keduanya telah menyatukan mereka, Radit yang sejak kecil tidak pernah melihat kedua orang tua, memendam cinta yang tidak mungkin tersampaikan dan Tina yang telah mengalami kepahitan hidup ketika awal tinggal di kota hingga menjadi janda dari sebuah pernikahan siri, akhirnya menjadikan mereka sama-sama tegar untuk bersama menggapai hidup yang lebih baik kedepannya.
Mereka kembali ke rumah untuk membereskan barang, bersiap pulang ke Jakarta sore ini.
Ibu dan Ayah juga telah menyiapkan oleh-oleh dari hasil ladang mereka.
Ayah, Ibu, Satya, Anye dan Pak Edi duduk di teras menunggu kedatangan Radit sembari minum kopi, menikmati ubi serta talas goreng.
Satya sebenarnya meminta Ayah dan Ibu untuk ikut ke Jakarta namun mereka tidak bisa karena sebentar lagi akan panen, baik panen padi maupun panen buah-buahan yang ada di kebun.
Namun Ayah berjanji setelah musim tanam padi berikutnya mereka akan datang ke Jakarta untuk menjenguk Satya dan Anye sekaligus bersilaturrahmi ke rumah Kakek.
Satya berpesan jika Ayah dan Ibu hendak ke Jakarta sebaiknya menghubungi mereka jadi Pak Edi bisa datang menjemput.
Ibu berpesan agar Anye tetap menjaga kesehatan dan banyak minum vitamin hingga mereka bisa segera menimang cucu.
Sementara Ayah kembali menitipkan Anye di bawah tanggung jawab Satya, Ayah mendoakan semoga rumah tangga mereka selalu bahagia.
Radit dan Tina juga berpamitan, mereka meminta restu kepada Ayah dan Ibu agar rencana pernikahan mereka nantinya berjalan lancar.
Pak Edi menjabat tangan Ayah dan memeluk beliau, mereka akan bertemu lagi saat musim tanam berikutnya di sini. Jika Ayah dan Ibu nanti datang ke Jakarta beliau akan mengajak mereka jalan-jalan dan makan bersama keluarga pak Edi.
Selesai berpamitan mereka memasukkan semua tas dan oleh-oleh ke dalam bagasi, lalu semua melambaikan tangan saat pak Edi dan temannya mulai melajukan mobil keluar dari halaman rumah orang tua Anyelir.
Selamat tinggal kampung halaman, selamat jalan dan selamat kembali ke rumah itu yang Anye ucapkan saat mobil mulai meninggalkan perbatasan kampung halamannya.
Satya memeluk sang istri, dia tahu Anye masih berat meninggalkan orangtuanya yang hanya tinggal berdua saja di sana.
__ADS_1
Anye merebahkan kepalanya di dada Satya, dia mencari ketenangan dan kenyamanan di sana. Satya adalah suami, kakak, sahabat dan sekaligus pengganti orang tua baginya dalam menjalani kehidupan di ibukota.
Kebahagiaan juga menyertai perjalanan Radit dan Tina, senyum selalu mengembang di wajahnya saat Radit terus saja menggoda dan kadang menceritakan dongeng-dongeng masa kecilnya.
Namun terkadang Radit juga menceritakan kesedihannya saat teman-teman kecil satu persatu pergi, diadopsi oleh orang tua angkat mereka, sementara Radit sendiri yang sakit-sakitan tidak pernah ada satu keluarga pun yang mau mengadopsinya.
Hanya keluarga Permana lah yang selalu datang dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka, hingga sampai saat ini.
Radit memang tidak di adopsi Kakek karena saat itu Mamanya Satya adalah single parent, tapi Satya selalu datang ke panti untuk bermain bersamanya, bahkan terkadang Satya memaksa pak sopir untuk mengantarnya jika keluarganya tidak bisa pergi.
Mengenai biaya hidup Radit juga telah di tanggung oleh Kakek Permana hingga dia kuliah dan akhirnya setelah lulus kuliah, Satya meminta Radit untuk bekerja di perusahaan menjadi asisten pribadinya.
Radit banyak berhutang budi baik materi maupun kasih sayang terhadap keluarga Satya makanya dia bertekad dan berjanji dalam hatinya tidak akan pernah mengecewakan Satya dan keluarganya.
Tina yang mendengar cerita Radit, sesenggukan, dia menangis, ternyata kisah hidup Radit lebih pahit dari kisah hidupnya.
Mereka berdua berjanji akan saling melengkapi dan saling membahagiakan hingga kisah pahit mereka terobati dengan kebahagiaan di masa mendatang.
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote,like sebanyak-banyaknya, coment dan rate bintang limanya 🙏😉
🌻 Silahkan Favorit dan ikuti akun author ya guys, jadi kalian pembaca kesayanganku bisa tahu kapan saya update dan menerbitkan karya baru 🙏🙏🙏
🌻Oh ya author ingin buat pengumuman nih.... kepoin juga ya karya para sahabat author, pasti nggak nyesel deh, karya mereka juga bagus dan seru lho....
__ADS_1