
"Sayang kita sudah sampai!" ucap Satya sembari membangunkan Nadia yang tertidur di mobil.
Nadia mengerjapkan mata sembari tersenyum melihat dirinya sudah tiba di rumah. Rumah yang sangat dia rindukan, menyimpan banyak kenangan manis sebelum musibah penyakit ini menimpanya.
Satya mengandeng tangan Nadia, mengajaknya masuk setelah mang Ujang membukakan pintu. Mang Ujang senang Nyonya rumah ini telah kembali, dia berharap kepulangan sang majikan kali ini untuk menetap dan tidak akan pergi lagi.
Sesuai pesan Satya mang Ujang selalu merawat dengan baik tanaman bunga kesukaan Nadia. Esok pagi dia akan menunjukkan kepada sang majikan bahwa bunga kesayangannya saat ini sedang mekar indah. Pasti sang Nyonya akan senang dan merasa terhibur.
Satya membawa Nadia ke kamar, lalu dia membantunya membersihkan diri dan meminta Nadia untuk beristirahat. Satya akan menemani Nadia hingga tertidur, barulah dia akan pulang ke rumah Anyelir.
Nadia memejamkan mata, berpura-pura tidur, walaupun sebenarnya dia belum mengantuk, tapi Nadia ingin Satya segera pulang ke rumah Anye, karena dia tahu wanita yang sedang hamil pasti mudah cemas dan lebih membutuhkan perhatian dari Satya ketimbang dirinya.
Setelah beberapa saat tidak ada pergerakan dari tubuh Nadia, Satya pun beranjak dari tempat tidur, lalu dia mencium kening sang istri sembari berkata, "Selamat Tidur Yang, semoga mimpi indah, maaf malam ini aku belum bisa menemanimu hingga kamu terbangun. Aku harus pulang dulu untuk meminta maaf kepada Anye karena telah membohonginya."
Kemudian Satya membuka pintu lalu menutupnya kembali dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengganggu istirahat Nadia.
Satya meninggalkan pesan kepada Bibi dan Mang Ujang agar melayani apa yang di minta Nadia dan meminta mereka untuk membantu menjaganya sampai Satya kembali.
Setelah mendapat anggukan dari pengurus rumahnya, Satyapun segera meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah Anyelir.
Anyelir cemas, dia tidak bisa tidur karena Satya belum juga kembali. Dia menghabiskan waktu dengan chatting bersama sahabat-sahabatnya hingga membuatnya terhibur.
Begitu mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, Anye buru-buru turun dari tempat tidur dan langsung ke luar kamar untuk membukakan pintu. Dia memang sudah meminta Bik Imah untuk beristirahat, biar dirinya yang akan membuka pintu bila Satya kembali.
Satya merasa bersalah saat melihat Anye belum juga tidur dan tersenyum menyambut kedatangannya di depan teras. Seperti biasa, Anye mencium tangan Satya dan Satyapun mencium keningnya. Kali ini Satya sembari berkata, "Maaf Yang telah membuatmu cemas, kenapa nggak tidur saja, kan ada Bik Imah yang bisa membukakan pintu." ucap Satya tanpa berani menatap mata Sang istri.
"Anye sengaja menunggu Mas pulang, kebetulan tadi Tina dan teman-teman ngajak chattingan jadi tidak membuat mata mengantuk. Sini Mas tasnya biar Anye yang bawa?" pinta Anylir.
Mereka pun masuk ke kamar, Anye menyiapkan keperluan Satya untuk mandi, baik air hangat, handuk mandi maupun pakaian tidurnya.
__ADS_1
Setelah Satya keluar dari kamar mandi, lalu dia bertanya apakah Satya sudah makan atau belum, jika belum Anye berniat memanaskan makanan. Satya pun menjawab bahwa dirinya sudah makan saat di perjalanan.
Setelah selesai berpakaian Satya lalu mengajak Anye untuk beristirahat, menurutnya tidak baik ibu hamil sering tidur larut malam.
Satya mengelus perut Anyelir ternyata ada pergerakan di sana, lalu dia berkata, "Eh, kalian berdua juga belum tidur ya? tunggu ciuman dari Papa ya Nak?" tanya Satya.
Ketika Satya hendak mencium perut Anye, tiba-tiba terdengar suara yang menunjukkan bahwa Anye sedang lapar. Satya mendongakkan wajahnya lalu bertanya, "Mami lapar? memangnya Mami belum makan?" tanya Satya.
Anyelir menggeleng, sembari berkata, "Hanya makan buah tadi Mas dan minum susu, niatnya ingin makan bareng Mas, tapi karena Mas sudah makan ya sudah besok pagi saja kita sarapan bareng ya," jawab Anyelir.
"Ayo kita makan, perut Mas pun terasa lapar nih setelah habis mandi," ajak Satya sembari menggandeng tangan Anye menuju dapur.
Satya tidak tega membiarkan istrinya tidur dengan perut keroncongan. Meskipun kenyataannya dia masih kenyang, tapi Satya tetap memaksakan diri untuk menemani Anyelir makan.
Kemudian Satya memanaskan makanan, dia tidak mengizinkan Anye yang melakukannya, Satya hanya meminta Anye untuk duduk menunggunya di meja makan.
Makanan sudah Satya hidangkan lalu dia mengambilkan Anye sepiring nasi berikut lauk dan sayur, setelah itu dia menyuapkan ke mulut Anye sembari meminta maaf kepada istri dan anak-anaknya, karena telah membuat mereka menunggu hingga kelaparan.
Setelah menyuapkan makanan kepada Anye, barulah Satya gantian menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri. Merekapun makan dalam piring yang sama, suap demi suap masuk ke dalam mulut mereka masing-masing hingga makanan yang ada di dalam piring itu habis.
Satya tersenyum puas melihat Anye menghabiskan makanan dengan lahap tanpa memuntahkannya lagi, dia berharap ngidam Anye sudah selesai, hingga asupan gizi makanan cukup untuk perkembangan bayi mereka.
Anye mengambilkan minum untuk Satya, dia tidak mau semua pekerjaan Satya yang melakukannya. Walaupun dia senang di manja tapi dia harus tetap ingat akan tugasnya.
Selesai makan merekapun kembali ke kamar, Satya dan Anye duduk di sisi tempat tidur sembari menunggu makanan yang baru saja masuk ke dalam perut mereka di proses oleh lambung.
Menurut Satya, inilah kesempatan yang pas untuk dia bisa mengutarakan dan menjelaskan tentang kebohongannya tadi siang sebelum mereka tidur.
Satya kemudian memegang kedua tangan Anye, dia menatap lekat wajah istrinya sembari berkata, "Yang, sekali lagi Mas mohon maaf, karena menunggu Mas, kalian jadi kelaparan dan mas juga ingin mengaku bahwa tadi siang Mas bukan pergi menemui klien," sejenak Satya terdiam dia ragu untuk meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Jadi! memangnya Mas kemana? dan menemui siapa?" tanya Anye heran dan tidak percaya jika suaminya tega berbohong.
Satya masih terdiam, lalu Anye berkata lagi, "Jawab Mas, katakan! Anye ingin Mas jujur!" ucap Anyelir.
"Kamu janji 'kan nggak bakal marah?" ucap Satya lagi.
Anyelir pun mengangguk tapi matanya masih mencari kebenaran di wajah sang suami.
"Mas pergi mencari Nadia," ucap Satya sembari tertunduk.
Anye terkejut, wajahnya sedikit pucat, hatinya sakit, dia kecewa kenapa suaminya tega berbohong padahal selama ini dia tidak pernah melarang Satya untuk mencari Nadia.
Satya memberanikan diri menatap wajah Anyelir, dia melihat kekecewaan di mata sang istri. Namun Anyelir sekarang tetaplah Anyelir yang dulu, yang pemaaf, penyabar, baik dan selalu berbesar hati menghadapi masalah dan sanggup menerima konsekuensi dari masalah yang dia hadapi.
Anye membalas genggaman tangan Satya, sembari meneteskan air mata, lalu dia berkata, "Kenapa Mas musti berbohong? Anye kecewa Mas, ternyata Mas belum mengenalku sebagai istri," ucap Anye lalu terdiam sejenak.
"Apa pernah Anye melarang Mas untuk mencari Mbak Nadia? Anye juga seorang wanita Mas, jadi Anye tahu bagaimana rasanya jika ada di posisi Mbak Nadia. Sayang... ternyata selama ini aku salah, aku pikir Mas Satya percaya penuh terhadapku untuk berbagi suka duka tapi nyatanya mas masih ragu. Memang sebaik-baik wanita kedua, citranya tetap saja jelek dan salah di mata siapapun termasuk suami sendiri," ucap Anye yang merasa kecewa lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Satya.
π» Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like dan coment sebanyak-banyaknya.
π» Terimakasih atas semua dukungannya ya guys...πππ, semoga kita selalu sehat, bahagia dan sukses selalu. Aamiin....
π»Sudah update semua ya guys hari ini untuk keempat karya author. Mohon dukungan selanjutnyaππππ
__ADS_1