
Anye bertambah kesal melihat Tina yang terus mentertawainya, ia mencubit lengan Tina hingga Tina meringis kesakitan.
" Aduh...aduh...sakit Nye, ternyata sakit ya cubitan orang yang lagi jatuh cinta".
Anye memelototkan matanya dan kembali mencubit sahabatnya,
" Siapa juga yang lagi jatuh cinta", jawab Anye.
" Kamu lah, memangnya siapa lagi. Nggak mungkin aku kan...bakalan diceraikan nanti aku jika jatuh cinta lagi, gawat kan? bisa-bisa saldo ATM ku kosong jadinya, nggak bisa lagi membantu biaya kebutuhan ayah ibuku di kampung ", jawab Tina.
" Siapa juga yang berani jatuh cinta dengan suami orang! ", lanjut Anyelir.
" Kan sebentar lagi juga jadi suamimu, nggak masalah Nye jika cinta dimulai dari sekarang. Lagi pula nggak ada yang bisa menduga Nye, kapan cinta itu hadir dan bertahta dihati kita dan kepada siapa cinta itu diperuntukkan. Hanya hati kita yang bisa bicara jujur dan bisa merasakannya, mulut bisa berbohong tapi hati tak bisa dibohongi ".
Anye terdiam sambil menela'ah kata-kata sahabatnya, dia bertanya didalam hatinya benarkah benih cinta mulai tumbuh di hatinya untuk lelaki yang bernama Satya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Jangan takut Nye untuk jatuh cinta, walau terkadang cinta membuat kita sakit tapi cinta juga selalu membuat kita bahagia. Berjuanglah untuk cintamu Nye, aku yakin dengan kesabaranmu pasti kamu bisa mendapatkannya".
Obrolan kedua sahabat itu terhenti ketika mobil yang membawa mereka telah sampai di tempat tujuan. Anye dan Tina turun sembari mengucapkan terimakasih kepada Pak Dadang, supir pribadi suami Tina.
Mereka segera bergegas masuk, Anye ingin segera memilih baju yang akan ia pakai. Ketika melewati ruang tamu Anye dan Tina melihat teman-temannya sedang asik ngobrol dan bercanda bersama Adam dan juga Dani. Adam tersenyum kepada Anyelir saat mata mereka beradu pandang dan teman-teman Anyelir pun mengalihkan pandangannya kearah tatapan mata Adam.
__ADS_1
Hai Anye, hai Tina ternyata kalian baru pulang, ayo sini gabung dengan kita, seru loh ngobrol dengan Adam dan Dani. Banyak cerita menarik ternyata dari negeri tetangga, ya walaupun kita belum bisa kesana setidaknya mendengar ceritanya dari Adam dan Dani jadilah, mudah-mudahan setelah mendengar semuanya dari mereka suatu saat kita bisa terbang langsung kesana untuk melihatnya.
"Terimakasih teman-teman, maaf aku belum bisa ikutan gabung ada sesuatu yang harus aku kerjakan, nanti lain waktu aku pasti ikutan ngobrol dengan kalian. Sekali lagi maaf ya Dam, Dani, aku permisi dulu ke kamar".
Adam dan Dani hanya mengangguk, tapi tersirat kekecewaan di wajah Adam karena gadis yang sedari tadi ditunggunya pulang untuk bisa ngobrol dengannya ternyata tak mengindahkannya.
Tina juga permisi ingin masuk ke kamarnya, " Aku juga minta maaf ya teman-teman, aku ingin membersihkan badan dulu rasanya keringatku sangat berjekat hingga tak nyaman, takutnya tercium oleh kalian nanti aroma tak sedap dari tubuhku".
Sambil tersenyum Tina melanjutkan ucapannya, "Nanti malam kita lanjut ngobrol ya Dam...ya Dani, aku juga ingin dengar cerita tentang kehidupan di negeri jiran".
"Iya Tina...nggak apa-apa kok, kami faham kamu pasti letih dan butuh istirahat", jawab Adam.
Tina meninggalkan teman-temannya yang kembali asyik dengan obrolannya. Ia ingin menyusul Anyelir bukan karena ingin mandi atau ingin beristirahat seperti yang dikatakannya tapi ia ingin memberikan sesuatu kepada Anyelir yang sudah dibelinya saat Anye pulang ke kampung. Tina ingin memberikan hadiahnya saat ini sebagai kejutan untuk Anye.
Tina menghampiri Anyelir sambil tersenyum dan mencoba mencandainya lagi, " Wah-wah...yang mau pergi kencan pertama lagi bingung nih nampaknya!, waduh... baju satu lemari hampir habis keluar semua".
"Beri ide dong Tin, mana yang cocok aku pakai. Aku bingung... mana waktu udah mepet, sebentar lagi Azan maghrib, dah habis dech waktuku tuk memilih. Lagian badanku ini kenapa ya Tin, kok rasanya panas dingin seperti mau demam, apa aku batalin aja ya perginya. Tapi bagaimana dengan Satya...pasti dia akan marah besar, bisa-bisa aku dipecat dan jika disuruh mengganti uangnya darimana akan aku cari uang sebanyak itu. Aku masih butuh pekerjaan itu Tin".
Tina yang melihat sahabatnya panik dan berbicara semakin ngawur, tertawa ngakak dan pergi meninggalkannya.
Anye yang melihat sahabatnya pergi semakin panik dan mengejarnya, " Jangan pergi dong Tin, ayolah bantu aku memilih! Please...pokoknya besok aku traktir makan dech, terserah kamu mau makan dimana ".
__ADS_1
Tina semakin tertawa terbahak melihat Anye memohon "Memangnya kamu sanggup jika aku meminta kamu traktir aku ditempat yang paling mahal?"
Anye hanya nyengir kuda sambil menjawab kembali " Bolehlah, aku sanggup tapi nanti ya jika aku resmi diangkat jadi manajer resto, maksudnya pas dapat gaji pertamaku sebagai manajer hehehe...". Walaupun panik Anye jadi ikutan tertawa.
" Kamu pergi mandi sana biar menghemat waktu, nah aku memilihkan baju untukmu, deal kan", lanjut Tina.
" Beneran ya, aku pergi mandi dulu nanti letak saja baju yang kamu pilihkan diatas tempat tidur sebelah sana. Masalah pakaianku yang berserak ini nanti saja ya Tin ku bereskan setelah pulang dari bertemu Satya".
Tina hanya mengangguk sambil mengibaskan tangannya menyuruh Anye agar segera pergi.
Setelah Anye masuk ke kamar mandi, Tina segera membereskan pakaian Anye yang berserakan diatas tempat tidur dan mengembalikannya ke dalam lemari, kemudian ia mengambil sebuah paper bag yang berisi satu set pakaian baru beserta sepatu baru dari dalam lemarinya dan segera meletakkannya di atas meja rias.
Ketika mendengar suara pintu kamar mandi akan terbuka, Tina pun bergegas pergi keluar dari kamarnya. Dia ingin ke dapur dulu untuk minum sambil menunggu Anye mengenakan pakaian kejutan darinya.
Saat Anye keluar dari kamar mandi dia semakin panik melihat tempat tidurnya kosong tanpa ada sehelai baju pun disana seperti yang dia minta.
Anye menjerit memanggil nama Tina dan rasanya dia ingin menangis saat ini. Anye terduduk lemas diatas tempat tidur dan merasa kesal dengan Tina.
Sekilas tanpa sengaja mata Anye menatap meja rias yang terletak di ujung dekat lemari pakaian, Anye melihat ada paper bag dan sebuah kotak sepatu baru di sana. Perlahan ia mendekati dan membukanya, betapa ia terkejut melihat isinya,
Anyepun menangis, ia terharu dengan apa yang dilakukan oleh Tina.
__ADS_1
" Kamu memang sahabatku dan saudaraku yang terbaik Tin. Aku nggak tau lagi harus dengan cara apa membalas semua kebaikanmu", gumam Anyelir.
Anyelir segera melaksanakan sholat maghrib lalu mulai berdandan. Sementara Tina memilih menjalankan sholat maghrib di kamar Sri karena dia tidak ingin mengganggu Anyelir, Tina akan menemuinya ketika ia sudah selesai berdandan.