
Sebelum adzan subuh berkumandang Satya dan Anye sudah mensucikan diri dari sisa-sisa pertempuran mereka tadi malam.
Kemudian mereka keluar kamar, Satya sudah berpakaian Koko, bersiap hendak pergi ke masjid bersama Ayah dan pak Edi, sementara Anye sembari menunggu Adzan berkumandang, dia ingin membuat sarapan di dapur.
Saat Anye tiba di dapur ternyata menu sarapan sudah selesai di masak oleh ibu dan tetangga sebelah rumah yang memang di pekerjakan oleh ibu untuk beberes di rumah mereka.
Anye merasa malu, dia menyangka sudah bangun paling awal eh ternyata ibu bangun lebih dulu. Melihat putrinya datang ke dapur, ibu pun berkata,
"Istirahat lah Nak, ibu tahu kalian pasti capek, lagi pula tujuan kalian kesini kan untuk berbulan madu jadi nikmatilah waktu kalian, ibu juga kepingin cepat menimang cucu. Masalah urusan dapur dan beberes rumah jangan kamu pikirkan, ibu sudah mengatur semuanya bersama Bu Tihah. Iya kan Bu," tanya Ibu kepada Bu Tihah tetangganya.
Bu Tihah pun mengangguk sembari berkata, "Iya Neng, nikmati saja masa liburan Neng bersama suami di sini, masalah dapur dan lainnya serahkan saja pada kami, pasti beres atuh Neng, Ibu do'akan semoga setelah Neng pulang dari sini akan mendapatkan kabar baik, Neng segera hamil," ucap Bu Tihah.
"Iya Bu, Terimakasih ya Bu do'anya, maaf kami telah merepotkan para tetangga," ucap Anyelir.
"Kagak atuh Neng, kami senang kalian datang. Tuh para warga senang lho ngobrol dengan suami Neng, mereka suka berbagi ilmu dan pengalaman."
"Iya Bu, Mas Satya juga senang di sini, bahkan Mas dan sahabat nya sudah berencana akan menghabiskan hari tua kami nanti dengan tinggal di sini," ucap Anye yang senang dengan keputusan suaminya.
"Alhamdulillah Neng, mudah-mudahan niatnya terlaksana."
"Sudah sana sholat dulu Nye, itu Adzan sudah berkumandang, ibu dan Bu Tihah juga mau sholat baru meneruskan pekerjaan," ucap ibu.
Anye pun mengangguk, lalu dia kembali ke kamar untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh, setelah itu Anye sempatkan mengaji sembari menunggu Satya, Ayah dan pak Edi kembali dari masjid untuk sarapan bersama.
Udara pagi di kampung Tina yang sangat berbeda dengan udara pagi di kota membuat Radit menggigil kedinginan, pagi ini rencananya dia mau ikut dengan Ayah Tina pergi ke masjid.
Ayah Tina yang melihat calon menantunya menggigil kedinginan segera meminta Tina untuk mengambilkan jaket. Beliau tidak ingin melihat Radit sakit, lalu beliau meminta Radit untuk sholat di rumah saja.
Radit yang pada dasarnya kulitnya memang putih semakin terlihat pucat, namun ia merasa sehat dan tetap ingin ikut sholat ke masjid bareng Ayah.
Mereka pun sengaja berjalan kaki sembari menghirup udara segar dan juga jalan bareng para tetangga. Mereka tiba di masjid pas suara adzan berkumandang, lalu mereka ikut ke barisan Shaf sholat berjamaah.
__ADS_1
Setelah selesai sholat dan hendak bersalaman sembari berjalan keluar dari masjid, Radit bertemu dengan Satya, pak Edi dan juga Ayah Anyelir.
Ayah Tina mengajak mereka ngobrol sejenak di teras masjid, beliau ingin berkenalan dengan Satya yang katanya selama ini sering di bicarakan oleh warga tentang kebaikannya.
Beliau kemudian mengundang Satya, Ayah dan seluruh keluarga agar nanti malam hadir di rumahnya untuk menghadiri acara lamaran Radit dan Tina. Satya, Ayah dan Pak Edi pun berjanji Inshaallah mereka bakal hadir di acara tersebut.
Kemudian Ayah mengajak Radit kembali karena masih ada yang akan di kerjakan oleh Ayah Tina, Raditpun setuju karena walaupun ia sudah memakai jaket udara dingin itu masih terasa menusuk tulangnya, ia ingin menghangatkan diri dengan menyeruput teh panas buatan Tina.
Satya yang melihat sahabatnya kedinginan pun tersenyum, ia teringat saat dulu pertama kali datang ke kampung ini untuk meminta restu mau menikahi Anyelir, dia juga merasakan kedinginan seperti yang dirasakan oleh Radit, sampai-sampai Anyelir membawakannya teh jahe saat ia berkeliling kampung bersama Ayah.
Melihat Satya tersenyum sendiri, Raditpun menyenggol tangan Satya dan berkata," Woi, kenapa senyum-senyum, kamu mengejek aku ya Sat," ucap Radit yang memang merasa dia yang membuat Satya tersenyum.
Lalu Satya tertawa dan menceritakan hal yang dialaminya saat pertama kali datang ke kampung ini. Akhirnya semua ikut tertawa, termasuk pak Edi yang juga mengalaminya.
Mereka memutuskan kembali pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan bersama, namun Radit berjanji setelah sarapan akan datang ke rumah Anye, ia ingin ikut berjalan-jalan menikmati pemandangan kampung dan juga sungai.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju ke ruang makan, di sana Anye, Ibu dan Bu Tihah telah menata menu sarapan di meja. Mereka pun sarapan bersama dengan menu nasi goreng kampung spesial ala ibu Anyelir.
Sementara Anye dan Satya juga sudah bersiap, mereka tinggal menunggu kedatangan Radit dan Tina.
Radit sudah berpakaian lengkap dengan memakai topi, jaket serta sepatu, dia takut hawa dingin akan membuatnya sakit, lalu ia keluar kamar menghampiri Tina yang sudah menunggu di sana.
Dia heran kenapa Tina hanya memakai kaos dan juga sendal jepit, apakah Tina tidak merasa kedinginan cuma dengan dandanan seperti itu, sementara dirinya yang sudah memakai jaket saja masih merasa kedinginan.
Tina tertawa melihat Radit berpakaian lengkap lalu ia mencandai Radit, "Masih mau tinggal dan jadi warga di sini Kak?"
Raditpun tersenyum malu tapi ia tidak surut dengan niatnya dan membalas candaan calon istrinya, "Asalkan bersamamu, tinggal di kutub pun aku mau," ucapnya.
"Ah Kak Radit pandai menggombal, di sini saja sudah seperti orang sakit apalagi tinggal di kutub? bakalan tidak pernah keluar rumah," ucap Tina.
"Ini kan karena belum terbiasa Tin, ala bisa karena biasa kan. Kalau aku sudah terbiasa tinggal di sini kamu nanti pasti bakal kalah."
__ADS_1
"Maksud kak Radit?"
"Aku setiap hari tidak akan pakai baju," jawab Radit sambil tertawa.
"Ya jelas dong, kak Radit kan gitu ada maunya."
"Oh pasti, nggak salahkan jika setiap hari minta di hangatkan sama istri sendiri," jawab Radit mesum.
Tina mencebikkan bibirnya, lalu dia mengalihkan perhatian Radit agar tidak berbicara mesum lagi.
"Ayo Kak kita berangkat, Anye dan kak Satya pasti sudah lama menunggu," ucap Tina
Mereka pun berpamitan kepada Ayah dan Ibu, lalu berjalan kaki menuju rumah Anyelir. Sesampainya di sana Anyelir menyuguhkan teh jahe untuk Radit, ia teringat kepada Satya saat pertama kali datang ke sini. Setelah meminum teh jahe Anye berharap Radit berani melepaskan jaketnya seperti hal nya Satya dulu.
Lalu Anyelir memasukkan teh jahe ke dalam termos kecil untuk bekal mereka di jalan, mana tahu Radit nanti merasa kedinginan lagi.
Mereka berempat berangkat, tempat yang pertama kali mereka datangi adalah kebun milik Ayah, sebab di sana banyak buah-buahan yang bisa mereka petik dan nikmati.
Kebetulan saat ini sedang musim buah, jadi pohon buah-buahan yang ada di kebon Ayah rata-rata juga berbuah, di sana ada jambu air, rambutan, jeruk, mangga, pisang, buah kelengkeng, jambu biji dan juga sawo.
Mereka sangat senang melihat kebun Ayah yang begitu banyak menghasilkan aneka jenis buah, belum lagi kebun sayurannya.
Satya dan Radit yang merasa kagum, berencana ingin membeli asset lahan di sini, dengan mempekerjakan orang untuk menanam aneka pohon buah dan juga sayuran, jadi jika mereka kembali liburan ke sini, pasti sudah bisa memetik hasil dari kebun sendri.
π»Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like sebanyak-banyaknya, comment dan rate bintang limanya ππ
π» Mohon dukungannya juga ya guys, dalam karya saya yang sedang di ikut kan lomba yang berjudul "MENIKAHI CUCU BILLIONER" dan "DARINYA KU TAHU ARTI CINTA DAN KEHILANGAN"
π» Jika berkenan mampir juga di karya perdana saya, saat saya baru pertama sekali belajar menjadi seorang penulis, yang berjudul PERSAHABATAN TELAH MENGUBAH TAKDIR, Karya acak kadul tapi sebuah karya kenangan yang tidak akan saya hapus atau tidak akan saya hiatuskan. Walaupun update nya tidak beraturan tetap akan saya lanjutkan hingga tamat.
π» Jangan lupa juga favorit serta follow akun author ya, agar para pembaca tahu kapan author Up dan menerbitkan karya baru.
__ADS_1
π» TERIMAKASIH ATAS SEMUA DUKUNGANNYA, SEMOGA SEHAT, BAHAGIA DAN SUKSES SELALU UNTUK KITA SEMUA. πππ