
Kegelisahan membuat Anyelir terbangun di sepertiga malam, ia lalu beranjak perlahan dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi agar tidak membangunkan sahabatnya. Anye bermaksud mengambil wudhu, ia ingin melaksanakan sholat tahajud berharap mendapatkan ketenangan.
Setelah selesai Anye melanjutkan tidurnya kembali sampai terdengar alarm telephone genggamnya berbunyi menandakan telah masuk waktu subuh.
Anye bersyukur tidak terjadi apa-apa malam ini, lalu ia membangunkan Tina sebelum ia pergi mandi dan melaksanakan kewajibannya seperti biasa.
Selesai keduanya beribadah, pengantar sarapan yang sudah mendapatkan perintah langsung dari Satya pun tiba. Mereka membawa bubur ayam dan susu untuk Anye dan harus segera di makan sebelum MUA datang untuk meriasnya. Anye dan Tina segera menghabiskan sarapan mereka.
Pukul enam pagi kepala pengawal yang menjaga Anyelir mengantar seorang MUA beserta asistennya, mereka menyapa Anyelir,
" Selamat pagi Nona, anda sudah siap untuk kami rias?"
Anyelir hanya mengangguk dan mempersilakan mereka masuk dan Anye mengucapkan terimakasih kepada kepala pengawal yang telah mengantarkan mereka.
MUA mulai melakukan tugasnya membersihkan wajah Anyelir terlebih dahulu lalu meriasnya sesuai dengan permintaan Anyelir dengan riasan natural.
Anye hanya ingin berpenampilan sederhana dan mengenakan cadar dalam acara akad nikahnya hingga tidak membutuhkan waktu yang lama ia pun sudah selesai dirias. Tina dan orang tua Anye juga sudah bersiap, mereka tinggal menunggu mobil pengantin menjemput mereka.
Adam bersama teman-teman Anye juga sudah datang, mereka menemani Anyelir untuk memberi support aga Anyelir tidak gugup.
Akhirnya mobil pengantin yang menjemput mereka pun tiba, kemudian rombongan iringan pengantin segera berangkat menuju kediaman Kakek Permana.
Saat mobil iringan mulai keluar dari hotel Duta Angkasa terlihatlah sebuah mobil Mercedes hitam mengikuti mobil rombongan pengantin dari jarak beberapa meter saja dan ternyata seorang wanita cantik duduk dibalik stir mobil. Dia adalah Nadia yang sejak pagi sudah ada di dalam hotel dengan memakai baju jubah dan menutup wajahnya dengan cadar dan burka, ia menyamar sebagai tamu dengan identitasnya yang baru.
Nadia ingin melihat Anye dari jarak dekat dan ia ingin melihat pernikahan suaminya tanpa harus menunjukkan wajahnya dihadapan semua orang.
Dengan wajah sendu ia terus melajukan mobilnya secara perlahan saat mobil iringan pengantin sudah mulai memasuki kawasan rumah kakek.
Nadia tidak ingin menimbulkan kecurigaan, makanya ia menghentikan mobilnya sekitar tiga puluh meter dari rumah Kakek, kemudian ia mengirim pesan ke Radit bahwa ia telah sampai.
" Dit, aku sudah ada diluar pagar, tolong... aku mohon dengan sangat kamu bisa usahakan aku masuk, Please...Dit 🙏🙏🙏".
" Kamu tunggu disana dulu ya, aku masih berfikir bagaimana bisa membawamu kesini dan mempersiapkan jawaban apa jika nanti ada yang bertanya tentang siapa dirimu".
Setidaknya kini dari kejauhan dan dari balik pohon rindang yg tumbuh dipinggir jalan dekat pagar rumah kakek, Nadia bisa melihat Satya beserta keluarganya menyambut kedatangan Anyelir beserta rombongan.
Walaupun Nadia ikhlas tapi air matanya terus menetes 😭😭😭 tak bisa ia tahan manakala menyaksikan Satya berjalan menjemput calon pengantinnya dan berjalan beriringan membawanya masuk ke dalam rumah untuk melangsungkan ijab qabul.
Penjagaan yang ketat membuat Nadia tidak bisa sembarang masuk ke dalam rumah, hanya kedatangan Radit lah yang ia tunggu agar bisa membawanya masuk.
Radit yang sangat mencintai Nadia tidak tega mengecewakannya, kemudian ia berjalan keluar pagar untuk menemuinya. Radit bertekad membawa Nadia masuk dengan rencana memperkenalkannya sebagai sahabatnya yang baru datang dari desa Temboro Magetan yang merupakan seorang tuna wicara diakibatkan karena kecelakaan.
Saat membawa Nadia masuk tidak ada halangan sedikit pun dari para pengawal sebab dalam acara ini Radit kan yang telah di beri kepercayaan oleh Satya untuk mengontrol keamanan selama acara berlangsung.
__ADS_1
Radit membawa Nadia duduk bergabung dengan yang lain. Mereka hanya memandang heran siapakah tamu yang dibawa Radit, karena mereka hanya mengundang keluarga terdekat dan teman dekat saja, namun karena acara akan segera dimulai belum ada yang sempat mempertanyakan hal itu kepada Radit.
Acara segera dimulai, Satya sudah mengambil posisi duduk berdampingan dengan Anyelir berhadapan dengan penghulu dan Ayah. Sementara Ibu, Mama, duduk disamping Anyelir dan Papa, Kakek, Tirta serta kedua orang saksi pernikahan yang telah ditunjuk duduk disekitar Satya.
Pembawa acara (MC) pun segera membuka acara dengan mengucap salam dan bismillah agar acara berjalan lancar, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, kata sambutan dari kedua belah pihak, lalu khutbah nikah oleh Pak Penghulu dari KUA.
Acara demi acara berjalan lancar kini masuk ke acara puncak yaitu Ijab qobul. Pak penghulu mengarahkan Satya dan Ayah agar berjabat tangan untuk melangsungkan ijab qobul dengan masing-masing satu tarikan nafas.
...Gambar visual proses ijab qabul...
Ayah : " Saya nikahkan engkau ananda Satya Permana bin Adiraja Permana dengan Ananda Anyelir binti Suhardi dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dibayar tunai."
Satya : " Saya terima nikahnya Anyelir binti Suhardi dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dibayar tunai."
Kemudian Penghulu berkata," Bagaimana para saksi, apakah sudah sah dan memenuhi ketentuan syari'at?"
Kedua saksi pun menjawab, " Sah", disusul ucapan sah oleh yang lainnya.
Semua yang hadir pun mengucap Alhamdulillah, termasuk Nadia yang sejak tadi terasa sesak dadanya menahan tangis agar air matanya jangan sampai jatuh, hingga bisa membuat orang-orang yang duduk disekitarnya merasa curiga.
Ketika ucapan qabul dari Satya dan kata sah terucap dari para saksi, Radit pun mengarahkan pandangannya kepada Nadia, ia takut Nadia tidak kuat dan syok menerima kenyataan ini. Namun Radit akhirnya bisa menarik nafas lega karena Nadia ternyata tegar dan hanya menundukkan kepalanya saja untuk mengontrol perasaannya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan do'a, serah terima mahar, penandatanganan dokumen pernikahan, nasehat pernikahan dan sungkeman antara kedua pengantin.
Sangat terlihat kebahagiaan di wajah Kakek saat Satya dan Anye bersujud memohon restunya, Kakek Permana memeluk keduanya seraya berucap,
" Semoga rumah tangga kalian Sakinah, mawaddah dan warohmah, mudah-mudahan segera bisa memberikan cucu buyut untuk kami".
" Aamiin", jawab Satya dan Anyelir bersama- sama.
...Gambar visual Satya yang sedang menandatangani dokumen pernikahan...
...Gambar visual Anyelir berpenampilan sederhana saat pernikahan dan sedang berdoa setelah...
...ijab qabul...
Acara terakhir sebagai penutup, MC mempersilakan seluruh yang hadir untuk menikmati aneka hidangan yang sudah tersedia.
__ADS_1
Kakek bersama Papa Chandra dan Mama Tiara mengajak orang tua Anyelir untuk makan bersama, sedangkan Anyelir dan Satya masih menerima ucapan selamat dari para sahabat mereka.
Tina, Sri, Rita, Diah, Ani dan Lusy memeluk Anyelir, mereka semua menangis meluapkan rasa bahagia dan rasa syukur mereka atas pernikahan Anye.
Sementara Radit memeluk Satya sembari mengucapkan selamat dan membisikkan ditelinga Satya bahwa ia membawa sahabatnya yang bernama Keisya. Ia memperkenalkan Nadia sebagai Keysa yang merupakan tuna wicara akibat kecelakaan dan masih dalam pengobatan, serta baru tiba dari desa Temboro Magetan.
Nadia yang diperkenalkan Radit sebagai Keysa hanya mengatupkan kedua telapak tangannya tanda perkenalan sembari tetap tertunduk.
Satya mengucapkan selamat datang dan terimakasih kepada Keisya tanpa ada rasa curiga sedikitpun siapa orang dibalik jubah dan wajah yang tertutup cadar dan burka itu.
Keisya kemudian memberi selamat kepada Anyelir dengan cara memeluknya. Anye yang tau Keisya datang dibawa oleh Radit merasa penasaran, ia kemudian berucap kepada Radit,
" Kak Radit cepat dong di halalkan mbak Keisya nya, apa lagi yang kak Radit tunggu. Mbak Keisya pasti gadis yang cantik dan lulusan pondok pesantren pula, Kak Radit beruntung bisa mendapatkan mbak Keisya".
" Iya Dit, tunggu apalagi biar kita bisa bareng berangkat bulan madunya", timpal Satya.
Nadia yang mendengar ucapan dari Satya dan Anye tidak tahan lagi, air mata menetes dibalik cadarnya.
Radit mengerti dengan posisi Nadia kemudian ia mengalihkan perhatian dengan cara mengajak Nadia pergi untuk menikmati hidangan.
" Kalian apaan sih, aku dan Keisya hanya teman, kami tidak mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman, ya sudah ya Sat, Nye kami mau menikmati hidangan dulu, kasihan itu Keisya dia pasti lapar karena baru menempuh perjalanan yang jauh", ucap Radit.
" Silahkan Kak Radit, mbak Keisya dinikmati hidangannya", lanjut Anyelir.
Semua yang hadir menikmati hidangan dengan hening, selesai menikmati hidangan mereka sejenak saling bercengkrama lalu satu persatu mulai pamit pulang termasuk Ayah dan Ibu yang ingin kembali ke hotel.
Ayah memeluk Kakek, menitipkan putrinya kepada keluarga Permana kemudian memeluk Satya sembari berucap kembali, " Tolong jaga dan bahagiakan putri Ayah Nak".
Kemudian Ayah dan Ibu memeluk Anye, " Baik-baiklah kamu disini Nak, jadilah anak menantu yang baik bagi keluargamu yang baru ini.
Satya dan Anyelir mengangguk dan mengantar kepergian Ayah dan Ibu hingga mobil yang membawa mereka hilang dari pandangan mata.
Kini hanya tinggal Anyelir bersama keluarga Satya, Mama meminta Satya membawa Anye ke kamarnya agar bisa beristirahat.
" Sat...bawalah Anye beristirahat dia pasti lelah, Mama sudah siapin kamar diatas buat kalian".
" Iya Nak, rumah kami adalah rumahmu jadi jangan sungkan disini ya, Kakek juga mau beristirahat".
" Ayo Tirta tolong antarkan Kakek ke Kamar ", pinta Kakek kepada Tirta.
" Nak, Mama dan Papa duluan ya kami juga mau beristirahat".
Semua sudah pergi hanya tinggal beberapa orang pelayan disana yang sedang membereskan ruangan. Satya kemudian mengajak Anyelir ke kamar mereka yang ada di lantai dua, Satya ingin membicarakan hal yang penting kepada Anyelir.
__ADS_1
" Ayo Nye kita ke kamar, ada hal penting yang akan Mas bicarakan."
" Satya mengulurkan tangannya agar Anye menggandeng tangannya, Satya tidak ingin melihat Anye terjatuh saat menaiki tangga dengan gaunnya yang panjang menjuntai ke lantai sementara sebelah tangan Anye mengangkat gaun agar tidak terinjak saat berjalan".