
Rasa malu harus Anye kesampingkan manakala Satya telah selesai mandi lalu mengajaknya menjalankan ibadah sholat subuh berjama'ah.
Hal ini yang Anye impikan sejak ia masih duduk di bangku SMU, ia memiliki impian mendapatkan suami yang bisa menjadi imam dalam sholatnya.
Satu impiannya sudah terwujud dan mulai hari ini Anye berjanji akan mempertahankan imamnya apapun yang akan terjadi, ia akan berusaha berjuang untuk menumbuhkan cinta dihati Satya.
Setelah melipat sajadah dan mukenahnya Anye bangkit dari duduknya dengan mengucap bismillah harinya akan di mulai dengan menabur cinta lewat memasak dan menyajikan sarapan bagi Satya dan keluarganya.
Anye kemudian pamit ke Satya mau ke dapur, ia ingin membantu Bi Darmi.
" Mas, Anye ke dapur dulu ya!, Anye ingin memasak sarapan."
" Kan ada Bik Darmi Nye yang nyiapin sarapan, kamu berbenah saja, jam 10 nanti kita berangkat."
" Nggak apa-apa Mas, Anye bantu Bibi dulu lagian barang yang akan kita bawa kan tidak banyak hanya pakaian saja."
" Ya sudah terserah kamu Nye, Mas juga mau jogging sebentar."
Anye kemudian pergi ke dapur, dilihatnya Bik Darmi sedang menyiapkan bumbu untuk membuat sarapan.
" Bik, Anye bantuin ya!".
" Eh Non, kenapa sepagi ini Non sudah turun. Biar bibi saja yang masak Non, nanti jika sudah selesai Bibi panggil Non untuk sarapan !".
" Nggak apa-apa lho Bik, Anye sudah terbiasa selesai sholat ke dapur membantu ibu. Ini mau masak nasi goreng ya bi?"
" Iya Non, nasi goreng seafood adalah kesukaan Tuan Satya dan Tuan Tirta, Salad buah untuk Nyonya, sedangkan kesukaan Kakek dan Tuan Chandra adalah pancake pisang."
" Jika begitu bibi potong saja buah, biar yang lain Anye yang siapin ya Bik, insha Allah Anye ingin belajar membuat masakan kesukaan keluarga ini."
" Iya Non."
Kemudian Anye mulai memasak nasi goreng, membuat pancake pisang lalu menyiapkan jus dan susu. Anye melakukannya dengan sangat mahir karena memasak memang salah satu kegemarannya.
Sementara Bik Darmi yang telah selesai membuat Salad lalu membersihkan peralatan dapur. Anye dan Bik Darmi seperti tim yang kompak, sebentar saja pekerjaan dapur sudah selesai mereka kerjakan.
Bik Darmi kagum melihat kemahiran memasak Nyonya barunya, selain cekatan ternyata hasil masakannya sangat enak, puji Bik Darmi dalam hatinya.
Selesai menata hidangan di atas meja makan Anye kembali ke kamar untuk memanggil suaminya yang baru pulang dari jogging dan sedang membersihkan diri.
Kini satu persatu penghuni rumah itu mulai berkumpul di ruang makan, yang pertama datang adalah Tirta, biasanya dialah yang paling terakhir datang. Karena mencium aroma masakan yang menggugah selera membuatnya terbangun tanpa dipanggil oleh Bik Darmi.
" Heemmm... sedap sekali aromanya, tercium sampai ke kamar Tirta, perut Tirta jadi lapar Bik", ucap Tirta.
" Iya tumben nih Aden sudah bangun, biasanya mah Bibik gedor dulu baru den Tirta datang".
__ADS_1
" Habisnya hari ini beda sekali aroma masakan bibi, benar kan Ma yang Tirta bilang!".
" Iya Bik, memangnya bibi praktek resep baru ya Bik, saya juga mencium aroma yang beda", ucap Mama Tiara.
" Sedap aroma pancakenya, Bi Darmi tambahkan resep apa nih hingga wanginya menyebar kemana-mana", tanya Papa Chandra.
Anye yang baru turun mendengar percakapan mereka hanya tersenyum, sedangkan Satya dengan bangga menjawab celotehan keluarganya.
" Siapa dulu yang masak, Ibu manajer resto kita lho...", timpal Satya.
" Kamu Nye yang masak!", tanya Mama Tiara.
" Iya Nyonya, Non Anye subuh tadi sudah ke dapur. Bibi aja sampai kagum lihat kemahiran Non Anye, masakan Non Anye memang top."
" Ah Bibi bisa aja, Anye baru belajar lho Bik!".
Kakek tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya pagi ini, di dalam hati Kakek memuji Anyelir " Pagi pertama mu disini saja sudah membawa kebahagian untuk kami mudah mudahan kehadiranmu terus membawa keberkahan bagi keluargaku Nak".
Mereka menikmati sarapan dengan lahap, Tirta dan Satya menghabiskan sarapannya tanpa tersisa. Tirta mengacungkan jempolnya ke arah Anye begitu suapan terakhir masuk ke mulutnya.
" Masakan Kak Anye Top, bisa kalah nih koki restoran Kak Satya. Buka restoran sendiri aja dech Kak pasti bakalan ramai, ntar restoran milik Kak Anye biar Tirta yang promosiin ke teman-teman, gratis dech biaya promosinya asal Tirta setiap hari boleh makan gratis di resto Kak Anye."
" Kamu jangan coba-coba ya menghasut Kak Anye biar keluar dari resto Kakak, nggak bakalan dech Kakak lepas Kak Anye apalagi jika harus berdekatan denganmu terus", jawab Satya.
" Ah Kak Satya curang, Kak Anye nya nggak boleh maju, iya kan Kek!",
" Aman Kek, sekarang Kakek bisa andalkan Tirta. Cucu Kakek sudah kembali, Tirta pasti semangat💪💪."
Papa Chandra dan Mama Tiara sangat senang melihat perubahan Tirta, ia sudah kembali seperti dulu, ceria dan semangat bekerja.
Satya yang melihat perubahan adiknya juga senang kemudian ia berkata kepada Anyelir,
" Nye, jika kamu butuh bantuan untuk mengambil barang ke tempat kost lebih baik minta tolong Tirta saja biar dia punya kesempatan dan punya alasan untuk bertemu Sri, kemaren kan mereka belum sempat ngobrol."
" Boleh Kak, dengan senang hati Tirta pasti mau, sekarang juga boleh Kak, masalahnya kemaren Tirta lupa minta nomor telephonenya".
" Kamu sih lambat banget, ntar keburu orang lain yang dekati dia. Disana ada cowok tampan lho, bisa saja setelah tidak mendapatkan Kak Anye hatinya sekarang berpaling ke Sri."
" Buruk amat sih doa Kakak, Tirta pasti dapatkan Sri. Kak Anye aja baik pasti teman-temannya juga baik, jadi Tirta harus gerak cepat sebelum keduluan orang lain".
" Oh ya Kek, Ma, Pa...hari ini kami akan pindah ke rumah kami di Grand Sakinah, Insha Allah jam 10 nanti kami berangkat."
" Kenapa buru-buru Nak?", tanya Mama.
" Iya Ma, lusa kan Anye dan mas Satya sudah harus balik ngantor dan sebentar lagi Anye juga akan kuliah jadi biar lebih memudahkan Anye pulang pergi dari rumah, kantor, dan kampus, jika dari sini jauh kan Ma!",
__ADS_1
" betul juga, ya sudah yang penting kalian akur. Menyibukkan diri boleh asalkan jangan lupa buat cucu untuk kami ya, jika terlalu capek takutnya ntar malah susah hamil Nak", ucap Mama Tiara sambil tertawa.
Anye malu mendengar ucapan Mama Tiara, wajahnya bersemu merah, tapi semua itu memang betul, tujuan Satya di restui untuk menikah lagi kan untuk mendapatkan keturunan bukan untuk memperoleh menantu yang sarjana dan berkarir.
" Satu lagi Nak, nanti Mama akan berikan vitamin untuk menambah kesuburan kalian biar kalian bisa segera mendapatkan keturunan, Mama sudah nggak sabar ingin menggendong cucu Mama."
" Iya Ma", jawab Anye malu.
" Sat, jangan terlalu sibuk bekerja, ajaklah Anye berbulan madu sebelum ia sibuk dengan kerjaan dan kuliahnya".
" Tapi Kek saat ini belum bisa, Satya tidak akan tenang jika belum mendapatkan kabar tentang Nadia".
" Baiklah, jika kamu dan Anyelir telah siap cepat beritahu, Tiket, hotel dan keperluan lain untuk bulan madu semua Kakek yang tanggung. Itu hadiah pernikahan dari Kakek".
" Insha Allah Kek, jika kami sudah siap Satya akan segera kabari Kakek, terimakasih ya Kek, Satya dan Anye permisi dulu ke kamar ya Kek, Ma, Pa, kami mau membereskan barang-barang yang akan kami bawa."
" Membereskan barang atau membuat keponakan😜", buatkan keponakan yang banyak ya Kak!", goda Tirta.
Satya yang kesal dengan candaan adiknya kemudian melemparkan kulit pisang kepada Tirta, Tirta mengelak dan terus berlari sambil menjulurkan lidahnya😛, Satya pun mengejar adiknya sekaligus ingin balik ke kamar.
" Kalian masih saja seperti anak-anak", ucap Mama sambil menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruang makan. Kakek diantar kembali ke kamarnya oleh Papa Chandra, tinggallah Anyelir di bantu Bik Darmi membereskan bekas perlengkapan makan mereka.
Setelah semuanya beres Anye menyusul Satya kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang yang akan mereka bawa.
Setibanya di kamar, Anye mengambil koper yang telah disediakan Satya, kemudian menyusun pakaian mereka dengan rapi, Satya yang sedang asyik berkutat dengan laptopnya secara diam-diam memperhatikan Anyelir yang sedang membereskan pakaian.
Di dalam hati, Satya mengakui kecantikan istrinya, namun yang masih membuatnya penasaran seperti apakah tampilan Anye jika tanpa berhijab dan kenapa Anye tidak membuka hijabnya walau Satya kini telah Sah menjadi suaminya. Rasa penasaran ini membuatnya tersenyum sendiri, fikirannya menerawang, menerka-nerka kecantikan seperti apa yang tersimpan di balik hijab istrinya itu.
Selama berkemas Anye tidak berani mengangkat wajahnya hingga pekerjaannya selesai. Satya yang melihat Anye sudah selesai langsung memalingkan wajahnya kembali ke laptopnya, ia tidak ingin ketahuan oleh Anye bahwa ia sedang memperhatikannya.
Satya menormalkan kembali perasaannya lalu menutup laptopnya sembari berucap kepada Anyelir, " Sudah selesai Nye? ayo kita pamit kepada Kakek, Mama dan Papa. Kamu bawa laptop Mas, biar Mas yang mengangkat koper ke dalam mobil."
Setelah berpamitan Satya segera melajukan mobilnya ke jalan raya menuju kompleks perumahan grand Sakinah, disanalah perjalanan suka duka rumah tangga Satya dan Anyelir akan di mulai.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
🌻 VOTE YANG BANYAK YA SAY......
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN RATE BINTANG LIMA
🌻 HAPPY READING♥️♥️♥️ TERIMAKASIH 🙏🙏
🌼Fb Juliatik
🌼IG juliatikj
__ADS_1
🌼WA 089666644746