
Satya pamit kepada Anyelir, sebelum ke kantor dia akan mengunjungi Nadia dulu untuk memastikan keadaannya. Siang ini Satya akan membawa Nadia untuk kembali berobat, Satya nggak mau jika Nadia pasrah dengan penyakitnya.
Nadia yang baru saja selesai sarapan, meminta Bibi dan mang Ujang agar membawanya ke taman di belakang rumah. Sudah lama sekali Nadia tidak melihat bunga-bunga itu mekar, dulu setiap hari dialah yang merawat bunga-bunga itu sendiri, tapi setelah dia terpuruk dengan penyakitnya, semua sudah tidak ada artinya lagi.
"Mang? bunga mawar yang di sudut sana bisa tolong pidahkan kesini! pinta Nadia.
"Baik Non," ucap Mang Ujang sembari mengambil bunga itu dan membawanya ke dekat Nadia.
"Oh ya Bi, setelah Tuan menikahi Anyelir apa pernah Tuan membawanya kesini?" tanya Nadia.
"Tidak pernah Non, mungkin Tuan menghargai Non Nadia, hingga tidak mengizinkan wanita manapun untuk datang kesini. Rumah ini kan penuh dengan kenangan antara Non dan Tuan, jadi mungkin saja Tuan tidak ingin merusak kenangan itu," jawab Bibi.
"Mungkin juga ya Bi, memang aku lihat tidak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti saat aku tinggalkan dulu," ucap Nadia.
"Dulu sebelum Tuan menikah dengan Non Anye, setiap kali pulang kesini, bibi selalu melihat kesedihan di matanya, Tuan berlama-lama tinggal di dalam kamar, memandangi Foto Non Nadia. Bibi sedih Non melihat kondisi Tuan saat itu, tubuhnya makin hari makin kurus, seringkali apa yang Bibi masak tidak pernah Tuan sentuh."
"Iya Bi, makanya aku menghilang agar Tuan mau menikah lagi. Aku tidak mau Tuan kalian ikut terpuruk bersamaku. Sekarang coba Bibi lihat aku, apa yang bisa aku lakukan untuk melayani suamiku. Sedih 'kan Bi? lahir bathin aku tidak bisa melayaninya dengan kondisiku yang kian hari semakin lemah," ucap Nadia sedih.
"Non jangan sedih, Tuan Satya suami yang baik, Tuan menyayangi Non, pasti Tuan tidak pernah mempermasalahkan hal itu," ucap Bibi yang berusaha menghibur.
"Justru karena dia baik Bi, makanya aku akan melakukan apapun yang terbaik untuknya, meskipun aku harus kehilangan hidupku."
"Non tidak boleh berkata seperti itu, Non harus semangat, Non pasti sembuh dan hidup bahagia seperti dulu lagi."
Nadia tersenyum menanggapi ucapan Bibi, karena dia sudah menganggap kesembuhannya suatu hal yang mustahil untuk di harapkan.
__ADS_1
Saat mereka asyik mengobrol Satya datang mendekat, lalu dia memeluk Nadia dari belakang, Bibi yang melihat Tuannya datang segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke dapur.
Satya memetik setangkai bunga mawar merah yang indah lalu memberikannya kepada Nadia sembari berkata, "Wahai Istriku, maukah kamu tetap menjadi istriku untuk selama-lamanya?" ucap Satya sembari berlutut menyerahkan bunga itu bak seorang pria yang sedang melamar kekasihnya.
Nadia tersenyum, dia teringat saat dulu, pertama sekali Satya menyatakan cintanya. Satya juga tidak mau berdiri sebelum mendapatkan jawaban darinya, begitu juga sekarang, Satya tetap berlutut, walau Nadia berusaha menariknya untuk berdiri.
"Jawab dulu dong Yang, kalau tidak di jawab selamanya aku akan berlutut di sini," ucap Satya.
Nadia tahu, Satya juga keras kepala, dia tidak akan bangkit, lalu Nadia mengulurkan kedua tangannya setelah mengambil bunga dari tangan Satya dan dia menjawab, "Baiklah Yang, aku mau tapi tidak bisa lama," jawab Nadia.
Satya bangkit, lalu memeluk Nadia erat, embun pagi dan bunga yang bermekaran di sana menjadi saksi dua insan yang sedang bersedih, berharap waktu akan berhenti dan malaikat kematian tidak akan datang membawa Nadia pergi.
Lalu Satya mencium Nadia dan menggendongnya kembali ke kamar, Satya mau berangkat ke kantor. Dan Satya berjanji sebelum makan siang akan datang menjemput Nadia, untuk makan siang bersama, lalu check-up ke dokter.
Lalu dia melanjutkan ucapannya, "Pasti ini Anyelir yang memasang ya Yang?" tanya Nadia.
Satya pun mengangguk.
Memang benar yang di katakan Nadia, tugas melayani suami yang mengandalkan tenaga, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan bahkan hanya sekedar memakaikan dasi saja tangannya sudah gemetar.
Di dalam hati Satya berjanji akan meminta kepada Anyelir untuk ikhlas, jika setiap pagi yang akan memakaikan dasi sebelum ke kantor adalah tugas Nadia, agar Nadia memiliki semangat kembali bahwa dirinya masih dibutuhkan oleh Satya.
Setelah Nadia memakaikan dasi dan merapikan baju Satya, diapun mencium tangan Satya sembari berucap, "Hati-hati di perjalanan Yang? semoga kebahagiaan dan kesuksesan selalu datang untukmu."
Sebelum mulut Nadia tertutup, setelah mengucapkan doa tadi, Satya pun membungkam mulut Nadia dengan sebuah ciuman, lalu dia berkata, "Untuk kita semua," ucap Satya.
__ADS_1
Nadia tersenyum, lalu dia berkata, "Aku ingin mengenal Anyelir Yang, tapi aku takut, takut kehadiranku malah mengusik kebahagiaan kalian."
"Anyelir itu sepertimu Yang, baik dan bijaksana, makanya aku beruntung memiliki dua istri seperti kalian. Aku akan mencari waktu yang tepat agar kalian bisa bertemu," ucap saya, lalu mencium kening Nadia dan pamit untuk pergi ke kantor.
Satya pergi meninggalkan Nadia setelah mengucapkan salam, Nadia memperhatikan Satya dari balik jendela kamar, lalu dia melambaikan tangan dan senyum manisnya pun mengiringi kepergian Satya.
Radit dan Tina sudah sampai di parkiran hotel saat Satya tiba di sana, lalu Radit bertanya tentang kondisi Nadia dan tentang sikap Anyelir.
Dia khawatir salah satu dari mereka tidak bisa menerima dan Radit membayangkan bagaimana yang terjadi di masyarakat pada umumnya tentang rumitnya kehidupan berpoligami akan juga terjadi pada kehidupan Satya.
"Satya mengelus dada dan berkata, "Alhamdulillah, sejauh ini aman Dit, Inshaallah kedepannya mudah-mudahan tetap seperti ini," ucap Satya.
"Iya ini Bos, Kak Radit sejak di rumah sudah mengkhawatirkan dan membayangkan yang aneh-aneh. Bos yang menjalani kehidupan berpoligami malah Kak Radit yang dihantui rasa takut."
"Serius Sat aku takut! soalnya keduanya sama-sama sangat membutuhkan perhatianmu. Ibu hamil biasanya lebih sensitif perasaannya dan pastinya Anye ingin selalu dimanja," ucap Radit sejenak berhenti untuk menarik nafas.
Kemudian Radit melanjutkan ucapannya, "Sedangkan Nadia yang jelas kondisinya lemah membutuhkan bantuan dan perhatian lebih darimu. Bagaimana jika kondisi Nadia nanti semakin memburuk? kamu pasti akan kualahan Sat? jadi tidak mungkin menempatkan mereka di dua rumah dan dirimu juga tidak mungkin 'kan hanya fokus ke satu istri?" ucap Radit.
Perkataan Radit berhasil membuat Satya takut, sejenak Satya terdiam memikirkan semuanya lalu Satya berkata, "Aku pasrahkan semuanya kepada Allah Dit, aku hanya manusia biasa, aku akan berusaha adil menyayangi mereka. Allah lah yang maha tahu mana yang terbaik untuk kami."
Bersambung.......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys....vote, like, coment dan rate bintang limanya 🙏😉
🌻 Muhasabah diri : Berusaha, berdo'a dan pasrahkan hasil semuanya kepada Allah. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.
__ADS_1