
Radit kembali kerumah sakit untuk menggantikan Satya menemani kakek, Saat Radit kembali Satya telah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia akan menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum membawa Anyelir ke rumah sakit, berkas yang membutuhkan tanda tangannya sudah menumpuk diatas meja kerja karena ia sering keluar kantor untuk menemani kakek.
" Kek, Satya pamit dulu, Kakek harus banyak istirahat biar cepat pulih, pokoknya kakek jangan khawatirkan apa-apa lagi semua biar Satya yang tangani, jika butuh sesuatu minta tolong Radit ya Kek, dia akan menggantikan Satya lagi untuk menemani kakek".
" Kakek jangan diajak ngobrol lagi ya Dit, biarkan kakek istirahat, biar ketika kami nanti datang kondisi kakek lebih fit".
" Siaap bos... jangan khawatir, sudah sana pergi Anyelir pasti dah nungguin kamu tuh".
" Iya nak, kamu pergilah. Pasti pekerjaan kantor kamu juga menumpuk gara-gara nemani kakek terus, hati-hati ya di jalan, jangan lupa salam kakek untuk calon cucu menantu".
" Iya kek, insha Allah nanti Satya sampaikan".
Setelah berpamitan kepada Kakek dan Radit, Satya segera melajukan mobilnya ke jalan raya menuju kantor. Saat berhenti di lampu merah Satya seperti melihat Nadia istrinya berjalan menyeberang diantara kenderaan-kendaraan yang lagi berhenti. Satya membuka kaca depan dan menjulurkan kepalanya untuk mencari keberadaan bayangan istrinya tadi dan melihat-lihat dari spion tapi tetap tidak menemukannya.
Dia sangat penasaran, jika dia keluar dan meninggalkan mobil untuk mencari orang yang seperti istrinya jelas tidak mungkin karena posisinya sedang berada di area lampu merah, bisa-bisa pengendara lain dibelakangnya marah atau pak polisi akan memberikan surat tilang.
Setelah lampu lalu lintas kembali hijau iapun melajukan mobilnya dan sambil terus memikirkan kejadian tadi. Setelah tiba di kantor ia mengambil telephone genggamnya, mencari nomor kontak istrinya kemudian melakukan panggilan.
Setelah panggilan tersambung ia melihat istrinya sedang rebahan di kamarnya.
" Hallo....iya kak Satya, apa kabar? jawab istrinya yang terlihat di layar handphonenya".
" Kamu lagi dimana yang?"
" Kok kak Satya nanya seperti itu, Seperti yang kakak lihat aku lagi rebahan nih dikamar kita di Amerika", Nadia pun mengarahkan layar handphonenya agar Satya melihat sekeliling kamar mereka tempat mereka tinggal saat di Amerika.
Satya pun terdiam, kemudian berkata sendiri "Nadia saat ini masih di Amerika jadi yang aku lihat tadi siapa ya, apa mungkin ada wanita yang mirip Nadia disini atau penglihatanku yang mulai bermasalah", semakin di fikir Satya pun semakin merasakan sakit dikepalanya.
Sementara Nadia yang masih memperhatikan suaminya dari balik layar handphonenya mulai memanggil suaminya.
" Kak...kak Satya...kak, ada apa dengan kakak. Nadia perhatikan sejak tadi kenapa kakak seperti sedang bingung, apa ada masalah di sana kak, ayo cerita ke Nadia".
__ADS_1
" Nggak ada apa-apa kok yang, kali kakak kecapek an saja karena banyak pekerjaan yang tertunda sejak menemani kakek".
" Oh ya kak, bagaimana keadaan kakek sekarang?"
" Alhamdulillah, kondisi kakek sudah stabil paling sekitar dua atau tiga hari lagi kakek sudah boleh pulang".
" Alhamdulillah, syukurlah ya kak...mudah-mudahan kakek segera sembuh. Oh ya kak titip salam ya buat kakek dan tolong sampaikan ke kakek Nadia nggak bisa jenguk, Nadia belum siap untuk pulang".
" Iya nanti kakak sampaikan".
" Udah dulu ya kk, Nadia tutup dulu ya telephonenya, Nadia mau ke rumah sakit lagi untuk check up".
" Ya sudah hati-hati ya, jaga diri baik-baik di sana yang. Aku sangat merindukanmu, cepatlah pulang kerumah kita", pinta Satya.
" Jaga diri kakak juga disana ya, Nadia pasti kembali kak jika Nadia sudah benar-benar sembuh. Nadia juga sangat merindukan dan mencintai kakak, Assalamu'alaikum kak". Nadia buru-buru menutup telephonenya, ia tidak ingin Satya melihat air mata yang hampir jatuh dari kelopak matanya. Setelah panggilan itu iya tutup, Nadia pun menangis terisak-isak menumpahkan semua kesedihannya di balik bantal yang ia tutupkan diwajahnya.
Satya yang masih terlihat bingung kemudian melanjutkan pekerjaannya, membaca dan menandatangani berkas-berkas yang ada di mejanya.
Ketika pekerjaannya hampir selesai, terdengar suara ketukan pintu dan Satya berkata,
" Ternyata Anyelir yang muncul dari balik pintu".
" Silahkan duduk Nye, tunggu sebentar ya biar aku selesaikan dulu pekerjaanku".
" Bagaimana keadaan kakek hari ini Sat, apa kondisinya belum stabil juga?".
" Alhamdulillah kakek sudah mulai membaik, kamu yang menjadi penyemangat untuk kesembuhannya Nye".
" Lho...kok aku, kami kan belum pernah ketemu Sat mana mungkin bisa begitu?".
" Memang kalian belum pernah ketemu, tapi ketika aku mengatakan sore ini akan mengajakmu menemuinya eh...kondisi kakek semakin membaik dan saat aku mengatakan kita akan segera menikah minggu depan rona wajah kakek langsung berubah, terlihat kebahagiaan disana".
__ADS_1
" Minggu depan Sat? kamu bercanda kan?".
" Aku serius Nye, apa kamu keberatan jika kita menikah minggu depan", tanya Satya kembali.
Anye sejenak terdiam, kemudian melanjutkan ucapannya.
" Apa tidak terlalu cepat Sat, kita kan belum meminta restu ayah dan ibu. Aku ingin restu dan ridho mereka Sat sebelum menikah karena ridho mereka juga ridhonya Allah. Aku berharap dengan keridhoan yang mereka berikan bisa membuat rumah tangga kita bahagia nantinya".
" Kamu jangan khawatir Nye, aku ingat kok dengan janjiku, besok pagi kita menemui kedua orang tuaku dulu di kediaman kakek, baru kita lanjut berangkat ke kampung halaman kamu Nye. Selain meminta restu aku ingin melamarmu langsung kepada Ayah dan Ibumu".
" Tapi mungkin untuk saat ini hanya kita berdua saja yang berangkat Nye paling nanti aku akan minta tolong Pak Edi untuk menyetir. Sementara Kakek dan orang tuaku belum bisa ikut, mungkin lain waktu kita bisa mengajak mereka jalan-jalan kesana agar mereka juga tahu kampung halaman menantu dan besan mereka".
" Dan Mengenai surat perjanjian kita, lusa baru pengacara akan mengirimnya langsung kepadamu dan kamu bisa pelajari dulu isinya sebelum kamu menandatanganinya. Surat itu harus kamu berikan kepadaku sebelum aqad nikah kita laksanakan".
" Kamu jangan takut Nye, surat itu hanya mengatur tentang hak-hakmu bila terjadi sesuatu yang buruk terhadapku ataupun terhadap rumah tangga kita nantinya. Satya menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, " Suatu saat kamu pasti akan mengerti kenapa aku melakukan semua ini".
Anye tidak mengatakan apapun, karena ia memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Satya. Mungkin ada suatu rahasia yang masih disimpan Satya yang saat ini belum ingin dikatakannya kepada Anyelir.
Anyelir hanya berharap dalam hatinya keputusan yang diambilnya ini tidak salah, Dia hanya berdoa mudah-mudahan Satya akan menjadi imam yang baik baginya dan rumah tangganya akan langgeng hingga maut memisahkan mereka.
Satya telah menyelesaikan semua pekerjaannya kemudian ia menelphone sekretarisnya yang bernama Rina agar segera datang ke ruangannya untuk mengantarkan sesuatu yang telah di pesannya, tidak menunggu waktu yang lama Rina pun datang membawa dua buah paper bag dan segelas jus jeruk kesukaan Anyelir.
Rina yang melihat Anyelir disana merasa heran. Memang saat Anyelir datang ke ruangan Satya Rina tidak mengetahui karena ia sedang tidak berada di tempat, ia sedang keluar membeli apa yang diperintahkan Satya kepadanya.
" Selamat siang pak, ini pesanan yang Bapak minta".
" Oh terimakasih Rina, tolong berikan semuanya kepada Anyelir".
Rina pun semakin bingung begitu juga dengan Anyelir.
Satya yang tahu Rina dan Anye bingung kemudian ia menjelaskan semuanya," Rina, perlu kamu tahu Anyelir adalah calon istri saya dan kami akan segera menikah. Saya menyuruhmu membelikan itu semua untuk Anyelir pakai".
__ADS_1
Rina hanya mengangguk, dan masih merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, kemudian iapun permisi meninggalkan ruangan Satya untuk kembali ke ruangannya.
Satya bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Anyelir, minumlah Nye... jus itu untukmu, kamu pasti haus sejak tadi menungguku bekerja dan setelah itu kamu langsung bawa paper bag itu ke ruang pribadi saya, gantilah pakaianmu disana dengan yang ada di dalam paper bag itu.