
Nadia sudah berdandan sangat cantik, tapi tidak ada yang tahu selain dokter, perawat dan juga Satya, jika di balik hijab indah yang di pakainya terdapat sebuah kepala tanpa mahkota.
Mata indah Nadia memancarkan kebahagiaan saat melihat arloji di tangan sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, itu menandakan jam makan siang segera tiba dan pastinya sesuai janji sebentar lagi Satya akan datang menjemput dirinya.
Tinggal dan dekat dengan orang tercinta sangat berpengaruh besar terhadap kondisi mental Nadia. Dia lebih bersemangat untuk menjalani sisa hidup yang menurutnya tidak akan lama lagi.
Apalagi cinta dan perhatian Satya tetap sama walau Nadia sekarang bukanlah satu-satunya wanita yang ada di hidup Satya.
Satya sudah membereskan pekerjaannya yang menumpuk, kini dia ingin segera meninggalkan kantor untuk menjemput Nadia, tapi ketika hendak masuk ke dalam mobil ponselnya berdering.
Dia tidak mengindahkan suara deringan ponsel, karena waktu yang sudah mepet untuk makan siang, Satya tidak ingin terlambat menjemput Nadia.
Ponsel Satya terus berdering, hingga membuatnya penasaran, lalu Satya mengeluarkannya dari saku, ingin melihat siapa sebenarnya yang sedang memanggil.
Tertera di sana nomor ponsel Anyelir, hingga membuat Satya heran, nggak biasanya Anyelir melakukan panggilan hingga berulang-kali. Jika sekali saja panggilannya tidak terjawab oleh Satya, dia pasti akan menunggu karena Anye pasti menduga jika Satya sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu.
Satya menjadi tidak tenang, ketika ponselnya kembali berdering, masih juga tertera di sana nomor Anyelir, lalu diapun menerima panggilan tersebut, Satya kaget saat mendengar bukan suara Anyelir tapi Bi Imah lalu dia berkata, "Hallo Bi, ada apa? di mana Anye? kenapa ponsel Anye bisa ada sama Bibi?" tanya Satya yang merasa cemas.
"Anu Tuan, Non...Non Anye Tuan!" ucap Bi Imah panik hingga dia susah untuk menjelaskan yang terjadi.
"Tenang Bi, pelan-pelan ngomongnya, ada apa dengan Anye," ucap Satya berusaha menenangkan Bi Imah, padahal dia sendiri juga cemas.
"Non Anye sakit Tuan, perut Non sakit, saat ini Non sedang menangis," ucap Bi Imah.
"Baik Bi, tolong jaga Anye ya Bi, ini saya dalam perjalanan pulang," ucap Satya sembari menutup ponselnya.
Satya melajukan mobilnya dengan kencang, hingga menerobos lampu merah, syukurnya tidak ada polisi yang bertugas disana, hanya ada kamera CCTV pemantau jalan.
Perasaan khawatir akan terjadi apa-apa terhadap Anyelir dan bayinya, membuat Satya lebih mengutamakan kondisi darurat dengan mengesampingkan janjinya terhadap Nadia dan harus secepatnya sampai di rumah untuk membawa Anye ke rumah sakit.
Bi Imah yang mendengar suara mobil Satya sampai, segera membukakan pintu. Satya tidak mempedulikan sepatunya, ia berlari ke kamar untuk melihat kondisi Anyelir. Di sana terlihat Anye sedang terbaring merintih kesakita sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ayo Yang kita ke rumah sakit?" ucap Satya sembari menggendong Anyelir.
Berat badan Anye kian bulan semakin bertambah hingga membuat Satya kuwalahan menggendongnya. Bi Imah membantu Tuannya dengan membukakan pintu mobil. Setelah menidurkan sang istri di bangku tengah mobil, Satya segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Sementara Nadia yang sudah menunggu Satya sejak tadipun gelisah, selama ini Satya tidak pernah mengingkari janjinya, tapi kenapa saat ini dia belum juga sampai.
Nadia mencoba menghubungi Satya, panggilannya tersambung tapi tidak diangkat. Dia mencobanya lagi berulang-ulang tapi hasilnya tetap sama.
Satya tidak mempedulikan deringan ponselnya yang ada dalam pikirannya sekarang adalah fokus menyetir sembari sesekali melihat ke belakang dari kaca spionnya, memastikan kondisi Anyelir.
Nadia kecewa, lalu dia mencoba menghubungi nomor telephone di meja kerja Satya tapi tidak juga ada yang mengangkat. Kemudian dia menghubungi Radit dan tersambung, Raditpun mengangkat panggilan dari Nadia.
"Assalamualaikum, hallo Nad, apa kabar? tumben kamu menelephoneku," ucap Radit.
"Maaf Dit, aku hanya ingin bertanya, memangnya Kak Satya kemana ya Dit? kenapa ku telephone ponselnya berdering tapi tidak diangkat dan ku telephone kantor juga sama nggak diangkat," tanya Nadia.
"Oh ya Nad, bukankah kalian janji mau makan siang? apa Satya tidak jadi datang Nad?" tanya balik Radit.
"Iya Dit, Kak Satya janji ngajak aku makan siang di luar dan setelah itu akan mengantarku check-up ke dokter, eh... sampai sekarang belum juga datang Dit," ucap Nadia cemas.
Nadia pun menutup panggilannya, dia kembali ke kamar sembari menunggu kabar dari Radit.
Radit berusaha menghubungi Satya tapi sama tidak ada respon, kemudian dia menelephone sekretaris Satya dan ternyata menurut sekretarisnya Satya sudah keluar dari kantor sebelum jam makan siang.
Akhirnya Radit bingung, ada apa dan kenapa dengan Satya hingga mengingkari janjinya kepada Nadia.
Kemudian Radit teringat Anyelir, dia mencoba menelephone Anyelir ingin memastikan apakah Satya ada di rumahnya atau tidak tapi ternyata juga sama tidak ada jawaban.
Bagaimana mau ada jawaban, sementara ponsel Anye saat ini ada di tangan Satya.
Satya terus menyetir mobilnya dengan kencang hingga sampailah mereka di rumah sakit. Tanpa menunggu perawat membawakan brankar, Satya langsung menggendong Anye ke arah poliklinik kandungan.
__ADS_1
Dia bersyukur, dokter kandungan Anyelir sedang ada di tempat, lalu Satya berkata, "Dok, tolong istri saya, dia kesakitan dan menurutnya ada sedikit flek saat buang air kecil. Tolong ya dok, kami tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap bayi kami," ucap Satya panik.
"Sabar ya Pak? tenangkan diri Bapak agar istri tidak stress karena Bapak panik. Saya akan periksa dulu apa sebenarnya penyebab sakit perut istri Bapak," ucap Pak dokter.
Lalu dokter memeriksa perut Anye, ternyata Anyelir mengalami masuk angin duduk dan ada kontraksi janin hingga menimbulkan sedikit flek.
Menurut dokter, masuk angin pada ibu hamil disebabkan oleh rahim yang semakin membesar. Rahim yang semakin membesar akan terus menekan rongga perut. Efeknya, pencernaan pun semakin lambat sehingga gas di perut semakin banyak.
Beberapa tanda ibu hamil masuk angin adalah:
Sensasi terbakar di ulu hati
Makanan naik ke arah mulut
Perut begah dan kembung
Mual muntah
Sakit perut.
Dokter lalu memberikan suntikan vitamin dan obat yang aman bagi ibu hamil, dokter menyarankan agar Anye banyak minum air putih, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, makan-makanan tinggi probiotik serta minum air rebusan jahe.
Satya dan Anye akhirnya bisa tenang, tapi sebelum mereka pulang dokter mengingatkan hal penting, Anyelir harus banyak istirahat, jika dia sampai kelelahan ditakutkan akan terjadi flek kembali yang bisa membahayakan janin dan Satya di minta oleh dokter agar sementara berpuasa, tidak meminta jatahnya dulu sampai Anyelir benar pulih.
Bersambung.......
🌻 Terimakasih ya kakak-kakak reader yang telah memberikan dukungannya, jangan lupa dukung terus yuk, vote, like dan coment ya ......🙏🙏🙏
__ADS_1
🌻 Sudah update juga ya kak EPISODE 13. KARMA CINTA untuk karya saya yang berjudul" DARINYA KU TAHU ARTI CINTA DAN KEHILANGAN ". Setelah ini lanjut pengerjaan Update untuk karya " MENIKAHI CUCU BILLIONER " EPISODE 63 yang sudah mendekati finish dan Inshaallah nanti malam lanjut update " PERSAHABATAN TELAH MENGUBAH TAKDIR" untuk EPISODE 46.
🌻 Happy reading ♥️♥️♥️ semoga kita tetap di beri kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan. Aamiin.....