Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 111. Menebus kesalahan


__ADS_3

"Bagaimana sekarang Nye, apa masih terasa sakit perutnya?" tanya Satya saat mereka sudah berada di mobil.


"Alhamdulillah sudah agak mendingan Mas, mungkin obat yang di suntikkan sudah mulai bekerja," jawab Anye.


"Alhamdulillah, kalian baik-baik ya Nak di dalam sana, jangan buat kami khawatir," ucap Satya sembari mengelus perut Anye.


Janin di dalam perut Anye pun bergerak-gerak mendapat elusan dari Papanya. Satya dan Anyepun tertawa, setelah merasa aman dan tenang, Satya lalu melihat arloji di tangannya dan diapun menepuk keningnya sendiri karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.


Anye yang melihat Satya menepuk kening pun bertanya, "Kenapa Mas?"


"Mas sampai lupa Nye, memberi kabar kepada Nadia, kami tadi berencana untuk makan siang sekaligus pergi check-up ke dokter, karena panik mikirin kalian jadi lupa telephone Nadia," ucap Satya.


"Oh...telephonelah Mbak Nadia sekarang Mas, kasihan Mbak Nadia pasti cemas dan kecewa atau Mas langsung kesana saja biar Anye pulang naik taksi," ucap Anye.


"Iya Nye, Mas akan telephone sekarang."


Satya mengambil ponselnya, dia melihat di sana berpuluh panggilan tak terjawab dari Nadia dan juga Radit. Lalu Satya mengklik nomor Nadia, dan panggilan darinya pun di terima tapi tidak ada suara yang terdengar.


Kemudian Satya mengucap salam, "Assalamualaikum Yang, Aku minta maaf baru sempat menghubungimu, ada hal darurat yang terjadi, sebentar lagi aku kesana ya? untuk menjelaskan semuanya," ucap Satya.


Tapi tetap tidak ada jawaban sepatah katapun dari Nadia, kemudian Satya berbicara lagi, "Hallo Yang, jangan marah ya? aku minta maaf, aku salah, bukan maksudku untuk mengabaikanmu! tunggu aku ya Nad? sebentar lagi aku sampai," ucap Satya.


sembari menutup ponselnya.


Satya tahu Nadia sedang marah, lalu dia melanjukan mobilnya dengan kencang, hendak mengantar Anyelir dulu baru ke rumah Nadia.

__ADS_1


Melihat kecemasan di wajah Satya membuat Anyelir merasa bersalah, lalu dia berkata, "Mas? maafkan Anye ya, karena Anye Mbak Nadia jadi marah sama Mas," ucap Anyelir.


"Nggak ada yang salah Nye, hanya Mas saja yang belum bisa mengontrol kepanikan hingga lupa memberi kabar kepada Nadia. Pasti nanti Nadia akan mengerti kalau Mas sudah jelaskan semuanya," ucap Satya.


"Kamu jangan berpikir yang macam-macam dan ingat pesan dokter Nye, kesehatan dan keselamatan mereka lebih penting dari apapun termasuk diri Mas sendiri," ucap Satya sembari mengelus kembali perut Anyelir.


Anye terdiam, dia tahu Satya sangat menyayangi calon bayinya, jadi Anye berjanji akan menjaga kandungannya hingga tidak lagi membuat Satya khawatir.


Mereka tiba di rumah, Bi Imah menyambut kedatangan Anye dan Satya dengan mengucap syukur bahwa tidak terjadi hal yang serius terhadap kandungan Anyelir.


Setelah mengantar Anyelir ke kamar dan meminta Bi Imah membuatkan air jahe untuk Anye, Satya pun pamit. Dia berpesan, jika ada sesuatu yang penting agar menelephonenya, karena malam ini Satya akan menginap di rumah Nadia.


Anye pun mengangguk, lalu Satya mencium kening dan perut Anye sembari pamit kepada anak-anaknya dan berpesan agar mereka jangan usil supaya maminya bisa beristirahat.


Anye mencium tangan Satya, lalu melambaikan tangan melepas kepergian suaminya.


Mang Ujang pun menjawab, "Tidak Tuan, Nyonya hanya di kamar saja dan belum makan siang kata Bibi. Kami khawatir Tuan, tapi Nyonya bilang nanti makan siangnya bareng Tuan saja," ucap Mang Ujang.


"Oh..., terimakasih ya Mang, saya akan menemui Nadia dulu," ucap Satya sembari berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari Nadia.


Satya membuka pintu kamar dan syukurnya tidak di kunci oleh Nadia. Terlihat di sana Nadia sedang berbaring membelakangi tempat Satya berdiri.


Satya pun mendekatinya, memeluk dan menciumnya.


Masih terlihat sisa air mata yang membasahi pipi dan di sudut mata Nadia yang terpejam. Satya menghapusnya, lalu kembali mencium sembari mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


"Sayang? bangunlah, aku minta maaf, aku salah, aku panik karena Bibi di rumah Anye telephone, Anye sakit perut dan mengeluarkan flek, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak-anak yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Saking paniknya aku jadi lupa memberi kabar ke kamu, karena aku harus membawa Anye ke rumah sakit. Sekarang aku mohon bangunlah, terserah kamu akan memberikan hukuman apa untukku, aku akan terima," ucap Satya memohon.


Nadia membuka mata, lalu dia membalikkan tubuhnya hingga menghadap Satya, mata Nadia terlihat sembab karena sejak tadi dia menangis. Dandanannya juga terlihat berantakan, hijabnya sudah mereng kesana kemari.


Satya memegang wajah sang istri, mencium matanya yang sembab sembari kembali meminta maaf tapi Nadia memukul dada Satya berulang-ulang untuk meluapkan rasa kecewanya.


Kemudian Nadia berkata," Aku memaafkan Kakak, aku tahu keselamatan anak-anak lebih penting, cuma yang aku kesalkan kenapa Kak Satya tidak memberi kabar atau mengangkat telephone dariku. Aku cemas Kak! aku takut terjadi apa-apa dengan Kakak di jalan, karena aku telephone ke kantor juga tidak diangkat. Aku menelephone Radit dan sekretaris Kakak bilang bahwa Kakak telah keluar kantor sebelum jam makan siang," ucap Nadia sambil menahan isak tangisnya.


Satya kemudian memeluk Nadia, "Iya Yang, maafkan aku ya? aku salah belum bisa mengendalikan kepanikanku. Ayo kita makan Yang! perutku lapar karena aku belum makan, kamu juga pasti belum makan 'kan?" tanya Satya.


Nadia mengangguk, dan dia berkata, "Tapi kita makan di rumah saja ya Kak? aku malu makan di luar, lihatlah mataku sembab, nanti malah jadi pusat perhatian orang," pinta Nadia.


Baiklah kita makan di rumah, untuk menebus kesalahanku, aku akan memasak untukmu dan nanti malam kita pergi nonton ya, sudah lama sekali 'kan kita tidak pernah ke bioskop," ucap Satya.


"Serius Kak? kita pergi nonton?" tanya Nadia yang merasa senang.


"Serius dong?" jawab Satya sembari mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


Kemudian Nadia menggandeng tangan suaminya ke dapur, karena masakan yang di masak Bibi masih utuh dan haripun sudah sore, Nadia melarang Satya untuk memasak. Mereka hanya membuat jus jeruk, lalu menyantap hidangan yang tadi siang di masak oleh Bibi.


Setelah selesai makan, Nadia mengajak Satya duduk di ruang keluarga. Nadia ingin Satya memutar video pernikahan mereka dan video kebahagiaan mereka saat liburan terakhir sebelum mengetahui hasil laporan dokter tentang penyakit Nadia.


Satya kemudian memutar video itu, keduanya tertawa bahagia seakan sedang kembali ke masa lalu, dimana hanya ada kebahagiaan tanpa memikirkan kesedihan akan penyakit Nadia.


Bersambung.......

__ADS_1


🌻 Terimakasih atas semua dukungan para reader setiaku, jangan lupa tinggalkan jejaknya lagi ya Kakak-Kakak, vote, like dan komentarnya, aku tunggu lho.....🙏🙏🙏


🌻 Kepercayaan dan saling memaafkan adalah salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga. Benar begitu moms.....???


__ADS_2