
Pengunjung cafe semakin ramai, mereka terus berdesak-desakan ingin menyaksikan pertunjukan artis kebanggaan mereka dan sebagian besar ingin meminta tanda tangannya. Satya, Anye dan Adam tidak ingin berlama-lama lagi disana, mereka segera meninggalkan cafe setelah selesai menyantap makan mereka.
Kini ketiganya telah sampai di kost mamanya Adam, Satya yang masih penasaran dengan sosok bayangan Nadia ingin cepat kembali ke kantor untuk mengambil handphonenya dan ingin menelphone istrinya. Selain itu masih ada sedikit pekerjaan lagi yang harus diselesaikannya sebelum mereka besok berangkat ke kampung halaman Anyelir.
Satya segera berpamitan kepada Anyelir dan memintanya agar segera masuk dan beristirahat sebab besok pagi sekitar jam tujuh ia akan menjemput Anyelir kembali, kemudian ia berpamitan kepada Adam lalu buru-buru meninggalkan tempat itu.
Setelah melihat mobil Satya pergi, Anyelir berpamitan ke Adam hendak masuk dan ingin beristirahat tapi Adam mengatakan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
" Nye, boleh aku meminta waktumu sebentar?"
Anye segera membalikkan badannya kembali menghadap Adam.
" Iya....ada apa Dam?"
" Ada yang ingin aku katakan Nye", lanjut Adam.
Kemudian Adam meminta Anye untuk duduk dan ia mulai membuka pembicaraan.
" Sebenarnya selama ini ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu Nye, tapi kita selalu tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. Aku ingin lebih dekat dan mengenalmu Nye", sejenak Adam pun terdiam.
" Maksud kamu apa Dam?"
" Sejak pertama aku datang dan melihatmu aku mengagumi kamu Nye, aku ingin lebih dekat, lebih mengenalmu dan berharap bisa memperjuangkan cintamu, tapi tidak pernah ada kesempatan. Kadang aku sengaja menunggumu pulang agar bisa ngobrol sejenak tapi ternyata juga tidak ada kesempatan karena Satya terlalu memprotekmu".
Anye terkejut mendengar pengakuan Adam tapi ia tetap berusaha tenang, kemudian ia berkata,
" Satya memang seperti itu Dam, dia ingin aku cepat beristirahat agar kinerjaku di hotelnya tidak terganggu karena aku kurang istirahat", Anye memberi alasan, ia tidak ingin Adam mengetahui kecemburuan Satya.
" Oh...tapi maaf ya Nye, jika aku boleh tahu apa benar kamu berhubungan dengan Satya karena terpaksa?"
Anye menatap Adam heran," Maksudmu apa Dam?"
"Aku mendengar cerita tentang awal mula kamu dan Satya bisa dekat dari teman-temanmu. Semua karena terpaksa kan Nye bukan karena kalian saling cinta?"
Anye terdiam mendengar pertanyaan Adam, ternyata diam-diam Adam telah mencari informasi tentang hubungannya dengan Satya. Anye tidak bisa berbohong lagi karena Adam mendapatkan info dari teman-teman terdekatnya. Akhirnya Anye menjawabnya,
__ADS_1
" Iya Dam awalnya memang seperti itu, tapi setelah kami sering jalan bareng sekarang kami merasa lebih dekat, lebih saling kenal dan mulai terasa ada kecocokan", Anye mengatakan sejujurnya tentang perasaannya, ia tidak ingin memberi harapan kepada Adam. Dalam hati Anye berkata ternyata selama ini kecemburuan Satya bukan tanpa alasan, ia lebih jeli memandang situasi ketimbang Anyelir.
" Jika kamu menjalani semua itu karena ancaman atau keterpaksaan aku bisa membantumu lepas dari masalah itu Nye, aku akan membayar semua yang telah Satya berikan ke kamu atau kepada orang tuamu sebelum semuanya terlambat. Dan aku dengar lagi kalian akan segera menikah, apa kamu yakin Nye ingin menjalani rumah tangga tanpa ada dasar cinta? apa kamu yakin nantinya bisa bahagia apalagi posisimu hanya sebagai yang kedua?
Deg....mendengar perkataan Adam membuat hatinya tertohok dan pertanyaan itu terasa menusuk sakit sekali di dalam hatinya. Memang benar semua yang di katakan Adam, Anye tidak dapat menyangkalnya tapi ia sudah memutuskan, restu sudah di dapat, tinggal selangkah lagi Dia akan menjadi Nyonya Satya. Anye sudah memantapkan hatinya jalan ini mungkin pilihan Allah yang terbaik untuk hidupnya dan ia tidak akan mundur, ia akan berusaha mendapatkan cinta Satya walau mungkin sulit.
Melihat Anye yang terdiam membuat Adam melanjutkan ucapannya, "Aku tidak akan memaksamu Nye, aku hanya ingin kamu memberikan kesempatan kepadaku agar kita bisa saling kenal, saling memahami dan mungkin suatu saat kita bisa saling mencintai. Aku tidak meminta imbalan apapun nantinya jika kamu memang tidak bisa juga mencintaiku. Aku murni ingin membantumu agar tidak terjebak dalam situasi sulit yang mungkin akan kamu sesali nantinya".
" Maaf Dam...maafkan aku, aku tidak mungkin mundur. Aku tidak hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, tapi ada kebahagiaan seseorang yang kupertaruhkan. Seseorang yang telah memohon dan menitipkan kebahagiaannya serta semangat hidupnya kepada kami. Hidupku bukan hanya murni untuk mengejar kebahagiaanku saja, tapi aku juga ingin membahagiakan orang lain".
Mendengar kemantapan hati dalam jawaban Anyelir membuat Adam tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan dia mengakhiri obrolan mereka dengan menawarkan persahabatan.
" Baiklah Nye, jika itu memang sudah keputusanmu aku tidak bisa memaksamu. Jika kamu suatu saat membutuhkan bantuan atau sekedar teman cerita, jangan segan-segan, aku akan selalu ada untukmu".
Setelah menyudahi ucapannya, Adam segera mengajak Anyelir masuk untuk beristirahat.
" Ayo Nye kita masuk, hari sudah malam kamu butuh istirahat bukankah besok kamu akan melakukan perjalanan ke kampung halamanmu. Jangan kamu fikirkan semua omonganku, bolehkah setelah ini aku tetap menjadi sahabatmu Nye?"
Anyepun mengangguk, kemudian mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.
Alarm telphone genggam Anye berdering menandakan subuh telah tiba, ia dan teman-temannya melaksanakan aktifitas seperti biasanya. Ketika tepat pukul tujuh sesuai janji mereka, Satya datang menjemputnya dan ia pun telah selesai berdandan dan siap untuk berangkat.
Kemudian Anye dan Satya berpamitan kepada ibu kost dan semua temannya yang kebetulan sudah berkumpul di ruang tamu, bersiap akan berangkat kerja.
Mereka memandang kepergian Anyelir dan masing masing berkata, sebenarnya Anye dan Satya adalah pasangan yang serasi, andai Satya seorang pria lajang atau seorang duda pastilah sempurna kebahagiaan yang Anye peroleh.
Mobil Satya pun terus melaju, membelah jalanan yang masih sedikit lengang, menuju ke rumah kediaman Kakek Permana untuk menemui Mama dan Papanya. Sekitar 45 menit dalam perjalanan merekapun tiba disana dan di sambut oleh Bi Darmi pembantu Kakek Permana yang sudah sangat lama mengabdi di rumah itu.
Anye tercengang melihat kemegahan dan keasrian rumah kakek Permana, rumah yang sangat besar berlantai dua dengan ornamen klasik tapi tetap menunjukkan kemewahannya. Aneka macam bunga dan beberapa pohon rindang tumbuh subur disekitar taman, terawat dan tertata rapi.
Anye yang notabene hanya seorang gadis kampung dengan kehidupan keluarga yang serba kekurangan merasa minder. Satya mengerti dengan apa yang Anye rasakan kemudian ia menggenggam tangan Anyelir dan menggandengnya, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Suasana sangat lengang ketika mereka tiba di ruang tamu, berbagai hiasan mahal dari luar negeri terpajang di sana, sofa dan kursi-kursi indah tertata rapi. Bi Darmi kemudian kedapur mempersiapkan minum dan cemilan untuk tuan mudanya yang baru saja tiba.
Saat bi Darmi menyuguhkan minuman buat mereka Satya pun bertanya kepadanya.
__ADS_1
" Bi, apa papa dan mama masih tidur? kok sepi sekali rumah ini".
" Oh tidak Tuan muda, sejak semalam Papa dan mama Tuan pergi mencari den Tirta. Tapi Tuan muda jangan khawatir tadi Nyonya telephone, akan segera pulang dan ia meminta bibi untuk melayani dan menemani Tuan dan Nona dulu sampai mereka kembali".
" Oh ya bi, kenalkan ini calon istri Satya namanya Anyelir".
Anyelir pun menyapa Bi Darmi dan mengulurkan tangannya. Bi Darmi membalas uluran tangan Anye dengan canggung.
" Selamat datang Non di kediaman kakek semoga non senang disini. Non sangat cantik dan pantas bersanding dengan tuan. Silahkan di minum Non, Tuan dan itu ada cemilan sedikit silahkan dimakan. Tapi hanya makanan kampung, oleh-oleh dari anak bibi".
"Terimakasih bi, saya telah merepotkan bibi".
" Tidak kok Non, inikan memang tanggung jawab saya untuk melayani Nona dan Tuan. Saya tinggal dulu ya Non... Tuan, bibi mau melanjutkan pekerjaan".
" Iya bi, silahkan".
" Oh ya Nye, nggak apa-apa jika mas tinggal sebentar. Mas mau ke kamar, ada berkas yang mau mas ambil disana, kamu silahkan lihat-lihat dulu atau ke taman belakang, nanti mas segera menyusul".
Anye pun mengangguk.
Satya setelah berpamitan dengan Anye segera naik ke lantai dua menuju kamarnya yang biasa ia gunakan untuk menginap jika ia datang berkunjung ke rumah ini.
Anye mencoba melihat lihat foto-foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Disana terdapat sebuah foto keluarga, Anye mengamati foto itu.
Disana terlihat foto Kakek yang sedang tersenyum, terlihat di sebelahnya foto seorang wanita paruh baya yang cantik dan lelaki paruh baya yang tampan, anye menduga itu pasti papa dan mamanya Satya dan didepan mereka ada seorang pemuda tampan yang mirip dengan keduanya tapi jelas bukan Satya. Pikirannya kembali kepada omongan Satya, tapi Satya cucu tunggal jadi siapakah pemuda itu? Anye kemudian menatap foto itu lagi, disana terlihat Satya sedang merangkul bahu seorang wanita cantik disampingnya, mereka terlihat sangat bahagia dari senyum di wajah-wajah mereka. Kemudian Anye bermonolog lagi dalam hatinya " ini pasti istrinya Satya".
Anye mengamati foto itu kembali, ia merasa penasaran sepertinya ia juga pernah melihat orang berwajah mirip dengan istri Satya tapi ia tidak ingat dimana ia pernah melihatnya.
Ketika ia sedang asyik mengamati foto keluarga itu tiba-tiba bi Darmi datang.
" Non...baru saja nyonya telephone lagi, bibi disuruh ngajak Non berkeliling taman. Kata nyonya Non pasti akan senang dan tidak akan bosan menunggu sampai mereka tiba".
" Ayo Non ikut bibi".
Akhirnya Anyelir menyimpan rasa penasarannya terhadap foto tadi dan segera mengikuti bi Darmi yang telah berjalan menuju taman.
__ADS_1