
Anyelir menangis sembari memeluk Nadia, Anak-anak juga ikutan menangis, sepertinya mereka ikut merasakan duka orang tuanya.
Satya menyerahkan ponselnya kepada Mang Ujang agar menghubungi semua keluarga dan juga Radit. Sementara Kak Nina, kakak satu-satunya Nadia yang ada di Amerika sudah dihubungi oleh Satya, tapi beliau tidak bisa hadir sebab sedang menanti waktu persalinan.
Kak Nina menyerahkan semua urusan pemakaman kepada Satya, dia sudah ikhlas dengan takdir hidup adiknya. Saat Nadia divonis dokter usianya tidak lama lagi, dia meminta agar sang Kakak ikhlas dan mau memaafkan dirinya juga Satya karena takdir rumah tangga yang mereka jalani memang sudah skenario dari Allah.
Setelah menghubungi Radit Mang Ujang langsung menghubungi tetangga yang biasa mengurus penyelenggaraan jenazah serta yang menggali kubur.
Para tetangga sudah mulai berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa sekaligus membantu membereskan ruangan yang akan dipakai untuk meletakkan jenazah karena pengajian berupa tahlilan akan di selenggarakan sebelum mayat di mandikan.
Kakak, Mama Tiara, Papa Chandra dan Tirta serta pelayan di rumah kakek sudah tiba. Lalu Mama memeluk Satya sembari berkata, "Sabar ya Nak, kita harus ikhlas melepaskan kepergian Nadia. Ini sudah takdir untuk semua yang hidup, cepat ataupun lambat kita semua pasti akan menyusulnya."
Kakek, Papa serta Tirta secara bergantian memeluk Satya untuk memberikan dukungan atas kepergian Nadia. Sementara Anyelir duduk di samping jenazah bersama Mama dan para tetangga yang lain.
Tidak berapa lama, Radit, Tina dan beberapa orang karyawan pun datang. Radit memeluk Satya, hatinya sama hancur seperti Satya. Walau bagaimanapun, Nadia pernah memiliki tempat khusus di hati Radit.
Tina memaklumi perasaan Radit, lalu dia mengajak Radit untuk ziarah, melihat dan mendo'akan almarhumah Nadia sebelum dia di mandikan.
Radit meneteskan air mata, tapi dia buru-buru menghapusnya sebelum orang lain merasa curiga dengan sikapnya. Tina memegang pundak Radit, untuk memberikan semangat bahwa masih ada istri yang mencintai dan membutuhkan dia di dunia ini.
Semua keluarga, para kerabat dan tetangga sudah berkumpul, merekapun mulai mengaji, membaca surat Yasin, tahtim, tahlil beserta doa yang dibawakan oleh seorang ustadz.
Setelah selesai mengaji, jenazah Nadia segera dimandikan oleh Bilal jenazah wanita yang biasa bertugas memandikan jenazah. Anye, Mama dan Bibi serta Satya ikut memandikan.
Mengenai masalah suami apakah boleh ikut memandikan jenazah istri? Hal ini telah dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatut Thalibin sebagai berikut;
الأصل أن يغسل الرجال الرجال والنساء النساء …….والنساء أولى بغسل المرأة بكل حال
...“Pada dasarnya, kaum laki-laki memandikan jenazah laki-laki dan perempuan memandikan jenazah perempuan. Perempuan lebih utama memandikan perempuan dalam semua kondisi.”...
Selanjutnya, dalam kitab Raudhatut Thalibin disebutkan bahwa bagi kaum laki-laki dibolehkan memandikan jenazah yang berbeda jenis jika ada sebab-sebab yang dibolehkan.
Di antara sebab-sebab yang dibolehkan tersebut adalah adanya hubungan pernikahan atau sebagai suami-istri. Karena itu, suami boleh memandikan jenazah istri atau sebaliknya, istri boleh memandikan jenazah suami.
وليس للرجل غسل المرأة إلا لأحد أسباب ثلاثة أحدها الزوجية فله غسل زوجته المسلمة والذمية ولها غسله
“Tidak boleh bagi laki-laki memandikan jenazah perempuan kecuali karena tiga sebab berikut. Pertama, karena adanya hubungan suami-istri. Maka suami boleh memandikan jenazah istrinya, juga istri boleh memandikan jenazah suaminya........."
Jadi kesimpulannya jenazah perempuan yang berhak memandikannya yaitu suaminya, perempuan yang masih ada ikatan keluarga, tetangga perempuan, laki-laki mahram (anak kandungnya).
Jika jenazahnya masih kecil (dibawah usia 7 tahun), maka boleh dimandikan baik oleh perempuan maupun laki-laki.
Walaupun yang memandikan jenazah Nadia adalah pihak keluarga dan suami yang berhak atasnya, tetap saja bagian aurat harus tetap ditutup.
__ADS_1
Karena itu, sebelum jenazah dimandikan mereka telah mempersiapkan selembar kain untuk menutup aurat sehingga terjaga dari orang lain yang mungkin melihatnya.
Proses memandikan jenazah pun telah selesai, dilanjutkan dengan proses pengkafanan, lalu dilanjutkan dengan ziarah keluarga sebelum jenazah di sholatkan.
Satya mencium Nadia untuk terakhir kali, dia tidak kuasa menahan tangis saat wajahnya menyentuh pipi Nadia yang dingin dan kaku. Wanita cantik dan baik yang telah bertahun-tahun mendampinginya kini terbujur kaku, hanya berbalut kain putih yang sebentar lagi akan membungkus dan menutupi seluruh wajahnya.
Setelah membaca do'a, Satya mundur sembari menghapus air matanya lalu dilanjutkan oleh Anyelir, Kakek, Mama, Radit, dan Tina.
Saat tiba giliran Tirta, dia juga tidak kuasa menahan tangis, Kakak ipar yang dulu juga pernah menjadi wanita yang di cintainya hingga dia sempat memusuhi Satya. Tapi akhirnya Tirta sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.
Tangis merekapun pecah, tapi mereka hanya sebatas menangis, untuk mengurangi beban kesedihan di hati, tanpa meratap karena hukum meratapi jenazah adalah haram.
Sebagaimana dikatakan dalam kitab Tanqil al-Qaul, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa Imam Nawawi berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-Adzkar, “Ketahuilah, menangisi jenazah dengan suara amat keras menurut ulama, hukumnya haram. Bila menangisi jenazah tanpa ratapan, tidak menjadi persoalan.”
Dan dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab RA, dia berkata jika Nabi Saw bersabda, "Seorang mayat akan diazab di kuburnya karena diratapi." Dalam riwayat lain, "Selagi dia diratapi." (HR Muttafaq 'Alaih)
Jenazah Nadia saat ini telah ditutup rapat dengan kain kafan dan siap untuk di sholatkan, yang akan menjadi imam sholat jenazah adalah Satya sendiri.
Barisan shaf sholat pun sudah teratur tanda sholat jenazah akan segera di mulai sesuai rukunnya yaitu
Niat
Berdiri
Membaca surat al-Fatihah
Membaca Sholawat
Mendo'akan jenazah
Setelah selesai melaksanakan sholat, kini tiba saatnya mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, sesuai dengan permintaan Nadia yaitu di taman bunga samping rumahnya.
Satya, Tirta, Radit dan Mang Ujang dibantu oleh beberapa orang tetangga mengangkat jenazah Nadia dengan keranda yang telah dipersiapkan.
Dengan membaca surat al-Fatihah hingga yang ketiga kali barulah mereka membawa usungan keranda tersebut keluar rumah menuju taman bunga dengan diikuti seluruh keluarga dan para pentakziah lainnya.
Terlihat di tengah taman, sebuah lubang telah di gali untuk mengubur jenazah Nadia. Satya, Tirta dan Radit turun ke liang lahat untuk menampung jenazah, sedangkan yang lainnya mengangkatkan jenazah turun ke arah mereka.
Saat memasukkan jenazah ke liang lahat, kita dianjurkan untuk melafalkan doa riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan lainnya. Ini merupakan doa gabungan hadits dan anjuran ulama.
__ADS_1
بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ/سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ، اللَّهُمَّ افْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَوَسِّعْ لَهُ فِي قَبْرِهِ
Artinya:
...“Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya. Ya Allah, bukalah pintu-pintu langit untuk roh jenazah, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, dan lapangkanlah alam kuburnya.”...
Semua yang hadir mengaminkan do'a yang di baca secara bersama dengan Pak Ustadz.
Setelah jenazah pas terletak di tempatnya sesuai aturan Islam, Satya, Radit, dan Tirta segera naik, lalu mereka bersama dengan para tetangga menutup liang kubur tersebut dengan tanah hingga membentuk sebuah gundukan.
Mereka yang hadir, sebagian ikut menangis, khususnya kaum wanita dan kini Nadia sudah beristirahat dengan tenang di alamnya yang baru, tanpa merasakan sakitnya lagi, tinggallah dia menunggu untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Semua orang yang ditinggalkannya hanya bisa berdo'a agar Nadia berada dalam kematian yang Husnul khatimah.
Satu persatu pentakziah mulai meninggalkan tempat itu setelah berpamitan kepada Satya dan keluarganya.
Anye menggandeng tangan Satya mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam rumah karena anak-anak terdengar menangis, mungkin mereka haus karena sedari tadi belum mendapatkan ASI dari Anyelir.
Sebelum pergi Anyelir berkata dalam hatinya, 'Selamat tinggal dan selamat jalan Mbak, walaupun sekarang kita sudah berbeda alam, tapi aku yakin kamu masih bisa melihat kami di sini. Izinkan aku untuk meneruskan perjuanganmu sebagai istri, membahagiakan orang yang sama kita cintai hingga rumah tangga kami sakinah, mawaddah dan warahmah. Aamiin....'
Anyelir terus menggandeng lengan Satya hingga mereka tiba di dalam rumah, lalu keduanya membersihkan diri dan kembali bergabung bersama Kakek, Mama, Papa, Tirta, Radit dan Tina.
Baby Putra dan Baby Yasmine kembali tertidur setelah mendapatkan ASI, lalu Baby Sitter segera membawa mereka ke kamar dan memasukkan ke dalam boxnya masing-masing.
Kakek menyarankan agar Satya dan Anye menginap di rumah Nadia sampai malam ketujuh selesai. Karena setiap malam hingga malam ketujuh, para tetangga akan terus datang untuk tahlilan.
Satya dan Anye pun setuju, setelah selesai malam ketujuh barulah mereka akan kembali ke rumah Anyelir.
Kakek, Mama, Papa dan juga Tirta pamit pulang, nanti malam mereka akan balik lagi untuk ikut tahlilan sembari membawakan pakaian ganti untuk Anyelir dan baby kembar. Kalau Satya memang sudah ada pakaian gantinya di rumah ini.
Sementara Radit dan Tina masih ingin tinggal, masih ada yang ingin mereka obrolkan dengan Anyelir dan Satya.
BERSAMBUNG........
🌻 Terimakasih atas semua dukungan kalian para readers kesayangan TERIKAT CINTA LAIN, aku tunggu terus lho dukungan selanjutnya. 🙏🙏🙏
PENGUMUMAN
Salam pagi para pembaca setia TERIKAT CINTA LAIN, hari ini aku mau rekomendasikan karya sahabatku yang pastinya oke banget deh ceritanya, jamin nggak bakalan nyesel, silahkan mampir dan jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana ya.... Terimakasih 🙏
__ADS_1
