
Kebahagiaan terpancar jelas di mata Anyelir, sedikit perhatian dari Satya mampu menjadi mood booster baginya. Ia jadi lebih bersemangat untuk memenangkan cinta Satya.
Perhatian demi perhatian telah Anye berikan kepada Satya dari mulai memasak, melayani makan, menyiapkan pakaian dan masih banyak lagi yang akan ia lakukan, Anye ingin membuat Satya ketagihan akan perhatian yang ia berikan hingga ketika Satya tak bersamanya pun ia pasti akan selalu mengingat kebiasaan yang telah Anye lakukan. Selain pahala yang ia harapkan Anye pasti akan membuat Satya merasa ketergantungan terhadap dirinya.
Selesai makan, Anye membereskan meja di bantu oleh Bi Imah, kemudian ia menyusul suaminya ke dalam kamar.
Saat melihat Anye datang, Satya meminta Anye duduk kemudian ia berkata,
"Mendekatlah Nye ada yang ingin Mas bicarakan!",
Anye mengikuti permintaan Satya, ia duduk di sebelahnya dan bertanya, " apa ada masalah mas?"
"Hanya masalah Nadia Nye, jika dalam waktu sepuluh hari ke depan Mas tidak juga mendapatkan kabar darinya mungkin Mas akan berangkat ke Amerika, Mas mau pastikan keberadaannya disana sekaligus bertemu dengan Kak Nina Kakaknya Nadia, Bagaimana menurutmu Nye, apakah kamu izin jika mas berangkat?"
"Alhamdulillah ternyata Mas Satya menganggap aku juga penting baginya hingga ia meminta pendapatku dan izin dariku."
"Nye kok diam, kamu marah sama Mas!",
"Enggak kok Mas, Pergilah Mas jika dengan cara itu Mas bisa menemukan Mbak Nadia."
"Mas jadi kefikiran dia terus bagaimana kondisi kesehatannya sekarang, biasanya kan Mas yang setiap hari mengingatkannya untuk minum obat nah ini sudah berapa hari tidak ada kabar darinya, di telephone nomornya juga nggak aktif. Kalau seperti ini terus Mas juga pasti tidak akan tenang menjalani kehidupan rumah tangga kita. Kamu mau bersabar kan Nye? Mas juga ingin membuatmu bahagia."
Anye menganggukkan kepalanya, " Insha Allah Mas Anye akan sabar, Anye akan tunggu Mas."
Satya kemudian menarik Anye ke dalam pelukannya, ia tahu kewajibannya sebagai suami hanya masih dalam memberikan nafkah lahir saja sementara nafkah batin untuk Anyelir belum bisa ia berikan.
Anye merasakan aman dan nyaman di dalam pelukan Satya, jika ia boleh memohon kepada Allah ia ingin waktu berhenti membiarkan dirinya tetap berada dalam pelukan suaminya.
Satya juga merasakan kenyamanan yang sama, dia rindu kasih sayang, belaian seorang istri yang sudah berbulan tidak ia dapatkan lagi dari Nadia.
Dalam hatinya berkata,
__ADS_1
"Ada apa dengan perasaanku ini, mengapa perasaanku begitu tenang dan nyaman saat aku memeluknya, apakah perasaan cinta untuknya mulai tumbuh di hatiku atau hanya karena aku kesepian tidak ada Nadia disisiku hingga aku membutuhkan belaian dan kasih sayang dari wanita lain."
Satya mulai ragu dengan perasaannya sendiri, benarkah secepat ini dia bisa membagi cintanya atau hanya karena nafsu yang selama beberapa bulan ini tak tersalurkan disebabkan Nadia yang tinggal jauh darinya. Egonya mengatakan ia harus melepaskan pelukan terhadap Anye namun hati dan tangannya malah semakin mempererat pelukannya.
Sebenarnya dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, hal ini terbukti dari dulu walaupun banyak gadis yang mengejarnya namun cintanya hanya ia berikan kepada Nadia. Satya juga tipe suami yang tidak suka jajan diluaran, walaupun sebenarnya ia butuh tempat pelampiasan nafsu karena istrinya Nadia tidak bisa lagi melayani kebutuhan biologisnya disebabkan penyakit yang dideritanya. Sejak dokter memvonis ada sel kanker di rahim Nadia, sebagian besar kebahagiaan rumah tangga mereka pun sirna.
Setahun lebih Satya berpuasa untuk nafsunya, tidak pernah terfikir olehnya untuk dipuaskan oleh wanita lain, jika ia sudah tidak bisa menahannya paling ia dibantu oleh Nadia dengan cara lain atau dirinya sendiri memuaskannya di kamar mandi.
Mungkin hal inilah yang menjadi alasan Nadia memaksanya untuk menikah lagi, ia tidak ingin melihat suaminya tersiksa yang bisa saja suatu saat tergoda oleh rayuan syeitan hingga jajan diluaran, berzina yang hanya akan merugikan suaminya sendiri, selain menimbulkan dosa besar bagi keduanya juga bisa terinfeksi penyakit AIDS maupun penyakit raja singa.
Jika ditanya soal hati, tidak akan ada wanita yang rela untuk berbagi hal yang paling berarti dalam hidupnya namun cinta Nadia tidak egois, cintanya ingin memberikan kebahagiaan bagi pasangannya, hingga ia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Saat Satya dan Anyelir tenggelam dalam perasaan mereka ketika itu telephone genggam Satya berdering ternyata panggilan dari Radit, Satya kemudian melepaskan pelukannya lalu menerima panggilan tersebut.
"Ya Hallo, apa ada masalah di kantor Dit?"
"Suaramu seperti suara orang baru bangun tidur Sat !', atau jangan-jangan aku sudah mengganggu kegiatan enak kalian, udah kan Sat...udah bobol gawang kan?"
Radit tertawa ngakak di balik telephonenya, rasanya rugi jika sehari saja dia tidak menggoda sahabatnya itu.
"Sudah cepat ada urusan apa, kami akan kembali tidur", Satya pun tak mau kalah dia ingin membuat si jomblo iri.
"Oke...oke, sabar ya. Sayangnya kalian harus menunda tidur saat ini. Ada berkas penting yang harus sekarang juga kamu tandatangani dan ada yang ingin kubicarakan, ini menyangkut tentang Nadia."
"Apa Dit!". Apa kamu sudah dapat kabar tentang Nadia, bagaimana keadaannya dan dimana dia tinggal sekarang, biar langsung aku jemput !",
"Sabar Sat, jangan kencang-kencang ngomongnya, jaga dong perasaan bini lu, kasihan kan dia melihat mu begitu semangat untuk membawa pulang Nadia."
Satya baru sadar jika Anyelir masih duduk disampingnya, kebahagiaannya tidak bisa ia tutupi begitu mendengar kabar tentang Nadia, hal ini mungkin bisa melukai hati istrinya yang lain yang juga harus ia jaga.
Begitu Radit menutup telephone Satya kemudian memandang Anyelir dan dengan perasaan bersalah ia pun meminta maaf.
__ADS_1
Anye sadar jika suaminya sangat merindukan Nadia, ia berusaha menutupi rasa kecewa dan sedihnya dengan tersenyum manis, kemudian ia berkata kepada Satya,
"Pergilah Mas, pergilah jemput Mbak Nadia. Anye tahu sumber kebahagiaan Mas adalah Mbak Nadia."
"Bukan begitu Nye, Mas juga bahagia menikah denganmu hanya saja mas terlalu mengkhawatirkan keadaannya."
Satya kemudian mencium kening Anyelir yang masih juga memakai hijab di depan Satya lalu ia pamit ke kantor untuk menemui Radit.
"Mas pergi dulu ya, Mas akan usahakan pulang secepatnya."
Anye pun mengangguk kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Satya karena ia ingin mencium tangan suaminya itu sebelum ia pergi. Satu lagi kelebihan Anyelir yang ia tunjukkan dihadapan Satya, selama Satya menikah dengan Nadia, ia belum pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Nadia.
Anyelir mengambilkan jaket dan memakaikannya ke tubuh Satya, kemudian mengambilkan kunci mobil dan sepatu lalu setelah Satya siap ia mengantar Satya sampai di depan rumah, selanjutnya Anye melambaikan tangannya sambil berucap, " Hati-hati ya Mas, Anye tunggu kepulangan Mas."
Perhatian terus Anye berikan ke Satya hingga membuat Satya mengakui di dalam hatinya bahwa Anye mempunyai banyak kelebihan dibanding wanita-wanita yang pernah ia kenal. Satya merasa diberi perhatian lebih, merasa dibutuhkan dan ternyata ditunggu kepulangannya.
Perasaan bahagia mulai menyelinap di dalam hati Satya hingga terukir senyum diwajahnya manakala mengingat semua yang dilakukan Anye terhadapnya.
"Aku pasti kembali secepatnya Nye, terimakasih atas semua perhatian lebih yang telah engkau berikan untuk ku."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
🌻JANGAN LUPA VOTE, LIKE, COMMENT DAN BINTANG LIMANYA YA SAY....
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏
🌻BACA JUGA KARYA NOVEL SAYA YANG LAIN YA, KARYA YANG HAMPIR TERABAIKAN WALAUPUN MASIH BANYAK KEKURANGANNYA BERUSAHA AUTHOR LANJUTKAN
JUDUL KARYA:
" PERSAHABATAN TELAH MENGUBAH TAKDIR"
__ADS_1
🌻 HAPPY READING ♥️♥️♥️