
Setelah kembali dari mengantar Anyelir Satya langsung pulang ke rumahnya kemudian ia mengambil handphone dan mencari kontak istrinya, malam ini juga dia harus segera memberitahukan rencana pernikahannya kepada Nadia.
Suara ringtone panggilan masuk lagu yang berjudul "suamiku", dari Iyet Bustami mengalun menandakan ada panggilan masuk dari Satya, Nadia kemudian mengklik panggilan tersebut terlihat dilayar handphonenya Satya suaminya sedang duduk di atas tempat tidur di dalam kamar mereka, Satya mengucapkan salam kepada Nadia,
" Assalamu'alaikum Sayang, apa kabarnya hari ini dan kenapa seharian handphone kamu tidak aktif yang?"
" Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah Kak masih sama, tadi siang handphone sengaja Nadia matikan karena sedang bertemu dokter".
" Jadi apa yang dikatakan oleh dokter Yang?"
" Ya...masih harus kemo lagi Kak".
" Kapan sih kamu akan pulang yang? sepi lho rumah kita tidak ada kamu, lihat ini cuma ada foto kamu disini", Satya mengarahkan layar handphone nya kearah dinding kamar mereka, disana terlihat beberapa foto mereka berdua, di dalam foto itu terlihat dengan jelas masa-masa bahagia mereka sebelum dokter mengatakan tentang penyakit Nadia.
Nadia berusaha mengalihkan pertanyaan Satya dengan kembali bertanya,
" Kak, bagaimana dengan permintaan Nadia? apa Kakak sudah mendapatkan calonnya?".
Satya terdiam, rasanya sangat berat mulutnya hendak menjawab, disatu sisi ia harus jujur namun disisi lain pasti jawabannya akan melukai hati wanitanya.
" Kak, kenapa diam...ayo dong, jika Kakak diam terus, berarti benar Kakak telah mendapatkannya, ayo dong bicara Kak...atau Nadia matikan nih handphonenya".
Dengan berat hati akhirnya Satya mengangguk, walaupun Nadia sudah tau semuanya tapi mendapatkan anggukan dari suaminya langsung membuat jantungnya serasa berhenti berdetak, nafasnya sesak dan darahnya seperti berhenti mengalir sehingga wajahnya tampak sangat pucat, hatinya sakit seakan teriris, menangis...menangis ya menangis yang kuat itulah obat yang tepat untuk menumpahkan kesedihannya tapi saat ini ia harus bisa menahannya, berusaha keras agar air mata jangan sampai jatuh dari kelopak matanya.
Nadia tidak ingin Satya melihat sisi kerapuhannya yang bisa saja membuat Satya membatalkan keputusannya.
Dengan suara bergetar Nadia kemudian melanjutkan ucapannya, " Alhamdulillah, selamat ya Kak, semoga apa yang kita harapkan semuanya bisa terwujud. Rencananya kapan Kak aqad nikahnya akan dilaksanakan?", tanya Nadia kembali dengan suara yang masih bergetar.
Satya tahu saat ini istrinya pasti sangat sedih, hatinya hancur tapi kekerasan hatinya membuatnya berusaha tegar dan menutupi semuanya dari Satya. Kemudian Satya berkata lagi,
" Nadia...Kakak tanya sekali lagi, kamu yakin dengan keputusan ini? jika kamu bilang tidak, saat ini juga Kakak akan batalkan semuanya, sebelum semuanya terlambat. Kakak tidak mau kamu semakin terluka, Kakak sangat mencintaimu, pulanglah dan kita jalani lagi rumah tangga kita seperti dulu. Soal anak kan sudah Kakak bilang kita bisa adopsi dari panti asuhan, pengobatanmu juga bisa kita lanjutkan disini, jika tentang Kakek, Mama dan Papa perlahan pasti beliau bisa menerima keputusan kita".
" Jangan Kak, Kakak lanjutkan saja, asalkan wanita itu baik dan sayang terhadap Kakak dan seluruh keluarga Permana Nadia ikhlas. Nadia yakin pilihan Kakak tidak salah, sedikit banyaknya Kakak pasti sudah menyelidiki dan memahami kepribadian gadis itu kan, siapa namanya Kak dan kapan tanggal aqadnya?"
Satya kemudian menceritakan tentang Anyelir, asal mula ia mengenalnya, darimana dia berasal dan tentang awal kesepakatan mereka hingga mereka memutuskan untuk menikah beberapa hari lagi tepatnya hari Ahad jam 9 pagi di kediaman Kakek Permana dan tanpa resepsi pernikahan.
__ADS_1
Nadia terus berusaha menutupi kesedihannya, senyum terus tersungging di bibirnya namun air matanya juga sudah mulai menggenang di pelupuk mata.
Kini saatnya sudah hampir tiba dimana kesabarannya sebagai seorang hamba dan sebagai seorang istri benar-benar sedang diuji.
Keikhlasan melepas suaminya untuk berpoligami menjadi ladang pahala baginya, jika ia mampu bersabar melewati ujian ini, Allah menjanjikan surga baginya yang telah mentaati dan sabar terhadap suaminya dan tentunya dengan balasan pahala yang tidak terbatas.
Hal ini dijelaskan dalam Firman Allah SWT dalam QS. AZ Zumar ayat 10
...إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ...
Artinya :
...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas....
Air mata yang hampir jatuh di kelopak mata Nadia tidak luput dari perhatian Satya, hati Satya juga sakit seperti teriris melihatnya, kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya,
" Sudahlah Yang kamu jangan keras kepala, kamu juga harus fikirkan kebahagiaanmu jangan hanya kebahagiaan kami saja yang kamu fikirkan, Kakak akan batalkan sekarang juga".
" Tunggu Kak, tunggu...jika Kakak batalkan, Nadia selamanya tidak akan pernah kembali dan Kakak jangan berharap akan bertemu dengan Nadia untuk selamanya".
Satya yang mendengar ancaman Nadia pun tidak dapat berkata lagi, ia sangat tahu betul dengan sifat keras kepala isterinya itu, lalu Satya berucap lagi,
" Iya Kak, Nadia terima konsekuensinya".
" Dan satu lagi kamu harus janji untuk segera kembali ke rumah kita secepatnya dan akan terus melanjutkan pengobatanmu disini".
" Iya, Nadia janji Kak akan kembali saat Kakak nanti sudah bisa mencintai Anyelir. Nadia juga ingin mengabdi dan menghabiskan sisa hidup Nadia bersama Kakak. Nadia ikhlas membagi cinta Kakak kepada Anyelir".
Satya menghela nafasnya, semua yang ingin disampaikan sudah diucapkannya kepada Nadia, dia hanya berdoa kepada Allah restu dan keikhlasan Nadia akan membawa kebahagiaan bagi rumah tangga mereka kelak.
Kemudian Satya mengakhiri percakapan mereka karena ia mau membersihkan dirinya untuk segera beristirahat dan Nadia juga ingin segera menumpahkan seluruh perasaan sedihnya ke dalam bantal yang ada dalam dekapannya hingga ia benar-benar ikhlas melepas suami yang sangat dicintainya itu untuk menjalani kehidupan berpoligami.
Setelah mendapatkan ciuman pengantar tidur dari suaminya dan Satya telah mematikan panggilan telephonenya, Nadia pun segera menutupi wajahnya dengan bantal, air mata dan tangisan yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Isak tangis yang membuat sesak dadanya ia lampiaskan sepuasnya kedalam bantal yang ada dalam dekapannya itu.
Andai ibunya masih hidup mungkin dia akan berlari dan menangis dipangkuan sang ibu untuk menenangkan hatinya tapi kini hanya lah sebuah bantal yang bisa menjadi teman dalam kesedihannya.
__ADS_1
Mata yang sembab, hati dan fikiran yang sakit membuatnya lelah dan akhirnya tertidur. Suara petir menggelegar telah membangunkan Nadia dari tidurnya, Ia bangkit lalu berdiri di depan jendela melihat hujan yang turun dengan derasnya seakan alam pun tahu dan ikut menangis, ikut merasakan kesedihannya.
Bersambung.....
Mohon dukungannya terus ya para readers....like, koment dan vote nya. Terimakasih 🙏🙏🙏
Happy reading, semoga sehat dan keberkahan selalu menyertai hidup kita.
...Aamiin......
Hanya sebagai tambahan ilmu ya sahabat, biar pengetahuan kita akan ilmu hidup bertambah dan berusaha menjalankan Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
..." Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat "...
...(HR. Abdillah Ibn Amr Ibn Ash RA)...
Dan mengenai hukum poligami disebutkan Allah dalam Firman-Nya :
فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ
Artinya :
__ADS_1
...Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim....