
Pertanyaan yang tadi ada di dalam hati Anyelir tentang foto keluarga yang dilihatnya di ruang tamu rumah Kakek Permana satu persatu kini mulai terjawab, bahwa Satya memiliki seorang adik laki-laki satu ibu dan beda ayah, pantasan saja sesuai analisanya tidak ada kemiripan wajah dengan Satya karena mereka mengikuti gen wajah Papanya masing-masing. Keduanya sama tampan hanya bedanya Satya memiliki warna kulit lebih putih dan hidung lebih mancung ketimbang Tirta.
Sekarang yang masih menjadi tanda tanya besar dihati Anyelir adalah kenapa Tirta yang dulunya baik dan periang kini menjadi pemurung dan sering bertingkah brutal.
Dan kenapa ia sangat membenci Satya yang seharusnya menjadi kakak kesayangan satu-satunya. Apakah karena lingkungan pergaulannya sekarang atau ada pihak ketiga yang sengaja mengadu domba mereka atau perlakuan keluarga yang berbeda terhadap keduanya.
Melihat Anye lama terdiam Satya kemudian bertanya, " Kenapa kamu terdiam dan apa yang sedang kamu fikirkan Nye?"
Anye terkesiap mendengar pertanyaan Satya, kemudian ia ingin mencoba mendapatkan informasi lagi untuk menghilangkan rasa penasarannya.
" Oh ya mas, jika aku boleh tahu sejak kapan perilaku Tirta mulai berubah?".
Satya mulai mengingat kejadian-kejadian beberapa tahun silam sebelum ia menikah dan akhirnya berangkat ke Amerika untuk urusan pengobatan Nadia, kemudian Satya melanjutkan ceritanya,
" Sepertinya sejak aku bertunangan dengan Nadia ia mulai menjadi pribadi yang pendiam, suka murung dan sering mengurung dirinya di kamar. Kadang disuruh makan saja susah, sampai mama sering mengantarkan makanan untuknya ke dalam kamar. Makanan sering tak disentuhnya hingga membuat tubuhnya kian hari semakin kurus dan pernah sampai dirawat di rumah sakit."
" Apakah mas, mama papa maupun kakek tidak mencoba bicara dari hati kehati menanyakan kepada Tirta kenapa dia bersikap seperti itu seperti orang yang kehilangan semangat hidup".
" Kami sudah mencobanya, tapi ia tetap diam memilih menyimpan sendiri masalahnya, padahal dulu setiap ada masalah dia selalu terbuka menceritakan semuanya kepada mama dan kepadaku. Bahkan tentang kisah cintanya juga ia tak segan untuk menceritakannya kepada kami", sejenak Satya terdiam sambil menghela nafas dalam.
" Namun sejak hari itu semuanya berubah apalagi sejak aku menikah, pindah rumah dan diangkat sebagai CEO di hotel Duta Angkasa milik kakek.
Tirta selalu menolakku, mengusirku setiap kali aku ingin menemuinya bahkan seringkali ia tidak mau pulang kerumah saat mendengar aku dan Nadia akan berkunjung dan menginap di rumah kakek", kembali Satya melanjutkan ucapannya.
" Saat itu aku berusaha memahami sikapnya, kami jadi jarang menginap disana untuk mengurangi kebenciannya terhadapku. Jika kakek atau mama merindukan kami merekalah yang akan datang berkunjung kerumah kami", Satya kembali berucap sambil mengalihkan pandangannya keluar melihat pemandangan indah yang mereka lewati.
" Kemudian saat kami datang memberitahu berita tentang kehamilan Nadia disitulah puncak kemarahannya. Tirta mulai bersikap brutal, melempar semua barang yang ada di dekatnya kesembarang arah dan akhirnya melukai Nadia", lanjut Satya.
__ADS_1
" Nadia sempat terjatuh dan mengalami pendarahan dan untung saja waktu itu pendarahannya tidak parah hingga tidak berakibat fatal terhadap bayi kami walaupun akhirnya kami tetap kehilangan dia sebelum ia melihat dunia", Satya mengakhiri ucapannya dengan lirih dan terdapat nada kesedihan di dalamnya.
Anyelir pun sesaat terdiam, ia memberi waktu Satya untuk kembali menormalkan perasaannya.
Kemudian Anyelir mengambil bekal air minum dan buah yang mereka bawa, ia menyodorkan sebotol air mineral kepada Satya dan mengupaskan jeruk untuknya, tak lupa ia juga memberikannya kepada Pak Edi yang sedari tadi hanya diam berkonsentrasi menyetir.
" Silahkan diminum dulu mas airnya dan ini buah jeruknya sudah Anye kupaskan".
" Terimakasih Nye".
" Pak Edi ini air minum dan jeruk buat Pak Edi, manis-manis kok jeruknya Pak".
" Iya Non, terimakasih ya Non".
Pak Edi segera mengambil air mineral dan jeruk yang Anyelir berikan. Sejenak mereka bertiga asik menikmatinya untuk melepaskan dahaga mereka selama dalam perjalanan.
" Jadi mas apakah pernah Tirta di bawa ke psikiater?".
" Ia tidak pernah mau, ia selalu memberontak jika diajak berobat, paling lah dokter keluarga yang datang ke rumah jika dia sakit".
" Perlakuan Papa Mama bagaimana terhadapnya mas?".
" Papa orangnya keras, terkadang hilang kesabaran juga menghadapi sikap Tirta, tapi mama selalu menyabarkan Papa, Mama tidak ingin sikap keras Papa akan semakin menyakitinya".
" Sikap Kakek Permana dalam memperlakukan kalian berdua bagaimana mas, apa kakek pernah membeda-bedakannya".
" Kakek juga sangat menyayangi Tirta Nye, selama ini menurutku kakek tidak pernah membedakan kasih sayangnya kepada kami, kamu boleh bertanya kepada Pak Edi bagaimana sikap kakek terhadap kami karena Pak Edi telah lama ikut kakek, iya kan Pak Edi?".
__ADS_1
" Iya Non, menurut Bapak juga begitu. Tidak usah terhadap cucu-cucunya sendiri terhadap orang lain saja kakek begitu sayang dan perhatian termasuk kepada Saya Non".
" Jika tentang pengangkatan sebagai CEO, kakek sudah mempersiapkan semuanya setelah kami menikah, itu juga berlaku untuk Tirta walau dia bukan cucu kandung kakek. Kakek telah mempersiapkan bisnis untuk kami kelola masing-masing, karena Tirta belum serius terjun ke bisnis dan terutama belum menikah maka bisnisnya dikelola oleh asisten pribadinya yang masih langsung di bawah pengawasan Kakek".
" Mendengar penjelasan Mas Satya dan Pak Edi, Anye bisa mengambil kesimpulan bahwa Tirta bersikap seperti itu terhadap mas Satya bukan karena masalah perhatian keluarga dan bukan karena pembagian harta tapi mungkin masalah cinta".
" Maksud kamu apa Nye?"
" Ya Mas, mungkin Tirta juga mencintai Nadia jauh sebelum kalian menikah dan dia tidak suka kalian mempunyai keturunan. Dalam hal ini kita masih perlu menyelidiki lagi apa ada juga pihak ketiga yang mendalangi dia hingga Tirta semakin membenci Mas".
Satya tercengang mendengar penjelasan Anyelir, semuanya terasa mustahil baginya. " Apa mungkin Tirta memang sejak lama diam-diam mencintai Nadia?", pertanyaan ini terus berputar-putar di dalam kepalanya.
" Bisa jadi analisa Nona Anyelir terhadap perubahan sikap Den Tirta benar adanya Tuan", Pak Edi ikut menimpali.
" Seperti yang saya ketahui Non, Tuan Satya, Tuan Tirta, Nyonya Nadia dan Radit, mereka berempat tumbuh besar bersama, bermain, belajar dan kemanapun pergi selalu bersama-sama. Rumah orang tua Nyonya bersebelahan dengan rumah kakek yang lama. Den Tirta sejak kecil sering bermanja kepada Nyonya Nadia".
" Jika analisa Anyelir itu benar, betapa bodohnya saya ya Pak, Anye, sebagai seorang kakak nggak bisa jeli memperhatikan perasaan adikku sendiri yang sejak kecil tumbuh bersamaku. Aku terlalu egois memikirkan dan mementingkan perasaanku sendiri, aku telah gagal menjadi seorang kakak yang baik bagi Tirta".
" Mas tidak boleh menyalahkan diri mas terus, yang terpenting sekarang kita harus bisa mendekati Tirta, membuatnya kembali seperti dulu agar bisa menyayangi Mas Satya walau hatinya pernah terluka, hingga nanti seiring berjalannya waktu ia pasti akan bisa menyembuhkan luka hatinya itu. Bila kita berhasil melakukannya Kakek, Papa dan Mama pasti akan bahagia".
" Jika kita gagal dan bukan itu alasan atas perubahan sikapnya bagaimana Nye?".
" Kita tidak boleh menyerah mas, kita pasti bisa mendapatkan solusinya. Kasihan Tirta, masa depannya masih panjang, jangan sampai ia terus menyia-nyiakan hidupnya untuk cinta yang tidak bisa dan tidak mungkin ia dapatkan lagi".
" Benar semua yang Nona bilang Tuan, hanya Tuan yang bisa menyembuhkan Tuan Tirta walau mungkin awalnya sulit".
Kini ketiganya terdiam sibuk dengan alam fikiran masing-masing, yang ada sekarang di dalam fikiran Anyelir adalah sebuah pertanyaan tentang seberapa baik dan seberapa hebatnya kah sosok Nadia hingga bisa membuat kakak beradik ini begitu mencintainya dan Anyelir penasaran ingin segera mengenalnya.
__ADS_1